
Sudah hampir satu minggu Shin hanya berdiam diri di kamarnya, makan saja harus Juan yang menyiapkan.
Berkali-kali Tika berkunjung juga tidak memberikan hasil yang baik, Shin memilih diam dan terus menyendiri.
"Kenapa seperti ini Shin? apa aku harus mencari kebenarannya? apa kamu siap menerimanya?" Tika duduk di sofa, dirinya sudah tidak sanggup bertahan lagi.
Masih tidak ada jawaban dari Shin, dia memutuskan untuk diam. Menolak disentuh oleh siapapun apalagi Juna, bahkan tidur terpisah.
Di dalam lubuk hati Tika yang paling dalam hatinya terluka melihat kondisi mental Shin, dia terlihat baik-baik saja, tapi trauma karena tidak bisa menerima kenyataan jika dirinya sudah tidak suci lagi.
"Tika, sebaiknya kamu pulang,"
"Shin aku pulang dulu, besok datang lagi." Helaan napas Tika terdengar memegang lengan Kakaknya agar lebih kuat lagi.
"Dek, kamu makan dulu. Lihat tubuh kamu semakin kurus." Juna mengusap kepala Shin.
"Jangan sentuh aku!" tangan Juna ditepis, tamparan kuat mendarat di wajahnya.
Tika yang melihat memegang dada, menatap Kakaknya yang tidak pernah disakiti menanggung akibat untuk menjaga Shin, bahkan meninggalkan pekerjaannya.
Tatapan Shin melihat tangannya, melihat wajah Juna yang merah. Rasa bersalah dan menyesal terlihat di mata Shin.
"Tidak apa, Ay Jun mengerti Shin tidak sengaja, jangan terlalu dipikirkan." Juna tersenyum melihat air mata keluar dari mata Shin.
"Keluar! keluar kamu! jangan dekati aku, keluar semuanya. Keluar!" Shin berteriak sangat kuat sampai suaranya habis.
Suntikan menancap di tubuhnya, Juna menidurkan Shin yang berada dalam pengaruh obat.
Pelan-pelan Tika keluar, menutupi mulutnya sambil menangis. Cepat Tika melangkah pulang membawa rasa sakit melihat kondisi sahabatnya juga Kakaknya yang sangat terpukul.
Tika bertekad menemukan kebenaran meksipun akhirnya menyakitkan, Tika melangkah sendirian ke hotel yang sudah tutup karena Juna yang memberikan perintah.
Dari kejauhan Tika menatap kamar saat menemukan Shin, berjalan masuk mengecek kemungkinan ada bercak darah karena kamar hotel tidak sempat dibersihkan.
__ADS_1
Tidak satupun bukti yang bisa Tika temukan, hanya tempat tidur biasa. Pilihan terakhir Tika harus menemui Reza secara langsung.
Pintu kamar mandi terbuka, Tika melangkah masuk melihat sekitar karena saat Tika tiba Juna sedang memukuli Reza di dalam kamar mandi.
"Kertas apa ini?" Tika menatap tajam jika Reza mendapatkan ancaman kematian Adiknya.
"Adik, Reza mempunyai adik." Tika mencoba berpikir kemungkinan besar keberadaan Adiknya Reza.
Senyuman Tika terlihat, mungkin Hana mengetahui sesuatu soal Reza karena hubungan Hana dan Dina sangat baik, kemungkinan juga Hana dan Reza saling mengenal.
[Assalamualaikum Kak Hana, maaf Tika menghubungi saat malam hari. Boleh Tika bertanya sesuatu?]
Hana menjawab salam, mempersilahkan Tika bertanya. Selama dirinya bisa menjawab, pasti akan segera dirinya beritahu.
Tidak ada basa-basi, Tika langsung kepada intinya. Mempertanyakan soal Adiknya Reza yang sedang dirawat.
[Adiknya Reza, dia mengalami kecelakaan delapan tahun yang lalu. Sampai saat ini masih belum sadar, aku tidak tahu pasti tempatnya karena Dina memindahkan ke rumah sakit terdekat.] Hana juga baru terpikirkan soal Adiknya Reza, apalagi sekarang Reza berada di penjara tidak bisa Hana bayangkan nasib Adiknya.
Panggilan mati, Tika langsung tahu rumah sakitnya. Jarak paling dekat pastinya rumah sakit terbesar yang menjadi tempat keluar masuknya keluarga mereka.
"Akhirnya ketemu, dengan ini aku bisa menemukan informasi kejadian di hotel." Senyuman Tika terlihat, masuk ke dalam ruangan Adiknya Reza, memotretnya untuk ditunjukkan kepada Reza.
Kondisi pasien sudah membaik, bahkan sempat bangun namun masih kebingungan soal keadaan yang sudah banyak berubah.
"Kamu harus kuat, jadilah wanita yang tangguh. Aku harap kita akan bertemu dalam keadaan sama-sama bahagia." Tangan Tika menyentuh wajah remaja yang bertahan di rumah sakit selama 8 tahun.
Tubuh Tika terduduk di lobi rumah sakit karena lelah lari-larian sendirian. Air mata Tika juga menetes menyadari jika tubuhnya dalam keadaan tidak baik.
Saat bersama Shin tidak ada kata lelah, tapi setelah terpisah rasanya semangat juga ikutan hilang.
"Kita harus ke kantor polisi,"
Tika kebut-kebutan di jalanan, menghubungi Gemal untuk meminta bantuan. Tika harus bertemu dengan Reza apapun resikonya. Demi Shin apapun akan Tika lakukan demi menemukan kebenaran.
__ADS_1
Gemal sangat paham, sehingga memberikan izin. Gemal memang merasa curiga jika sebenarnya terjadi sesuatu di hotel.
"Aku menganggu kamu di tengah malam. Za, ini kondisi adik kamu, lihatlah." Tika menyerahkan ponselnya
Tika tahu Reza tidak tidur, dia mendengar semuanya. Apapun yang Reza ketahui sangat penting bagi rumah tangga kakaknya juga rumah tangga Tika.
"Aku akan menunggu kabar dari kamu, kita bisa bicara santai. Tidak terjadi apapun antara kalian, aku tahu itu." Tika meninggalkan ponselnya menunggu Reza menghubunginya dan menceritakan semuanya.
"Jangan menunggu, tidak ada yang bisa aku beritahu." Reza mengembalikan ponsel Tika bahkan menolak melihat Adiknya.
"Sesakit apa yang kamu terima sehingga tega menyakiti kami? Apa salah Shin sehingga kamu dendam kepadanya? Kak Juna bahkan meyelamatkan adik kamu." Tika berteriak meminta sedikit saja kejujuran Reza.
"Kamu bertanya sesakit apa? orang kaya seperti kalian tidak akan mengerti."
"Kehidupan kaya ini tidak ada gunanya, Kami hanya memprioritaskan kekeluargaan. Jika Shin sampai gila, aku juga akan bercerai dengan Genta. Kamu ingin tahu kenapa? ini hukuman agar kami semua merasakan sakitnya. Kamu pengecut Za menyerah hanya karena ancaman." Air mata Tika menetes melangkah pergi untuk pulang setelah rasa lelahnya mencari kebenaran.
Di depan rumah Genta sudah menunggu, jam sudah menunjukkan pukul satu, tapi istrinya belum juga pulang dan tidak bisa dihubungi.
"Dari Tika? kenapa tidak bisa dihubungi? kamu tahu aku sangat khawatir!"
"Tika hanya sedang berjuang,"
"Jika ada masalah bicara? bukan pulang ...." Genta menatap Tika yang berjalan ke dalam rumah tidak mempedulikannya.
Selesai mandi Tika ingin tidur, Genta menahan tangannya agar mengatakan alasan dirinya pulang larut malam, padahal Juna sudah mengatakan pulang sejak sore.
"Kenapa? kamu berubah Tik. Bahkan kamu menolak untuk kita berhubungan, pernikahan ini apa artinya di mata kamu?"
"Tidak tahu! aku tidak tahu. Jika Kak Genta terganggu silahkan keluar, jika tidak sanggup pergilah." Mata Tika terpejam, menahan air matanya agar tidak menetes.
Hati Tika hancur, rasanya sangat sakit karena selalu menolak suaminya bahkan terpikirkan untuk berpisah sebelum Genta yang mencampakkannya karena kondisi Shin yang semakin parah.
"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari aku? lebih baik jujur daripada aku menemukannya sendiri." Genta keluar dari kamar, langsung banting pintu.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira