
Di dalam mobil Aliya masih sibuk memindahkan seluruh barang bukti, sampai tidak menyadari satu-persatu penjaga mulai berjatuhan.
Tatapan mata Aliya tajam, mendengar suara tembakan. Langsung keluar dari mobil berlari kencang ke arah rumahnya.
Sebuah mobil melaju kencang ingin menabrak Al, senjata Aliya sudah terarah ke mobil. Al juga melihat Helen tergeletak tidak berdaya.
"Mami." Juna meminta Maminya menyingkir sebelum ditabrak.
Al tidak punya pilihan, mengarahkan senjata ke atas dan menembak sampai mobil akhirnya berhenti.
"Jangan sentuh anak-anakku, bawa aku bersama mereka." Al mengangkat tangan ke atas menerima pukulan secara sukarela.
Al mengirim pesan suara kepada Susan, lalu menjatuhkan ponselnya. Al dibawa masuk ke dalam mobil bertemu Juna dan Tika.
Aliya langsung memeluk kedua anaknya yang terlihat tidak takut sama sekali, bahkan Tika masih tersenyum melihat Maminya.
"Mami datang menolong Tika dan kakak." Tika memeluk Aliya yang tersenyum.
Tangan Al mengusap kepala Juna, memintanya untuk bertahan dan tidak takut apapun yang terjadi. Selama Aliya bernafas tidak ada yang boleh menyakitinya.
"Kita ingin pergi ke mana Mi?"
Al tersenyum, mereka akan pergi dan bersenang-senang, tapi sebelum sampai ke tujuan Tika dan Juna harus ikut Al ke suatu tempat yang menakutkan.
"Kalian tidak boleh takut, ada Mami bersama kalian, Papi akan segera datang dan menjemput kita." Al tersenyum mencium kening kedua anaknya.
Juna dan Atika mengangguk kepalanya, ke manapun pergi selama bersama Mami bagi Tika sesuatu yang menyenangkan.
Al memeluk kedua anaknya, menatap tajam ke depan. Tidak menyangka jika Citra memilih jalan sejauh ini sampai melibatkan anak-anaknya.
Hanya demi keuntungan dirinya sendiri, rela mengorbankan Juna dan Tika yang bisa saja menyimpan trauma.
Sebesar apa rasa bencinya sampai lupa pernah mengandung dan melahirkan, bahkan menyusui dan membesarkan dua malaikat.
Juna juga merasakan kesedihan yang sama seperti Maminya, tanpa Al katakan siapa pelaku yang menculik mereka Arjuna sudah tahu.
__ADS_1
Sosok ibu yang dulunya selalu menjaga, mengasihinya sudah tiada. Mama yang dulunya selalu menjadi wanita pertama yang Juna kagumi sudah hilang.
Manusia tidak selamanya baik, tidak selamanya setia, melupakan kenangan indah begitu mudahnya, tapi melupakan hal buruk sangat sulit sampai menutup mata dan telinga.
Air mata Juna menetes, langsung cepat menepisnya. Dirinya tidak boleh terluka, karena ada Mami dan Papinya yang selalu ada untuk dirinya dan tidak akan membiarkan dirinya sendirian.
Al juga memikirkan kondisi Anggun dan Helen berharap Susan peka dan segera mengabari Dika dan Kenan agar segera menyelamatkan mereka.
"Maafkan Al kak Anggun, Helen. Kalian bertahanlah, aku mohon." Al mengeratkan pelukannya terhadap Juna yang melihat ke arah luar jendela mobil.
"Mi, Juna kecewa. Begini rasa sakitnya kecewa."
Al tidak memiliki jawaban untuk putranya, Al mengerti besarnya rasa kecewa Juna. Namun apa yang bisa Al lakukan selain berdiri di sisi putranya, Al percaya Juna bisa bertahan sampai akhir.
Mobil masuk ke sebuah bagasi, pintu terbuka menarik tangan Juna kasar membuat tatapan Al mematikan.
"Pastikan tangan kamu aman menyentuhnya, karena jika aku bisa bebas secara hidup. Kamu bisa cacat." Al mengancam membuat beberapa orang bersikap lembut kepada Juna.
Al melangkah mengikuti beberapa pria berbadan besar, Tika berada dalam gendongan Al sedangkan satu tangan Aliya menggenggam tangan Juna.
Sampai di sebuah gudang yang sangat besar, Aliya melihat Citra ada di dihadapan mereka dengan tatapan kebencian.
"Ada untungnya kamu juga tertangkap, aku ingin melihat kamu menderita dan mati perlahan." Citra menatap tajam Aliya.
"Lucu. Kamu tahu begitu banyaknya penderitaan juga rasa sakit yang sudah aku terima selama puluhan tahun, sakit apa yang belum aku rasakan?" Aliya tersenyum manis, rasa sakit dari yang kecil sampai paling besar dan menghacurkan sudah Al rasakan selama dua puluh satu tahun dirinya hidup.
Sakit yang Al rasakan sudah dua puluh tahun, tapi bahagia hanya baru jalan satu tahun dan akan bahagia selamanya.
Citra meminta Tika mendekatinya, tapi tangan Tika masih mengandeng tangan Aliya dan tidak melepaskan sedikitpun.
Arjuna juga berdiri menggenggam tangan Maminya, melihat kedua anaknya yang lebih memilih ibu tirinya membuat Citra semakin sakit.
"Mama, kenapa menculik Tika? dan menyakiti Aunty Helen." Tika menatap mata Mamanya yang tidak menyukai pertanyaan Tika.
Citra meminta Tika mendengarkannya, Altha orang yang memisahkan Tika dan Mamanya. Citra tidak memiliki kesempatan untuk memberikan cinta dan kasih sayang kepada Tika dan Juna, semuanya karena kehadiran Aliya.
__ADS_1
"Mami baik, sayang sama Tika."
"Semua itu bohong Tika, dia perempuan jahat yang akan memisahkan kamu dari Mama dan Papa." Citra meminta Tika memahami apa yang terjadi, dan mengingat moments kebersamaan mereka.
Tika melihat ke arah Aliya, melihat ekspresi wajah kecewa Maminya saat melihat Mamanya yang terus menjelekkan.
Kepala Tika menggeleng, dia tidak memiliki moments indah bersama Mamanya. Saat belajar bicara hanya ada Juna di sisinya.
Meskipun Tika tahu jika Mamanya Citra, tapi kesibukan Citra membuat Tika hanya tumbuh bersama pengasuh dan kakaknya.
Saat kehadiran Mora, sosok Mama semakin jauh dari Tika. Dia tidak tahu rasanya menghabiskan waktu bersama mamanya.
"Saat bangun tidur, makan, belajar, jalan-jalan hanya Mami yang Tika ingat, tidak ada Mama." Tika binggung di mana dia memiliki kenangan bersama Mamanya.
"Aku yang melahirkan kamu, membesarkan dan menyusui serta mengandung kamu. Bagaimana kamu bisa tidak memiliki ingatan?" Citra meneteskan air matanya, berteriak membentak Tika.
"Saat lahir Tika tidak tahu, Tika tidak ingat. Saat menyusu Tika hanya menggunakan susu botol, umur satu, dua, dan tiga Tika tidak tahu. Tika lupa semuanya." Atika menjelaskan semua ingatannya hanya melihat Citra pulang dan pergi kerja.
Jika dirinya memeluk Citra, pasti diminta menjauh karena ada Mora, saat pindah kamar Citra selalu memarahinya. Meminta tidur bersama pengasuh.
"Kamu sama seperti Altha, tidak tahu diri setelah dicintai, tapi memilih mencintai orang lain." Citra meludah melihat wajah Tika yang memeluk Aliya.
Tatapan Aliya tajam, Citra tidak bisa menyalahkan Atika. Apa yang Tika katakan tidak ada yang salah, ingatan anak kecil itu kuat juga penuh kejujuran.
"Dia hanya ingin memiliki Papa, Mama, kakak dan adik, tapi Tika tidak tahu prosesnya sampai memiliki semua itu. Kamu gagal Citra menjadi ibu hanya karena kekuasaan." Al meminta Citra melepaskan anak-anak dan tidak melibatkan mereka.
Suara tawa Citra terdengar, karena anak-anak tidak mengingat kebersamaan mereka maka Citra tidak harus mengakuinya.
"Mereka tidak pantas hidup jika ingin melihat kamu bahagia, bukannya kematian mereka akan menjadi kehancuran kamu dan Altha?" Citra tersenyum sinis melihat Aliya.
"Ma, Juna sayang Mama, tolong hentikan."
"Apa yang kamu ingat? jika kamu sayang Mama kenapa kamu mendukung dia?" Citra membentak Juna.
"Jangan bentak anak-anak perempuan sialan, hari ini aku akhiri hubungan kamu dengan mereka." Al tidak mengakui lagi jika Citra ibu kandung dari kedua anaknya, Citra hanya orang asing di mata keluarga Altha.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazara