
Altha muncul bersama tim, mencoba membuka pintu secara paksa. Tidak ada cara untuk masuk, karena terkunci dari dalam.
"Bagaimana ini Alt?"
"Hancurkan, Aliya pasti ada di dalam, hidupnya dalam bahaya." Al masuk ke sebuah kamar, memaksa untuk membuka pintu dari kamar yang ternyata sudah ditutup permanan.
Altha tidak ingin membuang waktu, langsung berlari ke paviliun yang Aliya katakan. Alt yakin ada jalan keluar lain.
Ruangan kosong sudah Altha acak-acak secara habis-habisan, langsung melihat sebuah terowongan kecil.
Alt masuk ke dalam sambil merayap, tidak perduli apa yang akan terjadi paling penting bisa melihat Aliya.
Cukup jauh Altha merayap, sebuah cahaya terlihat. Seorang wanita yang pernah Altha dan Aliya lihat sedang menimbun sesuatu.
Suara tawa terdengar saat melihat Altha, langsung cepat Altha menyerang. Melayangkan pukulan kuat bekali-kali sampai jatuh pingsan.
Mengikat kuat tangan dan kaki, Alt langsung menggali kuburan. Melihat tangan Aliya yang sudah terkulai lemas.
"Aliya, aku mohon bertahanlah." Alt dengan kepanikan terus menggali. Melihat kepala Aliya, mengusapnya agar segera bernafas.
"Al bangun, Aliya aku mohon bangun." Alt terus mengeluarkan tubuh Aliya.
Menariknya keluar dari dalam lubang, meletakkannya. Altha memberikan nafas buatan, Aliya tidak terkubur dalam tetapi tetap membahayakan nyawanya.
"Aliya bangun, jangan membuat aku panik." Alt terus memberikan nafas buatan.
Pintu terbuka, Dimas dan tim langsung berjalan masuk. Berteriak kencang melihat banyak kuburan.
Dimas dan yang lainnya terdiam melihat Altha dan Aliya berpelukan.
"Dia istri muda Altha?" Yandi tidak bisa melihat jelas wajah Aliya karena penuh pasir.
"Alt bawa Aliya keluar dulu, tempat ini menyeramkan." Dimas menepuk pundak Altha yang langsung mengangkat Aliya.
Tubuh Al masih lemas, hanya bisa diam memeluk Altha yang terus menenangkannya.
Wanita yang ada di bangunan bawah langsung dibawa dan di ikat kuat agar tidak mengamuk. Belum ada yang berani bertanya kepada Aliya melihat kondisinya yang memprihatinkan.
Dimas memberikan air minum, membersikan tubuh Al yang penuh pasir. Pasti sangat menakutkan dikubur hidup-hidup.
"Maafkan Al."
"Apa yang kamu rasakan? kita ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan." Alt memeluk Aliya masih merasakan takut melihat Al ditimbun tanah.
__ADS_1
Kepala Aliya menggeleng, meminta Altha mengeluarkan seluruh orang yang ada di bangunan bawah, mereka layak dimakamkan secara normal.
Meskipun semuanya terlambat, Aliya tidak bisa membiarkan seluruh korban pembantaian hilang tanpa ada nama yang tersisa.
Dimas menghubungi tim Forensik untuk datang dan melakukan identifikasi, kematian seluruh anggota keluarga akan segera dibongkar jika yang membunuhnya orang gila.
Meskipun dia salah satu keluarga yang diasingkan, Al berharap Mama Papanya, juga saudaranya, dan para pekerja mendapatkan tempat yang layak.
Al ingin rumah dihancurkan, dan seluruh lokasi di serahkan sebagai tanah wakaf.
Altha langsung menggendong Aliya, mata Al menatap Tantenya yang sudah sadarkan diri tapi masih terus tertawa, tanpa rasa bersalah.
Al menceritakan semuanya kepada Altha, sungguh hati Aliya hancur melihat tulang belulang ibunya berhamburan.
"Kasihan Mama, dia hidup dan matinya tidak bahagia. Hidupnya tidak dicintai, matinya juga masih disiksa." Al menghela nafas kasar.
"Maafkan aku terlambat lagi, seharusnya kamu tidak harus mengetahui hal yang menakutkan." Alt merangkul, mengusap kepala Aliya.
Dimas tersenyum, jika sedikit saja Altha terlambat tidak bisa dibayangkan nasib Aliya. Baju Al juga banyak sobek karena merayap di dalam terowongan kecil.
"Beristirahat, kita pulang. Biarkan kasus ini diurus pihak kepolisian. Soal Tante kamu akan segera dilarikan ke rumah sakit jiwa." Altha akan memastikan, jika dua puluh dua korban pembantaian akan dimakamkan ulang secara layak.
Dimas mengumpat kasar, apa yang terjadi lima belas tahun yang lalu, karena keserakahan orang tua angkat Aliya.
Dia melakukan suap kepada banyak orang dan mengikuti keinginan orang gila yang memakamkan korban di bangunan bawah tanah.
"Dia anaknya istri muda, mungkin dia mati lebih dulu."
Altha akhirnya paham, kenapa Papa angkat Al ada di rumah yang sudah kosong puluhan tahun, dia sedang mencari putrinya.
Tidak mereka sadari jika manusia yang bekerja sama dengannya seorang psikopat, akhirnya mereka semua dibunuh.
Karena Aliya dan Altha datang lebih cepat, sehingga belum sempat memindah dua korban yang baru meninggal.
"Dunia memang kejam, orang jahat sebenarnya dia orang baik yang tersakiti." Dimas masih merinding saat melihat banyak kuburan.
Aliya memejamkan matanya, langsung muntah-muntah jika mengingat soal jenazah yang membusuk.
Altha diam saja tekena muntah Aliya, masih memeluknya erat agar tenang, dan tidak terlalu memikirkannya.
Sesampainya di rumah Altha langsung menggendong Aliya masuk, Tika yang menyadari Maminya pulang langsung membuka pintu dengan semangat.
"Mami, ini sudah hampir malam. Katanya kita makan siang di luar." Tika langsung melangkah mundur melihat kondisi Aliya.
__ADS_1
"Kenapa Mami?" Juna juga kaget melihat kondisi Maminya.
"Buka pintu kamar Juna." Altha langsung membawa Aliya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tika juga ikutan masuk, melihat Maminya sangat lemas. Wajah, baju dan seluruh tubuh Maminya kotor.
Air mata Tika langsung menetes, menggenggam tangan Aliya yang tersenyum melihatnya.
"Juna, kamu keluar. Biarkan Mami mandi bersama Tika." Al tersenyum melihat Juna melangkah keluar kamar.
Aliya membuka bajunya, meminta bantuan Tika untuk memberikan sabun.
Mata Aliya masih tertutup, dia mengingat jelas ucapan jika dirinya seorang pembunuh. Al tetap pada pendiriannya jika dia bukan seorang pembunuh.
Altha menghubungi dokter, menjelaskan kondisi Aliya.
"Pi, apa yang terjadi kepada Mami?"
"Sulit dijelaskan Juna, kamu tidak akan mengerti." Altha menepuk pundak putranya.
"Lebih baik Papi berminggu-minggu tidak pulang, daripada Papi pulang membawa Mami dalam keadaan seburuk ini." Juna menatap tajam, Altha cukup tersindir dengan teguran putranya.
Pintu kamar mandi terbuka, Atika mengatakan jika Maminya sudah mandi, tetapi tidak bisa berdiri. Kakinya sangat lemas.
Altha langsung masuk, membantu Aliya untuk menutupi tubuhnya dan menggendong keluar.
Tatapan Juna masih tajam, melihat Aliya yang sangat lemas. Dokter tiba langsung mengecek keadaan Aliya dan memasangkan infus.
"Mami Tika sakit, bagaimana ini?" air mata Atika menetes kembali, tidak tega melihat Maminya.
"Juna, Tika maafkan Mami yang tidak menepati janji untuk makan siang bersama." Aliya menatap putra dan putrinya yang tertunduk sedih.
Aliya meminta keduanya mendekat, menjelaskan jika dirinya baik-baik saja. Aliya hanya membutuhkan istirahat, dan akan pulih besok.
"Apa yang terjadi? kenapa tidak ada yang menjawab?"
Al menjelaskan jika dirinya jatuh, dan masuk ke dalam lubang sehingga tubuhnya kotor semua.
Arjuna tidak percaya, langsung melangkah pergi meninggalkan Aliya dan Atika sedangkan Altha masih bicara dengan dokter.
"Mami bodoh ya bisa jatuh dan masuk lubang." Atika mengaruk kepalanya.
***
__ADS_1
done tiga bab
follow Ig Vhiaazara