ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TWINS A


__ADS_3

Kondisi Salsa yang fokus membantu pengobatan Juna, dan terpaksa Aliya melakukan persalinan beresiko hanya dibantu oleh perawat saja.


Pikiran Aliya tidak bisa konsentrasi, dia masih memikirkan kondisi Juna yang berjuang di ruangan operasi.


"Aliya dengarkan aku, Juna pasti baik-baik saja. Kamu harus melahirkan anak kita tanpa ada dokter, tolong fokus Al." Altha menggenggam tangan istrinya, mengusap rambut agar tenang.


"Al tidak bisa konsentrasi Ayang, rasa sakitnya juga tidak jelas." Al memukul dadanya yang lebih sesak.


"Ya Allah, ini anaknya kembar." Altha langsung meneteskan air matanya.


"Tidak bisa ditunda saja, aku khawatir dengan Juna." Aliya menangis menggenggam tangan suaminya.


Pintu ruangan Aliya terbuka, dokter Salsa berlari langsung menganti bajunya sambil tersenyum melihat Aliya.


"Dok, bagaimana kondisi Juna?" Al ingin duduk, tapi dokter Salsa langsung menahan.


"Juna baik-baik saja, dia sudah dibersihkan dan akan segera dipindahkan ke ruangan rawat." Salsa meminta Aliya fokus untuk melahirkan secara normal, karena dia sudah bukaan sepuluh.


Dokter menyuntikkan sesuatu, Aliya langsung meringis kesakitan mencengkram kuat tangan Altha.


"Salsa! perut aku sakit. Bisa tidak kamu tarik keluar." Al berteriak histeris memukul Altha yang menahan tangan Aliya.


"Aliya, kamu jangan marah-marah." Dokter rasanya ingin tertawa mendengar Al marah, bukannya menangis.


Instruksi dokter tidak ada yang Aliya dengarkan, bukan Aliya yang meringis tetapi Altha yang kesakitan.


Cengkraman tangan Aliya membuat Altha berteriak merasakan tangannya remuk, dan rasa sakitnya hilang saat mendengar suara tangisan.


"Sudah selesai?" Al mendorong Altha untuk menjauh.


"Belum Al, satu kali lagi. Tarik nafas seperti tadi." Salsa melihat wajah Aliya yang marah.


"Kenapa tidak bersamaan keluar? nafas sudah hampir habis. Astaga sakit!" Aliya memukul Altha yang memberikan air minum.


"Sayang, kenapa marah-marah? namanya lahiran pastinya satu-satu. Mendengar kamu marah-marah mereka yang ingin keluar langsung masuk lagi." Altha melangkah mundur, tubuhnya sudah remuk mendapatkan pukulan.


Dokter Salsa kesulitan menahan tawa, hanya sekali mendorong bayi kedua lahir dengan tangisan sangat besar.


"Masih ada tidak?" Al menatap dokter Salsa.


"Selesai, kamu hanya kembar dua, bukan lima." Salsa mengusap perut Al.


"Ya kali, mereka ingin membawa ginjal, jantung, paru-paru. Rasanya sakit sekali." Al menutup matanya kelelahan melahirkan dan mengomel.

__ADS_1


Altha mendekati Al, mencium keningnya sambil tersenyum. Altha bisa mendengar Aliya menangis sesenggukan.


Mereka ke rumah sakit tanpa membawa persiapan lahiran, tidak ada baju bayi, belum ada nama dan lebih menyakitkan Juna tidak bisa melihat adiknya.


"Ayang, kenapa lahirnya sekarang seharusnya dua tiga minggu lagi. Tidak ada baju, siapa nama mereka?" Al memeluk erat istrinya yang tidak berhenti menangis.


"Altha Aliya selamat ya, anak kalian berjenis kelamin ...." Salsa tersenyum meminta Altha mengadzani kedua anaknya.


Kelahiran kedua anggota baru Rahendra tepat saat subuh, lahir normal dengan sempurna.


Aliya dan Altha berpikir, kelahiran twins akan menjadi kebahagiaan terbesar bagi Juna dan Tika.


Setelah satu jam melahirkan, Aliya tertidur. Tika dititipkan di rumah Helen, Altha meminta Yandi menjemput putrinya saat sore karena kondisi Aliya dan Juna masih beristirahat.


Altha menitipkannya kedua anaknya kepada Susan, dan menemani Juna yang belum juga sadarkan diri.


Dokter mejelaskan kepada Altha kondisi Juna yang masih beruntung, karena dia mendapatkan dua tusukan yang tidak menembus bagian dalam.


"Usia Juna baru ingin masuk sepuluh tahun, dia sudah mengalami luka tusuk yang seharusnya tidak dia rasakan." Alt mengusap kepala putranya yang wajahnya pucat.


"Hal paling penting, pendarahan berhasil dihentikan dan Juna membutuhkan pemulihan." Dokter langsung pamit pergi.


Altha menggenggam tangan putranya, meminta maaf karena tidak bisa berbuat banyak. Alt tidak bisa bayangkan jika yang tertusuk Aliya pasti kondisinya sangat buruk.


"Anak Aliya hilang, perut Al mengecil." Suara tangisan Al terdengar sangat besar mengusap perutnya yang sudah kecil.


Altha menepuk jidat, langsung membawa Al tiduran di sofa. Altha langsung berlari keluar untuk memanggil dokter.


Aliya mendekati Juna, mengusap kepala Juna bekali-kali. "Maafkan Mami yang tidak bisa melindungi kamu, tapi Juna yang lindungi Mami." Al tidak bisa menahan kesedihannya.


Altha membuka pintu, beberapa perawat meletakkan tempat tidur Al yang dekat dengan Juna.


"Sayang, kamu istirahat dulu." Altha merangkul Aliya yang menangis menciumi tangan Juna.


Tatapan Aliya fokus ke arah Juna, tidak berkedip sama sekali merasa bersalah karena tidak bisa melindungi putranya.


"Al, kamu makan dulu."


"Juna juga belum makan Ayang, bagaimana Al bisa makan." Air mata Al tidak bisa berhenti menetes.


Altha melihat ponselnya, Yandi sudah tiba di ruang sakit bersama Helen dan Tika. Atika sudah berlari ke arah kamar Mami dan kakaknya.


"Assalamualaikum Mami." Tika langsung naik ranjang, memeluk Maminya.

__ADS_1


Tangan Tika menyentuh perut Maminya, tidak merasakan lagi keberadaan adiknya yang biasanya selalu bergerak.


"Adiknya Tika di mana? kenapa sudah hilang?" Tangisan Tika langsung terdengar membuat Altha mengusap punggung putrinya.


Alt memeluk dua wanitanya, meminta Al dan Tika berhenti menangis. Karena di balik musibah pasti ada hikmahnya. Nanti mereka akan tertawa lagi.


"Bagaimana keadaan adiknya Juna?" tatapan mata Juna melihat ke arah Maminya.


"Arjuna, kamu bangun sayang. Maafkan Mami ya Juna." Al menangis ingin turun dari tempat tidurnya.


Arjuna tersenyum menyentuh perutnya dan mengucapkan syukur karena Maminya baik-baik saja dan dirinya yang terluka.


"Di mana adiknya Juna?"


"Assalamualaikum, twins boleh masuk." Salsa tersenyum bersama Susan, Helen dan Yandi.


Suara Tika berteriak terdengar, menutup matanya untuk melihat adiknya yang belum mereka ketahui jenis kelaminnya.


Arjuna juga meminta bantuan Papinya duduk, menutup matanya sambil tersenyum lebar. Altha dan Aliya sangat bahagia melihat senyuman lebar dua anak yang selama sembilan bulan bersabar menunggu adiknya.


"Ayo cepat, mana adiknya Tika?"


Susan meletakkan satu bayi ditangan Tika, Aliya membantu Tika memegang adiknya.


Jantung Juna berdegup kencang saat Helen meletakkan satu bayi lagi di tangannya, deg-degan bisa menyentuh adiknya.


"Sudah siap membuka mata?" Salsa tersenyum bahagia melihat Juna dan Tika dalam hitungan ketiga membuka mata.


Senyuman Tika terlihat, adik bayinya menggunakan bedong warna pink, wajahnya sangat cantik, hidungnya mancung dan bibirnya tipis.


"Adiknya Tika cewek, namanya Adriana Rahendra dan satunya Andriani Rahendra." Tika menatap Juna yang terlihat kecewa.


Wajah Juna sedih melihat bayi ditangannya, Altha mengusap kepala Juna yang hampir menangis.


"Juna bukan tidak suka, tapi repot sekali punya adik perempuan tiga." Juna meminta Papinya mengambil adiknya.


"Jika laki-laki namanya siapa?" Alt menatap Juna yang sudah kecewa.


"Panggilan Juan karena kakaknya Juna, tapi depannya harus ada A."


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


Rekomendasi nama yang Juna inginkan, panggil Juan depannya harus A.


__ADS_2