ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MELAWAN


__ADS_3

Senyuman Gemal terlihat, menarik Diana untuk maju ke depan. Diana saja tidak bisa melawan, apalagi Gemal.


"Hai Paman, maaf tadi sudah memukul." Gemal menunjukkan tangannya yang sakit karena memukul Salman.


Diana menahan tawa, Gemal masih saja becanda saat keadaan sedang tegang. Pria yang di samping Diana juga sudah meringis menahan sakit.


"Kita lanjut ribut saat siang saja, ini sudah malam tidak bisa melihat apapun." Gemal sudah ada di belakang Diana dan pria besar di samping Di.


"Ini saatnya aku membunuh kamu, tempat ini akan menjadi tempat pemakaman kalian." Tatapan Gemal tajam, menatap Diana dan bawahan Di yang berusaha bertahan.


Gemal masih berusaha meminta Salman memikirkan kembali, kematiannya tidak akan mengubah apapun.


"Diamlah, kamu hanya memiliki waktu lima menit untuk bertahan hidup." Salman langsung maju.


Diana menatap Paman yang ada di sampingnya, langsung melangkah maju bertarung. Dua lawan satu.


Pertarungan semakin panas, Gemal menghitung waktu yang tepat lima menit. Diana terlempar, begitupun dengan Paman yang langsung ditancap menggunakan belati.


Diana mengusap darah yang keluar dari hidungnya, berusaha untuk berdiri. Di langsung menendang kepala Salman, menarik belati untuk menyelamatkan pria yang menjaganya saat kecil


"Pergi dari sini Alin, sudah saatnya aku mati. Lari."


"Maafkan aku Paman, Alin gagal menyelamatkan Paman." Diana menatap Salman, langsung lompat menarik tangan Gemal untuk melarikan diri.


Paman berusaha menahan tangan Salman, meminta Gemal dan Diana segera pergi.


Gemal melihat ke arah belakang, Salman menatap matanya. Langka Gemal berhenti. Alasan Papanya tidak mencarinya karena ingin melindungi banyak orang agar tidak ada. korban nyawa.


Gemal juga tidak ingin ada korban nyawa hanya untuk menyelamatkan dirinya, tidak boleh ada yang menanggung beban hidupnya.


"Cepat Gem, kita pergi dari sini."


"Kamu seorang Dokter Di, jangan tinggalkan pasien kamu." Gemal berteriak meminta Salman berhenti.


Diana menggelengkan kepalanya melihat Gemal balik lagi, Di tidak mengerti berapa nyawa yang Gemal miliki.


"Gemal, kamu hanya akan mati konyol." Di langsung berlari meminta Gemal jangan menantang.


"Kamu bawa Paman ke mobil, obati dia dan tunggu aku di sana." Gemal mendorong Diana untuk melangkah pergi.


Diana menggelengkan kepalanya, tapi Gemal tetap memaksa memerintah Di menjalankan tugasnya sebagai dokter.


"Gem, jangan lakukan ini."


"Percaya sama aku Di, kamu tunggu aku di mobil. Sekali ini saja menjadi wanita yang penurut."

__ADS_1


Diana langsung membantu Paman untuk pergi meninggalkan Gemal sendiri, meksipun hati Diana berat meninggalkan, dan tidak mempercayai Gemal sama sekali.


Salman tersenyum sinis, melipat tangannya di dada melihat Gemal yang berdiri santai tanpa beban.


"Akhirnya kamu menyerahkan diri juga."


"Bukan menyerah, aku hanya ingin cerita." Gemal tersenyum melihat Salman.


Sebenarnya Gemal dan Salman ada diposisi yang sama, jika Salman memiliki amarah karena dendam gagalnya cinta. Berbeda dengan Gemal yang memiliki amarah ingin membalas orangtuanya.


"Saat itu aku berusia sepuluh tahun, kakak angkat mengejek anak pungut, aku marah dan belajar bela diri dari kejauhan saat ada latihan, karena Gemal tidak punya uang untuk membayar."


Gemal terus berkelahi sampai tidak memiliki teman, karena kehabisan lawan Gemal memukul hewan peliharaan tetangga, pohon sampai tumbang.


"Sebenarnya Gemal tidak nakal, hanya saja amarah yang tidak bisa dituangkan." Tatapan Gemal lembut melihat Salman.


"Aku tidak kasihan."


Suara Gemal tertawa terdengar, dia tidak meminta dikasihani dan tahu di mana kemampuannya.


"Paman bukan gajah, ayam, anjing, ataupun sapi, tapi Gemal pernah menang melawan mereka."


"Kamu menganggap aku hewan?" Tatapan Salman marah.


"Anggap aku singa yang mengamuk!" Salman langsung maju menyerang Gemal.


"Eh tunggu dulu, betina atau jantan." Gemal langsung menghindari serangan Salman.


Senyuman Gemal terlihat, sudah cukup dirinya main-main. Pertarungan keduanya di mulai saling serang terlihat tanpa ada yang menghindar.


Salman menatap sinis, kemampuan beladiri Gemal tidak bisa dianggap remeh, tenaganya sangat kuat dan cara Gemal menjatuhkan langsung mengunci dan melumpuhkan.


Gemal menarik nafas, Salman sudah mengeluarkan sebuah belati langsung melangkah menyerang kembali.


Mata Gemal menatap ke bawah, langsung menendang kaki Salma kuat. Tubuh tegap dan besar jatuh, Gemal juga tersungkur saling bertahan agar belati yang ada ditangan keduanya tidak menebus tubuh.


Diana yang ada di mobil fokus menghentikan pendarahan dengan alat seadanya yang ada di mobilnya, Paman masih sadar sehingga Diana tidak terlalu khawatir.


Cara kerja Diana sangat cepat, bahkan langsung menjahit luka. Paman meminta Diana membantu Gemal, dia bisa mati ditangan Salman.


"Pergilah Alin."


"Sebentar lagi, Paman harus bertahan. Aku harus membantu anak itik untuk segera pergi dari sini." Di menatap senyuman yang akhirnya terlihat tulus.


"Kamu mencintai dia Di?"

__ADS_1


"Tidak, aku hanya tidak ingin melihat dia mati." Diana tersenyum langsung menutup mobilnya dan berlari ke tempat Gemal.


Langka Diana terhenti, pertarungan dua orang masih terlihat imbang. Baju Gemal sudah sobek dan ada luka di tubuhnya begitupun dengan Salman yang terluka.


Mata Diana tidak berkedip, kemampuan bela diri Gemal sangat tinggi dan gerakan sangat cepat sehingga Salman tidak bisa membaca gerakannya.


"Kamu memang unik Gem, memiliki banyak kejutan. Kamu tidak pernah menunjukkan kemampuan hebat sama sekali, tapi sebenarnya kamu keren dan terlihat semakin tampan." Di tersenyum bertepuk tangan.


Salman terkapar, tatapan melihat Diana yang hanya berdiri menatap punggung Gemal. Belati di tangan Salman dilempar ke arah Diana.


Gemal langsung melihat dan berlari memeluk Diana sampai jatuh, Salman langsung melarikan diri dan menghilang dalam semak belukar.


"Diana! kamu cari mati."


"Tidak, aku hanya mengagumi kamu dan Gemal hari ini tampan." Di tersenyum manis


Gemal langsung berteriak meringis menahan sakit, Diana mengacau di saat yang tidak tepat. Apa susahnya untuk tetap menunggu.


"Kenapa Gem?" Di langsung berdiri.


"Cabut." Gemal langsung merengek ingin menangis menunjukkan punggungnya yang sudah menancap belati.


Diana langsung meringis, teriakan Gemal sangat besar merasakan sakit bahkan Diana belum menyentuhnya.


"Ayo kita pulang, aku harus di operasi." Gemal berjalan sambil merengek seperti anak kecil mengeluh sakit.


Diana antara ingin tertawa dan kasihan, di depan Diana dan orang sekitar Gemal konyol, tapi di depan lawan sangat kuat.


"Cepat Diana, jalankan mobilnya. Aku bisa pendarahan." Gemal terus merengek memegang kepalanya.


"Gem, punggung yang luka bukan kepala." Diana menutup mulutnya.


"Tertawa kamu di atas penderitaan aku, kamu bayar biaya operasi." Gemal teriak histeris, paman yang duduk dibelakang menarik belati langsung.


Gemal mengigit kotak tisu menahan sakit, menatap Paman yang mengembalikan belati kepalanya.


Diana langsung menutup wajahnya tertawa lepas, mengambil kain untuk menutupi luka Gemal yang mengeluarkan banyak darah.


***


follow Ig Vhiaazaira


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2