ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KEMARAHAN TIKA


__ADS_3

Perasaan Altha benar, pertemuan tidak berujung baik. Tika masih sama memiliki dendam besar, dia belum bisa menerima ditinggalkan oleh Mamanya, apalagi hampir mati di tangan Mamanya.


Alt mengerti kemarahan Tika, dirinya saja masih berat memaafkan apalagi anak-anak yang merasakan langsung.


"Aliya, aku rasa pembicaraan ini cukup sampai di sini, sebaiknya kita makan. Jangan menghilangkan selera." Alt menepuk pundak istrinya yang menganggukkan kepalanya.


Tawa kecil Tika terdengar, dirinya merasa lucu dengan ucapan Papinya untuk makan. Dirinya melihat wajah Citra saja langsung hilang selera.


Makan malam terasa hening, kepala Ria celingak-celinguk menatap satu-persatu orang yang hanya diam. Ria tidak merasakan makan malam keluarga.


"Kenapa kita rasanya sedang makan di kuburan? sepi sekali." Celoteh Ria terdengar, Citra tersenyum melihat Ria yang menatap kesal makanannya.


Suara sendok Tika terlepas, dia langsung bangkit berdiri untuk melangkah pergi. Makanan seenak apapun tidak bisa masuk ke mulutnya, jika ada orang yang dirinya benci.


"Tika, Mama mau bicara boleh?"


"Tentu, bicaralah." Tika membalik badannya sambil tersenyum.


Perlahan Citra melangkah masuk, diikuti oleh Tika yang tersenyum langsung mengikuti Citra masuk ke dalam rumah.


Di ruang tamu Citra menyentuh kepala Tika dengan sangat lembut, tersenyum melihat Putrinya yang tumbuh menjadi wanita cantik.


"Ada apa? kamu tidak berniat menularkan penyakit?" suara tawa Tika terdengar mengejek Citra.


"Maafkan Mama Tika, kamu jangan pernah memaafkan kesalahan Mama di masa lalu. Terima kasih sudah tumbuh menjadi wanita baik." Air mata Citra meneteskan, sudah cukup baginya bisa melihat Tika, tidak berharap bertemu lagi.


Suara tawa Tika sangat besar, merasa konyol dengan permintaan maaf Citra yang seakan-akan dirinya tidak mengingat apapun.


Mendengar tawa Tika yang dipaksakan, membuat hati Citra hancur, Putrinya hanya kuat dari luar.


"Maaf, pertemuan terakhir kali. Kamu tidak malu mengatakannya. Menatap kamu saja menjijikan, sadarlah Citra. Kamu seorang Ibu yang tega membunuh anak-anaknya." Tika mendekati wajah Citra, menatapnya tajam penuh rasa benci.

__ADS_1


Tika mengingat apa yang sudah Citra lakukan kepada dirinya, kakak dan adiknya. Mungkin hidup Tika selama ini bahagia, tapi bayangan soal masa bersama Citra belum bisa dirinya lupakan.


Tangan Citra gemetaran, langsung berlutut di kaki Tika. Dirinya mengakui jika sudah melakukan kesalahan besar, bukan hanya menghancurkan kebahagiaan anak-anak, tetapi juga melukai hati mereka.


"Ungkapan semua rasa sakit kamu Tika, Mama siap menerimanya."


"Kamu bertanya apa yang ingin aku lakukan? aku ingin membunuh kamu dengan tanganku sendiri." Tika menepis kuat tangan Citra yang langsung terjatuh.


Kepala Citra mengangguk, dirinya menerima apapun perlakuan Tika. Dirinya pantas dibenci oleh Putrinya.


Suara Tika mencaci maki Citra terdengar sampai keluar, kemarahan Tika meluap. Kejadian saat penusukkan Kakaknya juga sangat membekas di mata Tika.


Saat pembakaran dirinya, mata Tika memohon kepada Mamanya untuk membawanya keluar, bahkan Tika sudah memohon.


Tanpa belas kasihan, Citra meyelamatkan dirinya sendiri. Tidak merasakan kasihan sedikitpun kepada dirinya yang saat itu baru berusia empat tahunan.


Tidak ada seorang Ibu yang tega membakar anaknya hidup-hidup dengan alasan apapun. Kecuali sudah tidak waras lagi.


"Apa salah kami? kenapa anda begitu tega menyakiti kami? sekejam apa dunia kalian dulu, sampai tega membunuh anak sendiri." Bentakan Tika membuat semua orang masuk ke rumah.


Puluhan tahun Tika coba melupakanmu, tapi mimpi buruk selalu datang setiap malam. Atika tidak pernah bisa tidur tenang hampir sepuluh tahun, tapi mencoba menutupi dari kedua orangtuanya.


Anak kecil yang dulu Citra bunuh memiliki ketakutan yang sangat besar, bukan takut mati, tetapi takut kehilangan sosok Mama dalam hidupnya.


Saat itu Tika berharap Mamanya menggendong dirinya untuk menyelamatkan diri, setidaknya Citra kirimkan permintaan maaf.


"Aku tidak takut mati Citra, aku hanya benci dilahirkan oleh kamu. Tunggu ... apa aku memang anak kamu atau sebenarnya aku dan Amora memiliki nasib yang sama." Senyuman Tika terlihat, melipatkan tangannya di dada.


"Tidak, kamu anaknya Papi Altha. Tika tidak boleh berpikir seperti itu, kamu mirip sama Papa Alt. Maafkan Mama Tika." Dada Citra sesak, tapi masih menahan dirinya.


"Atika, kamu tidak boleh kejam seperti ini Nak. Meskipun di masa lalu Mama Citra melakukan kesalahan, Tika tidak boleh menghukum Mama. Dosa sayang." Alt meneteskan air matanya, meminta maaf karena tidak mengetahui jika Tika mengingat semuanya.

__ADS_1


"Kenapa Papi? apa Tika salah membencinya? sebaik apapun Ibu tiri, tidak akan sebaik Ibu kandung. Tika tidak percaya, karena kenyataannya Tika kebalikan. Sekalipun dia mati, aku tidak akan menangis, tidak akan!" Tika berteriak histeris dihadapan Altha.


Arjuna langsung memeluk adiknya, meminta Tika tenang. Juna mengerti perasaan adiknya, karena Juna juga sama sakitnya.


"Kita pergi dari sini Tika."


"Buang wanita ini kak Juna, kita anggap saja dia sudah mati. Dia wanita gila, sekarang datang karena hampir mati dimakan penyakitnya. Mati saja, jangan menjadi benalu." Tika menatap tajam Citra yang sudah menangis sesenggukan.


Tubuh Juna langsung lemas, menggelengkan kepalanya tidak menyangka adik kesayangannya yang Juna cintai dan ajarkan ilmu agama memiliki hati yang kejam.


Sekarang Alt dan Aliya harus sadar, jika mereka gagal menanamkan kebaikan di hati Atika. Juna juga sama gagalnya menjaga adiknya, karena Tika jauh lebih jahat dari pada Citra.


"Sekalipun Mama mati, tidak akan mengubah jika di darah kamu ada tetesan darah Mama, begitupun sebaliknya Tika. Aku tidak akan melepaskan Mama, karena hanya kita keluarga Mama." Juna bicara sangat tegas, memperingati Tika untuk sadar dengan ucapannya.


Kepala Tika menggeleng, mengambil pas bunga. Aliya dan Juna langsung berlari melindungi Citra dari kemarahan Tika.


"Atika!" Altha berteriak memintanya berhenti keterlaluan.


Pas bunga pecah, tetesan darah mengalir di lantai. Semua orang teriak histeris. Tatapan mata Tika tajam, melihat Diana ada dihadapannya.


Tangan Diana mengeluarkan darah, karena menahan pas bunga menyakiti diri Tika sendiri. Di tidak menyangka, jika Tika sangat mengerikan.


"Apa ini? kamu marah kepada Citra atas kesalahannya, dan menghukum keluarga lainnya untuk melihat kehancuran. Apa yang kamu rencanakan Atika?" Di mencengkram tangan Tika.


"Aku kecewa, kenapa semua orang bisa memaafkan? tapi aku tidak bisa." Senyuman Tika terlihat sangat tenang.


"Kita semua pernah menjadi orang jahat, kita tahu jika rasa penyesalan menjadi hukuman terberat. Jangan maafkan, tapi setidaknya kamu juga tidak boleh menyakiti." Diana mengusap kepala Tika, meneteskan air matanya.


Sejak Tika kecil, Di dan Aliya berjuang untuk selalu ada, bahkan sangat mengutamakan. Melihat Tika yang marah sangat menghacurkan hati.


"Kamu benci Mama, karena menyakiti kalian, lalu bagaimana dengan Kak Di yang membunuh Amora. Kamu ingin membunuh Citra harus melangkahi mayat Kak Di." Di menatap mata Tika sangat tajam.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2