
Cukup lama Diana dan Tika duduk santai di bawah pohon rindang, bernyanyi pelan menikmati suasana yang sejuk.
"Kak Di mendengar kabar kamu bertengkar lagi?" Di tersenyum melihat tatapan Tika yang mendadak sinis.
Kepala Tika mengangguk, membenarkan jika dirinya libur satu minggu karena bertengkar. Papinya bukan membela dirinya, tapi setuju Tika diskor.
"Jadi sekarang kamu tidak sekolah sementara waktu, masa muda kamu bahagia sekali Tik." Diana bukan prihatin, tapi langsung tertawa lucu.
"Benar juga, Tika memang anak nakal." Tawa Tika terpingkal-pingkal.
Keduanya tertawa lepas saling berbagi cerita soal kenakalan masing-masing, Tika bahkan tidak menyesali perbuatannya sama sekali.
Meksipun pihak sekolahan sudah memberikan peringatan terakhir, jika Tika sampai membuat masalah lagi, akan di keluarkan dari sekolahan.
Bukannya takut, Tika bahkan mengancam gurunya juga orang-orang yang mengusiknya.
"Tika, sadar tidak kamu semakin melawan, maka terus bertambah musuh." Di menatap wajah Tika yang mendadak langsung diam.
Senyuman Tika terlihat, menyadari ucapan Diana. Tika sangat sadar atas apa yang dirinya lakukan.
Semakin dirinya meladeni, maka semakin banyak orang yang terus menguji kemampuannya.
"Maafkan Tika kak Di, tetapi Tika tidak bisa diam." Kepala Tika menggeleng, hatinya terluka jika ada yang menghinanya.
Diana langsung memeluk Atika, sangat mengerti perasaannya. Di tidak meminta Tika mengalah, hanya saja harus bisa membaca pergerakan lawan.
"Kamu harus berhati-hati, dan tidak boleh menutupi apapun dari kak Di." Tangan Diana menarik topi Tika menutupi wajahnya.
"Siap guruku, percayalah kepala Tika." Tangan Tika langsung memberikan hormat.
"Satu hal lagi, jangan tertarik dengan sembarang lelaki, harus izin kak Di terlebih dahulu." Di mengejek Tika yang sudah mulai dewasa, dan mengenal perasaan dengan lawan jenis.
Bibir Tika langsung cemberut, menghela nafasnya. Maminya tidak akan tinggal diam, siapapun pria yang mendekatinya harus melewati seleksi Maminya.
Tika tidak memiliki ruang untuk mengenal cinta, apalagi ada Arjuna. Sejak Juna di luar negeri, adiknya Juan yang lebih posesif, mengalahkan Arjuna.
Ponsel Tika berbunyi, langsung mengecek pesan yang masuk. Rekaman video masuk, menunjukkan segerombolan anak perempuan yang menghina Atika.
"Ayo kita pergi kak." Tika langsung memutar sepedanya.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang atau ke tempat lain?" Di langsung naik.
"Tika ingin menyobek mulut segerombolan anak-anak sialan." Tika tidak mengayuh sepedanya, tapi langsung di gas.
Diana berteriak, meminta Tika sedikit lebih pelan. Di lupa jika dirinya sedang hamil, menarik kerah baju Atika agar bisa lebih pelan.
Saat marah Tika tidak bisa menahan dirinya, ada jalan berlobang langsung ditabrak. Tangan Diana langsung memegang pinggangnya yang sakit.
"Astaghfirullah anakku." Di langsung mengumpat Tika, menahan perutnya agar tidak melahirkan di jalan.
"Kak Di bisa diam tidak?"
"Bagaimana aku bisa diam Tik? anakku bisa keluar." Di memeluk perutnya dengan satu tangan, dan tangan satunya memeluk pinggang Atika.
Sepeda Tika berhenti di jembatan, Di melihat Tika turun langsung membuang kacamata hitamnya. Bertolak pinggang menatap lima wanita yang sedang berkumpul.
"Dasar ABG kurang ajar, anak-anak kecil masih bau ketek, tapi bertingkah seperti preman." Di merapikan rambutnya.
Suara Tika berteriak nyaring terdengar, adu mulut terdengar antara Tika dan lima anak remaja yang seusia bahkan ada yang lebih di atas Tika.
"Kalian tidak ada bosannya mengusik hidupku." Tika mengepal erat tangannya.
"Siapa kamu? apa kamu penting?" Suara tawa terdengar.
"Kenapa kamu marah lagi halangan? bukannya kamu masih kecil?" Suara tawa gadis cantik yang duduk di atas jembatan terdengar, membuat kelima temannya tertawa melihat Tika.
"Turun, kita bertarung hari ini untuk membuktikan siapa yang pecundang. Jangan pulang menangis dan laporan kepada orang tua kamu." Tika menunjuk gadis cantik yang masih menunjukkan senyuman.
Diana langsung mendekati Tika, mengangumi kecantikan gadis yang sebaya dengan Atika. Di menyukai caranya yang mengejek secara elegan, dan terlihat sangat anggun juga mempesona.
Tatapan Tika sinis, melarang Diana memuji musuhnya. Gadis yang Diana kagumi, wanita popular di sekolahnya, dan salah satu anak konglomerat.
"Dia terlihat gadis kecil yang kekurangan Kasih sayang." Di langsung melangkah mundur, membiarkan Tika menyelesaikan masalahnya.
Atika yang sudah emosi langsung maju menyerang, lima gadis kecil menyerang Tika secara bersamaan kecuali gadis cantik yang duduk di atas jembatan.
Tatapan Diana melihat gadis cantik, senyuman masih terlihat. Diana sangat menyukai sikapnya yang tenang.
"Siapa nama kamu? kenapa tidak ikut bertarung?"
__ADS_1
"Shin, panggil aku Shin. Kenapa aku harus maju menyerang? sebelum ada yang menyakiti, aku tidak akan menyakiti." Senyuman terlihat menatap ke-lima temennya yang sudah terpental.
Tepuk tangan terdengar, Diana mengikuti Shin yang bertepuk tangan melihat Atika yang berhasil mengalahkan kelima temannya.
"Atika sangat hebat dalam bela diri." Di berteriak menyemangati.
"Kakak benar, tapi sayangnya dia tidak bisa kontrol emosi. Terlalu bangga dengan kemampuannya." Tatapan Shin langsung sinis.
Di bisa melihat perubahan ekspresi wajah Shin yang bermuka dua, dia bisa menjadi malaikat kebaikan, tapi sedetik kemudian menjadi malaikat maut.
Suara kaki Shin turun terdengar, memberikan Diana permen dan meminta duduk santai menikmati pertarungan.
Tangan Shin menyentuh perut Diana, mengetahui jika Diana sedang hamil. Berharap anak Diana lahir secantik dirinya.
"Siapa nama keluarga dedek bayi?"
"Aku Dirgantara, sedangkan Ayahnya Leondra. Nama kakak Diana, dan suamiku Gemal. Ada apa?"
"Namanya Gisella, panggilnya Sel dan aku Shin. Selamat datang beberapa bulan lagi si cantik Leondra." Langka kaki Shin mendekati Atika yang membuat teman-temannya babak belur.
Hati Diana langsung sedih, seandainya Shin tahu jika anaknya tidak bisa bertahan lama. Diana meneteskan air matanya, mengusap perutnya yang tidak terlihat membesar.
Suara teriak terdengar, Atika dan Shin sudah bertarung. Diana langsung tegang, kemampuan beladiri Shin cukup tinggi, tubuhnya yang lebih tinggi membuat Tika tersungkur.
Tubuh Tika berdarah, melihat tubuhnya terluka, Atika semakin emosi langsung melangkah maju melayangkan tendangan, Shin berhasil menghindar, memukul wajah Tika.
"Atika, jangan emosi." Diana berteriak kuat, gerakan Shin sangat cepat.
Darah keluar dari hidung Atika, senyuman Tika terlihat mengikat tinggi rambutnya.
"Sudah waktunya kita bertarung serius."
"Sudah aku katakan, berlatihlah lebih banyak. Jika kita sampai berlawanan, antara rumah sakit atau kantor polisi." Shin tersenyum sinis.
"Aku memberikan pilihan, mati." Tika melepaskan jaketnya, langsung mengambil posisi.
Diana langsung menghubungi Gemal, memintanya menghentikan pertarungan, bisa salah satu masuk rumah sakit, atau salah satu terjun ke bawah jembatan.
Tika dan Shin sudah menjadi lawan yang imbang, dan jika keduanya emosi bisa kacau.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira