
Pelukan Tika paksa lepas, mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang yang melakukan penelitian. Tika menarik tangan Genta untuk melangkah menjauh agar tidak menganggu orang lain.
"Kenapa Om tiba-tiba memeluk Tika di depan umum?"
"Memangnya harus mencari tempat sepi." Genta memukul mulutnya yang bicara sembarangan.
Tawa Tika langsung terdengar besar, memukul lengan Genta yang ternyata bisa bercanda disaat Tika serius.
"Ada apa Om? Tika masih ada pekerjaan." Kening Tika berkerut, menatap aneh.
"Apa yang kamu kerjakan? kenapa pergi tanpa izin? kamu perempuan dilarang pergi dengan pria asing." Suara Genta terdengar memarahi Tika.
Atika binggung, apa hak Genta melarangnya? Tika pergi sudah izin kepada Mam Jes, dan Juna. Tika juga pergi karena memang ada pertemuan dengan beberapa penelitian teknologi canggih. Tika tidak merasa dirinya ada salah yang membuat Genta harus menegurnya.
"Sekarang Tika pergi dulu, Om silahkan pulang." Tangan Tika mempersilahkan Genta pergi.
"Aku temani kamu sampai selesai." Genta berjalan lebih dulu.
Kepala Tika geleng-geleng, dirinya tidak tahu sebenarnya yang terjadi. Kedatangan Genta dadakan dengan sikapnya yang mendadak aneh, tapi tidak mengakui tindakannya.
Penelitian yang Tika dan beberapa Tim lakukan selesai, beberapa wanita tersenyum menatap ke arah Genta yang sedang melihat beberapa benda antik.
Langkah pelan kakinya membuat jantung berdegup, apalagi ekspresi wajahnya yang terlihat sangat tenang juga berwibawa.
"Siapa dia? kenapa dia mengikuti kita?"
"Dia Genta Leondra, Putra ketiga keluarga Leondra. Tidak biasanya dia muncul di tempat umum. Mungkin ada sesuatu yang sedang dia selidiki karena Genta bekerja di bidang kepolisian." Beberapa orang yang mengetahui keturunan generasi Leondra mengenal Genta.
Tika yang mendengar merasa risih, beberapa wanita mengambil kesempatan untuk mendekati Genta yang bisa mengubah keturunan.
"Permisi, kamu sedang melakukan penelitian?"
"Tidak, aku sedang menemani Atika." Tatapan mata Genta melihat Tika.
Belum selesai pembicaraan, Genta sudah melangkah mendekati Tika yang tersenyum meremehkan para wanita yang ingin mengambil hati Genta.
"Sudah selesai belum? satu jam aku menemani kamu."
"Tika lapar,"
"Aku temani makan." Genta menggenggam tangan Tika melangkah keluar dari museum.
Senyuman Tika terlihat, merasa menang dari sekian banyak wanita yang mengagumi ketampanan Genta.
__ADS_1
"Putra Leondra menjaga Putri keluarga Rahendra, dua keluarga yang memiliki status tinggi. Bukannya mereka terlihat seperti dijodohkan?"
Genta menghentikan langkahnya, menatap beberapa orang yang masih membicarakan dirinya. Mendengar kata perjodohan membuat Genta merasa ada sesuatu yang dirinya lupakan.
"Tik, apa kamu dijodohkan dengan seseorang? bukannya salah satu keluarga Rahendra dijodohkan dengan ... apa aku salah?"
"Kenapa? Om ingin menghentikan jika Tika dijodohkan dengan pria lain? memangnya Om mampu menghentikan keputusan Aliya Nakusha?" senyuman Tika terlihat, menatap wajah Genta yang geleng-geleng.
"Kamu mau makan apa?"
"Tika tidak lapar, bisa kita pergi ke suatu tempat yang menyenangkan?"
"Emh ... pantai?"
Kepala Tika mengangguk, memasang sabuk pengaman meminta Genta segera pergi ke pantai. Tika sedang menatap pikirannya yang terbagi-bagi ke dalam banyak hal.
"Tik, apa hubungan kamu dengan Andre?" suara Genta sangat pelan sampai Tika mendekatkan telinganya.
"Bicara yang jelas Om? Tika tidak bisa mendengar." Bibir Tika cemberut, mendekatkan wajahnya kepada Genta.
"Jauhi Andre, aku tidak menyukainya!" teriakkan Genta terdengar di depan wajah Tika.
"Kenapa? dia pria baik. Tika nyaman bersama Andre dan kita juga sudah berteman lama."
"Itu hak dia Om, namanya laki-laki normal. Hal wajar dia bersama perempuan yang tidak wajar dia bersama laki-laki." Tangan Tika melipat di dada, memalingkan wajahnya menahan tawa.
"Kamu sudah gila, bedakan hal normal yang kamu bicarakan." Genta menghentikan mobilnya pas lampu merah.
"Om tua memang tidak paham cinta, ini zaman modern Om." Kepala Tika geleng-geleng.
"Jauhi dia, jika tidak aku akan mengirim dia jauh dari negara ini. Jangan kamu pikir aku tidak bisa melakukannya." Ucapan Genta terdengar serius, dan tidak bisa Tika bantah lagi.
"Om kenapa? apa hak Om melarang Tika menjalin hubungan dengan siapapun?"
"Tik, cobalah mengerti,"
"Bagaimana Tika mengerti? Kak Genta tidak mengatakan apapun. Apa yang harus Tika pahami. Apa?" suara Tika meninggi, meminta penjelasan kenapa dirinya dilarang.
Mata Genta terpejam, mengigit bibir bawahnya. Ucapan Tika benar, Genta tidak mengatakan apapun karena dirinya juga binggung bagaimana cara mengatakannya?
Suasana hening sepanjang perjalanan, tidak terdengar lagi perdebatan keduanya yang tidak ada ujungnya. Tika menggenggam tangannya merasa kesal melihat Genta yang secara tiba-tiba diam.
"Kamu tahu ciri-ciri jatuh cinta apa?" secara tiba-tiba Genta menunjukkan ponselnya.
__ADS_1
Tubuh Tika langsung lemas, ingin sekali berkata kasar, mengutuk Genta yang bodohnya tidak ada lawan. Perasaan diri sendiri saja tidak paham.
"Om bercanda?"
"Kamu baca ciri-ciri jatuh cinta,"
"Tika tidak harus membacanya." Kepala Tika geleng-geleng langsung mengucap istighfar sambil mengusap dadanya.
Genta langsung diam, memarkiran mobilnya yang sudah tiba di lokasi. Kepala Genta diletakkan di setir mobil.
"Tika keluar mencari minum,"
Pergelangan tangan Tika ditahan, Genta menariknya agar tetap duduk. Tatapan Genta melihat ke arah Tika sambil menggenggam kuat ponselnya.
"Aku merasakannya, hati aku sakit."
"Minum obat Om, nanti jantungan efek tua." Tika menatap lemas, menyadarkan kepalanya di kursi.
"Atika ... jangan bercanda. Aku tidak jantungan, tapi masa iya ini tanda-tanda sakit jantung?" kening Genta berkerut, berpikir keras.
Tawa Atika terdengar kecil, mengusap wajahnya merasa konyol melihat pria yang terlihat sempurna di mata banyak wanita, tapi aslinya sangat luar biasa polosnya.
"Tidak, aku bukan jantungan ...." Genta langsung terdiam memegang dadanya.
Tika mencium bibir Genta sekilas, menahan tawa melihat wajah Genta yang berubah memerah. Bibirnya digigit kuat.
"Sekarang butuh obat jantung?" Tika mendekatkan telinganya ke arah dada Genta yang berdegup kencang.
Ekspresi Tika langsung sedih, mengusap dada Genta yang terdengar berdegup kencang. Keningnya sampai berkeringat dingin.
"Ciri-ciri penyakit jantung, Nyeri di bagian dada, tulang rusuk bagian bawah, dan lengan yang menjalar hingga ke leher, rahang, bahu, sampai punggung. Pusing, mual, dan muntah, Nyeri di perut bagian atas atau ulu hati, Lemas, Keringat berlebih, Sesak napas,
Detak jantung lebih cepat atau berdebar, Perut kembung." Tika membaca teks di ponsel Genta dengan suara yang sangat besar.
"Astaghfirullah Al azim, kita harus ke rumah sakit sekarang Om. Di sini ada detak jantung lebih cepat, juga berdebar. Om juga keringat, Tika berikan penawar obatnya." Senyuman Tika terlihat, mencium kening Genta langsung keluar dari mobil sambil tertawa.
Tubuh Genta semakin lemas, matanya juga terpejam setelah Tika permainkan.
***
Puas kalian 🤣 Genta bodohnya mirip orang yang hidup di hutan.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira