ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
GENERASI KEENAM


__ADS_3

Sudah satu minggu Gemal tidak pergi bekerja, dirinya kalah melawan rasa mual dan sakit kepalanya.


Mulai subuh tubuhnya langsung melemas, sampai siang. Tidak bisa makan apapun, karena bawaan mual.


Berbeda dengan Diana yang makannya semakin lahap, tapi kondisi Di juga menurun merasakan cemas melihat suaminya tidak berdaya.


"Gemal, bagaimana kondisi kamu sayang?" Mam Jes mengusap kepala Putranya.


"Mama sudah membaca pesan Gemal?"


Mam Jes menatap suaminya, dia belum menerima pesan masuk sama sekali. Kepulangan mereka karena Diana menangis, Gemal berhari-hari terbaring di atas tempat tidur.


"Good morning Mama and Papa." Di tersenyum lebar membawa sarapan aneh.


"Apa yang kamu makan Diana?" kening Calvin berkerut, merasa jijik.


"Diana sekarang sudah bisa masak, ini rasanya enak sekali. Maaf, Pa. Diana tidak ingin berbagi." Tawa Di terdengar langsung mengunyah makanannya.


Jangankan memakannya, melihat saja sudah membuat Calvin mual. Makanan Diana tidak normal, roti bersama buah dan dicampur susu ada Snack.


Melihat ekspresi Papanya, Gemal hanya tertawa kecil. Langsung duduk di atas ranjang, meminta Di makan pelan-pelan.


"Mama ingin mencobanya?" Di menawarkan kepada Jessi yang langsung tersentak kaget.


Tawa Calvin dan Gemal langsung pecah, Jessi wanita paling sensitif dengan hal yang menjijikan. Putri orang kaya, hanya tahu makanan enak dan sudah tersedia.


Sendok Diana mendekati mulut mertuanya, Jessi tersenyum memberikan dua jempol. Masakan Diana mendapatkan pujian.


"Resep baru Di, rasanya enak." Senyuman Jessi terlihat, menyendok sendiri langsung menyuapkan ke mulutnya.


"Mama, tidak boleh banyak-banyak. Di susah membuatnya."


"Ajarkan Mama membuatnya, Mama juga menyukainya. Rasanya hampir sama seperti saat Mama hamil Gemal." Mam Jes tersenyum manis.


"Dua wanita yang sama-sama tidak bisa masak, ingin berbagi resep." Calvin langsung terdiam, melihat ke arah Diana.

__ADS_1


Ucapan Jessi ada benarnya, saat hamil Gemal. Makanan Jessi sangat menakutkan bagi Calvin, setiap hari baginya petaka, karena harus mencicipi masakan istrinya yang hancur.


"Gem, dugaan Papa salah tidak mungkin salah?"


"Gemal rasa benar, kita mendapatkan kabarnya satu minggu yang lalu. Kondisi Gemal langsung drop, dan belum sempat periksa detailnya." Gemal menunjukkan foto yang dikirimkannya kepada Mamanya.


Senyuman Calvin langsung terlihat, Jessi juga berdiri menatap layar ponsel yang menunjukkan foto garis dua.


Mata Calvin berkaca-kaca, langsung memeluk istrinya sangat erat. Tangisan Jessi langsung pecah, memeluk erat suaminya.


Selama puluhan tahun, menunggu hari bahagia meksipun sangat sulit bertahan. Bisa melihat Gemal mengakui mereka sebagai orang tua sudah lebih dari cukup, dan sekarang mendapatkan kejutan diberikan kepercayaan memiliki cucu cepat.


Jessi dan Calvin berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkan garis dua, merasa khawatir dengan pernikahan Putranya yang mungkin akan bernasib sama.


Pintu kamar Diana terbuka, Dimas dan Anggun melihat kedua orangtua Gemal menangis haru hanya bisa tersenyum. Mereka juga sangat bahagia mendapatkan kabar kehamilan Diana, apalagi keluarga Leondra yang tidak merasakan tangisan bayi selama puluhan tahun.


"Nenek sama kakek menangis." Anggun mengusap perut Diana yang semakin berisi.


Diana langsung menangis, hatinya merasa sedih melihat Mama Papa mertuanya menangis haru.


"Jangan menangis sayang, kita bahagia sekali." Jessi mengusap air mata Diana yang memeluk erat pinggang Mommynya.


Air mata Diana semakin deras menetes, melihat keluarganya sampai menangis haru mendapatkan kabar dirinya hamil, apalagi sampai anak-anaknya lahir.


Perasaan Diana sedih, dirinya dan Aliya tidak seberuntung anaknya. Tidak merasakan kebahagiaan kelahiran di dunia.


Sentuhan tangan Gemal sangat lembut, membelai rambut istrinya yang memeluk erat Mamanya. Gemal bersyukur kehadiran buah hatinya yang di sambut bahagia, dan selalu ingin menjaganya sampai lahir ke dunia.


"Mama dan Papa pasti senang sekali mendapatkan kabar baik, dan bisa merasakan moments kehadiran generasi keenam." Calvin mengusap kepala Diana, memintanya menjaga diri, juga kandungannya.


Mam Jes mengucapkan terima kasih kepada Di, mengusap perut Diana lembut. Melihat Diana hamil, membuat Jessi merasakan moments masa lalu saat tahu Gemal hadir di rahimnya.


"Sehat terus Di, kebahagiaan kamu juga kebahagiaan baby." Mam Jes mencium kening Di yang masih menangis.


"Diana takut mengecewakan, Di takut tidak bisa menjadi Ibu yang baik, Diana khawatir gagal menjaga kebahagiaan semua orang." Di menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.

__ADS_1


Gemal langsung menarik tangan istrinya, memeluk lembut. Diana tidak sendiri menjaga kandungannya, ada Gemal yang akan siaga.


"Sayang, kehamilan jangan dijadikan beban apalagi tanggung jawab. Kamu bersikap seperti biasa saja, nikmati hari kamu dengan bahagia." Gemal mengusap kepala lembut.


Calvin membenarkan ucapan Gemal, Di tidak harus berfokus untuk menjaga. Sembilan bulan bukan jangka waktu yang sebentar, mendapatkan kabar baik tentu keluarga menyambutnya, tetapi bukan berarti memaksa Di harus sempurna menjaga kehamilannya.


"Di, kamu hanya harus hati-hati. Jika selama ini berjalan, hanya untuk diri sendiri, sekarang harus ingat ada si kecil yang sedang tumbuh. Naluri sebagai seorang Ibu pasti peka yang terbaik untuk anaknya." Senyuman Calvin terlihat, meminta menghubungi Salsa untuk bersiap mengecek kondisi kandungan Diana.


"Jangan Salsa Vin, Diana dan Salsa seperti musuh bebuyutan. Salsa juga sedang mengandung." Dimas tidak setuju jika yang menangani Salsa.


Diana langsung cemberut, memaksa Daddy-nya untuk periksa kepada Salsa. Mereka sudah baikan, dan membuat janji makan bersama.


Di ingin diperiksa oleh dokter terbaik bagi kehamilan keluarganya, meksipun Salsa juga sedang hamil, tetapi tetap bekerja demi pasiennya.


"Dokter Salsa, sudah turun temurun membantu persalinan keluarga. Ada Juan dan Ria, Dean, terus si botak Yendri ...." Di langsung terdiam, memikirkan jika Salsa yang melahirkan, mustahil dia membantu persalinan dirinya sendiri.


"Sayang, nanti saja bahas lahiran. Kita periksa dulu." Tangan Gemal mengusap perut.


Kepala Diana mengangguk, memeluk perutnya yang belum diketahui usia pastinya. Calvin sudah menghubungi rumah sakit, meminta Salsa mengosongkan jadwalnya.


Mendengar kabar Salsa hamil, Calvin juga memberikan perintah untuk mengurangi jam kerja Salsa, sebagian pasiennya di serahkan kepada dokter lain.


"Kakek Calvin baik sekali, nanti kamu juga menjadi dokter seperti kakek." Jessi mengusap perut Di.


"AW ...." Di memegang perutnya, langsung tersenyum melihat wajah terkejut Calvin.


"Dia tidak ingin menjadi dokter seperti Kakeknya, tapi lebih memilih menjadi artis. Jadi nanti ada siaran, Cucu generasi keenam Leondra menjadi artis tercantik sepanjang masa." Di tersenyum langsung melangkah keluar kamar.


Tangan Gemal menepuk pundak Papanya, kesabaran Gemal juga selalu diuji, dan Papanya juga harus menahan diri demi cucunya yang masih di dalam kandungan.


"Sabar, kita berdoa saja agar cucu kita bisa memimpin, bukan bertingkah seperti Diana dan Jessi." Dimas langsung mentertawakan Calvin yang menatap sinis.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2