
Tepukan tangan dari belakang mengagetkan Tika, langsung tersenyum saat Shin merangkulnya untuk berjalan bersama.
Beberapa wanita memperhatikan langkah Shin dan Tika, keduanya hanya tersenyum sinis berpura-pura tidak menyadari.
"Hari ini kak Di pulang bersama baby twins, akan ada acara penyambutan di kediaman." Tika menyampaikan pesan Maminya.
Aliya meminta Shin bergabung bersama, membantu persiapan juga. Al ingin Shin tinggal di rumahnya selama beberapa hari, karena acara tiga hari tiga malam untuk menyambut kepulangan Diana dan baby twins.
Kebahagiaan sangat besar, sehingga mengadakan syukuran secara besar-besaran. Berbagi kepada anak yatim, lansia, orang kurang mampu, anak jalanan, dan banyak acara yang akan diadakan.
Dua keluarga besar sangat bersyukur dengan pulihnya Diana, juga ketiga bayi yang sudah bisa pulang.
"Acara besar-besaran, Shin boleh membantu memaksa tidak?"
"Boleh, kamu mau melakukan apapun terserah." Tika tersenyum meminta Shin masuk mobilnya.
Sepanjang jalan Shin tersenyum menatap ponselnya, Tika sesekali melirik. Pembicaraan tidak direspon baik oleh Shin, konsentrasi Shin ada di ponselnya.
"Kamu melihat apa Shin?"
"Pacar aku, Tika, sekarang Shin tahu rasanya jatuh cinta." Senyuman Shin terlihat sangat lebar.
Wajah Atika langsung lemas, meminta Shin menjelaskan kepada pria yang Shin cintai. Prinsip Tika tidak menemukan laki-laki baik, apalagi pada masa zaman mereka.
Shin menceritakan jika dirinya bertemu seorang pria di bandara, tanpa sengaja Shin menabrak pundaknya, karena buru-buru Shin terpaksa tetap lari.
Buku Shin terjatuh, dan ada di tangannya. Shin meminta bantuan keamanan bandara untuk menemukan bukunya, karena sangat penting dan berharga.
Saat Shin melihat wajahnya, langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Pemuda tampan, tinggi, putih, terlalu sempurna di mata Shin.
"Terus apa yang terjadi?" Tika merasa mengantuk mendengar cerita halu Shin.
Ponsel Shin menerima pesan dari nomor tidak terkenal, awalnya ada permintaan maaf karena lupa mengabari pemilik buku, jika bukunya sudah dititipkan di bandara.
Ada ucapan terima kasih, tanpa memberitahu alasannya kepada Shin.
"Lalu apa yang terjadi? kalian bertemu, mengembalikan buku, lalu pacaran. Jangan percaya Shin, hanya modus laki-laki." Panjang kali lebar Tika menasihati Shin agar tidak tertipu rayuan lelaki.
"Masalahnya kita gagal bertemu, sekian lama ditunggu ternyata bukunya dititip di tempat penitipan barang, bukunya sudah lama di bandara." Shin berteriak histeris, mimpi indahnya pangeran gagal total.
Dirinya hanya bisa menatap rekaman saat tabrakan, Shin memeluk ponselnya.
__ADS_1
Kepala Atika geleng-geleng, menyentuh kening sahabatnya yang kemungkinan sedang kerasukan iblis jomblo.
Bertemu belum, tetapi Shin sudah menganggap pacar. Sungguh luar biasa kegilaan sahabatnya.
"Sampai kapanpun aku akan tetap mencintai dia, setidaknya dia tahu aku hidup di dunia ini. Jodohku tunggu pertemukan kedua kita." Shin meminta Tika diam, tidak menambah patah hatinya.
"Kamu membutuhkan dokter saraf." Tika memukul kepala Shin sangat kuat.
Suara Shin yang memuji ketampanan membuat Tika ingin muntah, wajahnya Shin sangat cantik, tetapi otaknya tidak normal.
"Sampai kapan menunggunya? bagaimana jika dia memiliki istri atau anak?" pertanyaan Tika membuat Shin terdiam sesaat.
"Aku akan menyingkirkan anak dan istrinya, menyadarkan mereka jika sudah merebut jodohku. Ingat Tika, tulang rusuk tidak pernah tertukar, dan cinta tahu kemana dia harus pulang." Shin mengedipkan matanya.
Tika menghentikan supirnya untuk menurunkan Shin di jalan, Tika bisa muntah batu mendengar ucapan menjijikan sahabatnya.
Suara tawa Shin terdengar, memeluk Tika sangat erat. Berjanji tidak akan membahasnya lagi.
"Jangan pernah jatuh cinta dengan sembarang orang."
"Baiklah, tapi dia tetap akan menjadi jodoh duniaku." Shin menahan tangan Tika.
"Tidak sekalian jodoh akhirat?"
Mendengar jika buku Shin penting, Tika meminta supirnya ke bandara terlebih dahulu. Baru mereka pulang ke rumah.
Kening Tika berkerut penasaran alasan Shin ke bandara, apalagi terburu-buru tidak mungkin Shin membuka restoran di bandara.
"Kenapa kamu ke bandara?"
"Mengejar Papi yang sudah menikah lagi, dan bercerai dengan Mami." Shin menundukkan kepalanya.
"Sabar, kamu masih punya aku." Tika mengusap punggung Shin menguatkan.
Air mata Shin menetes, langsung memeluk Tika. Pertemuan terakhir bersama Papinya, karena Papinya memutuskan untuk putus hubungan dengan Shin, tidak bertanggung jawab lagi, terhadap hidup dan matinya.
Kedua orangtuanya sudah sepakat hidup masing-masing, dan tidak pernah menganggap Shin ada. Kemewahan Shin hanya sebatas uang di rekening, rumah mewah, dan mobil mewah di rumahnya.
"Aku masih kecil Tika, jujur aku membutuhkan mereka, tapi Mami Papi menganggap Shin tidak pernah lahir. Jujur aku iri sama kamu yang memiliki orang tua, saling menyayangi. Aku sangat iri Tika, tapi Shin harus kuat sampai nanti dewasa. Sepertinya aku harus menemukan pria itu, menikah, lalu membuat keluarga sendiri." Shin mengusap air matanya, langsung tersenyum. Berjanji kepada Tika untuk tidak menangis dan bersedih lagi.
Senyuman Tika terlihat, menganggukkan kepalanya. Kasian melihat Shin yang haus kasih sayang.
__ADS_1
Tika berjanji akan menjadi keluarga untuk Shin, dan tidak akan membiarkan sahabatnya terluka, apalagi mengingat keluarga yang sudah membuangnya.
"Jika kita bertemu dengan dia di bandara, aku merestui kalian, tapi jika tidak lupakan dia kita lupakan cinta." Tika mengulurkan tangannya.
"Oke, tapi jika kamu bertemu dengan seorang pria tanpa sengaja menabrak dia jodoh kamu. Judulnya cintaku bersemi di bandara." Shin tertawa, langsung membuka pintu mobil.
Shin berlari bersama Tika, Shin langsung mengambil bukunya, tetapi tidak melihat kekasih bayangannya.
"Shin awas." Tika meminta menyingkir ada koper jalan sendiri.
Tubuh Tika ditarik sampai jatuh, Shin berhasil menghentikan koper. Melihat Tika yang jatuh di tubuh Om tua.
"Wow luar biasa, terkadang karma berlaku. Atika kamu jodohnya Om tua." Shin tertawa, langsung tepuk tangan.
Tika melihat pria yang bersama Gemal, keduanya langsung kaget dan menjauh.
"Om tua, modus. Jangan sentuh Tika, jika kamu tidak ingin cacat." Tika menatap tajam.
Genta langsung berlari mengejar seseorang, Atika juga mengejanya bersama Shin. Melihat seseorang yang mencuri tas Genta berhasil melarikan diri menggunakan motor.
"Pak, saya pinjam motornya. Nanti ambil di kantor polisi. Genta menyerahkan uang cukup banyaknya.
"Cepat naik Shin." Tika lebih dulu naik motor.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" Genta menatap tajam.
"Cepat, sebelum mereka menghilang." Tika menarik Genta menjalankan motor.
Pemilik motor hanya terdiam, mengaruk kepalanya melihat pria dewasa bersama dua remaja naik motornya kebut-kebutan.
Suara Tika dan Shin terdengar bersemangat, Genta sudah lemas menahan malu melihat dua wanita yang teriak.
"Lebih cepat lagi om tua, Shin kamu tarik tas, aku akan menendangnya. Pak tua jaga keseimbangan motor." Tika bersiap-siap memberikan aba-aba.
Shin langsung menarik tas, Tika menendang kuat sampai motor pencuri jatuh. Tika dan Shin tertawa.
"Motor tidak ada rem." Genta meminta tenang.
Shin dan Tika langsung memeluk Genta erat.
***
__ADS_1
KEMUNGKINAN KISAH MEREKA UP DI AWAL APRIL, MUNGKIN TAPI. fokus lagi ke Diana Gemal
***