
Persiapan pernikahan sudah di depan mata, Tika berdiri bersama Shin yang berkeliling melihat kamar pengantin. Juna sengaja menggunakan rumah Genta di lantai atas khusus untuknya dan Shin.
Keinginan Juna juga sangat disetujui oleh Genta agar dia juga bisa mengawasi Shin. Rumah mereka juga sangat besar, sehingga tidak ada masalah ditinggali oleh dua keluarga.
"Ini fotonya Ayang, ini Shin." Senyuman lebar terlihat mengusap foto di kamar pengantin.
"Shin, kamu belum mengingat apapun?"
"Sudah, aku ingat jika kita selalu berkelahi. Sebenarnya kita sahabat atau musuh?"
Senyuman Tika terlihat, mengenggam tangan sahabatnya. Tika tidak tahu hikmah apa di balik masalah yang sedang menguji.
Melihat wajah sedih Tika, Shin langsung meminta maaf. Dia bisa merasakan jika hubungan keduanya sangat dekat, Shin juga tahu jika Tika sangat menyayanginya.
"Maaf jika aku melupakan kamu, meksipun Shin tidak ingat Tika selalu menemani. Tersenyumlah Tika, jangan sedih dan cemberut kamu semakin jelek." Tawa Shin terdengar mengeratkan genggaman tangannya.
"Biasanya kita pasti bertengkar meskipun sedang mengobrol seperti ini. Kita selalu main pukul-pukulan, tapi sekarang kamu tidak menendang seperti biasanya." Secara tiba-tiba tubuh Tika mental membuat langsung emosi karena Shin menendangnya.
"Tunggu. Jangan marah dulu aku hanya mengikuti ucapan kamu." Shin langsung berlari kencang, Tika berdiri mengejarnya.
Pintu kamar terbuka, Aliya langsung berteriak meminta keduanya berhenti kejar-kejaran di atas ranjang yang sudah di dekor.
Keduanya berdiri di atas tempat tidur, saling pandang karena Aliya kesal melihat kamar berantakan mengusir keduanya untuk keluar.
"Ada apa Mami?" Ria melihat kamar yang berantakan langsung kesenangan naik ke atas tempat tidur sambil lompat.
Sapu langsung melayang, Al memukuli tiga wanita untuk keluar kamar pengantin. Merapikan kembali kamar Putranya. Tawa Shin terdengar menyukai keributan.
Secara tiba-tiba Shin terdiam seluruh ingatan tentang keluar kembali. Dia melihat semua keluarga dan membayangkan keluarga bahagia.
Pertemuan pertama dengan Juna juga teringat, Shin semakin yakin jika dia dan Juna saling mencintai. Melihat hubungan dekat, dan perasaannya yang mengangumi Juna sejak remaja meyakinkan dirinya jika pernikahan terjadi atas nama cinta.
"Kenapa kamu melamun?"
"Ay Jun mencintai Shin?"
__ADS_1
"Ya, aku mencintai kamu karena itu ingin kita segera menikah." Senyuman Juna terlihat, menggenggam tangan Shin untuk masuk ke kamar pengantin melihat Maminya yang terus mengomel.
Al menatap sinis Shin, duduk bersama merapikan kembali kamar yang sempat berantakan.
"Jun, Mami harap kalian bahagia. Pernikahan itu bukan semata-mata hanya cinta, tapi bertanggung jawab." Al menyentuh wajah Juna lembut.
"Siap Mi, Juna pastikan kita semua akan bahagia. Terima kasih Mami yang selalu memahami Juna, padahal putra Mami belum bisa memberikan yang terbaik." Arjuna mencium tangan Maminya, mengusap air mata dari sosok wanita yang menjadi ibu, Kakak bagi Juna sejak kecil.
"Shin juga belum bisa memberikan yang terbaik,"
"Bagus jika kamu tahu diri Shin, dari kamu remaja sampai saat ini memang selalu menyebabkan masalah. Kali ini saja tolong bahagiakan anak Mami." Al mencubit telinga Shin yang membuat Aliya selalu emosi.
"Kenapa Mami hanya mengingat kenakalan Shin? biarpun begini Shin selalu membantu orang,"
"Apa sisi baik kamu? Mami ingin mendengarnya?"
Tangan Shin garuk-garuk kepala, mencoba mengingat sisi baiknya, ucapan Aliya ada benarnya dirinya memang selalu membuat masalah.
"Shin pintar masak, Mami sangat menyukainya karena Mami tidak bisa masak,"
Kepala Shin mengangguk, kebersamaan keluarga dan kenakalannya bersama Tika sudah kembali. Shin mengingat sebagian, tapi belum semuanya.
"Tidak ada hal yang lebih baik lagi kamu ingat, dasar menantu kurang ajar." Aliya melangkah keluar meninggalkan calon pengantin yang saling tertawa.
Juna meminta Shin mengingat hal apa saja yang dia ingat, dan hampir keseluruhan momen bahagia bersama keluarga sudah Shin ingat. Namun masa menyakitkannya masih terlupakan terutama kejadian masa kecil dan saat di hotel.
"Ay, ingin punya anak berapa?"
"Sebanyaknya, tapi kamu harus sembuh dulu. Aku tidak ingin pernikahan kita hanya aku yang bahagia, setidaknya kamu juga harus menerima aku." Tangan Juna menyentuh hidung mancung Shin.
"Shin mencintai Ay, kenapa bisa tidak bahagia?"
Senyuman Juna terlihat, seandainya Shin menyadari jika hanya Juna yang berjuang. Saat Shin mengetahui kejadian sebenarnya mungkin dia akan marah besar kepada Juna, dan merasa dipermainkan.
"Shin, jika nanti kamu sembuh. Tolong ingat ucapan aku ini, kamu boleh marah. Tetapi jangan pernah meminta untuk berpisah, kamu boleh kecewa, tapi jangan pernah meninggalkan aku." Ucapan Juna terdengar dari lubuk hatinya yang paling dalam.
__ADS_1
Jika kembali mengingat dan terkejut dengan apa yang terjadi apalagi tahu jika sudah menikah harapan Juna hanya satu, Shin tidak membencinya terlalu lama.
"Shin tidak akan membenci Ay,"
"Untuk sekarang iya, tapi kita tidak tahu nantinya. Aku menikahi kamu bukan karena kasihan, tapi ini tulus karena aku mencintai kamu dan ingin menjaga dan membahagiakan. Ingat terus itu, aku tulus mencintai kamu." Perasaan Juna sedih karena dia mengatakan perasaannya saat Shin tidak tahu apa yang terjadi.
Pernikahan seharusnya membahagiakan semua orang, tapi Juna merasa dia menyakiti semua orang.
"Shin akan selalu ingat, jika Ay mencintai Shin, dan Shin mencintai Ay. Kita saling mencintai dan akan selalu bersama, tidak akan saling melepaskan." Jari kelingking Shin terangkat, menyambut jari Juna.
Keduanya tersenyum, saling berjanji untuk bahagia. Siapapun yang ingin memisahkan tidak akan mampu membuat keduanya meninggalkan.
"Jika nanti kita ada masalah, selesai baik-baik. Oke." Juna mengusap kepala calon istrinya.
"Shin tidak suka ada masalah, hanya suka membuat masalah." Tawa keduanya terdengar.
Dari balik pintu Tika dan Genta saling memeluk, merasa tenang melihat Juna yang benar-benar tulus mengatasnamakan cinta, bukan sekedar rasa kasihan.
"Sekarang kamu tidak harus mengkhawatirkan Shin lagi, kita percayakan kepada Juna. Maafkan aku Tika yang belum bisa membahagiakan kamu." Genta mencium kening istrinya lembut.
"Kita masih memiliki banyak waktu, tidak harus terburu-buru. Kebahagiaan bukan perlombaan, tapi jika bisa Tika ingin semuanya berakhir bahagia." Pelukan Tika erat, memeluk erat suaminya yang sangat dicintainya.
"I love you,"
"Love you too. Yang, jika nanti Tika melakukan kesalahan, jangan marah terlalu lama." Harapan Tika, Genta akan memahami keadaannya dan alasan menyembunyikan kondisi Shin.
Kedua tangan tangan Genta menakup wajah istrinya, Genta tidak punya alasan harus marah kepada Tika. Menikahi Tika, sudah bisa Genta bayangkan resikonya.
"Kenapa kalian berdua bermesraan di sini? turun ke kamar kalian." Shin menatap sinis melihat sepasang suami istri yang bercengkrama di depan kamar calon pengantin.
"Aku hanya antisipasi, takutnya kamu menerkam Kak Juna. Kalian belum halal." Lidah Tika terulur mengejek Shin.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1