ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENANG KALAH SAKIT


__ADS_3

Satu-persatu orang keluar, hanya Juna dan Aliya yang tidak keluar padahal bangunan sudah berjatuhan dan hilang ditelan api.


Dada Altha terasa sesak, menggenggam tangan putrinya yang juga hanya diam menunggu Mami dan kakaknya keluar.


"Kakak, Mami." Tangisan Tika langsung terdengar.


Banyak orang yang berkeliling mengarahkan senjata, langsung menangkap orang-orang yang membantu Citra, langsung memborgol tangannya.


"Dim, jaga Tika. Aku akan masuk ke dalam." Altha mengusap kepala putrinya yang menangis sesenggukan.


Sebuah tangan kecil terlihat, Yandi langsung menggenggam tangan Juna menariknya ke atas.


Arjuna sudah jatuh pingsan, Altha langsung melihat keadaan putranya yang tidak sadarkan diri.


Al juga muncul, meminta Altha membawa Juna ke rumah sakit. Yandi langsung menggendong Juna, Tika dibawa oleh Dimas untuk dilarikan ke rumah sakit.


Belum selesai Aliya bicara, dia langsung jatuh pingsan. Altha menangkap Al dan membawanya ke rumah sakit.


Diana ingin mengejar Citra, tapi tidak ada hal yang lebih penting dari keluarganya. Langsung berlari mengejar tim yang ke rumah sakit membiarkan Citra berkeliaran di hutan.


Diana tidak berhak menghukum Citra, ada Aliya dan Altha yang harus melihat secara langsung kehancuran Citra juga penyesalannya.


Mobil beriringan ke rumah sakit, Alt melihat punggung Aliya terbakar, tangannya juga luka bakar semua.


Alt yakin Aliya menangkis banyak bangunan yang runtuh, tanpa mempedulikan dirinya dan membiarkan orang-orang jahat juga selamat.


Air mata Alt menetes, mengusap wajah istrinya. Altha meminta maaf karena untuk kesekian kalinya gagal melindungi istrinya.


Sesampainya di rumah sakit, Tika langsung diinfus dan dicek detail kondisinya. Alt juga mengkhawatirkan putrinya trauma, tapi Tika tidak menunjukkan takut, dia menganggap penculikan hanya tempat bermain.


"Pi, mami dan kakak di mana?" Tika mengusap perutnya yang lapar.


"Kakak dan Mami masih diperiksa, nanti gabung di sini. Tika sabar ya sayang." Alt membawakan putrinya susu, juga buah dan makanan.


Senyuman Tika terlihat, menghabiskan susunya sampai akhirnya terlelap tidur. Tubuhnya lelah dari malam saat sampai siang ada di bangunan yang pengap, panas, juga haus dan lapar.


Melihat Tika tidur, Alt meminta penjaga mengawasi putrinya. Alt mendekati ruangan Juna yang masih diperiksa, karena Juna pingsan ada benturan di kepalanya.

__ADS_1


Diana berdiri di belakang Altha, melihat Juna dari balik pintu yang bangun dan meringis menahan sakit.


Altha langsung masuk, menggenggam tangan putranya yang sedang diobati. Alt meminta Juna menahan sakitnya sebentar.


"Tahan nak, laki-laki harus kuat." Alt mengusap kepala Juna.


"Mami, bagaimana keadaan Mami?" Juna memeluk Altha, saat kepalanya harus dijahit.


Dari luar pintu Diana tersenyum melihat Juna yang masih mengkhawatirkan Maminya, saat semua orang berjalan menyelamatkan diri sendiri, tapi Juna balik arah untuk menyelamatkan Maminya.


Altha menggendong Juna setelah diobati, melihat Diana dan Dimas berdiri di depan pintu. Dimas langsung memegang infus Juna.


"Baju apa yang Aunty gunakan? tidak sopan." Juna menatap sinis Diana yang menarik celana pendeknya ke bawah.


Altha membawa Juna ke kamar Tika, ada satu tempat tidur yang sudah disiapkan. Juna tersenyum menatap adiknya sudah tidur.


"Kamu istirahat Juna, Papi ingin melihat kondisi Mami." Alt mencium kening putranya agar segera tidur.


Aliya sadar dan langsung terjun dari ranjang ingin melihat kondisi Juna, melupakan kondisinya yang lebih buruk dari Juna.


"Bagaimana keadaan Juna?" Al meneteskan air matanya.


Altha langsung memeluk istrinya yang menangis histeris, Alt mengusap kepala Aliya mengatakan jika Juna dan Tika baik-baik saja dan sedang beristirahat.


"Kamu harus diobati dulu sayang." Alt menghapus air mata Aliya yang membasahi wajahnya.


Al menggenggam tangan Altha, tidak merasakan sakit sama sekali dari luka bakar yang membuat kulitnya terkelupas.


"Ayang, Citra jahat sekali sampai membakar anak-anaknya." Al masih tidak habis pikir.


"Juna dan Tika anak kita sayang." Alt mencium kening Aliya yang tidak bisa menutupi kesedihannya.


Sekarang yang paling penting mengobati luka hati Juna yang sudah mengerti jika Mamanya membunuhnya, juga adiknya.


"Kak Dimas bagaimana keadaan kak Anggun dan Helen?" Al menatap Dimas yang merasakan sedihnya Aliya yang harus melihat kekecewaan Juna.


Senyuman Dimas terlihat, Helen sudah sadar dan dirawat oleh keluarganya. Sedangkan Anggun baru saja sadar, sekarang bersama Diana, Dika dan Kenan yang mendampinginya.

__ADS_1


Al mengusap dada, bersyukur tidak ada korban jiwa, jika tidak pasti akan lebih menyakitkan. Semuanya berakhir dalam keadaan kalah sakit menang juga sakit.


"Bagaimana soal Citra? dia berhasil melarikan diri." Al melihat Dimas dan Altha yang saling pandang.


Kepolisian sudah mengejar Citra, seluruh orang yang bekerja dengannya sudah ditangkap. Citra masih bersembunyi di hutan dan tidak mudah baginya untuk keluar.


Altha tidak akan berhenti mengejar, jika tidak bisa menemukannya hidup, mayatnya juga akan tetap dicari.


"Maafkan aku Al, kali ini keselamatan kamu dan anak-anak menjadi taruhannya."


Al menakup wajah suaminya, Al bangga menjadi istri seorang Altha. Pekerjaan berat suaminya demi keamanan banyak orang.


Apa yang terjadi saat ini bukan salah Altha, tapi Citra yang salah membenci Aliya sampai membuang anak-anaknya.


"Maafkan Aliya ya Ayang, Juna terluka karena menyelamatkan Aliya." Al kemungkinan tidak bisa keluar karena tertimpa reruntuhan, tapi putranya balik lagi menarik Maminya.


Saat ada benda keras jatuh, Juna pasang badan untuk melindungi Al. Tubuh kecil Juna jatuh dalam pelukan Al.


Punggung Juna terbakar dan robek, kepalanya berdarah. Dunia Aliya rasanya hancur melihat Juna jatuh pingsan.


"Ayang, Juna hanya mengatakan jika dia laki-laki yang akan melindungi keluarganya." Al tidak bisa menahan air matanya, antara bangga dan terluka melihatnya.


Altha tersenyum, putranya sudah besar dan memiliki jiwa yang ingin melindungi sungguh membanggakan Altha. Saat Alt tidak memiliki jalan untuk menyelamatkan dua wanita di keluarga mereka, tapi Juna mengambil posisi itu untuk melindungi Maminya.


Al pindah kamar melihat putra dan putrinya yang sudah tidur, Al melihat susu botol Tika yang sudah tergeletak.


Dada Aliya kembali sesak saat Tika mengatakan jika dia selalu tidur dengan pengasuh dan minum susu botol.


"Ayang, aku tahu kamu sibuk. Luangkan satu hari agar Tika memiliki ingatan bersama kamu, karena dia tidak punya ingatan bersama Mamanya." Al mengusap tangan putrinya yang harus memiliki ingatan indah soal keluarganya.


Kepala Altha mengangguk, Al langsung tidur di samping Tika. Memejamkan matanya untuk beristirahat, tubuh Aliya rasanya sakit dan sulit untuk bergerak.


Alt menemani istri, putra dan putrinya yang sedang tidur juga sesekali mengawasi proses penangkapan Citra.


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


__ADS_2