ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENJAGA AT GRUP


__ADS_3

Suara tembakan terdengar, puluhan polisi langsung bergerak cepat masuk ke dalam pabrik.


Seluruh isi pabrik dibongkar, ada lima penjaga yang melarikan diri langsung ditembak tepat di kaki, karena melakukan perlawanan.


Tatapan Altha tajam melihat seseorang yang sudah bekerja sejak zaman Ayahnya, tapi menyalagunakan kekuasaan.


Barang sitaan yang berhasil diamankan mencapai 1 ton, peti minuman keras juga berisikan alat hisap.


"Gila, Hariz ternyata bandar terbesar dengan jaringan kelas internasional." Dimas bertepuk tangan.


"Sialan, mereka melarikan diri. Tutup semua bandara, juga pelabuhan. Gerakan pasukan ke sana." Altha langsung berlari kencang ke arah mobilnya, Dimas langsung menghubungi tim untuk berpencar dengan bantuan kepolisian setempat.


Hujan turun dengan derasnya di tengah malam, mobil beriringan saling mengejar. Satu kota heboh di tengah malam, karena satu kasus yang mengacau banyak anak muda, dengan penjualan bebas.


Panggilan di ponsel Altha bebunyian, saat panggilan terjawab suara teriakan terdengar.


Yandi memberikan kabar jika pabrik bukan atas nama perusahaan AT grup milik Ayah Altha, tapi sebuah gudang kosong yang di manipulasi untuk menghancurkan perusahan.


[Jangan bercanda kamu Yan?] Altha tidak percaya, dirinya sejak kecil sudah mengetahui letak pabrik, tidak mungkin ada pemindahan tanpa sepengetahuan Altha.


[Ini fakta Al, seluruh bukti terarah kepada King grup. Jaksa yang menyelidiki sudah bersiap untuk penyitaan seluruh surat menyurat King grup, bukan AT grup. Bagaimana ini bisa terjadi?]


Altha mematikan panggilan, menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Menghubungi Dimas untuk memberikan kabar soal pabrik.


Dimas tidak terkejut sama sekali, meminta Altha fokus melakukan penangkapan, setelah semuanya selesai Dimas akan memberitahu siapa pelaku yang bisa melakukan dalam waktu singkat.


Mobil Altha melaju kembali, masuk ke area bandara yang sudah ditutup, bahkan suasana bandara sangat sepi karena masih subuh.


Seluruh polisi yang menyamar sudah bersembunyi di tempat masing-masing, menangkap satu bandar terbesar bukan hal yang mudah, pasti ada orang dalam yang melindunginya.


"Al, bagaimana keadaan di sini?"


"Aman, tapi ...." Suara tembakan Dimas terdengar, Altha langsung berlari mengejar seseorang yang menyelinap masuk ke bagian staf.


"Di mana Hariz? tidak ada gunanya kalian melindunginya, karena hari ini menjadi terakhir kalinya kita bermain kejar-kejaran." Senjata Altha tepat di kepala tangan kanan Hariz.


***


Di dalam ruangan pribadi Altha, Aliya duduk di depan layar komputer tanpa penerangan selain cahaya komputer.

__ADS_1


Pintu perlahan terbuka, Juna meletakkan beberapa map penting soal perusahan. Menatap wanita bodoh yang sedang terlihat serius.


"Apa yang kamu lakukan?" Juna melihat surat menyurat pabrik sama persis, sudah berpidah tempat.


"Menyelamatkan perusahaan AT grup, peninggalan kakek kamu yang saat besar nanti harus kamu jaga. Juna belajarlah yang rajin, karena penjahat semuanya orang jenius." Senyuman Aliya terlihat, melihat layar komputer yang sudah menyebarkan virus ke perusahan King grup.


Aliya mengingat ucapan Citra jika dirinya hanyalah anak kecil yang tidak bisa apapun, padahal Al bahkan bisa menghacurkan Citra dengan mudahnya.


Al menghacurkan seluruh barang bukti, meminta Juna mengirimkan laporan terbaru untuk pengacara perusahaan agar menuntut King grup atas pencemaran nama baik.


Juna hanya menurut, saat matahari terbit, pengacara akan datang untuk membawa kasus ke jalur hukum.


Kepala Aliya mengangguk, meminta Juna tidur. Beristirahat dan tidak mengkhawatirkan Papanya yang sedang bermain kejar-kejaran.


"Juna, terima kasih karena kamu mempercayai Mami."


"Aku tidak percaya, tapi aku tahu kali ini kamu benar."


"Saat kamu mulai mengerti, Mami akan mengajari kamu untuk bertahan, karena saat Mami tidak ada lagi di sini kamu harus menjaga Papa dan adik-adik kamu terutama Mora." Al meminta Juna keluar, memejamkan matanya yang merasakan sesak dadanya.


Al ingin menangis, tapi air mata tidak pernah bisa keluar jika mengigat betapa menyakitkan hidupnya, kali ini Al tidak akan membiarkan Juna bernasib sama seperti dirinya yang hidup seperti mencari kematian.


Juna menatap Aliya, membawakan air minum saat melihat Al memukul dadanya dengan kuat mengurungkan niatnya, meletakan air minum di depan pintu.


"Mami, Tika takut tidur sendiri." Tika memeluk pinggang Aliya, meminta jangan pergi dan tidur bersamanya.


"Mami harus pergi sebentar."


"Ke mana? pulang lagi tidak? kenapa pergi malam? Mami ingin melarikan diri? kenapa semua orang pergi?" Tika melepaskan Al melangkah kembali ke kamarnya dengan perasaan takut, karena hujan.


Aliya menghubungi seseorang untuk menahan Hariz, karena Al akan terlambat datang. Mereka harus bergerak cepat, sebelum matahari terbit.


Al mengejar Tika, memeluknya yang sedang menangis memeluk bantal guling.


"Sini peluk Mami."


"Jangan pergi, tetap di sini bersama Tika."


"Baiklah, mami akan pergi jika sudah waktunya." Al tersenyum mengusap air mata Tika.

__ADS_1


Satu jam Aliya habiskan untuk menemani Tika, setelah tidur langsung berlari kencang untuk segera menemui Kenan yang sudah mengejar Hariz.


"Repot banget punya anak, seharusnya sudah selesai, tapi sekarang masih di jalan." Mobil yang Aliya kendarai kebut-kebutan di jalanan yang sepi sampai tiba di hotel.


Al memukul setir mobil berkali-kali mengeluarkan suara klakson di kegelapan dan derasnya air hujan.


Al menghentikan mobilnya, mematikan CCTV dari ponselnya langsung berlari melompat dan menyelinap masuk ke dalam hotel.


"Lama sekali Al?"


"Biasalah ada masalah sedikit." Al tersenyum langsung berjalan bersama Kenan dan Dika.


Setiap CCTV yang mereka lewatin, langsung terhenti dan hidup kembali dalam hitungan detik.


"Kak Dimas tidak bisa dihubungi?"


"Jangan hubungi dia, karena kak Dimas sedang bermain bersama Altha."


"Apa? jangan bilang kak Dimas tertangkap, sebaiknya hubungi kak Anggun." Dika menghentikan langkahnya, tangan Aliya menutup mulutnya.


Al, Kenan, Dika langsung bersembunyi saat mendengar suara Dimas dan Altha yang juga ada di hotel.


Kenan melihat Dimas bersama Altha, langsung menatap Aliya dengan wajah binggung. Aliya menghela nafasnya, bagaimana bisa Altha mengetahui jika Hariz ada di hotel.


"Sialan." Al mengumpat dalam hati.


"Apa informasi dari anak Hariz benar jika Ayahnya ada di hotel?"


"Aku yakin Roby tidak mungkin bohong, karena dia juga ditahan untuk penyelidikan." Dimas menepuk pundak Altha.


Aliya menganga jika Roby yang memberikan informasi, berarti Al harus mengubah rencananya.


"Kita pergi dari sini untuk menemui kak Anggun."


"Tunggu, kak Dimas polisi? berarti selama ini kita ditipu." Dika menatap kesal, sebagai adik dia dibohongi kakaknya sendiri.


Aliya, Kenan dan Dika langsung pergi, membiarkan Altha melakukan pengerebekan. Hariz memang tidak ada tempat takutnya, dia masih punya waktu untuk selingkuh, padahal kasusnya sedang memanas.


Dika menahan tangan Aliya, mempertanyakan soal Dimas yang bisa bersama Altha.

__ADS_1


"Kak Dimas seorang detektif, selama ini dia menyamar. Al juga baru tahu, rahasiakan saja sampai waktunya dia mengakui."


***


__ADS_2