
Suasana sarapan terasa hening, Alt memperhatikan Ria yang duduk diam tidak seperti biasanya yang mulutnya mengomel, pertama kalinya Ria terlihat tenang.
"Selamat pagi semuanya." Juna langsung duduk di samping Juan yang kepalanya masih tertunduk.
Aliya juga binggung, sejak bangun tidur tidak ada keributan sama sekali.
"Ada apa Ria? kamu melakukan kesalahan sebesar apa?" Juna tersenyum melihat adik perempuannya.
Kepala Ria menggeleng, menatap Kakaknya Juan yang masih fokus kepada makanannya.
"Bagaimana keadaan Mama Juna? tidak masalah ditinggal sendirian di apartemen." Al menatap Juna yang meminum susunya.
"Ada perawat yang menjaga Mama, setiap hari Juna akan kontrol."
Altha menganggukkan kepalanya, apa yang Juna rencanakan ada baiknya. Kondisi Citra akan dikontrol ketat oleh perawat yang langsung melaporkan perkembangan setiap hari kepada Juna.
Bibir Ria monyong, menarik baju kakaknya Juan yang langsung menatap ke arahnya. Juna memperhatikan sikap adik perempuannya yang aneh.
"Ria, Kak Juna tidak suka ada rahasia?" Juna berbisik melihat Mami dan Papinya yang sudah sarapan, dan akan pergi lebih dulu karena ada pekerjaan penting.
Ria langsung turun dari kursinya, menatap Kakaknya dan menceritakan semua yang terjadi saat rumah Shin hancur.
Juan membenarkan penjelasan Ria, mereka membantu Shin untuk memindahkan buku, tapi ada sebuah tombol yang ditekan oleh Ria menghancurkan bangunan.
"Kak, rumah kak Shin aneh sekali. Juan sepemikiran dengan Dean, jika rumah lama kak Shin dulunya tempat penjara bawah tanah. Saat pembangunan ada beberapa bom penghancur, anehnya tidak ada ledakan." Kepala Juan pusing memikirkan.
"Ada yang terluka?"
"Tidak ada, tapi Kak Shin dan Tika sepertinya balik lagi. Ria merasa bersalah sekali, berapa banyak kita harus ganti rugi?" Ria sangat takut, jika Maminya sampai tahu jika Tika menghacurkan satu rumah mewah yang bisa disebut sejarah lama.
Ketakutan Ria saat ada yang mengatakan jika menghacurkan barang kuno, bisa terancam penjara.
Jika Shin tidak menginginkan ganti rugi, dirinya pasti masuk penjara.
"Pikiran kamu terlalu jauh Ria, kak Shin bukan orang seperti itu." Juan menghentikan pikiran jelek adiknya.
"Bagaimana jika kak Shin meminta ganti rugi rumah baru?"
__ADS_1
"Ria, jangan dipikirkan. Kak Juna akan mengurus semuanya." Tangan Juna mengusap kepala adiknya.
Arjuna langsung mengantar adik-adiknya untuk sekolah, sepanjang jalan Juna mendengarkan cerita adiknya soal hancurnya rumah.
"Kak Juna selesaikan masalah ini, jangan sampai Mami tahu." Ria memperingati Kakaknya.
"Iya, kamu tenang saja."
"Kak, Ria mendengar cerita jika ada yang harus menikahi jika ada yang dirugikan, Kak Shin rugi kehilangan rumah, Ria tidak mungkin menikahinya. Kak Juna saja yang bertanggung jawab, Ria ikhlas." Tangan Ria memohon.
Arjuna menarik pelan telinga adik perempuannya, dilarang berbicara sembarang. Ria hanya perlu belajar sesuai umurnya, tidak boleh keluar jalur.
"Dia bukan hamil Ria, Kak Juna tidak harus tanggung jawab." Dean yang masih mengantuk keluar mobil, dirinya malas-malasan untuk pergi sekolah.
"Dean, jangan bicara sesuatu yang belum boleh kamu ketahui." Juna memperingati Dean yang menganggukkan kepalanya.
"Apa Ria yang harus bertanggung jawab? Kak Dean jawab. Jika tidak dijawab, mulai besok tidak boleh pergi bersama lagi." Tatapan Ria tajam, mengancam Dean yang menatap Juan.
"Kamu tidak bisa bertanggung jawab, karena masih dibawah umur. Sebelum bicara sesuatu, cari tahu dulu kebenaran dari ucapan kamu." Juan meminta Ria segera ke kelasnya.
Mobil Juna melaju pergi ke rumah sakit, Juna juga menghubungi ponsel Tika ingin mengetahui keberadaannya yang tidak pulang.
Kondisi Shin kritis, luka bekas pertarungan dengan Tika mendapatkan pukulan tiga kali lipat, tulang rusuk Shin juga retak.
Tangisan Tika terdengar, dirinya takut jika terjadi sesuatu. Kepala Shin juga mengalami benturan kuat, ada gegar juga dan dokter masih menanganinya.
Juna mempercepat laju mobilnya, kondisi Shin memburuk, karena terlambat ditangani. Dokter yang dihubungi lama datang.
Genta sampai mengamuk, karena kondisi napas adiknya sudah tidak beraturan.
Suara teriakan Juna terdengar, menatap tajam dokter yang baru datang untuk melakukan operasi.
"Kenapa tidak ada satupun yang menghubungi saya? aku dokter yang bertanggung jawab." Juna membentak beberapa dokter yang masih kebingungan.
"Dia sudah keluar dari rumah sakit Dokter Juna, kedatangan juga saat subuh, Dokter belum datang semua."
"Apa kalian menunggu dia meninggal? baru akan bertindak." Juna memukul pintu, melihat kondisi Shin dari patient monitor.
__ADS_1
Cukup lama Juna memperhatikan, membiarkan Dokter lain yang berusaha menyelamatkan Shin.
Operasi berjalan lancar, meskipun operasi berhasil bukan berarti kondisi pasien baik. Masih ada kemungkinan operasi gagal, dan menyebabkan pasien lebih buruk.
Juna keluar dari ruangan, menatap Tika yang masih menangis, sedangkan Genta duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kalian bertarung lagi." Juna menatap Genta yang langsung berdiri.
"Bagaimana kondisi Shin Juna?"
"Tanpa dijelaskan, Kak Genta tahu kondisinya. Kenapa bisa ada pemukulan? usia dia baru dua puluh tahun, kalian ingin membuat dia cacat diusia muda." Juna menggelengkan kepalanya.
"Shin, tidak selemah itu Kak Juna? Tika sangat tahu kemampuan bela dirinya."
"Benarkan, perkiraan aku. Dia dipukuli lebih dari lima orang yang memiliki tenaga dua kali lipat dari dia, dan Shin tidak menghindari pukulan." Langkah Juna mendekati Tika, memeriksa kondisinya yang baik-baik saja.
Satu keanehan yang Juna temukan, Shin dalam keadaan yang sangat mengenaskan sedangkan Genta dan Tika, goresan bahkan memar juga tidak terlihat.
"Sebenernya apa yang kalian lakukan? kenapa ini Kak Genta?"
"Tugas kamu hanya mengobati Juna, tidak perlu tahu apa yang terjadi." Genta menatap tajam Arjuna yang terlihat marah.
Tatapan Juna sinis, langsung mengangkat kedua bahunya. Genta punya hak mempertahankan apa yang terjadi, dan Juna juga punya hak melakukan sebatas kemampuannya.
Tidak ada alasan bagi Juna untuk menindaklanjuti, dirinya sebagai Dokter harus tahu sebab penyebab agar bisa memprediksi kondisi pasien.
"Dokter Juna, bisa segera memantau kondisi pasien."
"Tidak, bukan aku Dokter yang menanganinya, silahkan lanjutkan saja. Bicara dengan dua orang ini untuk mengetahui lebih lanjut. Jika tidak mendapatkan solusi, hentikan perawat, kembalikan pasien." Juna langsung melangkah pergi, mengabaikan panggilan Genta dan Tika.
Atika berlari kencang, mencoba menghentikan Kakaknya. Tika memohon agar Juna bertidak, Shin segalanya bagi Tika.
Hidup Tika akan berantakan jika kehilangan sahabatnya, bagi Tika Shin bukan hanya sahabat, tapi adik, Kakak, bahkan partner dalam segala hal.
"Kak Juna, selamatkan Shin. Tika mohon Kak."
"Jelaskan terlebih dahulu, apa yang terjadi. Dia penting untuk kamu, tapi tidak untuk aku." Juna langsung melangkah ke ruangannya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira