
Pintu kamar Genta diketuk dari luar, meskipun Genta mendengar tetap memilih diam berpura-pura tidak mendengar. Panggilan telepon juga diabaikan.
"Kenapa aku merasa kesal sekali? hati juga rasanya aneh. Kamu kenapa Genta?" tubuh Genta berguling-guling di atas ranjang kamar.
Rambut diacak-acak, Genta sedang berusaha melupakan kejadian saat di rumahnya yang menyaksikan hubungan Tika dan Andre yang terlihat berlebihan.
"Hati aku kenapa? sakit tidak perih juga tidak, tapi tidak nyaman. Apa ini namanya patah hati? tidak mungkin." Bibir Genta sudah cemberut, berlari ke kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya.
Sampai subuh Genta tidak tidur, masih memikirkan Tika saat kecil, makan bersama, bahkan moments ciuman juga melintas di kepalanya.
"Ini otak sudah gila," tawa Genta terdengar.
Genta keluar kamarnya, berjalan menuju ruangan latihan beladiri. Suara Genta bertarung sendirian terdengar, tapi tidak bisa mengalihkan pikirannya soal Tika dan Andre.
"Ciri-ciri jatuh cinta?" Genta melakukan search di akunnya untuk mengetahui perasaannya.
Kepala Genta geleng-geleng, bicara sendiri soal pencarian yang tidak sesuai dengan pikirannya.
"Satu Senang berada di dekatnya ... ah biasa saja. Tidak mungkin ini, semua orang pasti senang jika dekat orang baik. Dua Menghargai dan mendukungnya, sejak kapan kami saling mendukung? bertengkar iya. Salah ini." Genta menendang ponselnya, tapi cepat mengambilnya kembali.
"Tiga Sering tersenyum karenanya, ini Rindi bukan aku. Empat Terus memikirkannya,
Rela berkorban demi dirinya, Selalu ingin membahagiakannya, Mencoba mengerti dan memahaminya." Genta diam sesaat menganggukkan kepalanya, tapi langsung geleng-geleng tidak percaya dengan perasaannya sendiri.
Suara tawa terdengar, Gemal mengambil ponsel Genta. Membaca tulisan ciri-ciri jatuh cinta, perut Gemal sampai sakit mentertawakan Genta yang mencari tahu soal cinta.
"Persiapan pernikahan Kak Hendrik? Kenapa kamu yang jatuh cinta Genta?" Gemal tertawa puas melihat Genta marah-marah merampas ponselnya.
"Diam! menganggu saja." Ekspresi Genta terlihat sekali menahan malu.
Gemal berjalan mengikuti langkah Genta, menepuk pundak Adiknya yang sangat bodoh soal percintaan.
"Kamu tidak perlu mencari tahu soal perasaan, manusia normal Gen. Jika kamu mengagumi seseorang dekati, jika jodoh bertemu di pelaminan, tapi jika tidak jadi tamu undangan. Hukum alam percintaan seperti itu." Senyuman Gemal terlihat, meminta Genta berterus terang kepada perasaannya.
"Masalahnya aku tidak mengerti soal perasaan aku."
__ADS_1
"Bodoh, makanya pacaran. Jatuh cinta, wajah saja yang tampan, tapi kisah cintanya tipis." Kepala Gemal geleng-geleng, mengambil minuman menyerahkan kepada Genta.
Gemal meminta Genta berhenti memikirkan soal pekerjaan, keluarga, masa lalu, masa depan, urusan besok. Jalani apa yang seharusnya dijalani.
"Apa yang masih kamu pikirkan? dulu aku memiliki banyak penggemar, tapi jatuh cintanya sama pembenci." Tawa Gemal terdengar, mengingat istrinya yang jauh darinya.
"Kita beda usia, tidak mungkin dia sudah siap untuk serius. Aku pria dewasa yang memikirkan masa depan, sedangkan dia masih terlalu muda." Genta mengacak-acak rambutnya.
"Memangnya kamu tahu dari mana dia belum siap serius?"
"Iya tidak tahu, tapi dia juga terlahir dari keluarga yang berstatus tinggi. Apa mungkin?" Genta geleng-geleng tidak yakin dengan hubungannya.
"Jika aku wanita, tidak sudi aku mencintai pria seperti kamu. Belum berjuang sudah mengeluh, selamat patah hati. Melihat dia bersama wanita lain, nangis darah kamu." Gemal melangkah pergi, dirinya harus menghubungi Diana karena rindu.
Suara napas Genta menghela terdengar sangat besar, berjalan lemas ke arah kamarnya. Ucapan Gemal mungkin benar, tapi Genta sendiri ragu dengan perasaannya.
Lelah kebanyakan berpikir akhirnya Genta tertidur pulas sampai matahari tinggi, saat terbangun kepalanya terasa sakit karena pertama kalinya bangun kesiangan.
Selesai mandi Genta keluar kamar, berjalan ke arah dapur mencari makanan. Tidak ada satupun orang yang Genta temukan selain pelayan.
"Tuan Genta tidak pergi?"
Pelayan melangkah pergi semua, tidak menjawab pertanyaan Genta. Suara langkah kaki Hendrik dan Gemal terdengar dari suaranya yang bicaranya dan sangat besar.
Teriakan Rindi juga terdengar, membuat telinga Genta sakit karena terlalu nyaring. Tangan Rindi menepuk-nepuk punggung Genta yang langsung menatapnya tajam.
"Kenapa?" Genta melihat Rindi yang melangkah mundur karena takut.
"Kamu yang kenapa Gen? dari kemarin marah-marah, ditelpon tidak diangkat, kamar diketuk diam saja. Ada masalah bicara? jangan marah kepada orang lain." Hendrik menarik kursi meminta Rindi duduk.
"Iya maaf, maka jangan sentuh aku." Genta melanjutkan makannya.
"Rindi hanya mau mengatakan, pagi tadi Tika pergi bersama pria yang rambutnya ada kuning, badannya atletis, mobilnya berwarna merah cerah, wajahnya ...."
"Diam! apa namanya Andre?"
__ADS_1
"Rindi belum kenalan? nanti aku kenalan dulu baru memberitahu Genta." Rindi bertepuk tangan menyemangati Tika.
Pukulan kuat di atas meja membuat makanan Rindi berhamburan, Hendrik hanya bisa terdiam melihat Genta melangkah pergi. Gemal juga menyaksikan perubahan emosi Genta yang meninggalkan makanannya.
"Mampus, Genta menyukai Tika? malapetaka dia harus melawan Aliya!" Gemal mengacak-acak rambutnya, langsung duduk berpikir keras.
"Apa salahnya? Tika sudah besar." Hendrik meletakkan air minum.
"Aliya mengerikan, dia bisa membunuh Genta jika mendekati Putri kesayangan." Rindi langsung merinding.
"Rindi juga tahu ada perang dunia, keluarga Leondra harus mendukung siapa? seharusnya aku meminta Genta mundur." Kepala Gemal tertunduk.
Suara langkah kaki Genta terdengar kembali, Rindi, Gemal dan Hendrik langsung diam. Rindi memegang makanannya sebelum berhamburan, tangan Hendrik memegang air minum agar tidak tumpah.
Hanya Gemal yang menunjukkan senyuman manis, menunggu Genta bicara apa yang dia inginkan.
"Ke mana mereka pergi? apa Shin juga ikut?"
Rindi menggelengkan kepalanya, Shin pergi bersama Mam Jes. Atika hanya pergi berdua, dan Rindi tidak tahu tujuan mereka hanya melihat keduanya tertawa bahagia. Andre membukakan pintu mobil, lalu pergi begitu saja.
Tangan Hendrik menutup mulut Rindi agar diam, tidak ada gunanya menjelaskan hanya akan membuat kobaran api semakin besar.
"Gen, kamu menyukai Tika?" Gemal bicara pelan.
Kening Genta langsung berkerut tidak membenarkan ucapan Gemal soal perasaannya kepada Tika.
"Aku hanya mengkhawatirkan dia yang pergi dengan pria, Tika tidak memahami tempat ini dan masih berbahaya untuk seorang wanita hanya berduaan." Genta menatap dingin, melangkah pergi tanpa menunjukkan emosinya.
"Syukurlah, Genta tidak menyukai Tika." Gemal bernapas lega.
"Khawatir dan cemburu beda tipis, sama-sama tidak rela melihatnya bersama orang lain." Rindi tersenyum menatap Gemal yang sudah memijit pelipisnya.
"Terserah kamu Genta, urus sendiri masalah percintaan kamu. Di saat Aliya ada masalah, pasti melibatkan Diana, lalu ada Atika, ditambah Arshinta, terus mertua aku, dan akhirnya aku mati berdiri diserang berapa wanita. Jika ingin mati kamu saja Gen, aku masih ingin hidup." Gemal menghabiskan air minum Rindi, melangkah pergi.
***
__ADS_1
Done tiga bab
follow Ig Vhiaazaira