
Mata Tika sembab, Juna menyiapkan makanan untuk Shin dan juga Adiknya yang masih merasa bersalah karena dirinya yang menyebabkan Reza terkena banyak kasus.
Tika terlalu memaksa diri untuk mendapatkan informasi kepada Reza yang tidak tahu apapun, jika saja Shin tidak menggila, Tika tidak mungkin ikutan gila.
"Sudah jangan saling menyalakan, makan dulu." Juna memberikan sendok kepada Tika dan Shin yang masuk cemberut.
Keduanya memasukkan makanan ke dalam mulut, secara tiba-tiba keluar lagi membuat Juna menatap sinis.
"Buat Tika saja,"
"Kamu saja Shin,"
Suara Isel datang terdengar, Shin memanggilnya meminta Isel makan. mm click Masakan Juna sangat enak, dan Isel yang hobi makan pasti menyukainya.
Senyuman Isel terlihat langsung mengunyah makanan, tiba-tiba makanan menyembur membuat Juna kaget.
"Ih, tidak enak." Suara Isel mual-mual terdengar langsung berlari pulang, tidak menghiraukan panggilan Juna.
"Kenapa bisa tidak enak?" Juna mencicipi makanan langsung menyembur keluar.
Senyuman Shin terlihat, Juna bahkan tidak mencicipi makanan karena memiliki banyak pikiran apalagi menunggu jawaban Reza.
Juna tidak menyalahkan Tika karena mereka sudah cukup lelah menunggu jawaban Reza hingga berminggu-minggu. Hanya dengan melakukan kekerasan menjadi hukuman untuknya sudah menyembunyikan bukti terakhir.
Bukan hanya Tika yang menyadari adanya bukti, tapi Juna juga. Tidak mengerti alasan Reza mempertahankannya sehingga hampir mati karena dipukuli.
"Ayo kita ke rumah sakit, Shin ingin mendengar jawaban dari Reza,"
"Kamu yakin. Bagaimana jika hasilnya tidak sesuai? seluruh keluarga ada di sana." Tika menggenggam erat sahabatnya, kondisi Shin mungkin akan jauh lebih buruk jika sampai hasilnya mengecewakan.
Kepala Shin menunduk, dia sudah cukup lelah bertahan. Hancur dan sakit pastinya bagi Shin jika memang terjadi sesuatu, tapi orang yang paling terluka sebenarnya bukan Shin melainkan suaminya.
Juna juga kesulitan untuk bertahan, dia juga menyimpan rasa sakit yang disembunyikan. Shin bahkan beberapa kali melihat Juna menangis dalam diam.
"Shin ingin tahu hasilnya. Kita sudah melakukan kesalahan sejak awal, seharusnya pernikahan dini tidak terjadi."
__ADS_1
"Kenapa bicara seperti itu?"
"Jika terjadi sesuatu kepada aku, tolong ceraikan Shin." Tatapan mata Shin serius melihat Juna yang hanya menunjukkan senyum penuh luka.
Lama ketiganya hening dengan pikiran masing-masing, Shin berdiri. Dia ingin pergi sendiri jika terlalu berat bagi Juna dan Tika.
"Aku juga ingin pergi." Juna berdiri dari duduknya berjalan ke kamarnya mengambil jaket.
Tika dan Shin berjalan bersama menuju mobil, langka Tika tiba-tiba berhenti menegur Shin yang begitu kejam kepada Kakaknya.
"Apa jawaban Rindi soal Reza?"
"Dia yakin Adiknya tidak bersalah. Kenapa kamu ingin bercerai setelah Kak Juna bertahan bahkan menjaga juga melindungi kamu?"
"Lalu kenapa kamu juga ingin bercerai padahal kalian saling mencintai? semuanya karena aku, bagaimana bisa aku melihat kak Juna lama tersakiti dengan pernikahan ini, apalagi Istrinya bukan wanita yang dia harapkan. Aku ingin Ay Jun mendapatkan wanita yang memiliki kehormatan, bersama aku hanya akan menyakitinya." Shin membuka pintu mobil langsung masuk sambil mengusap air matanya.
Pintu mobil terbuka kembali, Juna melihat Tika dan duduk di tempat yang berjauhan. Keduanya bertengkar kembali, tapi memilih saling mendiamkan bukan saling memukul.
"Tika, jangan terlalu terbebani. Setelah semua ini kembalilah bahagia bersama Genta, jangan mengkhawatirkan kami. Kak Juna tidak akan menyerah, seribu kali Shin ingin bercerai tidak akan pernah aku kabulkan. Kamu juga harus melakukannya, setidaknya harus ada yang bertahan agar rumah tangga itu utuh." Senyuman Juna terlihat menyemangati Adiknya.
Juna meminta maaf karena melibatkan Tika, dan menyadari keretakan dalam rumah tangga yang masih terbilang baru.
"Jangan takut, tidak peduli apapun yang terjadi Ay akan terus berjuang sampai kita temukan yang namanya bahagia." Genggaman tangan Juna semakin kuat, begitupun dengan Shin yang menyentuh tangan yang memiliki banyak goresan cakaran karena ulah Shin yang selalu mengamuk.
Sampai di rumah sakit, Juna menggenggam tangan dua wanita melihat ke arah ruangan yang penuh dengan keluarganya.
Di dalam ruangan Reza baru saja bangun, dan tersenyum melihat kakaknya ada di sisinya. Reza merasa melihat dunia kembali karena ada Keluarganya yang membelanya.
"Kak Indi, bertanyalah apa yang ingin Kakak ketahui?"
"Kak Indi ingin kamu sembuh Za, kita pergi jauh dari negara ini." Kepala Rindi tertunduk, merasa bersalah kepadanya adiknya.
"Tidak Kak, di sinilah keluarga Kak Indi. Sebentar lagi Eza punya keponakan, selamat ya kak. Sehat terus, Kak Indi harus menjaganya dengan baik." Tangan Reza menyentuh perut Rindi yang membuncit.
Kepala Rindi mengangguk, menggenggam tangan Adiknya untuk kuat juga meksipun diperlakukan tidak adil.
__ADS_1
"Za, jika boleh Kak Hendrik bertanya. Apa yang terjadi kepada Shin dan kamu? Shin adik perempuan kami satu-satunya, dia sedang terguncang atas apa yang terjadi. Mungkin kamu bisa memberikan informasi?" suara Hendrik terdengar pelan.
Kepala Reza menggeleng, dia tidak tahu apa yang terjadi kepada Shin. Reza bahkan tidak melihat Shin secara langsung. Saat terbangun Reza ada di dalam kamar mandi, dia membuka matanya mendengar percakapan seorang pelayan yang sedang melakukan panggilan.
"Apa yang pelayan itu katakan?" Rindi menatap serius.
"Dia harus memberikan aku obat. Eza langsung berpura-pura pingsan lagi, baju Eza semuanya dibuka, tidak berapa lama dia keluar." Reza langsung bangun mencari bajunya, menatap dirinya di kaca secara tiba-tiba pintu terbuka paksa.
Juna datang dalam keadaan marah, melayangkan pukulan bertubi-tubi. Reza memilih diam karena tidak mengerti apa yang terjadi.
"Eza menerima bayaran dari Dina, tapi aku tidak tahu soal Shin. Seharusnya Juna membuktikan sendiri, bukannya mereka sudah menikah?"
"Kamu memiliki bukti rekaman, di mana bukti itu?" Juna melangkah masuk ke dalam ruangan Reza.
"Bukti rekaman, jika aku punya untuk apa aku dipukuli oleh orang-orang yang Tika perintahkan?"
Tatapan Reza melihat ke arah Shin yang mengusap air matanya. Reza berani bersumpah apapun dia tidak melihat Shin, jangankan menyentuhnya, mereka berdua satu ruangan saja tidak tahu.
"Shin, aku memang mencintai kamu, tapi aku sadari siapa kita. Kenapa kamu harus menggila dengan sesuatu yang tidak pasti? Juna orang pertama yang melihat kamu, dan dia yang paling tahu kondisi kamu. Percaya saja kepadanya, jangan hakimi diri sendiri." Reza menyerahkan sebuah memori kecil kepada Juna yang menjadi bukti jika tidak ada apapun yang terjadi kepada mereka.
"Bagaimana dengan memori ini?"
"Itu rekaman dari wanita yang bersama aku di kamar mandi hotel, jika kamu ingin melihatnya lakukan saja. Mungkin kamu akan mendapatkan informasi." Reza memejamkan matanya, memalingkan dari Juna.
Juna melemparkan memori kepada Reza, dirinya tidak tertarik sama sekali untuk melihatnya.
"Apa isi memori ini Za,"
"Emh ... anu Kak, itu hanya pelecehan kepada Eza. Wanita itu mengambil ciuman pertama Eza."
"Oh, Rindi saja yang menontonnya. Aku belum pernah melihat ciuman pertama. Tika, Shin ayo kita menonton bersama."
"Tidak mau!" keduanya menjawab bersamaan.
"Ya sudah, Rindi menonton bersama Isel saja." Rindi langsung cemberut melihat suaminya menyita memori.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira