ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
NAMA KELUARGA


__ADS_3

Langkah Shin terhenti, menatap seorang wanita yang sedang berbicara dengan Arjuna. Percakapan keduanya terlihat sangat serius, tapi Shin bisa mencium bau busuk.


Tatapan matanya melihat Juna bukan tatapan kepada sesama Dokter, tapi tatapan wanita yang mengangumi seorang pria.


Sikap Juna yang cuek, hanya bicara segala hal soal medis. Banyak wanita yang coba mendekatinya, tetapi hanya ditanggapi semestinya sesama Dokter.


"Kamu ingin menjadi saingan rupanya, awas saja." Shin menatap sinis langsung melangkah ingin pergi.


"Ingin pergi ke mana kamu?"


"Maaf Dok, bicara dengan saya?"


Juna memberikan berkas yang baru dirinya baca, menyerahkan kepada Dokter bawahannya yang baru.


Ucapan Juna tidak dihiraukan oleh Shin yang tetap melangkah pergi, tangan Shin langsung ditarik agar segera berhenti.


"Apa kamu tuli? saya meminta kamu beristirahat bukan melarikan diri." Juna menatap dengan kesal.


"Ay Jun, maaf. Shin harus pergi sekarang." Shin menatap tangannya yang masih digenggam.


"Masuk kamar kamu sekarang, atau aku tidak bertanggung jawab atas apapun yang terjadi kepada kamu." Bicara Juna dingin, tidak menerima pengecualian apa lagi dibantah.


Kepala Shin tertunduk, dirinya bukan tidak ingin menuruti keinginan suaminya, tapi ada hal genting yang harus Shin lakukan.


Mata Juna melihat tangan Shin yang berdarah, karena infus dilepas secara paksa. Ancaman Juna tidak membuat Shin berhenti.


Hanya kata maaf yang terdengar, Shin langsung membayar administrasi dan bergegas pergi menggunakan taksi.


Kepala Juna geleng-geleng, Shin seseorang yang tidak bisa diatur, dia wanita bebas yang sangat keras kepala.


"Terserahlah, bukan urusan aku jika terjadi sesuatu." Juna langsung melangkah pergi.


Langkah Juna terhenti, mengingat ucapan Tika untuk menjaga sahabatnya selama dirinya belum datang.


"Kenapa aku harus bertanggung jawab?" Arjuna berlari ke ruangannya, melepaskan jas putihnya langsung mengambil kunci mobil, mengejar Shin yang sudah naik taksi.


Di dalam mobil Juna menghela nafas bekali-kali, melihat mobil taksi yang terhenti karena macet.


Pintu mobil terbuka, Shin langsung berlari tanpa menunggu mobil lagi. Arjuna kebingungan apa yang Shin kejar sampai berlarian, padahal kondisinya belum baik.


"Gila, ini perempuan." Juna langsung menghubungi Tika, dirinya tidak ingin terlibat dengan kehidupan Shin.


Panggilan Juna tidak dijawab, kepala Juna semakin pusing memikirkannya. Secara terpaksa Juna menghidupkan alarm mobilnya pertanda bahaya.

__ADS_1


Beberapa mobil langsung menyingkir, Juna berhasil melewati macet jalanan. Meminta Shin segera masuk mobil.


"Ay Juna, tolong antar Shin pulang." Napas Shin ngos-ngosan, sampai mengusap dadanya.


"Arah jalan." Juna mempercepat laju mobilnya.


Saat tiba di rumah Shin langsung keluar, tubuh Shin tersungkur jatuh ditabrak oleh sebuah mobil yang keluar dari pagar rumahnya.


Juna yang melihat langsung terkejut, keluar mobil melihat Shin yang masih bangkit memanggil Mami, bahkan mengejar mobil yang membuat kepalanya mengeluarkan darah.


"Mami, Mami ... tolong bicara sebentar saja kepada Shin Mi. Mami!" Shin berteriak kuat saat mobil melaju pergi tanpa memperdulikannya.


Air mata Shin menetes, langsung berlutut merasakan hancur hatinya. Dirinya hanya ingin bertemu setelah bertahun-tahun.


Betapa tidak berartinya dirinya, sehingga Maminya hanya kembali untuk menjual rumah yang sudah ditinggalkan khusus untuk Shin.


"Ah ... kenapa kalian jahat sekali? bahkan Mami membawa bodyguard untuk memukuli penjaga rumah. Apa salah Shin lahir ke dunia?" Tangisan Shin histeris, memukuli tanah sangat kuat.


Tangan Juna mengacak-acak rambutnya, dirinya tidak tahu harus melakukan apa? tidak tahu masalah Shin, juga tidak tahu cara menghiburnya.


Sebuah mobil berhenti, Juna kaget melihat Genta berhenti di rumah Shin. Tatapan Genta sedih mendengar tangisan Shin yang marah kepada keadaan.


"Shin, masuk ke rumah dulu." Genta merangkul Shin untuk tenang.


"Juna, kamu boleh kembali ke rumah sakit. Shin aman bersama aku." Senyuman Genta terlihat, Juna langsung melangkah pergi tanpa mengatakan apapun.


Genta membawa Shin masuk ke dalam rumah, kondisi rumah sudah berantakan. Beberapa penjaga babak belur, surat menyurat rumah sudah diambil secara paksa.


"Kenapa kak Genta di sini?" Shin mengusap air matanya.


"Aku hanya tidak sengaja lewat, dan melihat kamu sedang menangis." Genta terpaksa berbohong, dirinya sengaja mencari tahu soal Shin, dan baru mendapatkan alamat rumahnya.


Tangan Genta mengusap kepala Shin, melihat tangisan gadis di hadapannya hati Genta semakin hancur, dirinya merasakan kesedihan yang sangat dalam, tetapi tidak mengerti alasannya.


"Kak Genta suka sama Shin? jangan ya. Aku sudah punya suami idaman." Tangisan Shin terhenti, khawatir jika Genta memiliki perasaan kepadanya.


"Aku tidak menyukai kamu selayaknya wanita, tapi aku menganggap adikku. Sekarang apapun masalah Shin langsung hubungi kak Genta, baik masalah sekecil apapun harus memberikan kabar." Genta memasukkan nomornya ke ponsel Shin.


Kepala Shin mengangguk, meksipun dirinya tidak tahu masalah apa lagi yang akan datang menghancurkannya.


"Shin, kamu punya Kakak?"


"Iya, dia sudah meninggal saat Shin kecil. Kak Genta tahu dari mana?" wajah Shin langsung terkejut.

__ADS_1


Kepala Genta menggeleng, hanya menerka saja. Genta penasaran dengan keluarga Shin yang terlihat tidak akur.


"Di mana Mami dan Papi kamu?"


"Tidak tahu, terakhir melihat Papi sekitar enam tahun yang lalu, sedangkan Mami hampir sepuluh tahun, dan hari ini dia kembali, tanpa menemui Shin." Kedua tangan Shin menutup wajahnya.


Genta melihat sekeliling rumah Shin, tidak ada foto keluarga sama sekali. Genta menghela napasnya binggung memulai dari mana.


"Kenapa nama keluarga kamu dan Papi beda?"


Shin terdiam sesaat, dirinya baru menyadari perbedaan namanya dan keluarganya. Genta meminta nama-nama keluarga yang terdaftar.


"Di mana ya? Shin pernah melihatnya." Shin melangkah ke ruangan perpustakaan, mengacak buku-buku yang tersusun di sana.


Genta juga ikut masuk, dan terkejut melihat ruangan yang sangat besar. Pelan-pelan Genta membuka buku, melihat beberapa foto hitam putih yang sudah lusuh.


"Siapa Argantara?"


"Kakek Shin, nama aku Argantara. Kenapa Papi dan Mami tidak memiliki nama Argantara? apa aku bukan anak mereka?" Shin mengacak-acak buku.


"Kamu tidak tahu apapun soal keluarga ini?"


Kepala Shin menggeleng, dirinya tidak tahu apapun. Shin juga tidak pernah terpikirkan soal keluarganya.


"Astaghfirullah Al azim, suamiku di mana?"


"Suami? siapa?"


"Ay Juna." Shin langsung menutup mulutnya.


"Kamu menjalin hubungan dengan Juna? yakin ... seorang Arjuna." Genta kaget melihat keterkejutan Shin.


Senyuman Shin terlihat, langsung memohon kepada Genta agar tidak mengatakan apapun kepada Tika. Jika Tika sampai tahu, hubungan persahabatan kedua bisa berantakan.


Genta mengerutkan keningnya, melihat wajah Shin yang ada bekas memar. Menghela napasnya meminta Shin berhenti membuang waktu untuk mendekati seorang Arjuna.


"Kenapa? Shin suka Kak Juna memangnya salah?"


"Tidak salah, tapi Juna bukan lelaki yang bisa kamu dekati. Aku peringati sejak awal, sebelum patah hati."


Bibir Shin manyun, dirinya sudah patah hati sejak awal, tapi hatinya yang tidak bisa menghindar.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2