ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENYINGKIRKAN SEMUANYA


__ADS_3

Senyuman manis terlihat, melambaikan tangannya kepada Arjuna yang baru pulang sekolah.


Arjuna menatap sinis, tidak menyukai sikap centil Maminya yang aneh. Berpenampilan menggunakan baju seksi, rok pendek dan kacamata hitam.


"Kenapa Mami mewarnai rambut lagi? nanti Papi marah. Baju mami juga kenapa aneh?" tatapan Juna sinis langsung masuk ke mobil baru yang Maminya gunakan.


Banyak sekali pertanyaan Juna, mulai dari penampilan maminya, barang-barang yang digunakan bahkan cara Maminya membawa mobil sangat berbeda.


Al menambah kecepatan mobilnya, Juna langsung berpegang kuat ketakutan melihat Maminya yang sangat aneh.


"Mami, jaga keselamatan kita dan penguna jalan lainnya." Juna berteriak dan membentak.


"Diam! kenapa kamu cerewet sekali? ingin melihat mobil terbang kamu." Suara Al teriak terdengar.


Mobil sampai di rumah, Juna langsung keluar dan membanting kuat pintu mobil tanpa melihat Al yang berteriak memarahi Juna yang merusak mobilnya.


Tatapan Juna tajam, langsung menutup kuat pintu merasakan keanehan Maminya yang tidak biasanya.


Juna melihat dari jendela, Maminya tidak masuk ke rumah tetapi pergi ke tempat lain. Sungguh keanehan yang sangat tidak biasanya.


Suara langkah kaki Tika terdengar, menatap kakaknya yang terlihat tegang.


"Mami kenapa ya kak? hari ini terlihat menakutkan." Tika mengerutkan keningnya.


"Ada apa?"


Tika menceritakan jika Maminya datang menjemput Tika pulang sekolah, di jalan kebut-kebutan, gaya Maminya terlihat asing, suara tawa dan bicaranya menyeramkan.


Bahkan Tika takut melihat wajah Maminya, sosok Aliya yang Tika kenal tidak pernah menggunakan make up tebal, baju seksinya juga tidak berlebihan.


Hal yang lebih aneh lagi, Maminya merusak seluruh koleksi pewarna kukunya sambil mencari sesuatu.


Atika tidak berani mendekat, jangankan untuk mendekat menyapa saja Tika takut.


"Jangan bicara apapun jika Mami pulang, hari ini ada yang tidak beres. Kamu harus terus di dekat kak Juna ya, kita bisa menunggu Papi dan mengatakan semuanya." Perasaan Juna tidak enak mengkhawatirkan Papinya yang sudah berhari-hari tidak pulang.


Helen langsung mendekati anak-anak, mendengarkan cerita keduanya jika mami mereka hari ini sangat aneh dan menakutkan.


Tatapan Elen tidak percaya jika Al kasar ke anak-anak, dia sangat menyayangi Juna dan Tika, bahkan setiap hari selalu berpesan jaga anak-anak.


Al setiap hari selalu bertanya perkembangan Tika, juga mengawasi Juna. Tidak ada sosok ibu tiri yang sangat memprioritaskan anak-anak sedetail Al.

__ADS_1


Secara diam-diam Elen menghubungi Aliya, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Elen juga tahu jika Aliya tidak pulang sejak kemarin.


Karena tidak punya pilihan, Elen menghubungi via pesan suara menjelaskan apa yang dialami anak-anak berharap Al segera berkabar dan melakukan sesuatu agar anak-anak tidak takut lagi.


***


Di jalanan Al masih kebut-kebutan, langsung mampir ke perusahaan melihat orang-orang sedang rapat.


"Lanjutan saja, aku hanya mampir sebentar." Al tersenyum sinis, langsung membuka ruangan pimpinan.


Al langsung membuang foto Ayah Altha yang menjadi sejarah pimpinan AT grup, tatapan mata tajam dan penuh rasa benci.


"Aku tidak ingin membunuh Altha, tapi dia menyebalkan sekali. Terpaksa dia juga harus aku singkirkan setelah melenyapkan Citra." Suara tawa terdengar, langsung melangkah pergi meninggalkan.


Ada satu tempat yang ingin Al kunjungi, melihat tantenya untuk terakhir kalinya. Al sangat merindukan wanita yang pernah menyelamatkan hidupnya belasan tahun yang lalu.


Mobil Al tiba di rumah sakit jiwa, karena Al keluarga satu-satunya akhirnya diizinkan untuk bertemu, dan tidak boleh lama.


"Hai Tante, sudah waktunya Tante mati."


"Kamu kembali lagi, kemarilah."


"Ya aku kembali untuk membalas dendam." Al mengarahkan senjata di kepala.


"Terima kasih untuk masa lalu, sekarang sudah waktunya kamu pergi." Al melepaskan tembakan, bersamaan dengan terjadinya kebakaran.


Suara tawa terdengar, Al lompat-lompat kesenangan sambil menari bahagia akhirnya sudah tiba waktunya untuk balas dendam.


Banyak orang berlarian karena api semakin besar, Al langsung melangkah keluar dan tersenyum melihat rumah sakit jiwa dilahap si jago merah.


Sebuah tangan melambai-lambai melihat api semakin besar, langsung melangkah pergi meninggalkan lokasi.


Ada satu lagi tujuan Al agar semuanya berakhir, ada satu orang lagi yang harus dilenyapkan. Dia orang yang seharusnya menanggung penderitaan Al.


"Sudah saatnya aku menyingkirkan kalian yang sudah membuat keluarga aku hancur." Mobil Al melaju ke arah apartemen Citra.


Kedatangan Al bertepatan dengan kedatangan Roby, senyuman Roby terlihat menyapa.


"Al, kamu datang ingin menjemput Mora?"


"Iya, aku datang." Senyuman Al juga terlihat, mengikuti Roby ke apartemen.

__ADS_1


Roby merasa ada yang aneh dari Aliya, tatapan matanya sudah berbeda dan nada bicara Al tidak seperti biasanya yang sangat ceria.


"Sekarang kerja apa setelah ibu tiri kamu di penjara? sedangkan ayah kamu antara hidup dan mati." Al tertawa kecil, menatap Roby yang menjadi beban Citra bahkan rumah saja tidak punya.


Pintu apartemen terbuka, Roby mendapatkan panggilan langsung mempersilahkan Aliya masuk dan Roby pergi menjawab panggilan.


Di dalam apartemen Citra sedang bersama Mora, Al menatap apartemen dengan tatapannya yang tajam.


"Kenapa kamu datang ke sini?"


"Kamu sudah tahu apa tujuan aku, jangan dipertanyakan." Al tersenyum melihat Mora yang sangat cantik.


"Sayang sekali, hidup kamu tidak lama." Tangan Al menyentuh wajah Mora.


Citra ingin ikut Al ke rumah Altha, dia ingin mengambil mobilnya yang menjadi bagian Citra, karena mereka akan segera pindah ke rumah Roby.


Al hanya tersenyum menganggukkan kepalanya, membiarkan Citra juga ikut dengannya.


"Kamu ingin ke mana Citra?" Roby menatap Al yang tidak menatapnya sama sekali.


"Aku ingin mengambil mobil, karena besok sudah pindah rumah." Citra menggendong Mora.


Roby ingin ikut, Al langsung mengerutkan keningnya membiarkan semua ikut. Mereka ingin bersama-sama ke akhirat, dengan senang hati Al akan mengantarkannya ke jalan yang paling benar.


Selama di dalam lift Roby merasa aneh dengan Aliya, penampilannya berlebihan, bahkan Al memiliki tato di punggungnya berbentuk manusia tanpa kepala.


"Aku yang akan membawa mobil, kalian bertiga bisa duduk di belakang."


"Aku saja Al, tidak enak kamu yang membawanya." Roby menawarkan diri, tapi Aliya menatapnya tajam.


"Kenapa tatapan kamu Al? jika tidak suka maka aku tidak mengizinkan kalian membawa Mora." Citra menatap tajam.


"Ingin sekali aku mencongkel mata kamu Citra." Al langsung masuk mobil.


Roby meminta Citra masuk, dan membiarkan Aliya yang menyetir mobil. Senyuman Aliya terlihat langsung melajukan mobilnya membuat Citra terkejut, karena belum sempat menggunakan pengaman.


"Kamu masih ingat alasan papa selingkuh? karena mulut mama kamu yang mirip binatang. Aku lelah hidup seperti boneka, Papa yang tidak perduli, Mama yang posesif sehingga aku merasa sudah gila dan membunuh mereka semua." Suara tawa terdengar sangat besar.


"Sudah gila kamu ya?!" Citra berteriak.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2