ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TERLAMBAT UNTUK JUJUR


__ADS_3

Sudah satu minggu tidak ada perkembangan, suasana di rumah dan apartemen Citra juga aman.


Belum ada pergerakan sama sekali, hebatnya tidak ada bukti apapun untuk menemukan pelaku. Al juga bahkan mengawasi anak-anaknya lebih ketat, dan tidak mengizinkan pergi sendiri.


Citra menyadari jika Altha selalu memerintahkan orang untuk mengawasi dirinya, bahkan saat ada di kampus.


Tatapan Citra tajam melihat mahasiswi baru yang ikut bergabung di kampusnya, wanita yang paling Citra benci menjadi mahasiswanya.


"Kenapa kamu harus kuliah di sini?" Citra menatap tajam Aliya yang tersenyum manis.


"Memangnya kamu siapa? hak Al ingin kuliah di mana, suamiku yang membiayai." Aliya langsung melangkah pergi, menyapa Susan yang masuk kuliah bersamanya.


Tatapan Susan tajam, Citra mirip nenek lampir yang berbuat sesuka hatinya.


Aliya sengaja daftar kuliah, karena dia ingin mengetahui pelaku yang sudah satu minggu tidak ada terlihat sama sekali pergerakannya.


"Kak Al yakin ingin kuliah?"


"Tidak terlalu yakin, kuliah hanya mendapatkan status sarjana yang tertulis di kertas, tidak menjamin apapun. Aku harus menemukan pelaku yang menyerang Tika, dia pasti sangat dekat dengan Citra." Al tidak menemukan bukti apapun jika pelaku mendekati Altha.


Mobil berwarna hitam sudah terparkir di parkiran, Al melambaikan tangannya kepada Susan yang berlalu pergi.


"Al, bagaimana hasilnya?" Altha membuka pintu langsung mempersilahkan Aliya masuk.


Senyuman licik Aliya terlihat, langsung memeluk Altha dan mencium pipinya.


Citra menyaksikan keduanya yang masuk mobil sambil tersenyum bahagia, rasa benci Citra semakin besar.


"Kenapa Altha ada di sini? apa dia kekurangan pekerjaan sehingga selalu bersama Aliya?" pintu mobil Citra tertutup, dan langsung melangkah pergi meninggalkan kampus.


Di dalam mobilnya Altha masih binggung, dia tidak menemukan bukti apapun soal orang yang Aliya ceritakan.


"Ayang, dia pasti tahu jika kita melakukan penyelidikan." Al menyipitkan matanya, menatap wajah suaminya yang hanya mengangguk kepala.


"Kita bersikap seperti biasanya, jangan terlalu menjadi beban. Kamu fokus kuliah, jangan sampai membuat masalah." Altha melotot meminta Aliya menurut.


Bibir atas Aliya terangkat, dia tidak membutuhkan pendidikan. Percuma kuliah, pikirannya tidak ada di sana, masa sekolah sudah lama berakhir.

__ADS_1


"Aku langsung pergi ke kantor, jangan pergi ke manapun tanpa izin." Alt menurunkan Aliya di depan rumah mereka.


"Apa gunanya kamu menjemput aku jika masih ingin bekerja?" Al membanting pintu mobil dan membiarkan Altha pergi.


Senyuman Altha terlihat, Aliya satu-satunya wanita yang selalu memarahinya.


Sesampainya di kantor Altha langsung melangkah keluar mobilnya, melihat Citra yang sudah menunggunya.


"Aku ingin bicara Alt." Senyuman Citra terlihat menatap mantan suaminya.


"Bicaralah." Altha tersenyum melihat Dimas juga muncul dengan wajah kesal.


Citra melangkah ingin pergi ke restoran yang tidak jauh dari kantor polisi, Altha hanya diam saja menolak untuk duduk berdua apalagi di tempat umum.


Status mereka sudah mantan, dan memiliki kehidupan rumah tangga masing-masing. Altha tidak ingin membuat masalah dengan berduaan dengan Citra.


"Aku hanya ingin bicara berdua Al, tidak pantas bicara di jalan seperti ini." Mata Citra menatap tajam, menarik tangan Altha yang langsung menepisnya.


"Lebih tidak pantas jika kita berdua di tempat umum, jika ingin bicara masuk ke dalam." Altha melangkah masuk dan menyapa timnya yang sedang kesal semua, karena kasus pembunuhan.


Wajah Citra tidak bisa dikontrol, dia sangat kesal melihat sikap Altha yang menganggapnya hanya warga biasa.


"Kenapa kamu mengawasi apartemen dan tempat kerja aku? belum bisa move on." Citra menatap wajah Altha yang terkejut.


Dimas langsung lepas kendali, tertawa kuat menendang kursi Yandi yang masih terluka soal kasus yang baru selesai.


Melihat Dimas tertawa lepas membuat yang lainnya kesal, tapi tidak berani menegur detektif gila seperti Dimas.


Altha mengaruk tekuk lehernya Citra sungguh luar biasa tidak bisa dia mengerti.


"Citra, aku hanya ingin melindungi anak-anakku. Masalah ini tidak ada sangkut pautnya sama kamu, jika aku ada di kampus karena Aliya." Altha menceritakan soal penyerang Tika, juga kekhwatiran Altha soal Mora.


Meksipun Altha dan Aliya belum memiliki bukti kuat, jika pelaku orang yang tidak menyukai Citra ataupun Altha, mungkin ada sangkut-pautnya dengan Roby dan Aliya. Semuanya masih diselidiki.


"Kamu bisa berbagi masalah dengan Aliya, tapi kenapa dulu kamu tidak bisa melakukannya dengan aku Alt?" air mata Citra menetes merasa Altha benar-benar berubah.


"Aku tidak ingin membahas masa lalu lagi, hubungan kita sudah berakhir, dijelaskan juga sudah terlambat. Kamu jalani rumah tangga kamu, begitupun dengan aku." Alt mempersilahkan Citra pergi.

__ADS_1


"Kamu bahagia?"


Senyuman Altha terlihat, mengangguk kepalanya jika dirinya sangat bahagia. Terutama Altha bahagia melihat Juna dan Tika bisa tertawa kembali juga menerima jika kedua orangtuanya sudah berpisah dan mempunyai keluarga baru.


Citra langsung melangkah pergi, menarik Altha untuk mengikutinya ke mobil untuk memberikan sesuatu.


"Ada apa lagi?"


"Aku kembalikan seluruh aset yang kamu berikan, Altha berikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya, dan mengakui kebenaran kepada kamu." Citra menggenggam tangan Alt agar menunggunya.


"Aku tidak membutuhkannya, jangan katakan apapun lagi Citra. Kita bisa berteman seperti saat kecil. Ambil hak kamu." Altha mengembalikan surat menyurat langsung melangkah mundur.


"Altha, aku tidak membutuhkan harta, aku membutuhkan kamu hanya kamu. Berikan aku waktu untuk mejelaskan semuanya." Suara Citra berteriak bisa didengar banyak orang.


Altha terus berjalan, tidak memperdulikan ucapan Citra. Bagi Altha sudah terlambat bagi Citra untuk jujur, karena dirinya sudah tahu semuanya.


Dimas mendekati Altha yang sibuk melihat laporan kasus, tersenyum melihat Alt yang masih diinginkan oleh mantan istri.


"Cinta memang brengsek, sudah diberikan kebahagiaan dia mempermainkan, setelah ditinggalkan merengek-rengek ingin kembali. Bodoh." Tatapan sinis Dimas mengejek Altha yang langsung bergerak menendang kursinya.


"Jangan sibuk mengurus kisah cinta aku, kamu pikir saja diri sendiri. Jangan terlalu lama diam, wanita yang mencintai kamu bisa diambil orang. Ingat Dimas, sudah digenggam saja bisa lepas apalagi sesuatu yang tidak dijaga." Altha tertawa mengejek balik sahabatnya sekaligus rekan kerjanya.


Keduanya tertawa untuk memutuskan tidak kembali ke masa lalu, meksipun masih binggung dengan masa depan.


Altha menunjukkan foto pria yang sempat tertangkap kamera, anehnya Altha tidak menemukan orang yang cocok dengan foto.


"Wajahnya terlihat aneh, dia sepertinya perempuan?"


"Apa dia menggunakan topeng?" Alt menatap tajam gambar.


Dimas mengerutkan keningnya, sepemikiran dengan Altha. Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak memiliki identitas, bahkan sekalipun orang yang sudah meninggal.


"Apa rencana kamu?"


"Entahlah, aku hanya ingin libur kerja dan bersantai di rumah."


"Kamu jatuh cinta Al, sepertinya rumah menjadi kebahagiaan kamu." Dimas menepuk pundak Altha yang langsung salah tingkah.

__ADS_1


***


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


__ADS_2