
Sepanjang perjalanan Tika diam, melihat kearah luar jendela. Pikirannya terasa tenang saat melihat Melly melarikan diri dalam kesulitan. Jika dulu Maminya berjuang untuk menyelamatkan dirinya bahkan berlari mempertaruhkan nyawa sekarang semuanya berbalik.
Hukuman untuk Melly baru dimulai, Tika memang tidak punya hak menghakimi tetapi Tika percaya, hukum alam sangat adil.
"Kamu baik-baik saja?" tatapan mata Genta melihat Tika yang tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
Melihat Tika yang diam membuat Genta khawatir, Atika wanita yang tidak bisa diam, apapun akan menjadi heboh selama ada dirinya. Senyuman Tika bukan sesuatu yang baik, tetapi menakutkan bagi Genta.
"Kenapa kamu tersenyum? terasa aneh,"
Tika menjulurkan lidahnya, mengejek Genta yang merasa canggung dengan sikapnya yang mendadak pendiam. Pukulan Tika kuat menghantam pipi Genta bekas ciuman Rindi, meksipun ditutupi oleh bekasnya.
Suara Genta marah terdengar, meminta Tika duduk diam jangan menjahilinya yang sedang menyetir mobil. Shin yang duduk di belakang hanya bisa tersenyum melihat Genta menahan tawa.
Tika memang wanita periang yang bisa mengubah suasana hati yang awalnya terluka, langsung bisa melupakan sesaat setiap masalah.
Mata Shin tertutup, membiarkan dua A yang berdebat sambil sesekali tertawa kecil. Shin tidak bicara sama sekali memejamkan matanya berharap suatu hari dirinya dan Juna juga bisa tertawa bersama.
"Tik, maaf karena aku gagal menangkap mereka," ucap Genta dengan suara yang teramat lembut hampir tidak terdengar.
Senyuman Tika terlihat, dirinya sangat memaklumi jika disetiap rencana tidak semuanya berhasil. Kegagalan lebih sering terjadi di dalam hidup.
Tika membutuhkan waktu puluhan tahun hanya untuk bisa melihat wajah Melly secara langsung, bukan tanpa alasan karena di dalam hidup harus melalui proses.
"Masalah ini bukan hanya tanggung jawab kamu, meksipun itu memang tugas kamu." Tawa Tika terdengar, menepuk pelan pundak Genta.
Tatapan Genta melihat sentuhan Tika, menghela napasnya berkali-kali. Panggilan ponsel juga tidak didengarkan sampai Tika yang menjawab. Speaker ponsel dihidupkan.
Suara bawahan Genta terdengar, menjelaskan soal kasus yang terjadi di hotel. Bukan hanya ada satu kasus, tetapi lebih dari puluhan kasus pembunuhan yang disembunyikan.
Hotel di jadikan tempat umum, tetapi sebenarnya hotel menjalankan bisnis ilegal sebagai tempat pembunuhan secara diam-diam. Pemilik hotel sudah ditahan, meksipun tidak ingin memberikan keterangan.
Seluruh karyawan hotel sudah diperiksa, dan menyelidiki detail setiap kasus menemui keluarga korban. Semakin diusut maka semakin banyak kasus baru.
"Siapa yang memberikan laporan?" kepala Genta melihat ke arah Tika yang memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Tidak ada yang mengetahui siapa yang memberikan laporan detail, seseorang yang tidak disebutkan namanya dan hanya diketahui sebagai agen rahasia.
Senyuman Genta terlihat, mematikan panggilan mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang memberikan jalan untuk keadilan dan masih mempercayai hukum tanpa menghakimi.
Senyuman Tika juga terlihat meskipun Genta hanya mengatakan untuk agen rahasia, Tika sangat bahagia mendapatkan ucapan tulus dari seorang pria yang dirinya tidak sukai, tapi membuatnya nyaman.
Mobil tiba di rumah sakit, Genta langsung membukakan pintu untuk Shin yang masih terlelap tidur. Tika memperhatikan Genta yang melepaskan jaketnya menutupi tubuh Shin dan menggendong ke dalam rumah sakit.
Arjuna sudah berdiri di depan, Tika sampai bersembunyi takut dengan tatapan mata Kakaknya yang mengerikan.
"Kenapa lagi dia?" Juna melihat tangan Shin yang meneteskan darah.
"Tolong bantu Jun, nanti aku ceritakan." Genta menyerahkan Shin kepada Juna.
Shin yang tidak tidur menyadari jika dirinya digendong oleh Juna, hati Shin rasanya berbunga-bunga ingin terbang ke langit tujuh. Impiannya bisa digendong Juna terkabul, Shin rela tidak membuka matanya.
Tika yang ketakutan memilih pura-pura tidur, Genta membuka pintu menahan kepala Tika yang hampir terjatuh.
"Tik, bangun. Kita sudah sampai."
Mata Tika terbuka, melihat wajah tampan di dekatnya yang matanya sangat indah. Berjalan tenang, seakan-akan tubuh Tika sangat ringan.
Pintu ruangan rawat terbuka, Juna melihat adiknya yang ada dalam gendongan. Berbaring di atas ranjang, kakinya terlihat ada luka yang cukup besar.
"Jun, kakinya Tika mengalami luka cukup dalam." Genta melihat mata Juna yang tajam, mengabaikan Tika memilih mengobati Shin yang lengannya juga terluka cukup parah.
"Juna,"
"Sabar, dia bukan wanita lemah. Dua wanita ini terlalu suka menyakiti diri sendiri." Juna menatap wajah Shin yang sudah membuka matanya.
Tika juga langsung duduk, menatap kesal punggung Kakaknya. Tanpa kelembutan Juna mengobati Shin yang meringis kesakitan membuat Genta khawatir.
"Jun, pelan-pelan." Tangan Genta menahan.
"Jika ingin lembut jangan terluka, satu lagi jangan hubungi aku jika bukan hal yang mendesak." Juna menatap Tika yang cemberut.
__ADS_1
Juna ingin mengobati Tika, tapi ditepis kasar. Kepala Juna geleng-geleng mengusap kepala adiknya yang mudah sekali marah.
"Aku sangat menyayangi kamu Tik, tetapi pernah tidak kamu menyayangi diri sendiri?"
"Pastinya Tika sayang, mempercantik diri juga cara Tika menyayangi diri sendiri." Tika meringis kesakitan, Kakaknya memang laki-laki paling kejam.
"Lalu ini apa? apa ini hanya candaan? apa ini sekedar goresan?" Juna tersenyum melihat adik perempuannya yang hampir menangis menahan sakit.
Genta tersenyum melihat wajah Tika, saat menangis lebih lucu dan menggemaskan. Selain jahil, pemarah, Atika juga lucu saat menangis.
"Kalian berdua, istirahatlah. Kak Gen ikut Juna," ucap Juna sambil menatap Genta.
Kepergian Juna dan Genta membuat Tika kesal, Shin hanya menatap punggung pria yang sangat dicintainya. Impian Shin berada dalam pelukan, bukan hanya sekedar impian namun sudah menjadi kenyataan.
Suara Tika mengomel terdengar, menatap kakinya yang sudah terbalut. Tika menangis memanggil Maminya, tetapi Al tidak menjawab panggilannya.
"Tika, kamu bahagia digendong Kak Genta?"
"Tentu aku bahagia, impian yang indah." Senyuman Tika terlihat, sesaat kemudian langsung terkejut.
Shin tertawa terbahak-bahak, gemes melihat ekspresi Tika yang ketahuan mulai menyukai Genta. Shin gemes ingin mencium pipi sahabatnya yang senyum malu-malu.
"Aku hanya becanda Shin, kamu jangan berpikir berlebihan." Mata Tika melotot, menunjukkan genggaman tangannya yang ingin memukul Shin.
"Jika suka bilang suka, jangan membodohi diri sendiri." Shin melempar Tika menggunakan bantal.
Suara Tika teriak membuat Genta dan Juna masuk terkejut, menatap dua wanita yang lanjut bertengkar habis-habisan.
"Berhenti!" Juna menarik tangan Shin yang sudah menendang Tika.
Rambut Shin juga dijambak-jambak oleh Tika, Genta kesulitan melepaskan jika Juna tidak berteriak marah. Canda Shin dan Tika berakhir menjadi pertengkaran.
"Bagus yang kalian lakukan, ini rumah sakit bukan ring tinju." Arjuna membentak dua wanita yang sudah tidur di ranjang masing-masing.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira