ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
WAKTU BERLALU


__ADS_3

Kepala Isel menunduk menatap dua bayi yang terlihat baik-baik saja karena dibalut kain tebal. Diana memarahi Isel yang hampir membahayakan dua bayi.


"Paham tidak kamu jika mereka masih kecil, belum bisa naik sepeda." Di meminta Isel menatapnya.


"Paham Mama, dedek Mora dan Mira belum bisa main sepeda. Tunggu tiga tahun lagi, tapi kalau tiga tahun lagi Isel tidak main sepeda lagi." Tatapan tidak bersalah masih terlihat, Isel membela dirinya bukan ingin menyakiti, tapi mendiamkan bayi yang terdengar suaranya. Pikirannya jika naik sepeda akan diam.


"Mulai besok jangan sentuh Mira dan Mora lagi,"


"Kenapa Mama? apa tangannya Isel kotor? semuanya jahat! tidak sayang Isel lagi,"


"Semua orang sayang kamu Sel, tapi jika cara Isel memperlakukan baby Mira dan Mora seperti tadi sangat berbahaya. Kasihan kalau sampai jatuh." Aliya mengusap kepala Isel penuh kasih sayang.


"Tapi tadi tidak jatuh,"


Kedua tangan Diana meremas rambutnya, tidak tahu lagi cara bicara dengan anaknya. Dia selalu merasa besar, dan yang dewasa salah.


Shin dan Tika terlihat santai saja, membiarkan Isel yang langsung main lagi bersama baby. Tidak ada rasa bersalah dan takutnya.


Dua bayi juga terlihat menyukai Isel, bahkan Isel tidur di tengah dua bayi, bercerita banyak hal padahal selisih usia mereka sangat jauh.


"Tidak masalah Kak Di, lagian kita tahu bagaimana watak Isel. Dia gadis yang cerdas, tapi memang dasarnya yang nakal. Memiliki anak istimewa juga sebuah ujian." Senyuman Shin terlihat menatap Isel yang memeluk dua bayi.


"Isel sepertinya membutuhkan adik." Tika tertawa menatap Diana yang langsung geleng-geleng.


Sudah cukup bagi Diana, anaknya terlalu mengerikan jika memiliki adik bisa semakin gila Di jika menambah anak apalagi karakter sama seperti Isel.


"Kalian berdua saja yang menambah anak, kita tunggu baby Boy yang harus menjaga dua Kakak perempuannya yang mirip penyihir." Aliya memeluk kedua Putrinya.


Takdir begitu indah setelah banyaknya masalah. Keluarganya yang hancur, berpisah dengan saudaranya, hidup dalam rasa sakit karena kekerasan.


Di pertemukan dengan Putra dan Putri yang membutuhkan kasih sayang, sehingga Aliya memberikan semua cintanya agar kedua anaknya tidak seperti dirinya.


Puluhan tahun berlalu, banyak cinta dan air mata yang tumpah, tapi Al mengikuti takdirnya yang diawali rasa sakit, dan berakhir bahagia.


"Mami kenapa terlihat sedih?"


"Mami tidak punya alasan sedih Tika, Mami bahagia bertemu kamu dan memiliki keluarga ini. Kehadiran Tika dan Kakak Juna takdir terindah yang Mami syukuri." Al tersenyum, mengecup kening Putrinya.


Kedua tangan Aliya menakup wajah Maminya, mengusap air mata yang menetes. Tika juga bersyukur atas takdir yang mempertemukan mereka.


"Ada apa ini?" Juna keluar dari kamarnya melihat Maminya yang meneteskan air mata.


"Anak kamu dibawa Isel bersepeda." Diana menatap Isel yang sudah berguling-guling dengan dua bayi.


"Emh ... tidak masalah selama baik-baik saja,"

__ADS_1


Senyuman Aliya terlihat, meminta Juna segera pergi bekerja. Mereka akan mengawasi anak-anak terutama Isel yang ingin menjadi bayi lagi.


"Masih pagi sudah ramai. Isel kamu tidak sekolah." Genta juga keluar dari kamar menatap Isel yang berguling.


Suara teriakan semua orang terdengar, Isel berlari melangkahi baby Mira membuat hampir jantungan.


Juna langsung menggendong Mira, memeluknya karena menangis terkejut mendengar teriakkan.


Tangisan Mora juga terdengar, Juna mengusap kepalanya agar diam. Meminta maaf karena sudah mengejutkan.


***


Tidak terasa waktu sangat cepat berlalu, rasanya baru saja mengucapkan ijab kabul, ternyata usia pernikahan sudah bertahun.


Suara teriak-teriak terdengar, Shin hanya diam saja menatap Putrinya yang berlari kecil, tarik-tarikan botol susu bersama saudaranya.


"Bertengkar lagi mereka Shin?" Tika memeluk Shin dari belakang.


"Aku tidak melihat satu hari saja tenang sejak mereka lahir?" tawa Shin terdengar menjambak-jambak rambutnya.


Sekejap mata Mira dan Mora sudah menghilang, Tika dan Shin berteriak-teriak memanggil si kecil yang entah ke mana perginya.


Keaktifan sudah terlihat sejak usia beberapa bulan, satu tahun sudah bisa berjalan dengan lancar dan memiliki banyak kosakata yang hanya keduanya yang mengerti.


"Kwek Kwek, ye belenang dauh-dauh. Babay." Tangan Mora melambai melihat mainan berenang.


"Dari mana Mora mendapatkan ikan?"


Tangan Mora menunjuk ke arah Mira yang berada dalam kolam ikan, menarik jaring yang penuh berisi ikan.


Melihat Mira kesulitan, Mora langsung berlari membantu untuk mengeluarkan ikan dari dalam kolam.


Dua anak kecil berusia dua tahun memasangkan pelampung ke arah ikan lalu di lepaskan ke dalam kolam berenang.


"Ikan ikan babay." Mora tersenyum lebar menatap ikan yang tidak tenggelam karena ada pelampung kecil.


"Ye kita pintal. Ikan celamat dali maut. Kita palawan." Mira lompat-lompat melihat beberapa ikan mengapung.


Shin dan Tika yang melihat hanya bisa duduk diam melihat Ikan yang menjadi korban kegilaan keduanya.


"Papa, liat. Mia celamatkan ikan." Senyuman Mira terlihat menunjuk ke arah kolam.


"Subhanallah pintarnya anak Papa, siapa yang mengajari sayang?" Genta mengusap rambut Putrinya yang kotor karena bermain air kolam ikan.


"Papa, Mola uga pintal. Kita palawan." Mora berlari memeluk Genta yang hanya tertawa kecil.

__ADS_1


Suara Juna pulang terdengar, Mora langsung berlari kencang. Memeluk kaki Papinya, Juna hanya tersenyum melihat anaknya yang bergelantungan.


"Papi, Mola celamatkan ikan,"


"Luar biasa baik sekali anak Papi." Juna menggendong tinggi Putrinya.


"Mia uga Papi,"


Tatapan mata Atika dan Shin sama tajamnya, melihat suami mereka yang selalu mensupport kenakalan anaknya yang mirip penyihir.


"Apa hebatnya? ikan bisa mati jika begitu." Tika menunjuk ke arah kolam.


Juna dan Genta langsung kaget, menahan tawa melihat ikan hampir mati karena tidak bisa menyelam.


"Sayang, kenapa ikannya dipasang pelampung?" Arjuna menatap Putrinya yang duduk melihat ikan.


Suara Mira menjelaskan terdengar, saat mereka mandi kolam selalu menggunakan pelampung agar tidak tenggelam. Melihat ikan di dalam air keduanya berinisiatif menyelamatkan.


Senyuman Genta terlihat, hanya bisa tepuk jidat melihat tingkah laku si kembar beda rahim yang pikirannya jauh di depan.


"Mora, Mira, spesial ikan memang hidupnya di air, mereka tidak akan tenggelam apalagi mati karena habitat mereka ada di air. Ikan bernapas menggunakan insang, berbeda dengan manusia yang mengunakan paru-paru." Suara pelan terdengar menjelaskan kesalahan mereka.


"Selamat kalian berdua berhasil membunuh hampir lima ikan, belum lagi kolam ikan hancur." Atika bertepuk tangan diikuti oleh Shin.


Suara tangisan Mora terdengar, memeluk Papinya erat. Dia tidak bermaksud membunuh dan berbuat dosa, Mora hanya mengikuti apa yang Mira katakan.


"Napa Mia calah, Mola bodoh. Kamu kasih Mia pelampung." Teriakan Mira terdengar marah.


"Mia yang culuh Mola terus." Tangisan semakin kuat.


"Berantem, berantem." Shin bicara pelan melihat dua anak kecil yang saling menyalahkan.


Tamparan Mira menghantam wajah Adiknya yang menangis, Genta langsung memisahkan anaknya. Tangisan Mora semakin kuat mengejar Mira yang sudah berlari lebih dulu.


Tawa Tika dan Shin terdengar dugaan mereka tepat, Mira yang emosian, Mora yang cengeng, tapi dua-duanya tidak bisa diam.


***


follow Ig Vhiaazaira


***


alihkan vote hadiah ke SELEBRITI BUKAN ARTIS ( cerita tentang Ria, lanjut ke sini ya jika ini TAMAT.)


__ADS_1


__ADS_2