
Bermalam-malam Aliya berdiam diri memikirkan ucapan Altha soal meminta dirinya yang pergi secara diam-diam dan menghilang selamanya.
Jika Aliya mau, tanpa Altha minta dirinya bisa pergi dengan mudahnya, dan tidak akan mungkin bisa Altha temukan, tetapi dia tidak bisa pergi masih ada hal yang harus dia lakukan.
Panggilan rahasia terlihat, Al mengerutkan keningnya langsung menjawab. Panggilan yang sudah lama Aliya tunggu akhirnya muncul.
Al mengambil jaketnya, langsung melangkah pergi meninggalkan rumah. Al membawa mobilnya sendiri langsung melaju kebut-kebutan.
Mobil melaju ke arah rumah lamanya yang sudah merenggut nyawa seluruh orang, rumah mewah yang dulu sudah berubah menjadi rumah kosong tidak berpenghuni.
Suasana gelap gulita, tidak ada penerangan sama sekali. Kelelawar berterbangan di langit-langit rumah.
Suara teriakan sangat besar terdengar, Aliya langsung berlari masuk menghidupkan senter ponselnya melihat kakinya yang sudah mengalir darah.
Senyuman Al terlihat menyinari tempat lainnya yang juga penuh darah.
Mata Aliya terpejam, melihat pertengkaran kedua orangtuanya yang saling menyakiti. Al berlari dari lantai atas memanggil Mama dan Papa.
Banyak orang di dalam ruangan, tapi tidak ada satupun yang menghentikan Papanya untuk memukul Mamanya.
Al langsung menangis ketakutan, hanya suara tawa yang terlihat membuat Al semakin menangis kuat.
Suara tembakan terdengar, mata Al melihat kepala ibunya ditembus sebuah peluru lalu tumbang begitu saja.
Wajah Aliya langsung pucat, tembakan kembali terdengar menembus jantung Papanya yang menunjuk jari ke arahnya.
Suara Aliya berteriak Mama Papa terdengar sangat besar membuat orang-orang yang terkejut menatapnya tajam.
Tembakan terus terdengar, Aliya memejamkan matanya tidak berani melihat lagi sampai suara tembakan berhenti.
Air mata sudah tidak terbendung lagi, perlahan Al membuka matanya melihat semua orang sudah tergeletak mengenang di darah.
Teriakan Al semakin besar, melihat senjata yang ada di tangannya lalu melangkah mundur melihat kakaknya juga sudah tergeletak.
Tidak ada lagi suara yang keluar, Aliya terus mundur dan berlari kencang keluar rumah melewati malam yang gelap sampai akhirnya dia terlempar di jalanan.
"Aliya sadar." Altha menguncang tubuh Aliya yang memejamkan matanya.
"Darah." Aliya melihat penuh darah di kakinya.
__ADS_1
Suasana gelap sudah berubah terang, beberapa polisi sudah mengelilinginya. Ada dua mayat tergeletak bekas tembakan di kepala dan meninggal di tempat.
Bukan hanya kepala yang ditembak, tapi dada dan perut juga tertembak. Al sungguh tidak percaya dia tidak mimpi.
"Ini hanya mimpi, tenang Aliya. Mereka hanya mimpi buruk." Al menutup wajahnya gemetaran.
"Ini nyata Aliya, kenapa kamu bisa di TKP?" Altha meminta Aliya menatapnya, tapi Al tidak bisa.
"Mama, Papa." Al melihat ayah angkat dan istri barunya meninggal di tempat kejadian lima belas tahun yang lalu.
"Dimas, urus kasus ini. Temukan segala buktinya kita ketemu di rumah sakit." Altha langsung menggendong Aliya yang tidak bisa bergerak sama sekali.
"Jangan ada yang mengatakan jika Aliya ada di sini, anggap dia tidak ada. Kalian mengerti?" Altha menatap tajam bawahannya yang mengiyakan apa yang Altha minta.
Altha membawa Aliya ke rumah sakit, wajah Al terlihat sangat shock melihat banyaknya darah. Hujan turun membuat Altha memukul setir mobilnya.
"Bukan aku yang melakukannya? Mama Papa." Al membuka kaca jendela menyentuh air hujan.
Tangan Altha menarik Al, menutupi kembali kaca mobil memintanya untuk istirahat.
Sesampainya di rumah sakit, Altha meminta bantuan dokter untuk mengecek keadaan Aliya. Takutnya dia juga diserang, bagaimanapun tempat itu sudah menjadi luka paling besar dalam hidup Aliya.
"Ayang." Al membuka matanya tersenyum melihat kehadiran Altha.
"Bagaimana keadaan kamu?"
Aliya tersenyum melihat wajah khawatir, harapan Aliya yang sudah tertunda bertahun-tahun.
"Kamu tidak ingin bertanya apa yang aku lakukan?"
"Tentu aku ingin bertanya, tapi setelah kamu merasa lebih baik. Keamanan kamu jauh lebih penting." Altha memanggil dokter untuk mengecek Aliya kembali.
Dimas mengetuk pintu menunjukkan laporan jika tidak ada bukti yang tertinggal, Aliya satu-satunya bukti, saksi juga tersangka yang masuk daftar.
"Cari tahu kenapa mereka berdua bisa ada di rumah itu? dan seharusnya mereka sudah melarikan diri ke luar negeri?" Al menatap binggung juga penasaran apa yang terjadi di rumah kosong selama lima belas tahun.
"Tidak ada Al, aku sudah meminta tim mengecek rekaman sejak mereka meninggalkan Aliya, tetapi tidak ada bukti.
Tidak ada kendaraan yang masuk ke sana selama berbulan-bulan, bahkan tidak ada manusia yang datang.
__ADS_1
"Aneh, bahkan seekor burung juga tidak ada lewat. Apa yang sebenarnya terjadi? mereka diculik, tapi kondisi tubuh mereka dalam keadaan normal." Dimas mengacak rambutnya, tidak paham apa yang sedang mereka selidiki.
Aliya tertawa, berjalan sambil memegang infus. Dimas tidak akan menemukan rekaman apapun. Sebuah rumah yang jauh dari kehidupan masyarakat tidak mungkin ada rekaman CCTV, itu semua hanyalah pancingan yang mempercepat kasus ditutup.
CCTV hanya hidup saat mobil Aliya masuk, kedatangan Al sudah disambut di sana. Bahkan Aliya juga tidak tahu siapa pelakunya.
Ayah angkatnya dulunya seorang supir di rumahnya, tetapi dia berhenti setelah satu bulan bekerja.
Karena dia yang menyelamatkan Aliya saat kecelakaan dan mengurus seluruh pemakaman di rumah itu sehingga menjadi penjamin hidup Aliya.
Keluarga Aliya sangat kaya sehingga membuatnya gelap mata dan menikmati uang milik keluarga Al, sudah berkali-kali istrinya memperingati, tapi tidak dihiraukan.
Al tidak tahu pasti soal keterlibatan obat terlarang, karena sudah tidak perduli lagi sejak ibu angkatnya meninggal.
"Kenapa kamu tiba-tiba ada di sana Aliya?"
"Ada yang memanggil aku, seseorang yang aku cari selama ini. Dia pelaku pembunuhan itu, bukan Al." Aliya tidak tahu sudah lima tahun seseorang menghubungi Aliya dan mengetahui soal dirinya.
"Selain kamu siapa yang selamat?" tatapan Dimas tajam, kasus tanpa barang bukti pasti akan segera ditutup menjadi kasus bunuh diri.
Aliya menggelengkan kepalanya, semua orang tergeletak penuh darah. Al tidak mengatakan jika ada senjata yang masih dia simpan, satu-satunya bukti kematian keluarganya.
Senjata yang hanya ada sidik jari Aliya, senjata yang akan membuktikan jika dirinya pelaku pembantaian.
"Siapa dia?" Al memejamkan matanya, langsung melihat ke lantai.
Saat senter handphone Aliya hidup ada bayangan seseorang di lantai, Al berusaha mengingat wajah orang yang membunuh dua orang tanpa meninggalkan bukti, juga alasan kenapa dia membunuh.
"Jangan dipikirkan cepat atau lambat dia akan datang kembali, kamu target utama dia aliya." Alt meminta Aliya kembali ke tempat tidur untuk beristirahat.
"Aku harus pulang, ada janji dengan Tika." Al menatap suaminya yang menganggukkan kepalanya.
"Apa aku harus melindungi kamu?"
"Tidak, Al akan akan melindungi diri sendiri sama seperti dulu saat kamu tidak perduli." Al tersenyum manis.
***
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1