
Wajah cemberut dan bersemangat terlihat, Mora kesenangan ingin melihat kebun binatang, tapi Mira tidak menyukainya. Dia ingin pergi berbelanja, membeli banyak makanan juga mainan baru.
"Hole hole kebun, Mola cuka ke kebun." Mora lompat-lompat kesenangan mengabaikan saudaranya yang menatap sinis.
"Mia tidak cuka,"
Sebelum keluar rumah keduanya membacakan doa, langsung berlari masuk mobil rebutan.
"Bismillah, semoga hari ini tidak ada keributan." Tika berdoa sangat besar di samping suminya.
"Amin, semoga dua anak ini tenang." Shin mengusap dadanya langsung masuk ke dalam mobil.
Senyuman Juna terlihat, menatap istrinya yang was-was memikirkan apa yang akan terjadi di kebun binatang.
Sepanjang perjalanan Mora tidak berhenti tertawa, dia tidak sabar lagi melihat hewan berukuran besar seperti yang selama ini dia pelajari.
"Mia, anti kalau atut bunyi aja di bakang Mola. Anti Mola jagain." Senyuman manis terlihat mengusap rambut Kakaknya.
"Shiro, kamu yang antinya nangis. Mia uga yang syusah." Tatapan kesal terlihat menatap adik kembarnya.
"Kalian berdua ini di sekolah bicaranya lancar, tapi kenapa di rumah tidak lancar?" Shin menatap dua anak kecil yang duduk di tengah.
"Betul, menyebut nama saja salah. Mora bukan Mola, Mira bukan Mia." Tika memperhatikan dua anak kecil yang mengabaikan.
"Alhamdulillah sampai, hari ini ramai sekali rupanya." Genta keluar dari mobil, menggendong Putrinya.
Mora langsung keluar mobil, menatap tempat kebun binatang yang sangat besar. Juna mengandeng tangan Putrinya. Shin juga memasangkan tas ransel untuk si kecil membawa minum juga cemilannya.
"Papi itu cinga, Mola mau peluk- peluk." Tangan Mora menunjuk ke arah patung singa.
"Cinga bahaya bodoh," Mira menimpali dengan kesal.
"Mia yang bodoh, itu atung tahu ukan benelan." Kedua kaki Mora lompat-lompat tidak sabaran lagi.
Tika dan Genta langsung menuju loket masuk, Mora dan Mira menunggu sambil berdiri menatap ke arah gambar.
Banyak orang yang mengagumi kecantikan keduanya, bahkan menyentuh dua anak yang dipikir kembar.
Mira berteriak tidak suka disentuh, memeluk Mora yang ingin melangkah masuk sedangkan Mira menolak.
"Papa,"
"Anak kembar, lucu sekali." Beberapa orang menyapa.
"Kita tidak embar tahu!" Mora memonyongkan bibirnya.
Tika memukul pelan bibir putrinya yang mirip bebek, meminta keduanya berfoto dengan senyuman lebar.
__ADS_1
Mora tersenyum menunjukkan giginya, sedangkan Mira senyum biasa. Begitupun dengan Tika dan Shin ikut berfoto dengan anak kembar mereka.
"Lucunya melihat mereka?" Genta mengulurkan tangannya mengandeng Putrinya.
Saat sudah di dalam, mata Mira menatap tajam. Langsung berlari melihat burung yang memiliki bulu cantik bermekaran.
"Papa, bawa ulang ya?"
"Tidak boleh sayang, hewan di kebun binatang itu dilindungi. Tidak boleh dipelihara oleh masyarakat." Genta menatap ke arah belakang karena ada aktraksi.
Tika dan Shin yang paling bersemangat, sampai lupa jika menemani anak-anaknya untuk berkeliling.
"Yang mana Mira?" Genta menepuk pundak Tika yang melihat lumba-lumba.
"Ay, mana Mora?" Juna juga baru menyadari Putrinya hilang.
Keempat orang saling pandang, langsung keluar mencari dan saat melihat kedua anaknya sudah ada di dalam kandang burung.
Suara keduanya tertawa terdengar, mengejar burung berukuran tinggi, tubuh Mora terpental saat ditendang oleh burung, tapi langsung berdiri lagi menarik buntut burung.
Sedangkan Mira memaksa untuk naik, sampai berguling-guling memeluk perut burung yang takut melihat keduanya.
Banyak penonton yang melihat sambil tertawa, dua anak kembar masuk kandang dan bermain dengan gembira.
"Mia, olong. Aduh bulungnya patuk pala Mola." Tangan Mora mengusap kepalanya yang habis dipatuk burung.
"Mola banyak kutu." Mita memeluk kepala burung.
Pihak kebun binatang terkejut, begitupun Juna dan Genta yang memaksa masuk untuk mengambil anak mereka.
"Mora Mira, kalian berdua tidak boleh masuk?" Juna mengambil keduanya.
Kepala Genta menunduk meminta maaf kepada pihak kebun binatang karena kelalaian mereka.
"Babay Bulung, nanti kita main lagi." Mora dan Mira melambaikan tangannya.
Dari luar pagar Tika dan Shin seperti singa yang hampir mengamuk. Genta selamat karena penjaga mengenalinya sehingga memaklumi.
"Sayang, lain kali." Genta menatap tangannya yang tidak mengandeng tangan Mira lagi.
Juna sudah berlari mengejar dua anak yang sudah berlari menggendong tas masing-masing. Tidak ada waktu istirahat, keduanya sangat antusias dan bersemangat mengenal semua binatang.
"Papa, di ana buaya?" Mira mencari keberadaan buaya.
"Di sini tidak ada sayang, kita sudahi mainnya. Istirahat dulu, makan siang." Genta berusaha membujuk anaknya yang tidak diam.
Tika dan Shin sudah duduk di bawah pohon sambil mengipasi wajahnya karena cuaca terlalu panas.
Tawa keduanya terdengar melihat Juna dan Genta yang mondar-mandir mengikuti langkah si kembar beda rahim yang mengecek semua binatang.
__ADS_1
"Tampannya mereka, ke mana istrinya? apa duda?" suara ibu-ibu terdengar.
Tika dan Shin cuek saja, dia menikmati waktu istirahatnya tanpa dua penyihir yang pastinya membuat Papa dan Papinya pusing.
"Mama, Mia digigit jerlapa. Dia pikir tangan Mia milip wotel." Suara Mia mengadu terdengar.
"Ya sudah, kita pulang." Atika tersenyum manis.
"Shiro, Mia mau liat ular." Langkah kaki berlari terdengar.
"Tika giliran, aku lelah." Genta mengusap keringat di keningnya.
"Mami," Mora hanya lewat saja lanjut lari lagi.
Juna menatap Shin yang tersenyum manis, memintanya mengawasi anak juga bukan duduk santai.
"Mengurus anak itu tugas orangtua, bukan ibu saja, harus bapaknya." Tika dan Shin bernyanyi masih tetap duduk, membiarkan anaknya lari-larian.
Hentakan kaki Juna dan Genta terdengar, langsung berlari mencari anaknya yang ternyata sudah bertengkar dengan monyet di atas pohon. Banyak orang yang tertawa melihat rambut keduanya mirip singa.
Setiap orang yang menatap gemes melihat si kembar yang aktif dan sangat lincah. Hewan juga kewalahan menyingkirkannya.
"Bantu Mola dong Mia." Mora menarik tangan monyet, sedangkan Mira kakinya.
Keduanya membawa monyet keluar kandang, penjaga kebun hanya bisa mengikuti karena yang membawa cucu keluarga berpengaruh.
Senyuman Papi dan Papa terlihat, menatap anaknya yang ingin membawa pulang monyet.
"Mama Mami ayo ulang." Mira dan Mora berteriak menatap dua wanita yang sedang berfoto.
Teriakkan Tika dan Shin terdengar, kaget melihat rambut anaknya yang sudah acak-acakan, belum lagi monyet yang mereka bawa menatap tajam.
"Mami, kita punya teman baru namanya Miki." Mira dan Mora terjatuh sampai monyetnya lepas.
Tika dan Shin langsung berlari kencang saat melihat monyet berlari ke arah mereka dengan sangat cepat.
"Anak sialan!" Shin memeluk pohon sedangkan Tika terjungkal menabrak orang gemuk.
Monyet menarik rambut Shin naik ke atas pohon, tubuh Shin terkulai lemas. Pulang dari kebun binatang di televisi ada berita, sebuah kebun binatang hewannya depresi semua.
"Mami, are you okay?" Mora memanggil monyet di atas pohon dengan nada memaksa.
***
follow Ig Vhiaazaira
***
Satu episode lagi tamat ya, pindah ke SELEBRITI BUKAN ARTIS. konflik di sana tidak ada sangkut pautnya dengan cerita disini karena semuanya sudah clear.
__ADS_1
***