
Perawatan Genta tidak terlalu lama hanya membutuhkan istirahat di rumah, Dokter mengizinkan Genta pulang lebih awal.
Saat keluar dari ruangan, Genta melihat Tika yang masih duduk di ruang tunggu seorang diri. Terlihat kecemasan dari padangan Tika, dirinya tidak berani masuk karena merasa bersalah.
"Kenapa kamu masih di sini?" langkah Genta terhenti di hadapan Tika.
"Om tua kenapa keluar? bagaimana kondisi Om?" Tika berdiri dari duduknya memperhatikan kondisi Genta.
Senyuman Genta terlihat, sejak awal dirinya memang baik-baik saja. Hanya ada sesuatu yang membuatnya drop, dan Genta tidak memiliki alasan untuk mengatakannya.
"Tika, kamu masih di sini?" Shin tersenyum merangkul pundak sahabatnya.
Senyuman Tika terlihat, sejak awal Genta masuk rumah sakit Tika sudah menemani bahkan setia menunggu. Shin datang dalam keadaan yang terpukul,. panggilan Tika juga tidak didengarkan membuat Tika yakin jika Shin dan Genta terikat hubungan spesial.
"Ayo Tik, kita ke apartemen Kak Gen. Ada Mam Jes juga."
"Kamu saja Shin, aku masih ada urusan kantor. Nanti kita bertemu lagi." Senyuman Tika terlihat, melambaikan tangannya melangkah pergi lebih dulu.
Di parkiran Tika baru ingat jika dirinya membawa mobil Genta, masuk ke dalam terlalu menyakiti hatinya.
"Pak tolong serahkan kunci ini kepada pemilik mobil ini." Tika menyerahkan kunci kepada satpam yang berjaga.
Mobil yang menjemput Tika tiba, Genta menahan tangan Tika untuk mengantarnya pulang karena hari mulai malam.
"Kamu sudah makan? jalan saja Pak, maaf ya." Genta menyerahkan uang kepada supir.
"Jangan pergi Pak, tunggu sebentar. Kunci mobil kamu aku titip ke satpam, kita berpisah di sini." Tika melepaskan tangannya, membuka pintu mobil untuk pergi.
Genta ikut masuk ke dalam, meminta supir jalan mengikuti tujuan Tika. Tatapan mata Tika tajam karena Genta bukan pulang ke rumah untuk beristirahat tapi memilih mengikuti dirinya.
"Kenapa Om meninggalkan Shin?"
"Dia pulang bersama Kak Di dan Gem,"
Helaan napas Tika terdengar, dirinya tidak mengerti dengan perasaan diri sendiri yang nyaman bersama Genta, ada juga saatnya kecewa bersama Genta.
Keheningan terasa, Genta bekali-kali melirik ke arah Tika yang diam sambil memejamkan matanya. Genta ingin sekali bicara, tetapi binggung ingin mulai dari mana.
"Tik, kamu sudah lama berteman dengan Shin?"
"Enam tahun,"
"Apa selama itu dia bahagia?"
"Emh ... mungkin." Jawab Tika dingin.
__ADS_1
"Apa makanan kesukaan Shin? hadiah apa yang paling cocok untuk dia?" senyuman Genta terlihat, memikirkan kesukaan wanita seperti tas, high heels, perhiasan.
Kedua tangan Tika menggenggam erat, ingin sekali memukul wajah Genta yang membicarakan Shin sepanjang jalan. Tika hanya menjawab singkat, dan malas-malasan.
"Bagus ini atau ini Tik?" Genta menunjukkan foto dua tas bermerek.
"Shin tidak suka tas bermerek, tidak suka berbelanja, tidak suka makan, tidak suka apapun. Dia hanya suka berdiam diri seperti patung." Senyuman manis Tika terlihat memaksa.
"Apa kesukaan kamu?"
"Apapun yang ada di dunia ini aku suka, bahkan pak supir juga Tika suka. I love you pak supir." Tika memberikan ciuman jarak jauh.
Genta mengerutkan keningnya, sedikit kesal dengan jawaban Tika yang terdengar serius, tetapi rasa bercanda.
Supir menahan tawa melihat dua anak muda yang masih berdebat, satunya sedang cemburu dan yang satunya tidak punya kepekaan sama sekali.
"Kita sudah sampai," supir menghentikan keduanya.
Genta langsung keluar, diikuti oleh Tika. Belum sempat Tika protes karena salah tujuan, mobil sudah berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa kita di sini Tik?" Genta melihat hotel yang menjulang tinggi.
"Mana aku tahu,"
"Mau apa kita masuk hotel?" Tika menarik tangannya untuk dilepaskan.
"Siapa pemilik hotel ini?" Genta mendekati lambang besar yang tidak asing dalam ingatannya.
Mata Genta terpejam, mengingat kejadian penculikan adiknya. Ada seorang wanita datang menggunakan gelang yang sama dengan lambang. Dia meminta Genta diam, dan berhenti menangis orangtuanya.
Adiknya Shin dibawa pergi oleh wanita yang memakai gelang, dan setelahnya Genta jatuh pingsan.
"Aku harus menemukan pemilik hotel ini." Genta menunjukkan identitasnya untuk bertemu dengan orang yang mengurus hotel.
Atika hanya mengikuti saja karena tidak mengerti apapun yang Genta lakukan, bahkan kehadiran seorang pria tua.
"Ada keperluan apa seorang polisi datang ke sini?"
"Siapa pemilik hotel? dan lambang ini milik keluarga siapa?"
"Lambang ini bisa kamu temukan di beberapa tempat anak muda. Ada di hotel, pusat perbelanjaan bahkan pesawat sekalipun."
Genta menatap Tika yang menarik tangannya untuk keluar menjauh sebelum mempermalukan diri sendiri.
Atika meminta Shin menjemput di hotel, membawa mobil yang ada di parkiran rumah sakit.
__ADS_1
"Om tua sebenarnya mencari siapa?"
Kepala Genta menggeleng, duduk di samping Tika yang menunjukkan beberapa hotel dan banyak usaha besar lainnya yang menggunakan lambang yang sama.
"Lambang apa ini?" Genta menatap sama persis dengan milik hotel.
"Entahlah, ini lambang cukup familiar. Memangnya kenapa?" Tika masih binggung sebenarnya apa yang Genta cari.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Tika, laporan soal lambang sudah ada sejak dua puluh tahun yang lalu, dan orang yang memiliki seseorang yang sangat baik dan suka beramal.
Setiap tahun satu bisnis besar memakai lambangnya sebagai tanda kerjasama, dan mengikat hubungan semakin besar.
"Orang yang membunuh orangtuaku salah satu dari mereka, imbal balik yang cukup tragis."
Tika menundukkan kepalanya, seperti mengingat sesuatu dan pernah menatap lambang pada seseorang yang terasa dekat. Saat dibutuhkan Tika tidak bisa mengingat sosok orang yang memakai gelang lambang yang sama.
"Apa orang itu menggunakan gelang lambang ini, tapi berwarna emas?"
"Kamu tahu dari mana? aku belum mengatakan warnanya." Genta menarik bahu Tika untuk berhadapan.
Jantung Tika berdegup kencang, bukannya bisa berpikir tetapi pikirannya semakin buyar bahkan kesulitan untuk bernapas.
Genta bicara panjang lebar, Tika tidak bisa mendengar sama sekali karena sibuk mengendalikan jantungnya yang berdetak kencang terasa ingin meledak.
"Tika, kamu mendengar aku tidak?"
"Argh ...." Tika menarik napas dalam-dalam menghembuskan perlahan.
Suara klakson mobil terdengar, Shin tersenyum keluar dari mobil melihat Genta dan Tika yang asik mengobrol berdua.
"Cepat sekali kamu Shin?"
"Biasalah Kak namanya juga pembalap." Tawa Shin terdengar, mengikuti Tika yang sudah berlari ke dalam mobil.
"Kenapa kamu Tika?" Shin merangkul sahabatnya yang terlihat kepanasan.
Tatapan Tika sinis, melepaskan rangkulan Shin langsung masuk mobil. Arah pandangan Tika kembali ke lambang hotel.
"Shin, kamu pernah melihat seseorang menggunakan gelang lambang itu?" Tika menunjuk ke arah sesuatu yang diikuti oleh mata Shin.
"Emh ... Dokter Li."
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1