
Senyuman Diana terlihat setiap hari menerima kiriman makanan yang diantar tepat jam makan siang, Gemal menepati janjinya.
"Siapa lelaki yang spesial sampai seorang Diana lupa makan di kantin, restoran mewah? dia pasti romantis sekali." Senyuman Salsa terlihat, mencicipi bekal makan siang Diana.
Kedua jempol Salsa terangkat, mengakui nikmatnya masakan dan tidak ditemukan di restoran manapun.
"Ini makanan taruhan, dia tidak tulus memberikannya." Di mengunyah makanannya sambil melihat ke arah komputer.
Salsa duduk diam melihat ke arah komputer, Diana sedang meneliti sebuah obat yang terasa asing bagi beberapa dokter.
"Maaf ya Di aku tidak mengerti apapun?"
"Jangan dipikirkan, kamu cukup fokus menyelamatkan para pengacau dunia." Diana tersenyum melihat Salsa yang setiap hari bertemu bayi, tapi dia belum juga menikah.
Ponsel Salsa berdering, langsung lompat-lompat kesenangan langsung memeluk Diana erat.
"Kak Dika mengajak makan siang?"
"Iya, aku pergi ya Di." Salsa menarik nafasnya, mengatur ekspresinya agar tidak berlebihan.
Diana langsung tertawa, usia sudah dewasa tapi tingkah masih kekanakan. Di melambaikan tangannya ikut bahagia untuk hubungan Salsa dan Dika yang kembali akur.
Selesai makan Diana langsung berjalan ke arah mobilnya, melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke sebuah lab yang cukup besar.
Diana langsung masuk, sibuk berjam-jam mengacak-acak otaknya agar bisa memecahkan misteri obat terbaru yang Hendrik miliki.
Bahkan Diana mengetes darahnya, melihat ke arah pil kecil yang di dapatkan dari tubuh tahanan yang akhirnya meninggal over dosis.
Suara pesan terdengar dari ponsel, Diana langsung mengambilnya dan membuka email yang membuat Diana tersenyum sinis.
Suara ketukan terdengar, Aliya langsung masuk melihat Diana yang terdiam menjadi patung.
"Bagaimana hubungan kamu dan Gemal?"
"Kenapa membahas dia?" Di menunjukkan foto seseorang kepada Aliya.
Al tersenyum sinis, langsung melihat ke arah obat yang Diana teliti, tatapan Aliya tajam langsung mengambil obat.
Diana hanya diam melihat Aliya yang mencampur obat dan suntikan yang Hendrik miliki, Al mengerutkan keningnya saat melihat warna berubah gelap.
"Sudah aku katakan, obat ini tidak bisa disempurnakan. Jika obat gagal produksi, bagaimana bisa menemukan penawarannya?" Di menatap tajam.
"Siapa yang menciptakan benda ini? kamu sendiri yang mengatakan jika obat ini sudah ada sejak penyeludupan obat yang dipimpin oleh Hariz."
__ADS_1
"Masalah obat ini masih ada karena kamu tidak memberantas Hariz sampai ke akarnya." Di melotot melihat Aliya yang mulai emosi.
Aliya menghela nafasnya berkali-kali, melihat foto seorang wanita yang penampilan mirip Alina.
"Siapa dia?"
"Namanya Gracie, putri bangsawan yang memiliki kelainan. Sejak usia lima tahun Grace diasingkan karena kondisinya yang tidak normal." Di menatap foto Grace yang memiliki kehidupan sama seperti Alina.
Grace gadis yang sangat jenius, tapi dia emosian tingkat tinggi, dan tidak segan-segan mengamuk di depan umum. Demi menjaga nama baik Grace diasingkan.
"Apa dia juga yang bersama Hendrik?"
"Mungkin, karena dia mengambil posisi Alina lima tahun yang lalu, saat aku berubah menjadi Diana." Di sangat yakin Hendrik mengenal baik Diana sebagai Alina karena Grace menghidupkannya kembali.
Aliya menganggukkan kepalanya, apa yang Grace lakukan saat ini pasti sesuai apa yang dulu Alina lakukan.
"Jika saat ini kamu Alina, apa yang akan kamu lakukan?" Al menatap Diana yang mengerutkan keningnya.
Diana menatap tajam ke depan, langsung tersenyum sinis menggelengkan kepalanya.
"Dia ada disekitar kita, mungkin sangat dekat dengan targetnya."
"Jika kamu Alina dalam kasus pembuatan obat ini, siapa yang kamu jadikan target? padahal kamu tahu jika obat ini tidak bisa disempurnakan karena yang menciptakan sudah tiada." Al menaikkan nada bicaranya, meminta Diana fokus menjadi Alina.
"Kenapa anakku? cari mati mereka menyentuh dia." Al langsung berlari mengejar Diana.
Diana sangat yakin jika Juna mengetahui sesuatu soal Hendrik, karena saat operasi Juna berpura-pura bodoh mengetahui kejahatan Hendrik.
"Kenapa harus Juna? dia tidak tahu apapun Di?"
"Juna tahu, Hendrik betugas mengawasi Salsa sampai terobsesi, bahkan Hendrik rela mencelakai Salsa. Sedangkan Grace mengawasi Juna." Diana berharap Juna akan terus berpura-pura tidak tahu apapun.
***
Tatapan Gemal tajam memperhatikan dari kejauhan Juna bermain basket di sekolahan. Sudah tiga hari Gemal mengawasi Juna yang terlihat hanya mengunjungi sekolah, latihan musik, les, dan bela diri lalu pulang ke rumah.
Rutinitas Juna selama tiga hari masih sama, tidak ada banyak tempat yang dia kunjungi juga orang-orang sekitarnya terlihat asing.
Mata Gemal melihat sekeliling Juna, baik anak-anak remaja yang menjadi pengemar, juga para guru yang menonton pertandingan.
Pertandingan Juna berakhir, langsung berlari ke kamar mandi untuk berganti baju dan mulai masuk jam pelajaran.
"Kenapa kakak mengikuti aku? apa yang Kakak lakukan mencurigakan?" Juna menatap Gemal yang berdiri di depan kaca.
__ADS_1
Penampilan Gemal masih seperti anak usia 18 tahun, menggunakan baju sekolah dan mengikuti aktivitas Juna.
"Kamu putranya pak Altha, aku ditugaskan untuk menjaga kamu?"
"Jangan bohong, aku putra Altha dan Aliya. Siapa yang berani mengawasi aku? kecuali kamu menginginkan sesuatu atau mengejar sesuatu." Juna menatap sinis.
"Kamu memang pintar, tapi aku tidak berniat menyakiti kamu."
"Aku tahu! masalahnya kehadiran kak Gemal mengganggu." Suara Juna meninggi, terlihat sekali sedang marah.
Juna mendekati Gemal, apa yang Gemal lakukan berbahaya bagi mereka berdua. Karena sudah lima tahun Juna santai saja diawasi seseorang.
"Siapa yang mengawasi kamu?"
"Jika penasaran, naiklah ke balkon atas." Juna langsung melangkah pergi meninggalkan Gemal yang menganggukkan kepalanya.
Gemal langsung berjalan menaiki tangga, melihat seseorang berlari dari lantai atas melewati Gemal begitu saja.
"Permisi Bu." Gemal berjalan mendekati seorang guru wanita yang terburu-buru.
Belum sempat Gemal melihat wajah, tapi langsung diserang secara dadakan. Gemal masih bisa menghindar, mengejar wanita yang selama ini menjadi Alina.
Aksi kejar-kejaran terlihat di sekolah, Juna langsung berlari mengejar Gemal yang sudah melompat pagar.
Juna langsung menarik baju Gemal sampai jatuh, tatapan keduanya bertemu langsung melihat ke atas pagar.
"Aku harus menangkap dia."
"Jangan cari mati, saat kak Gemal lompat, maka peluru bisa menembus jantung." Juna menggelengkan kepalanya, Gemal menganggap remeh seorang psikopat.
"Hei kalian berdua, cepat masuk kelas." Guru konseling memukul Gemal dan Juna agar kembali ke kelas.
Arjuna menahan tawa melihat ekspresi Gemal yang kesal, masuk ke kelas siswa tanpa membawa buku dan keperluan lainnya.
"Kak Gemal, jika Daddy dan Uncle tahu pasti di marah."
"Diamlah, aku harus pergi dari sini." Gemal langsung berdiri, tapi kepalanya dipukul menggunakan penggaris.
"Duduk, waktunya belajar."
Gemal mengusap wajahnya, Arjuna hanya tertawa menutup wajahnya yang merasa konyol melihat tingkah Gemal yang mirip Diana.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira