ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

Sudah dari subuh Diana bangun, sibuk di dapur melakukan sesuatu yang hanya dirinya yang tahu, Anggun juga binggung melihat Putrinya sudah bangun lebih dulu.


"Wow, sejak menikah sekarang mulai masak. Bagus Di, ada perubahan." Anggun tersenyum, tapi hanya sesaat saat melihat masakan Putrinya.


"Mommy, Diana masak untuk diri sendiri. Sekarang Diana mandi dulu, ingin pergi kerja. Mommy, ini jangan diganggu." Di langsung melangkah pergi kembali ke kamarnya.


Anggun mengambil sendok, mengaduk masakan Diana. Bersyukurnya masak untuk diri sendiri, bukan menyiapkan sarapan untuk keluarga, jika tidak bisa pesta muntah.


"Ini apa?" Anggun melihat sayur, ada buah, susu, keju direbus menjadi satu.


Kepala Anggun hanya bisa geleng-geleng, langsung menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya.


"Pagi Mommy, Gemal pergi kerja dulu. Diana masih mandi, tapi menunggunya terlalu lama." Tangan Gemal mencium tangan Anggun.


"Tidak sarapan dulu Gem." Anggun tersenyum melihat menantunya buru-buru.


Dimas juga pergi kerja pagi, langsung berangkat bersama Dean yang harus pergi ke sekolah.


"Daddy, hari ini Anggun ada sidang."


"Iya, kamu sudah mengatakannya dari beberapa hari yang lalu." Dimas mencium kening istrinya.


Senyuman Anggun terlihat, melambaikan tangannya. Langsung masuk kembali, melihat Diana yang sudah bernyanyi kecil di dapur.


"Sayang, Gemal sudah pergi kerja."


"Iya Mommy, kak Gem sudah teriak-teriak mirip orang kesurupan." Di menuangkan masakan ke dalam wadah.


Anggun langsung menuju kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke persidangan, Diana yang sibuk sendiri sudah makan sambil duduk santai.


Tatapan Anggun binggung, Diana mengatakan dia ingin pergi bekerja, tapi kenyataannya duduk di depan TV melihat film kartun, sambil tertawa cekikikan.


"Sayang, katanya hari ini kerja." Anggun mengusap kepala Diana yang tidak panas.


"Hanya rencana, tapi kenyataannya Diana lagi malas." Di tersenyum, mencium Mommynya yang ingin pergi bekerja.


Melihat semua orang pergi, Diana mulai merasakan bosan. Tersenyum melihat ke arah rumah Aliya, langsung mengambil makanannya untuk diberikan kepada adiknya.


"Aliya, assalamualaikum. Al, Diana sudah pulang." Di tersenyum melihat Al sudah rapi.


"Al sudah tahu, suara kak Di kedengaran." Al menatap makanan menjijikan yang Diana bawa.


"Untuk kamu makan bersama keluarga." Di meletakkan makanan di atas meja.


"Ini makanan kucing, ayam, atau burung. Kenapa aneh sekali?" Al mengerutkan keningnya, merasa mual.

__ADS_1


"Ini enak, ada manisnya, asin, asam dan banyak rasa lainnya."


Diana langsung berkeliling mencari Gemal, Aliya meletakan makanan di dalam kulkas, mengikuti langkah Diana yang berjalan lompat-lompat.


"Ayang Gemal, kamu di mana?"


"Mana ada Gemal di sini, dia lagi kerja, Diana bodoh." Al meminta Diana pulang, karena dia ingin pergi ke kantor.


Mendengar Aliya ingin pergi ke kantor, Di langsung bersiap-siap untuk ikut, sudah lama tidak melihat kantor, membuat Di kangen suasana perusahaan.


"Ikut, Diana mau ikut." Di langsung pulang ke rumahnya untuk mengambil tas.


Aliya membiarkan Diana ikut, karena sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua.


Mobil Al melaju dengan kecepatan sedang, menatap Di yang tersenyum bahagia sambil mendengarkan musik.


"Bagaimana keadaan Juna kak?"


"Baik, sangat baik. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya, fokus saja kepada Tika dan Ria." Di masih tersenyum lebar menyukai suasana hatinya.


Aliya menganggukkan kepalanya, sebenarnya Al memang sangat mengkhawatirkan pergaulan Atika, apalagi dia yang hidup bebas.


"Jangan terlalu dikekang, Tika harus dijadikan teman, jika dia nakal, ikuti saja."


"Dia mengakuinya, hanya saja belum bisa memaafkan. Biarkan waktu yang menjawab, seiring bertambahnya usia, Tika akan membuka hatinya." Diana mengusap punggung Aliya.


Senyuman Al terlihat, meminta bantuan Diana untuk menjaga Tika, terutama pergaulan Atika yang terbilang sangat bebas.


"Al binggung, kenapa Tika bisa mahir bela diri." Al tidak pernah mengajari secara berlebih-lebihan.


Diana tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Aliya soal Tika yang memang ahli bela diri. Diana menjadi guru rahasia Tika, dan Di mengajari segala hal dengan perjanjian yang hanya diketahui oleh Tika dan Di.


Ponsel Aliya berbunyi, langsung menghentikan laju mobilnya. Ibu Helen menghubungi Aliya, jika Helen sudah dilarikan ke rumah sakit, dan sudah ingin melahirkan.


"Astaghfirullah Al azim, Elen sudah hampir lahiran. Kita ke rumah sakit sekarang." Al langsung putar arah.


"Apa sudah waktunya?" Di menatap binggung.


"Sudah kak, ini masuk bulan ke sembilan." Al mempercepat laju mobilnya.


"Oh, tidak terasa, ya. Perasaan kemarin masih kecil, sekarang siap keluar." Di menganggukkan kepalanya, menghitung usia pernikahan.


Al menatap Diana yang menghitung jari, tidak mengerti apa yang dipikirkan Diana sampai menghitung hari.


"Ada apa kak Di?"

__ADS_1


"Aku menikah sudah berapa lama?"


"Kenapa memangnya?"


Di menggelengkan kepalanya, merasa ada yang aneh. Satu bulan menikah, tidak mungkin sudah terjadi sesuatu.


"Al, aku sudah dua bulan tidak bulanan, menikah baru satu bulan. Kira-kira aku hamil diluar nikah tidak?" Di langsung kaget, Aliya lebih kaget lagi.


Aliya memukul Diana, bisa-bisanya Diana melakukan hubungan di luar nikah. Bisa bahaya jika keluarga Leondra tahu.


"Gila kak Alin, berhubungan dengan siapa? kak Gemal itu bukan keluarga sembarang." Al menjambak rambut Diana kesal.


"Kamu yang gila, aku tidak melakukan dengan siapapun. Malam pertama juga karena efek obat sialan, jika tidak mana mungkin terjadi. Kedua enak, tiga juga enak, akhirnya ketagihan." Diana menendang Aliya.


Aliya menghentikan mobilnya, meminta Diana tidak melarikan diri, jika urusan Helen lahiran selesai, baru membahas soal Diana.


Di mengikuti Aliya yang mengomel sepanjang jalan, bahkan sampai saling mendorong.


"Kenapa kalian berdua bertengkar?" Salsa tersenyum melihat Diana akhirnya pulang.


Tatapan Diana terheran-heran, mengusap perut Salsa yang sudah membesar. Dirinya baru pergi beberapa minggu, tapi sudah ada yang gendut.


"Kenapa ada bantal di sini?" Di mengusap perut.


Salsa langsung tertawa, meminta maaf karena merahasiakan dari Diana. Moments tidak tepat, karena sedang sibuk menyambut pernikahan Diana, bersamaan dengan kabar baik jika Salsa positif.


"Berapa bulan?"


"Nanti dulu bahas ini, di mana Helen?" Al menatap Salsa yang menunjukkan jalan.


Diana memeluk perut Salsa, bangga dengan Dika yang berhasil menabur benih sampai langsung gendut. Diana menjadi orang terakhir yang tahu, karena kehamilan Salsa dirahasiakan sejak awal.


"Sekarang masuk empat bulan Di, aku masih kuat. Kamu juga semoga cepat menyusul." Salsa mengusap perut Diana.


"Astaga Diana lapar, aku harus mencari makan. Jika lapar, tidak bisa diajak kerja sama." Diana memaksa Aliya untuk membeli makan.


Aliya menolak, karena masih mengkhawatirkan Helen, tidak peduli dengan Diana yang sudah menangis kelaparan.


Salsa terdiam melihat Diana yang menangis, menarik tangan Aliya meminta makan.


"Kak Di, kita lihat Helen dulu."


"Nanti aku mati kelaparan Aliya, kamu jahat sekali." Di menangis memeluk lengan Al.


***

__ADS_1


__ADS_2