
Mendengar cerita Tika, membuat Salsa merinding. Kemampuan bela diri Tika, sangat tinggi. Jika Aliya sampai tahu, pasti marah.
Al tidak ingin putrinya, menjadi seperti dirinya yang memiliki emosi tinggi, dalam menyelesaikan masalah.
"Al tidak akan tahu, rahasiakan saja kejadian ini." Di menatap Tika yang tersenyum.
Salsa membantu Diana menggunakan gaun barunya, memasangkan mahkota di kepala. Tika bertepuk tangan melihat Di yang sangat cantik.
Suara ketukan pintu terdengar, Tika langsung membuka pintu sedikit. Melihat Maminya yang sudah mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu di sini Tika? buka pintunya." Al mendorong pintu.
"Mami, sebentar lagi kita selesai. Tika juga sudah make up, jangan khawatir." Tika meminta Maminya turun lebih dulu.
Tatapan Aliya sinis, memaksa untuk masuk sampai Salsa keluar mengatakan jika sebentar lagi Diana selesai.
Senyuman Aliya terlihat, meminta Salsa membantu Diana untuk turun karena tamu undangan sudah mulai berdatangan.
"Jangan lama Salsa, Gemal juga sama masih belum siap." Al menghela nafasnya, Gemal dan Diana sama lambatnya.
Al langsung melangkah pergi, melihat Gemal yang baru naik untuk berganti baju. Dengan santainya selama dua jam Gemal bercerita dengan banyak orang, bukan bersiap-siap untuk menyambut tamu.
"Masih belum siap Gem?" Al menendang kaki.
"Persiapan laki-laki tidak lama, hanya beberapa menit." Senyuman Gemal terlihat.
"Mami, Ria melihat seorang wanita yang berlarian pergi ke luar hotel."
Gemal mengerutkan keningnya, mengusap kepala Ria. Memintanya untuk tidak berpikir buruk, karena keamanan sudah sangat ketat.
"Cepat ganti baju Gem, tamu sudah menunggu." Altha menepuk pundak.
Gemal langsung ke ruangannya, seseorang yang menggunakan baju penjaga juga masuk mengikuti Gemal.
"Selamat malam tuan muda."
"Siapa wanita yang dilihat oleh Ria?" tatapan mata Gemal tajam, menganti bajunya dengan kemeja putih.
Pria yang menjadi penjaga pribadi Gemal, tidak tahu pasti yang terjadi di kamar Diana. Dia berlari keluar dari kamar, secara tergesa-gesa.
Ada empat orang yang membantu Di make up, dan hanya satu yang keluar. Kemungkinan ada kesalahan membuat Diana marah.
"Siapa saja yang datang ke kamar Di?"
"Anak kecil bernama Atika, dia memiliki sebuah kartu digital yang bisa digunakan untuk membuka seluruh pintu yang menggunakan kunci digital." Beberapa foto ditujukkan kepada Gemal.
__ADS_1
"Kamu yakin tidak ada masalah?" Gemal langsung menghubungi Diana.
Panggilan video langsung Diana jawab, tersenyum melihat Gemal yang sudah rapi. Melihat istrinya sudah cantik dan bersiap turun, barulah Gemal percaya jika semuanya baik-baik saja.
[Di, kamu baik-baik saja?]
[Iya, kita ketemu di bawah.] Diana melambaikan tangannya.
Gemal meminta bantuan pengawal pribadinya untuk bersiap-siap, dan sesekali mengawasi depan kamar Diana.
Tidak ada pergerakan apapun, sedang Calvin sudah meminta Gemal segera turun karena tamu semakin ramai.
"Selamat malam Tuan."
"Jaga Gemal dengan baik, dan bekerjalah menggunakan jarak agar tidak ada yang tahu hubungan kalian." Calvin menarik tangan Gemal untuk segera turun.
Senyuman Gemal terlihat, langsung berdiri di tempat pelaminan. Menyambut tamu lebih dahulu.
Diana juga turun bersama Salsa dan Tika yang mendampinginya. Tatapan Gemal binggung melihat gaun yang Diana kenakan, karena berbeda dengan gaun yang sudah dipersiapkan.
Di langsung berdiri di samping Gemal, Diana paham jika Gemal sudah mencurigai gaunnya.
"Ada apa di kamar? kenapa salah satu MUA melarikan diri dengan wajah ketakutan?" Gemal berbisik pelan, memeluk pinggang Di.
Beberapa dokter memeluk Diana yang sangat cantik, gaun yang Di gunakan juga sangat mewah. Make up simpel Diana menambah kecantikannya.
Kehebohan terdengar saat berjabatan tangan dengan Gemal, Diana menatap tajam Gemal yang langsung melepaskan tangannya.
Semakin malam undangan mulai sepi, keluarga yang kelelahan juga satu-persatu mulai meninggalkan tempat pesta.
"Gemal bawa istri kamu beristirahat, biarkan para orang tua yang masih di sini." Mam Jes menatap menepuk pundak Gemal yang menganggukkan kepalanya.
Dimas merasa ada yang aneh dari Gemal, sejak awal acara dimulai tidak melihat kehebohan, Tika dan Ria juga diam tidak membuat masalah.
"Kenapa Gemal malam ini hanya diam?" Dimas menatap Yandi yang mengangkat kedua bahunya.
Yandi juga merasakan keanehan yang sama, padahal tidak ada masalah apapun. Sikap Diam Gemal mencurigakan.
Lift langsung berjalan ke lantai atas, Gemal menatap punggung Diana yang masih merasa curiga. Gemal yakin ada hal yang Diana sembunyikan.
Pintu kamar terbuka, Gemal mempersilahkan Diana masuk. Dan langsung menutup pintu kamar pengantin.
"Wow ... indahnya." Di tersenyum melihat banyak bunga mawar.
"Kamu yang memberikan Tika kunci pintu digital?" Gemal membuka jas berserta kemejanya.
__ADS_1
Diana hanya menganggukkan kepalanya, langsung duduk dipinggir ranjang. Di melihat Gemal yang minum air dalam botol sampai habis.
Banyak pertanyaan yang Gemal tanyakan, Diana masih saja terus menghindar dan tidak mengakui soal tuduhan suaminya.
Kepala Gemal menggeleng, merasakan aneh pada tubuhnya yang langsung panas. Diana langsung berdiri mengusap wajah.
"Ada apa Gem?"
"Panas, kepala aku pusing. Minuman apa ini?" Gemal mengambil botol yang hampir kosong.
Diana langsung mengambil botol, dan tidak melihat segel lagi di botol minuman.
"Ini obat perangsang Diana." Gemal langsung berlari ke kamar mandi untuk berendam.
Hampir satu jam Diana menunggu, suara Gemal menahan diri masih terdengar kesulitan.
"Gemal, buka pintunya." Diana menggedor pintu.
Pintu kamar mandi terbuka sedikit, Gemal langsung melangkah keluar menarik selimut masih berusaha menahan.
"Kamu punya aku untuk melampiaskannya." Di tidak tega melihat wajah Gemal merah, dan terlihat kesakitan.
"Gila kamu, ini obat perangsang. Tidak mungkin malam pertama dihancurkan oleh obat sialan ini." Kedua tangan Gemal meremas rambutnya.
Diana akhirnya menceritakan yang terjadi di kamar rias, dirinya diserang dan seorang wanita ingin mengantikan Diana di malam pertamanya.
Soal minuman yang Gemal minum, mungkin sebagian dari rencana. Diana tidak terpikirkan jika hal ini bisa menimpa malam pertamanya.
"Seharusnya kamu mengatakan sejak awal, sehingga aku bisa waspada." Mata Gemal terpejam, menggenggam jari-jemari Diana yang mulus.
"Di, aku tidak kuat lagi. Obat ini menyiksa, dan tidak bisa hilang jika tidak dilampiaskan." Gemal langsung mencium bibir istrinya.
Diana meminta Gemal perlahan, dan tidak terburu-buru karena Diana tidak punya pengalaman dalam berhubungan suami istri.
"Kamu ke kamar mandi sekarang, aku tidak bisa pelan. Kepala rasanya ingin pecah." Gemal mendorong Diana untuk menjauh.
Di langsung melangkah ke kamar mandi, membuka bajunya. Membersihkan tangan kakinya yang masih gerah.
Diana keluar kamar mandi, hanya menggunakan baju satu jari. Naik ke atas ranjang, menyentuh wajah suaminya yang masih berusaha tetap tenang.
"Ayo kita lakukan, Diana sudah siap."
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1