ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERMAIN *


__ADS_3

Kehebohan di kamar Isel terdengar, Diana sudah angkat tangan melihat Putrinya membawa koper padahal hanya ingin pergi ke pantai yang jaraknya hanya dua jam.


"Gen, lihatlah Isel." Diana menunjuk ke arah Putrinya yang ingin pergi dari rumah.


"Banyaknya Sel, kamu ingin berapa lama di pantai?"


"Ini diperlukan semua uncle, ada baju berenang, handuk, baju berfoto, dan mainan Isel." Isi koper dikelurkan, Isel menunjukkan semua keperluannya baju yang dibawa juga gaun mewah.


"Keluarkan baju gaun, baju tidur, mainan, alat memasak, juga sepatu high heels, sekalian pedang juga ditinggalkan. Isel hanya perlu membawa tas kecil berisikan cemilan." Senyuman Genta terlihat meminta Isel menurut.


Tidak harus bicara dua kali, Isel balik lagi ke kamarnya mengambil tas kecil. Diana hanya bisa tertawa melihat Putrinya yang keras kepala, tapi dengan Uncle sangat menurut.


"Uncle, kita sudah siap." Gion menggendong tas ranselnya, diikuti oleh Ian yang sudah sudah bersiap dengan baju yang sangat santai.


"Kenapa hanya Ian yang normal? Gion ganti baju. Kenapa menggunakan jas?"


"Mencari pacar, Gion ingin seperti Kak Ria." Suara Gion merengek-rengek terdengar, tidak ingin berganti baju.


Genta akhirnya menyerah, membiarkan Gion menggunakan baju formal, nanti dia sendiri yang akan malu jika sampai menjadi pusat perhatian.


Hanya ada dua mobil yang akan pergi, Genta satu mobil bersama Isel, Ria, Gion dan Ian. Ditambah lagi Dean yang membuat semakin heboh. Juan juga memilih pindah ke mobil Genta yang sudah semakin sempit.


"Ini mobil cukup untuk empat orang paling banyak lima, oke enam. Kenapa ini ada lebih dari enam?" Genta mengusap dada melihat Isel dan Ria sudah main pukul.


"Mobil banyak, kenapa masuk di sini semua? sisa masuk mobil Kak Juna." Aliya melihat mobil sesak, Ria dan Isel duduk berdua di depan bersama Genta.


"Tidak muat!" semuanya berteriak melihat mobil sport Juna keluar.


"Kenapa menggunakan mobil kecil Jun?" Aliya menatap dua wanita yang sudah masuk ke dalam mobil.


Di perjalanan Tika dan Shin bernyanyi riang, hanya Juna yang memilih diam mengikuti mobil Genta yang ramai seperti bus dengan teriakan yang beradu sampai keluar mobil.


Tawa Tika terdengar melihat rekaman di dalam mobil Genta, Shin juga tertawa kuat melihat ulah Tika dan Ria.


"Kasian Gion, rusak bajunya." Juna geleng-geleng kepala.


Setelah melewati perjalanan cukup lama, mobil tiba di pantai. Orang tua anak-anak akan menyusul.


"Shin, ayo turun." Tika keluar lebih dulu berlari memeluk Genta dari belakang.


"Kenapa tidak keluar?"


"Masih panas, lihat tangan Shin merah." Tangan Shin terulur, Juna langsung menariknya untuk keluar mobil.

__ADS_1


Senyuman Shin terlihat menatap lautan yang sangat indah, banyak keluarga yang sedang berlibur. Anak-anak berlarian dengan penuh kebahagiaan.


"Wow ... ini pertama kalinya Shin datang ke sini. Menyenangkan sekali." Mata Shin terpejam, menarik napas panjang merasakan kesejukan udara juga angin sepoi-sepoi yang menerbangkan rambutnya.


"Kerebo sini, bantu Isel." Teriakan Isel terdengar memanggil seorang anak kecil yang seumuran dirinya lewat.


Juna langsung berlari, mendekati Isel menggendongnya ke arah pantai. Shin mengikuti dari belakang melihat Isel yang mengejek orang lain.


Melihat air laut yang tenang, membuat hati Tika bahagia. Memeluk Genta yang sudah tidak canggung lagi memperlihatkan hubungan keduanya di tempat umum.


"Ayang, pernikahan kita hitungan hari. Rasanya persiapan 80% sedangkan kita baru sepuluh persen." Tika merasa kesal atas semua yang terjadi, waktu seakan tidak memberikan mereka ruang untuk bernapas.


Senyuman Genta terlihat, menyentuh kepala Tika yang mengutarakan kekecewaannya. Genta merasakan hal yang sama, setulus hati meminta maaf karena terlalu sibuk bekerja sehingga tidak memiliki banyak waktu.


Dalam beberapa hari, Genta pastikan semuanya akan berjalan lancar. Atika juga percaya pernikahan mereka akan lancar.


"Berpelukan di depan umum, belum muhrim." Shin berdiri di tengah Tika dan Genta yang memeluknya secara bersamaan.


"Kita sedang membicarakan pernikahan,"


Shin duduk di pasir bersama Genta dan Tika, membicarakan hal serius soal pernikahan. Mata Shin sesekali melihat ke arah Juna yang bermain air bersama Isel dan Ria, menjaga Isel agar tetap aman.


"Melihat Juna seperti itu sudah cocok menjadi Ayah." Genta tersenyum melihat yang sabar menghadapi keaktifan Isel.


"Semua lelaki di rumah ini semuanya sabar, karena tahu para wanita tidak bisa diajar." Tika tertawa menatap Genta yang hanya senyum kecil.


Genta mengundurkan dan belum memastikan kapan waktu yang tepat, ada beberapa alasan dia tidak bisa mengikuti pesta yang secara besar-besaran. Apa yang terjadi saat acara pertunangan cukup membuat Genta panik dan tidak bisa berpikir.


Acara pernikahan tetap sesuai rencana, hanya keluarga ini, orang terdekat, rekan kerja, juga beberapa orang penting.


Tika menyetujui keinginan Genta yang diterima oleh Mami dan Papinya, pesta saat lamaran sudah lebih dari cukup. Acara pernikahan ijab Kabul diadakan lebih privat.


Juna berjalan mendekat, mendengar Genta memanggilnya. Genta meminta jadwal kerja Juna, mendekati pernikahan Genta, tidak ingin banyak yang keluar masuk.


"Aku mengambil cuti, dan mungkin mulai besok kita sudah bisa fokus ke acara pernikahan." Juna duduk di samping Tika yang memeluk lengannya.


"Syukurlah, kita hanya masih menunggu Kak Hendrik saja. Kabarnya juga Rindi sedang hamil muda." Genta ingin mengirimkan keamanan lebih ketat lagi.


"Sudah Tika duga, kepekaan Rindi bukan dirinya. Dia lebih sensitif dan full bergaya wanita. Soal makanan juga pemilih." Tika memukul Shin yang tidak mempercayainya.


"Jika anaknya perempuan, siap-siap saja. Ayo kita taruhan." Tangan Shin dan Tika berjabatan, Shin menduga anak Rindi laki-laki mengikuti Papanya, sedangkan Tika perempuan juga mengikuti mamanya.


Tangan keduanya ditarik oleh Genta, melarang taruhan yang tidak diizinkan. Apapun anaknya yang penting sehat, dan menambah keharmonisan keluarga.

__ADS_1


Mata Shin sinis, melihat ke arah depan begitupun dengan Tika yang matanya tajam. Langkah keduanya berlari terdengar, mengejar ratusan anak kepiting yang masuk ke dalam tanah.


Dari jauh Isel dan Ria juga berlari mengejar kepiting besar, Tika dan Shin ketakutan berlari ke arah Genta dan Juna yang langsung berdiri.


"Ayang tolong, kepitingnya salah arah." Tika berlari ketakutan melihat kepiting berukuran sangat besar.


"Ay, Shin takut." Teriakan Shin terdengar diikuti tawa Isel dan Ria yang kesenangan.


Juna dan Genta bukan menolong, memilih lari lebih dulu karena takut dengan kedua capit yang terlihat jelas.


"Ayang!" Tika teriak marah karena Genta berlari meninggalkannya.


Juan tersenyum mengangkat kepiting yang berhasil dia tangkap. Kepala Juan geleng-geleng melihat dua lelaki dewasa menyelematkan diri sendiri.


"Ria mau pegang juga,"


"Hati-hati, jari bisa putus. Percuma saja ada Dokter dan polisi, tapi berlari kencang." Dean menghela napasnya menjaga Ria yang sedang memegang kepiting.


***


INI VISUAL MENURUT AUTHOR.


ARJUNA CAKRA RAHENDRA



ARSHINTA GENTARI LEONDRA



ALFIAN GENTARA LEONDRA



ATIKA CLAURA RAHENDRA



kalian boleh menggunakan visual masingmasing.


Author usaha up setiap hari, tapi tidak bisa janji satu, dua atau tiganya karena ada beberapa novel on going di apk lain.


Salah satunya yang masih on going, MAMA UNTUK PAPA, SAHABAT CINTA TERBAIK, DENDAM ANAK TIRI, SALAH KAMAR OM! serta novel ini.

__ADS_1


Diusahakan novel ini TAMAT akhir bulan, dan akan dilanjutkan dengan novel baru Kisah Andriana, tapi belum tahu judulnya.


Mohon pengertiannya jika ada typo dalam penulisan.


__ADS_2