ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
JUJUR


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang Atika dan Shin bernyanyi sepanjang perjalanan, Ana yang tidak terbiasa hanya celingak-celinguk melihat kanan kiri yang sama-sama nyanyi, berbeda nada, beda musik, dan lagu yang dinyanyikan karangan masing-masing.


Senyuman Gemal terlihat, menenangkan Hana yang garuk-garuk hijabnya. Udara segar membuat hati bahagia sehingga dua kepala berada di jendela.


"Astaghfirullah," Ana kaget mendengar kepala Shin membentur atas mobil.


Pukulan Tika menghantam Genta yang menyetir mobil, matanya tidak melihat ada lubang besar. Wajah Tika sampai ditampar kayu dari luar.


"Kak Genta jahat,"


"Maaf Tika, suara kamu membuat tidak fokus,"


"Kepala Shin juga benjol, terbentur ini." Shin memukul mobil merasa kesal.


Setelah marah-marah akhirnya tenang, Shin memperhatikan wajah Ana yang polos tanpa make up. Tika tidur menggunakan paha Ana sebagai bantal.


"Kak Ana, siapa wanita tadi?"


"Emh ... waktu di panti?"


"Iya, dia terlihat dekat sekali dengan Kak Hana,"


Senyuman Ana terlihat menganggukkan kepalanya jika mereka bersahabat sejak kecil, kehidupan Ana serba kekurangan dan hanya beberapa orang yang ingin berteman dengannya.


Hubungan keduanya terjalin baik, di mata Ana sahabat seseorang yang mengajari Ana banyak hal soal agama dan cara berpikir yang luas.


"Shin dan Tika sudah berteman sejak di dalam perut, kita buat jadwal lahir bersama. Tika juga tahu jika saat lahir Shin botak." Tika menutup wajahnya yang ditampar oleh Shin.


"Tidur saja Tika, mulut kamu itu isinya sampah semua." Shin meremas tangan Tika.


"Pertemanan kami tidak seperti kalian yang selalu bertengkar,"


Shin dan Tika langsung diam, memejamkan mata berpura-pura tidur. Shin yakin pertemanan Ana tidak seru, hanya diam-diam lalu pulang. Tidak menyimpan kenangan apapun.


"Kak Ana pernah memijit ular?"


"Ular? kenapa harus dipijit? bukannya berbahaya." Ana menatap Tika yang langsung duduk.


"Kak Ana pernah mengurut ayam?"


"Ayam? kenapa harus di urut?" tatapan Hana binggung melihat Shin.


Kepala Tika dan Shin geleng-geleng, tidak ada lelucon sama sekali bicara dengan Ana. Dia terlihat sangat menyebalkan dan tidak nyambung.


"Kak Ana jika mengobrol soal apa?"


"Jarang ngobrol, kita hanya belajar, dakwah ...." ucapan Hana dihentikan.


"Oke Tika mengerti." Tangan Tika menunjukkan angka O.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Tika langsung pulang, tubuhnya sangat lelah membutuhkan air hangat untuk merilekskan tubuhnya juga otot.


Kepulangan Tika disambut oleh Aliya, ada Juna juga yang pulang ke rumah mendekati Tika untuk mengecek kondisi Adiknya.


"Kamu baik-baik saja?"


"Iya, Kak Ana juga baik?" senyuman Tika terlihat menggoda Kakaknya.


"Bagaimana dengan Shin?"


"Dia, jantung dan ginjalnya sudah keluar. Penjahat di sana mengerikan Kak." Tika memegang dadanya.


"Tidak lucu, jika orang yang lebih tua bicara serius jangan dibuat candaan." Juna melepaskan tangan Tika yang sudah diobati.


"Iya maaf, Shin baik-baik saja." Tika melangkah ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.


Aliya mengusap punggung Juna, memintanya sabar menghadapi Tika yang memang suka bercanda.


"Juna, kapan kamu siap menemui keluarga Helen?" Al tahu jika Putranya sudah lama mengangumi Adiknya sahabat Aliya.


Melihat latar belakang Ana juga meyakinkan Aliya untuk mempererat tali persaudaraan, keluarga Juna mengenal baik keluarga Helen maupun Yandi.


Helen sudah menjaga Juna dan Tika sejak kecil, menjodohkan Juna dan Ana sudah menjadi pilihan terbaik.


"Nanti saja Mi, Juna masih ragu untuk berumah tangga. Izinkan Juna berbicara dulu dengan Ana." Arjuna menarik napas panjang, berusaha mengontrol perasaannya.


Juna belum menunjukkan kemajuan apapun untuk kesiapan menikah, tidak mungkin juga Atika melangkahi Kakaknya. Altha pasti semakin tidak setuju.


"Mami, malam ini makan bersama di rumah Nenda Jes. Mami ... Mamiiiiiii!" Isel berteriak kuat, Juna sampai geleng-geleng melihat Maminya melamun, ditambah lagi Ghiselin yang berteriak.


"Kenapa Isel?"


"Mami pabo!" Isel melangkah pergi.


"Ya Allah Ghiselin kamu menyebut mami kebo? itu apa?" Al menatap Juna yang menutup mulutnya.


"Pabo Mami ... artinya Mami bodoh." Isel menjulurkan lidahnya, tangan Diana langsung menampar Putrinya.


Suara tawa Aliya terdengar, Isel satu-satunya yang berani mengatainya bodoh bahkan dengan suara lantang.


"Jaga ucapan kamu Isel, belajar itu hal yang baik." Diana menatap sinis mata Putrinya yang jauh lebih tajam.


"Mama juga Pabo?"


"Pabo? apa itu?"


"Pabo itu bodoh, Mama juga bodoh. Mama sama Mami sama saja, tuli dan Pabo." Isel berlari pulang setelah mengejek si kembar.


Aliya dan Diana saling pandang, mulut Isel mengikuti Tika yang ucapan kasar. Ada saja bahasa aneh yang dia gunakan untuk menghina orang.

__ADS_1


"Juna tidak mendengar apapun." Arjuna melangkah pergi sebelum Al dan Di teriakan histeris.


Makan malam diadakan di kediaman Gemal menyambut kepulangan Papa Calvin dan Mam Jes. Suasana makan malam masih sama hebohnya dan semakin ramai karena anak-anak semakin dewasa.


"Tika hampir menjadi siluman ular, ukurannya besar lebih besar dari pahanya Shin. Terus Tika pijit- pijit badannya, ularnya panjang sekali. Lalu dia mendesis, Tika langsung lari meninggalkan Shin." Atika sampai merinding.


"Kenapa kamu membandingkan paha aku dan ular? ukurannya besar sekali, sadar tidak paha kamu lebih besar dari aku?" Shin ingin melempar Tika menggunakan paha ayam.


Suara tawa terdengar, pertengkaran Shin dan Tika menjadi hiburan yang menghilang stres karena selalu mengundang tawa.


"Di goa itu juga aneh sekali, banyak lumut atau jamur berlendir. Tangan Shin menempel, seperti dihisap. Menyeramkan sekali." Bulu tangan Shin merinding geli.


"Apa yang kalian lihat belum bahaya? Gemal pernah masuk hutan bersama Genta. Kalian tahu siapa yang kamu temui?"


"Siapa?" Di menatap suaminya.


"Orang-orang hutan yang tanpa busana, mereka membawa benda dari kayu namun tajam, kita berdua dikejar untung saja lolos,"


"Kenapa berlari? tanpa busana bisa melihat semuanya. Bagaimana ukurannya? besar tidak?" Di menatap tajam suaminya yang keceplosan.


"Mana aku tahu, belum sempat melihatnya. Coba tanya Genta?"


"Aku tidak tahu,"


"Dasar laki-laki mata keranjang, jika melihat wanita seksi mata kamu lebar."


"Ya Allah Di, melihat mereka aku tidak bernafsu, sama kamu saja jika tidak ...." Gemal langsung minta ampun kepada istrinya.


Senyuman Tika terlihat menatap Genta, sikap tenang yang membuatnya tergila-gila. Genta tidak akan mudah tergoda dengan wanita manapun karena dia pintar menjaga mata.


"Atika, kenapa kamu menatap Genta seperti itu?" Alt menatap Genta yang melihat ke arah Tika.


"Kenapa Pi? pacar Tika tampan sekali?" kedua tangan Tika menutup mulutnya.


Semua mata melihat ke arah Tika, Altha melepaskan sendok menatap putrinya yang terlihat panik.


"Pacar? siapa pacar kamu Tika?"


"Mami, tolong." Tangan Tika menggenggam tangan Maminya.


"Genta dan Tika pacaran Om." Senyuman Genta terlihat, semua tatapan orang mengarah kepadanya.


***


follow Ig Vhiaazaira


***


Ada yang ingat nama asli Genta? author lupa🤣

__ADS_1


__ADS_2