
Sudah larut malam Juna dan Genta masih belum tidur, mendengarkan pembicaraan Hendrik dan Gemal soal pernikahan yang sisa menghitung hari.
"Kenapa kita ada di sini? Juna capek ingin tidur. Besok ada pemeriksaan untuk Mama Citra." Juna berdiri ingin pamit duluan.
Genta juga berdiri, ingin mengikuti Juna karena tidak ada gunanya dirinya yang tidak tahu apapun tentang pernikahan.
"Kamu ingin ke mana Genta?"
"Tidur, Genta juga capek," jawab Genta dengan wajah memelas.
Seorang wanita berdiri di depan pintu, Juna DNA dan Genta jalan cepat melihat Diana sudah bertolak pinggang menatap suaminya yang sudah larut malam masih berkeliaran.
"Sayang, aku hanya menasihati Kak Hendrik cara menjadi suami yang baik."
"Bohong Di, Gemal dari tadi bicara hal lain." Senyuman Hendrik terlihat menatap Gemal yang ingin menelannya.
"Kak Hendrik pria tua, dia tahu cara memperlakukan istrinya. Kamu ingin apa Gemal? merasa paling oke dalam rumah tangga?" Di meminta Gemal berdiri untuk kembali ke kamar.
Juna dan Genta yang mendengar hanya tertawa, Gemal memang belum berubah selalu membuat hal konyol sejak muda.
"Sayang gendong." Gemal bergelantungan dipundak Diana.
Tendangan kuat menghantam tulang kering kakinya, teriakan Gemal terdengar kesakitan. Istrinya tidak perduli sama sekali, tetap lanjut jalan.
"Awas kamu Diana." Gemal berlari, menggendong Diana yang langsung memukuli kepalanya sambil dijambak.
Kepala Genta geleng-geleng, memikirkan jika dia dan Atika menikah apa mungkin akan seperti Gemal Diana yang selalu main banting.
"Jun, kamu sudah mengantuk?"
"Tidak Kak, Juna ingin pergi ke lab." Juna menawarkan Genta untuk ikut dengannya karena mengobrol dengan Gemal banyak keluar jalur.
Di dalam laboratorium, Juna dan Genta saling diam. Tidak ada yang memulai obrolan, masih sama seperti saat pertama Juna datang, tidak pernah bicara dengan Genta sama sekali.
"Kak,"
"Apa?"
"Siapa wanita yang Kak Genta pacari? ini mengejutkan bukan seperti Kak Gen biasanya." Juna duduk di depan Genta, menawarkan minum.
__ADS_1
"Kenapa kamu penasaran?"
Juna tersenyum sambil geleng-geleng kepala, dia hanya penasaran saja wanita sehebat apa yang bisa menaklukan hati pria sedingin Genta. Jangan untuk berpacaran, Juna bahkan tidak pernah melihat Genta berkomunikasi dengan wanita.
"Kenapa kita harus membicarakan wanita?" Genta tertawa merasa lucu dengan Juna yang ternyata bisa penasaran juga.
"Setiap kita bertemu memang tidak pernah bicara, tapi sekarang Kak Genta sedikit ada perubahan mudah tersenyum bahkan tertawa, menangis juga." Juna melangkah mundur saat Genta ingin memukulnya.
"Dia wanita yang tidak pernah aku sangka membuat aku berbeda, padahal ...."
"Dia bukan tipe Kak Genta?" Juna menundukkan kepalanya menahan tawa.
Senyuman Genta terlihat, dia juga tidak tahu tipenya seperti apa? tidak ada yang spesial dari pertemuan mereka, keduanya berbeda cara berpikir, bersikap, juga bertindak. Tidak ada kesamaan dalam diri Genta dan wanita yang membuatnya jatuh cinta.
Sejak pertama bertemu sudah bertengkar, tidak pernah saling menyapa. Hal yang tidak Genta sangka, ada beberapa moments yang mereka lakukan bersama, tanpa menyadari perasaan masing-masing.
"Kak Gen sudah lama mengenal Dia?"
"Iya, sebelum Kak Gemal menikah,"
"Seperti drama, cukup unik. Wanita yang tidak disukai, tapi bisa membuat jatuh cinta padahal tidak ada istimewanya?" Juna merasa binggung, biasanya orang saling mencintai karena banyak kesamaan, dan memiliki sisi baik.
Melihat Genta jatuh cinta, namun masih merahasiakan hubungannya. Apapun keputusan Genta akan Juna dukung, sama seperti Dokter Hendrik yang memilih Rindi untuk menjadi pendampingnya.
"Jun, kamu pernah membenci sikap seseorang, namun ada beberapa hal yang membuat kamu merindukannya mungkin itu awal dari perasaan nyaman."
"Alhamdulillah belum Kak, Juna tidak tertarik untuk mengenal wanita dengan cara drama." kedua pundak Juna terangkat, meksipun kisah Genta mengesankan namun tidak membuat Juna tertarik
"Kamu masih menunggu Hana? aku akui dia memang wanita baik, semoga kalian berjodoh Jun. Dia tidak bisa berpacaran, kamu harus segera menghalalkan dia." Genta menepuk pundak Juna memintanya beristirahat.
Keduanya berpisah ke kamar masing-masing, dari kejauhan Juna melihat punggung Genta yang akhirnya hilang dari pandangan.
"Bagaimana aku bisa memikirkan pernikahan? luka lama saja belum sembuh." Juna menatap hasil tes Mamanya untuk operasi terakhir.
Langkah kaki Juna bukan ke kamar, tapi dapur ingin mengambil air minum. Lelah mengobrol membuatnya haus.
Juna menghentikan langkahnya, melihat seorang wanita yang sedang sibuk sendiri sambil bernyanyi kecil mengaduk sesuatu.
Suara teriakan terdengar, kaget melihat keberadaan Juna di tengah malam yang berdiri diam. Baju yang digunakan juga berwarna hitam membuat Shin kaget.
__ADS_1
Juna menarik tangan Shin, menjauhi tumpahan masakan yang dibuatnya. Wajah Shin langsung terlihat sedih.
"Kenapa Kak Juna harus berdiri di situ? Shin kaget tahu,"
"Kamu pikir aku setan atau apa? makanan tumpah." Juna mengaruk kepalanya merasa tidak enak.
"Shin tidak mau makan lagi, Kak Juna bersihkan kotorannya. Padahal Shin lapar, tapi tumpah semua." Tatapan Shin tajam melihat Juna yang megambil makanan yang tumpah.
"Jangan marah-marah, aku masakan lagi." Juna membuang makanan ke tempat sampah.
Senyuman licik Shin terlihat, kapan lagi dia berkesempatan memakan masakan Juna. Meskipun tidak bisa memilikinya, mengerjai dia juga menjadi kebahagiaan bagi Shin.
Lama Shin menunggu sambil mengemil buah-buahan, Juna datang membawakan makanan untuk Shin. Kening Shin berkerut merasa aneh dengan makanannya yang berubah menjadi nasi goreng.
"Kenapa menjadi nasi goreng?"
"Aku tidak mengerti apa yang kamu masak? masih bersyukur jadinya nasi goreng." Juna merasa kesal perjuangannya tidak dihargai.
"Tidak mau, ini bisa membuat Shin gemuk,"
"Sudah, jangan dimakan. Aku saja yang menghabiskannya." Juna mengambil nasi goreng, memakan sendiri.
Mata Shin melihat mulut Juna yang berhenti mengunyah, beranjak dari duduknya mengeluarkan makanannya yang terasa asin sekali.
Tawa Shin tidak tertahan, mencicipi nasi goreng yang sudah mirip nasi garam, rasanya asin sekali.
"Buang saja, ini bisa membuat mati." Juna mengambil nasi goreng.
Tangan Shin menahan, dia akan menyulap makanan Juna agar menjadi enak. Shin pergi memasak kembali, membuat nasi goreng untuk dua orang. Juna memperhatikan apa saja yang Shin masukkan.
"Masak sama seperti mengobati, jika salah masuk mati." Shin menjulurkan lidahnya ke arah Juna yang cuek saja di ejek.
"Aku mengerti kenapa kamu dan Tika hanya berdua? karena kalian berdua sangat menyebalkan."
"Lebih baik kita berdua, daripada Kak Juna sendiri. Tidak bosan menyendiri, menutup hubungan dengan banyak orang. Bahagia tidak, gila iya." Shin menyerahkan nasi goreng yang langsung diambil Juna dengan ekspresi tidak suka karena Shin satu-satunya orang yang mengejeknya secara langsung.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1