
Suara mobil ambulans terdengar di jalanan kejar-kejaran menuju rumah sakit, beberapa mobil kepolisian juga mengawal agar bisa menjaga keamanan jalan.
Di rumah sakit sudah banyak dokter dan perawat yang berjaga, setelah mendapatkan laporan soal kondisi korban.
Diana keluar dari ruangan rawatnya, diikuti oleh Aliya dan Anggun yang menutup mulut melihat kondisi Gemal yang penuh darah.
"Pasien mengalami pendarahan." Dokter meminta dilarikan ke ruangan operasi.
"Siapkan stok darah." Diana menatap wajah Gemal yang pucat, denyut nadinya lemah bahkan tubuhnya sangat dingin.
Di tidak mendapatkan izin untuk masuk ke ruangan operasi, hanya bisa melihat dari tempat khusus memantau.
"Gracia menghilang di lautan, pencarian akan dilakukan saat matahari terbit." Al menatap Diana yang tidak terkejut sama sekali.
Di tersenyum sinis, Gracia sudah mempersiapkan kepergian seorang diri. Orang psikopat memiliki jalan tersendiri untuk meninggalkan orang yang dia manfaatkan.
Tidak akan ada yang menemukan dia, baik hidup ataupun mati. Cia akan hidup sebagai orang lain, berada di negara lain dan memulai rencananya dari awal lagi.
Diana tidak heran sama sekali, karena dirinya dulu juga bisa hilang dari pengejaran dengan mudahnya karena tidak ada yang harus dijaga.
"Hendrik masih koma, dan kesempatan hidupnya juga kecil." Kepala Aliya tertunduk, karena merasa sedih melihat banyak anak yang bernasib sama seperti dirinya dan Alina.
"Al, kejahatan tidak bisa dihentikan karena mereka menjadi ujian kehidupan. Jangan kecewa karena Cia gagal ditangkap, tugasnya di negara ini sudah berakhir." Di melihat pendarahan di kepala Gemal.
Bagian tubuh lainnya yang mengalami keretakan juga memburuk, karena Gemal memaksa dirinya.
"Apa dia akan baik-baik saja?" Tatapan Aliya tegang melihat ke dalam ruangan operasi.
Diana mengigit bibir bawahnya, sudah lebih lima jam dirinya duduk menunggu proses operasi.
Pendarahan berhasil dihentikan, dokter menatap Di menganggukkan kepalanya membuat Diana benafas lega.
Seorang dokter masuk ke ruangan Diana menunggu, menunjukkan laporan hasil kondisi tulang belakang gemal. Melihat kondisi Diana mengkhawatirkan jika dibiarkan bisa mengalami kelumpuhan.
"Kalian selesai untuk menutup luka, minta dokter untuk melakukan operasi tulang belakang."
"Di, ini terlalu beresiko."
"Tidak ada pilihan, dia bisa saja lumpuh karena tulang ini sangat berarti." Tatapan Diana tajam meminta operasi dilanjutkan, Diana menjadi dokter yang bertanggung jawab.
Dimas dan Anggun melihat Diana yang masih menggunakan infus ditangannya, tapi sibuk melihat operasi yang membutuhkan waktu lebih lama.
"Di, kamu sudah duduk di sini selama sepuluh jam, kamu harus makan dan minum obat." Dimas mengusap kepala putrinya.
__ADS_1
Senyuman Diana terlihat, langsung meninggalkan Gemal mengikuti Daddy dan Mommynya.
"Bagaimana keadaan Hendrik Daddy?"
"Masih dalam perawatan khusus, dia bisa bertahan karena Gemal memilih menyelamatkan Hendrik, daripada ibunya yang dia perjuangan selama ini." Dimas merangkul Diana yang cukup terkejut.
Diana pikir Gemal sangat membenci kakaknya, tapi kenyataannya dia memilih yang lebih harus diutamakan keselamatannya.
"Sekarang Gemal pasti memiliki jalan buntu untuk menyelamatkan ibunya." Di berbaring di ranjangnya menunggu Mommynya menyiapkan makan.
Diana membuka mulutnya menerima setiap suapan, senyuman dan tatapan mata Diana terlihat tenang, tapi pikirannya ada ibunya Gemal.
"Daddy, hari ini Diana sudah boleh pulang."
"Apa yang ingin kamu lakukan Di?"
"Menepati janji, dan ini tugas Diana sebagai dokter." Di tersenyum melihat Mommynya yang tersenyum.
Senyuman Mommynya yang terbaik bagi Di, karena menjadi penenang hati yang sedang gelisah.
"Mom, Diana binggung harus memulai dari mana?"
"Kenapa binggung sayang, kamu bisa melakukannya karena Diana tulus ingin menolong. Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya." Anggun mengusap wajah putrinya yang terlihat sedang berpikir.
***
Tatapan Diana tajam, di dalam ruangannya ada bekal makan siang. Di tahu Gemal masih memiliki hutang kepadanya, tapi saat ini Gemal masih dirawat dan belum sadarkan diri.
"Siapa yang mengantarkan makanan ini?" Di membuka makanan mencicipi rasanya yang sangat luar biasa enaknya.
Diana langsung makan siang, menghabiskan makanannya sambil tersenyum. Berat badannya bertambah jika terus makan enak.
Setiap hari Diana habiskan di dalam lab, juga mengawasi kondisi Gemal yang masih belum sadarkan diri meksipun kondisinya stabil.
Hendrik juga sama belum sadarkan diri, pemulihan cukup lama meksipun tidak menunjukkan tanda-tanda buruk.
"Kapan kamu bangun Gem? ini makanan terakhir sesuai perjanjian kita. Kamu bilang ingin bertarung, tapi kamu masih terbaring di sini." Diana membuka kotak makan siang yang selalu datang tepat waktu.
Air mata Diana menetes, di makanan terakhirnya ada permintaan maaf. Diana merasa dadanya sesak.
Selama satu bulan, ibunya Gemal membuatkan Diana makan siang. Air mata Di tidak tertahankan.
Ibu Gemal memiliki catatan soal makanan Diana yang Gemal tinggalkan, ada catatan hukuman untuk putranya yang melakukan pelanggaran.
__ADS_1
Demi membayar kesalahan Gemal, ibunya mengirim makanan agar Diana memaafkan putranya.
Dada Diana semakin sesak, saat ibu Gemal meminta maaf karena sekarang dia mulai lupa letak bumbu, lupa nama bahan makanan, bahkan beberapa kali lupa memasukan nasi.
Ibu Gemal bukan sengaja, tapi ingatan memburuk. Bahkan ibunya lupa kapan terakhir Gemal pulang?
"Rasa masakan ibu enak, Diana menyukainya meksipun banyak yang ibu lupakan. Terima kasih untuk makanannya." Diana menangis sesenggukan di samping Gemal yang mengeluarkan air mata padahal dia belum sadarkan diri.
Tatapan Diana sayu, makanan terakhirnya hambar tanpa rasa, bahkan lauk pauknya hanya ada rasa manis.
Diana menghapus air matanya, menghabiskan makanannya untuk terakhir kalinya.
"Gem, aku akan menemui ibu kamu." Diana melangkah pergi meninggalkan Gemal.
"Diana, Hendrik sudah sadar." Yandi menunjuk ke arah ruangan Hendrik.
Diana langsung masuk, melihat Hendrik yang menatap langit-langit kamar. Air matanya menetes tanpa mengedipkan matanya.
"Kamu akhirnya sadar, sedangkan Gemal masih belum membuka matanya. Kabar lebih buruk lagi, ibu kamu sekarang bukan hanya tidak tidur malam, tapi sudah melupakan banyak hal. Kemungkinan dia akan melupakan kamu dan Gemal." Di menatap Hendrik yang semakin menangis mendengar kondisi ibunya.
Diana meninggalkan Hendrik, langsung berlari kencang menuju mobilnya untuk menuju rumah Gemal.
Ibu Gemal harus segera dirawat, kondisinya memburuk, dan bisa saja saraf di kepalanya rusak.
"Di mana rumah Gemal?" Diana menghentikan mobilnya di jembatan melihat seorang ibu yang membawa kuenya.
Diana langsung keluar, tersenyum melihat ibu penjual kue yang dulu pernah dia kunjungi.
"Ibu, Ana datang." Diana langsung duduk mendekat, tersenyum manis.
"Kamu siapa?"
"Ibu lupa Diana? Ini Ana Bu." Di mencoba mengingatkan tentang dirinya.
"Subhanallah Ana, kamu akhirnya datang berkunjung. Ibu ingin mengembalikan kertas ini." Ibu mencari amplop yang Diana tinggalkan.
Air mata ibu menetes, meminta maaf kepada Diana karena dia lupa jika cek dia berikan kepada pelanggan kuenya.
"Ya Allah, apa yang baru saja aku berikan. Anak ibu pasti marah, karena tidak amanah. Demi Allah nak, ini tidak mengambil sepeserpun uang kamu." Air mata ibu menetes meminta maaf.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1