
Terdengar suara tawa dari taman, kening Genta sudah berkerut tidak melihat keberadaan Tika lagi.
Shin masih berkeliling melihat kamar bayi yang masih tertata rapi, tangan Shin menyentuh gemerinting suara mainan anak-anak.
Beberapa boneka terlihat disusun rapi, baju gaun wanita juga tergantung rapi. Shin tersenyum mengukur baju bayi dengan tubuhnya.
"Di mana Tika?" Genta menatap Shin yang melotot melihat sekelilingnya.
"Emh ... lagi lepas kangen bersama Andre. Biarkan saja Kak." Lemari besar terbuka, Shin mengambil beberapa mainan yang dipersiapkan untuk dirinya.
Genta langsung melangkah ke arah suara tawa, melihat Tika tertawa lepas bersama Andre. Keduanya berfoto bersama, terlihat sangat dekat sampai tidak ada jarak.
Pandangan Genta langsung melihat ke arah lain, mencoba mengabaikan apa yang dilihat oleh matanya, membiarkan Tika tertawa bersenda gurau.
Beberapa pelayan menyiapkan makan malam untuk menyambut kedatangan Genta, segala jenis makanan disiapkan. Penyambutan dadakan, tapi menjadi hari yang paling ditunggu setelah puluhan tahun.
"Tuan muda, makanan sudah siap." Pelayan mempersilahkan Genta dan Shin untuk duduk.
"Wow makan besar kita malam ini, silahkan duduk Tik." Senyuman manis Andre terlihat, menarik kursi untuk Tika agar segera duduk.
Kepala Shin tertunduk menahan tawa, cara pandang Kakaknya terlihat berbeda, dan Tika juga mengabaikan Genta, lebih banyak berkomunikasi dengan Andre.
Pelan-pelan Tika menatap Shin, menarik baju Shin untuk memastikan rasa, setelah mendapatkan senyuman barulah Tika menerima makanan.
"Apa dia Shinta? pemilik restoran yang selalu kita kunjungi." Tatapan Andre melihat Shin yang sudah mulai makan.
"Iya, dia Shin. Sahabat terbaik yang melebihi apapun." Tika mengambil makanan dari piring Shin yang sudah dipisahkan.
Tawa Andre terlihat, menatap wajah cantik Shin yang luar biasa indahnya. Mengangumi Shin bisa dilakukan semua pria, tapi tidak ada orang yang punya kesempatan untuk hanya sekedar bertegur sapa.
"Nona muda, kamu koki yang hebat."
"Terima kasih Andrea, kamu juga pencinta makanan yang luar biasa." Senyuman manis Shin terlihat.
"Astaga ... rasanya aku sedang bermimpi bisa mendengar suara kamu,"
"Jangan coba-coba menggoda Shin, aku pastikan kamu celaka." Tatapan mata Tika sinis, menunjukkan genggaman tangan.
"Tenang saja, kamu terlalu indah untuk dibandingkan dengan banyak wanita cantik, karena kecantikan kamu istimewa Tik." Andre meletakkan makanan ke piring Tika.
Beberapa tahun tidak bertemu membuat Andre terpesona dengan kecantikan Tika yang terlihat lebih dewasa.
"Kenapa kamu menatap aku?"
__ADS_1
"Tiga tahun tidak bertemu, rasanya aku rindu berat." Tawa Andre terdengar, merapikan rambut Tika yang menutupi wajahnya.
Tatapan mata Genta langsung gelap, makanan lezat yang masuk mulutnya terasa pahit. Emosinya langsung terpancing mendengar canda tawa Tika dan Andre yang terlihat sangat natural.
"Berapa lama kamu di sini? aku ingin menunjukkan beberapa tempat yang pasti kamu sukai. Aku pastikan ini akan menjadi tempat favorit kamu." Tatapan mata yang sangat lembut.
"Apa perkejaan kamu Andre? aku rasa bukan pariwisata yang menawarkan orang asing sebuah perjalanan."
"Tika bukan orang asing, dia wanita yang spesial. Aku mengetahui beberapa tempat pembuatan teknologi canggih, dan Tika sangat menyukainya." Andre tersenyum manis melihat ke arah Genta.
"Aku bersedia, kapanpun kamu punya waktu luang, hubungi aku."
"Besok, aku jemput kamu. Dan aku pastikan ini menjadi perjalanan terindah."
Kepala Tika mengangguk, meminta Andre menceritakan beberapa perusahaan besar yang bekerja di bidang IP, keduanya sangat nyambung dalam pembicaraan karena kuliah jurusan yang sama.
Bekali-kali Genta berdehem tidak dipedulikan oleh Tika sama sekali yang asik bicara dengan Andre. Genta hanya bicara dengan Kakek, sedangkan Shin asik memainkan ponselnya.
Pandangan Genta tidak lepas dari Tika yang lupa makan karena sibuk bercerita, keduanya seakan-akan sedang lepas rindu.
"Tika, habiskan makanan kamu!" suara Genta meninggi.
"Kamu mau menambah Tik?"
Suara sendok di lempar terdengar, Genta berdiri dari kursinya megambil ponselnya menjawab panggilan dengan tatapan marah.
Shin sampai terkejut, melihat sendok di lantai. Tika yang berdiri langsung duduk lagi, kaget mendengar suara sendok yang dilempar kuat.
"Kak Genta kenapa?" Tika menatap Shin yang geleng-geleng kepala.
"Kenapa tuan muda tiba-tiba marah?" Andre menatap Kakeknya yang tersenyum.
Tatapan Kakek Andre tajam, meminta menjaga jarak dengan Tika. Melihat tatapan, juga nada bicara Kakek tahu perasaan Genta yang sensitif jika bersangkutan dengan perasaan.
Senyuman Shin terlihat, Kakaknya sedang cemburu buta kepada Andre. Tika tidak biasanya dekat dengan pria lain.
"Shin ... kita pulang sekarang." Genta berteriak kuat.
Genta mengucapkan terima kasih kepada Kakek, dan sesekali akan menyempatkan waktunya untuk mampir dan menyapa. Genta secara tiba-tiba ada urusan penting sehingga tidak bisa lebih lama lagi.
"Kak, Shin pulang bersama Tika. Kita ingin pergi bersama Andre." Shin menatap mata Kakaknya.
"Pulang sekarang Shin,"
__ADS_1
Tangan Shin ditarik masuk ke dalam mobil, Tika yang masih bicara dengan Andre pergelangan tangannya langsung ditarik, dipaksa masuk ke dalam mobil.
"Sakit Kak Gen,"
"Kita pulang dulu Kek," mobil Genta langsung melaju pergi dengan kecepatan tinggi.
Shin menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merasa lucu melihat tingkah laku Kakaknya yang menunjukkan cemburu.
"Om, kenapa buru-buru sekali? ini bisa menganggu pengguna jalan lain." Tika berpegang kuat, merasa cemas dengan cara Genta mengemudi yang kebut-kebutan.
"Kak, nyawa Shin hanya satu,"
"Om tua,"
"Diam! aku tahu kecepatan mengemudi. Jika kamu tidak suka silahkan keluar." Tangan Genta menekan klakson mobil sangat kuat.
Tika menatap Shin yang geleng-geleng kepala, kemarahan Genta membuat Tika tidak mengerti. Secara tiba-tiba emosian.
"Berhentikan mobilnya! Tika bisa meminta Andre yang menjemput." Suara Tika meninggi sengaja memancing amarah Genta.
"Andre Andre ... sudah berapa ribu kali kamu menyebut nama itu? apa kamu mengenal baik dia? bagaimana jika dia pria yang tidak menghargai wanita. Kamu mengenal dia dulu, bukan sekarang." Kecepatan mobil tidak berkurang sama sekali, bahkan lajunya semakin cepat.
Senyuman Tika terlihat, menatap ke arah jendela. Tika menyukai Genta yang posesif, terasa dirinya spesial.
Mobil Genta tiba di Mansion, pintu yang dibuka ditutup sangat kuat. Tika dan Shin yang ada di dalam mobil hanya tertawa kecil.
"Genta, malam nanti ...."
"Tidak tahu!" Genta melewati Gemal yang sudah menganga melihat adik lelakinya yang menjawab sebelum selesai bicara.
Pintu kamar Genta tertutup kuat, Gemal sampai memegang dadanya merasa kaget. Pertama kalinya Genta marah-marah tidak jelas.
"Ada apa Gemal?" Mam Jes berlarian.
"Tidak tahu, Genta mulai gila seperti Rindi." Kepala Gemal geleng-geleng.
"Kak Genta hanya cemburu," Shin memeluk Mam Jes yang kaget.
"Laki-laki jika cemburu memang aneh, kucing mengeong terdengar seperti harimau meraung-raung." Tawa Gemal terdengar diikuti oleh Shin dan Mam Jes.
"Seperti kamu ya Gem, jika cemburu angin bertiup juga salah." Mam Jes tertawa melihat Putranya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira