
Kebahagiaan terbesar Diana memiliki tiga buah hati sekaligus, begadang menjadi makanan sehari-hari. Anaknya akan menangis bergiliran kecuali Ian yang jarang menangis.
Terkadang Diana juga terpaksa membangunkannya, kasihan melihat anaknya yang tidak suka menyusu.
"Ian bangun sayang?"
"Iya, tapi baru minum sedikit sudah tidur lagi." Diana memaksa anaknya bangun, merasa diganggu wajah anak keduanya merengek ingin menangis.
"Minum susu dulu Ian, kamu tidak punya semangat atau memang hobi mengalah." Gemal menahan tawa, mencium pipi Putranya.
Gemal langsung menggendong Putranya, meletakkan di dalam boks bayi. Diana langsung bersiap untuk tidur.
"Kak Gem, sini." Di langsung masuk ke dalam pelukan Gemal, mencium wajah suaminya yang selalu mensupport.
Tangan Gemal memeluk lembut, sesekali mengusap wajah istrinya yang sangat cantik. Mengingat kembali ke awal pertemuan.
Hidup Gemal yang terpuruk, sakit, berat, tapi harus dirinya lalui dengan senyuman. Hidup kekurangan, harus berkerja keras demi Ibunya.
Perjalanan tidak semudah yang orang pikirkan, Gemal tidak menyangka jika semuanya berubah. Dirinya yang berada di bawah, diangkat derajatnya setinggi-tingginya sampai memiliki segalanya.
"Aku dulu hidup susah Di, makan juga harus menahan lapar mencari uang baru bisa makan." Senyuman Gemal terlihat menatap istrinya.
"Diana tahu, kak Gem matre. Di yang bayar uang makan sama bensin motor." Diana memukul dada suaminya.
Gemal menutup mulutnya menahan tawa, mengingat masa saat pertama bertemu membuat Gemal ingin tertawa besar, tapi tidak ingin membangunkan anaknya.
"Sebenarnya itu masih mending, aku punya uang hasil kerja, uang lembur, terus sering ikut pertandingan. Uangnya disimpan untuk pengobatan Ibu."
"Alasan, sadar kamu pelit." Di memonyongkan bibirnya.
"Tidak sayang, namanya juga Gemal miskin. Kamu enak anak orang kaya." Ciuman Gemal mendarat di bibir istrinya.
Kepala Diana menggeleng, hidupnya memang memiliki banyak uang, tetapi hidupnya penuh kesulitan, darah, pertarungan, bahkan kematian.
Setiap hari Diana merasa dirinya mati rasa, hidup tetapi mati. Dunianya sangat gelap, meksipun matahari bersinar cerah.
"Hidup Di menakutkan, rasanya menjadi manusia saat bertemu Aliya kembali, lalu bertemu Daddy." Di mengusap air matanya, jika mengingatnya Diana merasakan sakit.
Tangan Gemal, mengusap air mata. Ujian hidup biarlah menjadi masa lalu, sekarang Diana dan Gemal sudah menjadi satu untuk bahagia.
__ADS_1
"Kak Gem, Diana sangat berhutang kepada Dean, karena dia menyerahkan orangutannya kepada Di, meksipun Dean masih kecil selalu mengalah." Saat Diana mendapatkan masalah di luar negeri, Daddy dan Mommynya meninggalkan Dean yang belum satu tahun.
Bekali-kali Dean kecil ditinggalkan bersama Aliya, Dean bahkan berpikir dirinya anak Aliya, waktunya banyak habis bersama keluarga Altha, bukan Daddy-nya.
Dimas menepati janjinya untuk mengepak sayang untuk melindungi Di, nyawa dipertaruhkan asal Diana menemukan kebahagiaan.
Perjuangan Dimas tidak sia-sia, dia berhasil merangkul Diana yang memiliki trauma besar.
"Kak Gem, jika memang mencintai Di. Tolong cintai juga Daddy Mommy dan adiknya Di. Mereka harta paling berharga dalam hidup Diana, tolong cintai mereka juga." Diana menangis memeluk erat.
"Tanpa kamu minta pasti aku lakukan, kita semua keluarga, dan akan saling mencintai." Gemal meminta istrinya untuk berhenti menangis.
"Di bisa meninggalkan kak Gemal, demi Dean. Dia tanggung jawab Diana hingga berkeluarga." Di memohon kepada Gemal untuk menjaga adik satu-satunya, putra tunggal keluarga Dirgantara.
Kepala Gemal mengangguk, dirinya memang tidak sempurna. Ada banyak kekurangan, tapi Gemal tahu mencintai Diana sama saja mencintai keluarganya. Diana Putri kesayangan, dan sangat berharga.
Jika dalam keluarga dia putri mahkota, Gemal harus menaikkan tahtanya menjadi ratu. Bersama keluarganya bahagia, maka sebuah kewajiban untuknya membahagiakan lebih lagi.
Senyuman Diana terlihat, mencium kening suaminya. Diana akan melakukan hal sama kepada keluarga Gemal, mengistimewakannya.
"Aku bahagia memiliki kamu dan anak-anak kita, terima kasih sudah memberikan harta paling berharga." Gemal meminta istrinya tidur.
Tangan Gemal menekan kepala Diana, merasakan keras yang Di katakan. Tawa Diana terdengar memukuli suaminya yang jahilnya mulai kumat.
Suara tawa Gemal terdengar, suara dua bayi terdengar. Diana ingin sekali mengigit Gemal yang keterlaluan.
Sudah Diana katakan jangan tertawa lepas, pasti membangun Gheon dan Isel. Keduanya sudah beradu tangisan, Diana langsung bangun, binggung ingin mengambil yang mana?"
"Kamu Isel, aku Gheon."
"Aku kamu, kebiasaan." Diana mencubit perut suaminya.
"Iya sayang, maafkan aku." Gemal mengurungkan niatnya menggendong Gheon saat melihat Ian bangun sambil menangis.
Diana langsung menggendong Ian, menyusuinya. Bibir Gemal cemberut, memegang dua botol susu.
Kepala Diana tertunduk, menahan tawa melihat tingkah suaminya. Susah Gemal mendiamkan keduanya, merengek menatap Diana.
Ketukan pintu terdengar, Gemal langsung membuka pintu. Menatap Mam Jes yang langsung masuk menggendong Isel, memberikan susu.
__ADS_1
Diana langsung meletakkan Ian, langsung mengambil Gheon. Setelah tenang, Mam Jes mencubit telinga Gemal.
"Kecilkan suara kamu." Mam Jes langsung keluar.
"Terima kasih Mama." Diana memeluk suaminya, mengusap kepala Gemal agar belajar untuk menjaga anak.
Gemal langsung memeluk erat, mencium pipi istrinya langsung memejamkan matanya bersama untuk tidur.
"Ayang." Di mengusap rambut suaminya.
"Iya, kita sudahi obrolan, nanti keceplosan tertawa. Bangun lagi." Wajah Gemal terlihat sedih.
"Sayang, kasihan." Di mencium kening suaminya.
Diana masuk ke dalam pelukan Gemal, perjalanan cinta mereka masih panjang. Proses menjaga ketiga buah hatinya memakan waktu yang lama.
Perjalanan kisah cinta keduanya baru saja dimulai, Diana sadar dirinya seorang psikopat yang membantai keluarganya.
Dirinya berpikir akan mati di kegelapan, tidak pernah terbayangkan jika dirinya menjadi seorang ibu yang memiliki tiga anak.
Dulu Diana hidup sendiri, meskipun matanya terpejam, kesadaran masih terbangun. Di tidak tahu rasanya tidur nyenyak, tapi sekarang sudah berubah. Gemal mimpi terindah Diana, lelaki terbaik Ayah anak-anaknya.
Apapun yang terjadi di masa lalu biarkan berlalu, dan masa sekarang yang harus dijalani. Dan apapun yang terjadi di masa depan, Diana berharap dirinya dan Gemal tetap menjadi satu meksipun harus melewati banyak ujian hidup.
Kebahagiaan terbesar Gemal, memiliki seorang Diana. Kebahagiaan ditambah dengan bertemu keluarga yang sudah puluhan tahun dirinya rindukan.
Meksipun mendapatkan ujian yang berat melalui anaknya, Allah memberikan kejutan atas kesabaran. Memiliki tiga anak yang akan menjadi bukti cintanya.
Sesulit apapun masa lalunya, Gemal mengerti jika masa depannya juga berat. Tetapi Gemal percaya, selama dirinya bersabar, kuat, menerima dan ikhlas. Kebahagiaan akan menghampirinya.
Prioritas utamanya membahagiakan anak dan istrinya.
"Terima kasih Diana sudah menerima lelaki yang memiliki masa lalu sulit." Gemal memeluk erat, mengusap kepala istrinya.
Senyuman Diana terlihat, dirinya juga bahagia memiliki Gemal di hidupnya, kebahagiaan yang paling besar dalam hidupnya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1