
Suara Ian mengajari adiknya Isel terdengar sangat lembut, kening Isel berkerut dengan ekspresi wajahnya yang kesal, karena tidak mengerti.
Gion yang menatap keduanya hanya diam, matanya sayu mendengar suara Ian mirip dongeng sebelum tidur.
Tanpa menyerah Ian terus mengulangi ucapannya sampai Isel mengerti, tangan Isel memegang mainan laba-laba melihat sekitarnya untuk melarikan diri dari Ian.
"Sudah paham belum Isel?"
"Sudah, tapi besok ulangi lagi. Isel capek." Ghiselin langsung naik ke atas ranjang sambil memegang laba-laba.
Ian melanjutkan mengajari Kakaknya Gion yang hampir tertidur, helaan nafas Ian terdengar, meminta Kakaknya membuka mata.
Diana sibuk dengan ponselnya sambil menggunakan masker wajah, sedangkan Gemal sudah tertidur.
Senyuman Isel terlihat, meletakkan laba-laba di atas wajah Papanya. Suara tawa Isel sangat kecil, agar tidak ada yang melihat kejahatannya.
"Pa, Papa. Pa, ada laba-laba besar di wajah Papa." Isel membangunkan Papanya yang membuka sedikit matanya.
Suara teriakan Gemal terdengar sangat besar, langsung lompat dari atas tempat tidur melemparkan laba-laba ke atas kepala Gion.
Gemal sudah berdiri di atas meja rias, Isel memeluk erat Diana karena kaget. Tangisan Gion terdengar sangat besar, gemetaran melihat laba-laba di atas kepalanya.
Ian langsung mengambil laba-laba, menyingkirkan dari kepala Kakaknya yang menangis histeris.
"Gemal!" Diana berteriak kuat, maskernya sampai retak ulah suaminya berteriak mengejutkan.
"Maaf, Papa kaget melihat laba-laba." Gemal langsung turun, menggendong Putranya yang masih saja menangis sesenggukan.
Tatapan Ian melihat adiknya Isel yang sudah duduk diam sambil tersenyum, keributan yang terjadi ulah kejahilan Isel.
"Punya siapa laba-laba?" Diana membersihkan wajahnya.
Tidak ada yang mengeluarkan suara, Ian yang mengetahui jika milik Isel hanya diam saja, karena Isel tidak mengakui kesalahannya.
"Tidak ada yang mengakui, baiklah." Diana langsung mengambil laba-laba, berjalan ke arah balkon
Isel langsung lompat dari atas tempat tidur, mengejar Mamanya untuk mengakui kesalahannya. Dirinya sengaja mengerjai Papanya.
Tangan Diana menarik telinga Putrinya, Isel bukan menangis tetapi tertawa sambil memeluk laba-laba raksasanya.
Kepala Gemal geleng-geleng, memegang laba-laba Isel yang sebesar wajahnya.
"Siapa yang membelikan Isel?"
"Kak Genta, lucu ya Papi. Isel punya satu mainan lagi, namanya slem mainan." Isel menunjukkan mainan barunya.
Kepala Gemal mengangguk, meminta ketiga anaknya tidur. Kepala Gemal pusing, terbangun dalam keadaan kaget.
"Kenapa Isel nakal sekali?" Gemal langsung lompat ke atas tempat tidur.
__ADS_1
"Mirip kamu, sehari saja tidak bisa tenang." Diana menarik selimut ingin tidur.
Gemal tersenyum, memeluk lembut istrinya. Isel lebih jahil dari Gemal, dan Raja jahil dikerjai Ratu jahil.
Kening Diana berkerut, masih mendengar suara Isel dari ranjang sebelah berbicara dengan laba-laba kesayangannya.
Diana hampir saja membuangnya, karena Isel tidak pernah mengakui kesalahannya. Berpura-pura seakan-akan dia korban.
"Isel tidur, jangan sampai Mama buang mainan kamu." Di bicara sangat tegas.
"Mama, peluk Isel."
Diana melepaskan pelukan suaminya, pindah ke ranjang Putrinya untuk menidurkan Putri nakalnya.
***
Pagi-pagi semua orang sudah duduk di meja makan untuk sarapan, suara tangisan Isel terdengar histeris, sambil teriak-teriak. Ria berlari kencang mendekati Gemal.
"Kenapa Isel?"
"Itu kepalanya Isel warna-warni, tidak bisa di lepas." Ria mengacak-acak rambutnya.
Tawa Gemal terdengar, membiarkan Isel yang menangis, nanti juga diam sendiri.
"Mama, Papa tolong Isel." Teriak-teriak sambil menangis, membuat semua orang khawatir.
Saat Isel datang, semua orang teriak kaget, Tika dan Shin langsung tertawa lepas, membekap mulut melihat kepala Isel.
"Ya Allah Isel, kamu apakah rambut sampai seperti ini?" Anggun menatap suaminya geleng-geleng.
Isel menceritakan jika dirinya sedang bermain slem, melemparnya ke atas lalu menyundul dengan kepalanya.
Slem mainan lengket, Isel mengacak-acak rambutnya, tapi tetap tidak lepas. Seluruh rambut Isel terbungkus slem.
Seluruh orang dewasa hanya bisa terdiam, tidak mengerti lagi dengan kenakalan Isel. Tika dan Shin memilih pergi, tidak kuat menahan tawa.
Ria sudah lebih dulu melarikan diri, anak-anak yang lain menatap kaget Isel. Rambut hitam pajang sudah hilang menjadi rambut warna-warni.
"Botak saja kamu Isel, slem tidak bisa dilepas. Diana melipat tangannya di dada.
Tangisan Isel semakin kuat, Calvin langsung menggendong cucunya yang tidak ingin di botak.
Gemal hanya bisa tarik nafas buang nafas, mengunyah makanannya. Perut lapar langsung kenyang melihat tingkah laku Putrinya yang tidak ada obatnya.
Segala upaya sudah dilakukan untuk melepaskan, tapi tidak ada hasilnya. Kepala Gemal geleng-geleng melihat Putrinya makan dengan lahap sudah lupa dengan rambutnya.
"Sakit tidak rambutnya Isel?"
"Sakit Nenek." Isel memegang kepalanya yang masih sama.
__ADS_1
"Kenapa kepala Isel?" Arjuna mengerutkan keningnya.
"Kak Gemal memberikan saran kepada kamu Juna untuk tidak menikah muda, nanti kamu gila sebelum tua." Gemal melangkah pergi, memegang kepalanya.
Tidak ada jalan lain, kecuali memotong rambutnya Isel. Tangisannya kembali terdengar, makanan dari mulut keluar lagi.
Juna langsung menggendong Isel membawanya ke kolam berenang, memintanya menyelam. Baju Juna juga basah karena membantu melepaskan.
Diana bernafas lega, Juna berhasil mengatasi rambut Isel yang bergulung menjadi satu dengan slem.
Dari lantai atas, Shin tersenyum melihat Arjuna yang sangat lembut dengan anak-anak. Rasa cintanya semakin besar, dan sulit menutupinya.
"Suami idaman." Shin menutup wajahnya.
"Siapa?" Tika melihat ke arah kolam, menatap Kakaknya yang mengurus Isel dengan lembut.
"Isel lebih parah daripada Ria nakalnya." Tika tersenyum melihat Isel yang kesenangan, Ria juga sudah mulai ikut-ikutan mandi setelah mendapatkan izin dari Juna.
Suara langkah kaki Gemal terdengar, berdiri di samping Tika menatap ke arah bawah. Diana juga muncul sambil membawa minuman.
"Kak Gemal pusing punya anak?" Tika menahan tawa.
Kepala Gemal menggeleng, dirinya bahagia memiliki ketiga anaknya yang sangat aktif, jika dia melakukan kesalahan sesuatu yang wajar, agar tahu jika harus berhati-hati.
"Mau menambah anak lagi?" Di menggoda suaminya.
"Jangan, tiga saja sayang. Kisah cinta kita sudah happy ending, berikan kesempatan generasi selanjutnya menemukan cinta sejati." Gemal memeluk istrinya dari belakang.
"Cerita kita berakhir di sini, karena sudah happy ending?" Di menatap Tika dan Shin yang melangkah pergi.
Gemal dan Diana tertawa, cerita perjalanan mungkin sudah berakhir, tapi proses kehidupan masih terus berjalan. Gemal bahagia memiliki Diana, wanita yang tidak menyukainya saat pertemuan pertama, tapi selalu bertemu lagi dan lagi.
Diana juga bahagia memiliki Gemal, kisahnya memang sudah berakhir, tapi akhirnya bahagia karena memiliki lelaki terbaik dalam hidupnya.
"Semuanya kita berdua pamit, jangan kangen." Di mencium pipi suaminya.
END
***
Coment di bawah kapan lanjut season 3
Ada yang bosan tidak jika episodenya panjang.
***
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
***
besok Senin jangan lupa vote hadiahnya.