
Melihat kemarahan Gemal membuat kakeknya tertawa, Gemal mewarisi sikap neneknya dahulu yang sangat tegas dan berwibawa.
Menaklukkan calon suaminya yang memiliki kekuasaan, dan kekayaan membuatnya harus kuat hati apalagi suaminya sama seperti Calvin.
"Dulu saat kakek kecil, nenek selalu bercerita jika dia bekali-kali mengutuk suaminya. Saat memiliki anak, kakek mulai memperbaiki sikapnya. Calvin tidak tahu rasanya memiliki anak, sehingga dia masih egois." Senyuman kakek Ken terlihat memberikan jempol kepada Gemal.
Calvin menatap tajam Papanya, dia hanya ingin putranya sadar posisinya yang tidak pantas menjalin hubungan dengan wanita yang tidak sederajat sama mereka.
"Pa, aku hanya ingin anak ini bisa menjadi lelaki yang tangguh untuk meneruskan generasi keluarga kita."
"Calvin, kamu pintar sekali menjatuhkan harga diri orang lain, Diana memiliki status jauh di atas keluarga kita. Benar tidak Gemal?" Nenek tersenyum mendukung Gemal.
"Tidak juga Nek, dia terkadang normal, tapi ada saatnya gila. Saat pertama bertemu, Gemal hampir mati ulah dia." Tatapan Gemal melihat Diana yang sudah menjambak rambutnya kuat.
"Jangan didengarkan, aku berkali-kali menyelamatkan kamu Gem, jangan mengingat jeleknya." Di melotot melihat tingkah Gemal yang jahil.
Suara tawa Mama, Kakek dan nenek terdengar, Gemal memiliki sikap yang sangat ceria dan jahil. Calvin mengerutkan keningnya melihat Diana dan Gemal bertengkar melalui pandangan.
Gemal langsung pamit, melangkah pergi meninggalkan Diana. Di juga langsung pamit mengejar Gemal yang bisa-bisanya mengangkatnya ke langit, lalu menjatuhkan ke dasar bumi.
Calvin membuka gorden jendela, menatap Gemal yang tertawa dikejar oleh Diana dan saling pukul.
"Mereka terlihat bahagia, sampai kapan kamu menunggu dia kembali secara sukarela Calvin." Jessi menyentuh pergelangan tangan suaminya.
Air mata Jessi menetes, memohon agar Calvin membiarkan Gemal kembali ke dalam keluarga mereka, dan melindungi putra mereka dengan segala cara.
"Sayang, aku sudah menepati janji membawa kamu ke negara ini agar sembuh, bahkan kamu memiliki kesempatan melihat dia."
"Dua puluh lima tahun kita kehilangan dia, aku juga ingin memeluk anakku." Jessi memeluk suaminya sangat erat.
Calvin meminta perawat membawa istrinya beristirahat, dan minum obat agar bisa tidur dengan tenang.
Ken mendekati putranya yang terlihat dingin dan masih saja terlihat kasar dihadapan Gemal, dan memilih dibenci oleh darah dagingnya.
"Maafkan Papa Vin, kamu kehilangan anak, kebahagiaan dan harus berjuang menyembuhkan istrimu. Gemal tidak mungkin hilang, jika Papa tidak memaksa kamu menikah lagi."
"Sudahlah Pa, Calvin tidak ingin membahasnya lagi. Aku harus melindungi Jessi, juga putraku."
Suara nafas Calvin terdengar berat, berjuang menemukan putranya selama sepuluh tahun, tapi saat menemuinya Calvin tidak bisa menyentuhnya.
Kepergian Ayah angkat Gemal karena kegagalan Calvin untuk melindunginya, dan hanya bisa membiarkan Gemal hidup sederhana dan tanpa mengetahui identitasnya.
Air mata Calvin menetes, banyak orang yang meninggal, hanya karena dirinya berjuang untuk menemukan putranya sampai Hendrik harus menjadi seorang yatim.
__ADS_1
"Maafkan Papa Gem, saat kamu datang mencari keluarga Papa menyakiti perasaan kamu, tapi semuanya Papa lakukan untuk melindungi kamu." Calvin mengusap air matanya, berharap musuhnya tidak mengetahui pertemuan mereka dengan Gemal.
Tatapan nenek sedih melihat putranya yang memiliki musuh dalam selimut, pernikahan dengan Shima menghancurkan kehidupan Calvin yang awalnya sangat bahagia bersama Jessi.
Seandainya mereka lebih sabar menunggu Jessi hamil, mungkin saat ini Gemal tidak mungkin menghilang.
"Siapapun kalian yang menghacurkan keluarga ini, aku berharap balasan yang setimpal. Putraku, menantuku dan cucuku semuanya terluka."
***
Suara tawa Gemal dan Diana terdengar, sepanjang perjalanan keduanya saling mengejek.
"Gem, kenapa kamu membela aku di depan Papa kamu?"
"Aku hanya bicara fakta."
Diana menceritakan jika Calvin menyelidiki identitasnya, dan selalu mengungkit soal pembantai keluarga.
"Kamu satu-satunya orang yang tidak kaget Gem jika aku pernah membantai keluarga, dan ingin sekali aku memecahkan kepala Calvin."
"Kenapa tidak kamu pecahkan?" Tatapan Gemal tajam.
Sejujurnya Diana marah besar, saat Calvin mencoba menyelidiki keluarga terutama identitasnya dan Aliya.
Saat Di menceritakan kepada Aliya, dia menganggap berbeda. Al lebih berpikir jika Calvin mencoba melindungi identitas Diana dan keluarga.
"Tidak, tapi Aliya mengatakan seperti itu. Jika Calvin niatnya jahat, mungkin sudah lama aku dihakimi tidak boleh menyentuh istrinya, tapi kenyataannya Calvin bahkan tidak melarang penjaga." Di menggaruk kepalanya.
Diana sempat sepemikiran dengan Aliya, tapi binggung juga saat Calvin memerintahkan bawahannya menangkap Gemal.
"Aku tidak mengerti pikiran Calvin."
"Apa dia memiliki musuh dalam selimut?"
Diana langsung menutup mulutnya, ucapan Gemal ada benarnya. Calvin bisa saja melindungi Gemal dengan berpura-pura menahannya, tapi sudah tahu jika Gemal akan melawan.
Gemal melihat ke arah kaca spion, meminta Diana memperhatikan mobil di belakang mereka.
"Mereka mengikuti kita Gem." Di menatap sinis.
"Ini hampir malam, kita harus pulang."
"Gem, kita ke hutan saja. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu peninggalan Shima." Di memohon karena dia sangat penasaran.
__ADS_1
Gemal menolak, tidak ingin membahayakan Diana yang mungkin ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Sebuah mobil langsung menghadang mobil yang mengikuti Gemal, Diana tersenyum melihat keributan di jalanan.
Di langsung mengambil ponselnya, langsung menghubungi Aliya menceritakan jika Calvin mengungkit kembali soal identitas Diana di depan Gemal.
Panggilan mati, Diana menatap Gemal yang terlihat sedang berpikir sangat keras.
"Gem, Calvin baru saja mengetes hubungan kita?"
"Hubungan apa?"
"Aliya mengatakan, jika Calvin menguji hubungan baik kita, dan jika kamu membela berarti Calvin menilai aku baik."
"Terserahlah Diana, aku pusing. Sebenarnya ada apa dengan dia. Dulu saat aku datang, Calvin sangat menakutkan." Gemal mendengar secara langsung ada perintah orang-orang kelas bawah disingkirkan.
Tidak peduli lansia, anak-anak bahkan para wanita. Semuanya diasingkan, dan tidak diupah setelah bekerja keras.
Di mata Gemal, keluarga Leondra menggunakan kekuasaan menyiksa banyak orang hanya untuk keuntungan diri sendiri.
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Mana aku tahu. Aku juga melihat, beberapa orang di hukum mati di depan keluarganya."
"Calvin melakukan secara langsung?"
"Tidak, aku tidak melihat dia."
Diana langsung memukul kepala Gemal, jika tidak melihat secara langsung berarti kemungkinan ada orang lain yang menggunakan nama keluarga Leondra, dan menghacurkan nama baik mereka di mata orang-orang rendah.
"Dia membawa lambang keluarga Di, keluarga Leondra disegani oleh orang atas, dan orang bawah benci mendengar nama keluarga itu. Mereka lebih mengerikan dari keluarga mafia." Gemal mengambil sesuatu di dalam dompetnya menunjukkan kepada Diana.
Tatapan Diana langsung tajam, Di memejamkan matanya mengingat sesuatu. Dia pernah melihat lambang di suatu tempat.
"Gemal, siapa sebenarnya keluarga Shima?"
"Mana aku tahu, dan kita lupakan saja."
Diana memaksa untuk ke hutan, jika Gemal menolak Diana akan pergi sendiri untuk mendapatkan jawabannya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote HADIAHNYA