
Di dalam mobil Gemal yang duduk santai, mengunyah makanan sambil joget-joget tidak jelas, tetapi matanya menatap tajam di sekitarnya.
Banyak anggota lain yang juga mengintai, setelah mendapatkan instruksi Gemal langsung keluar dari mobil.
Berjalan dengan santai, misi kali ini membuat Gemal kurang percaya diri sampai berusaha mencari segala cara agar bisa menghilangkan perasaan yang gelisah.
Langka Gemal berhenti di dalam bangunan dua lantai, merasa banyak mata yang memperhatikannya.
"Ada yang tidak beres pengintai malam ini?"
Suara tembakan terdengar, Gemal berhasil menghindar dan langsung berlari dari kejaran.
Panggilan Gemal tidak ada yang merespon, anggota yang dikirim untuk membantunya menghilang.
Berkali-kali Gemal meminta respon, tetap tidak ada yang menangapi.
"Sialan, kalian semua menjebak aku?"
Puluhan orang mengelilingi meminta Gemal angkat tangan dan menurunkan senjata. Terpaksa Gemal angkat tangan sambil tersenyum.
Pukulan bekali-kali menghantam Gemal, tapi dia masih kuat bertahan. Setelah lawan lengah, langsung membalas serangan.
Senyuman Gemal terlihat, seluruh orang terkapar. Gemal langsung melangkah untuk keluar, karena tidak memungkinkan baginya untuk melanjutkan misi.
Belum jauh Gemal melangkah, puluhan orang mendekat, membawa pemukul ingin menghentikan.
"Siapa kalian? niat kalian bukan membunuh tapi menjadikan aku tawanan."
"Kamu cukup pintar, dan sangat kuat."
"Terima kasih pujian, menahan aku tidak akan mudah." Lemparan sebuah kayu melayang, pukulan bertubi-tubi dan membabi buta juga menyerang.
Seseorang merekam pertarungan, kedua tangan Gemal ditahan. Pukulan mendarat di perutnya dan tubuh lainnya.
"Menyerah, kami membutuhkan kamu untuk meminta seseorang datang."
"Katakan dulu siapa?" Senyuman Gemal terlihat, pukulan menghantam wajahnya.
Tatapan tajam, tidak ada yang boleh merusak wajah tanpanya, Gemal tidak terima jika matanya bengkak, giginya patah.
Empat orang yang memegang langsung terlempar, senyuman Gemal terlihat langsung memeluk pria yang memukul wajahnya.
Melihat Gemal marah, tidak ada yang berani maju. Darah keluar dari bibir, Gemal langsung ingin melangkah pergi.
Suara teriakan memanggil nama Gemal terdengar, tanpa banyak berpikir Gemal memilih pergi. Tidak muda seseorang menjebak dirinya dengan mendengarkan suara Mamanya.
__ADS_1
"Gemal, kamu sebaiknya ikut kami secara baik-baik. Jika tidak keluarga taruhannya." Suara kembali terdengar.
Gemal mengerakkan tangannya menggunakan bahasa isyarat, dan pesan Gemal mendapatkan jawaban.
"Ternyata kalian anggota kepolisian, tidak banyak orang yang tahu bahasa ini."
Pintu terbuka, Gemal memberanikan diri melewati orang-orang yang bergeletakan jatuh. Baru satu langkah Gemal masuk, tubuhnya langsung tersungkur.
Seseorang menggunakan tembakan jarum, seketika tubuh Gemal terkulai lemas dan jatuh pingsan.
Beberapa orang langsung membawanya ke dalam, memasukkan ke dalam ruangan yang cukup luas langsung mengikatnya.
"Anak satu ini masih ada lengah juga, kepekaan semakin tajam." Pukulan kuat menghantam wajah sampai darah keluar dari hidung dan diambil foto.
Suara tawa terdengar puas melihat Gemal tidak berdaya, apalagi melihat kemampuan bela dirinya yang sangat tinggi.
***
Diana melangkah keluar rumah sakit dengan wajah kesal, janji makan malam dibatalkan oleh Gemal karena ada pekerjaan.
Di yang mempercepat kerjanya agar bisa bertemu, tapi hasilnya mendapatkan rasa kecewa.
Ponsel Diana berbunyi, melihat nomor baru mengirim foto dan video. Ada nama by Gemal. Di tersenyum melihat Gemal masih menyempatkan waktu mengirimkan foto ditengah kesibukannya.
"Ada berapa nomor sampai menggunakan nomor baru ... Diana terdiam melihat isi ponselnya yang menghacurkan hatinya.
Di tidak bisa berpikir lagi langsung panik, masuk ke dalam mobilnya. Alamat keberadaan Gemal dikirim dan ada ancaman jika Diana harus datang sendirian.
Air mata Diana langsung menetes, merasakan dadanya sesak melihat Gemal penuh darah sambil membawa anak kecil.
Perasaan Diana sudah gelisah, dan takut. Sekarang perasaannya terjawab jika ada yang tidak suka melihat mereka bahagia.
Di menghubungi Aliya yang langsung menjawab panggilannya, Diana menangis tidak bisa berbicara. Al binggung jika Di terus menangis tanpa mengatakan apapun.
[Bicara pelan-pelan, jangan menangis.]
Diana mengatakan kondisi Gemal, dan dia mendapatkan ancaman harus datang ke suatu tempat.
Di binggung harus menghubungi siapa, jika Daddy-nya pasti marah besar, apalagi jika Papanya Gemal tahu.
Diana takut jika hubungan mereka akan berantakan, jika sampai Calvin turun tangan. Suara tangisan Diana semakin kuat.
[Jika kamu takut jangan pergi, aku yang akan membantu Gemal, tapi jika berani datang. Jangan gunakan senjata, karena kita tidak menginginkan nyawa, tetapi Gemal kembali dalam keadaan baik. Al akan segera meminta bantuan.] Aliya mematikan panggilan, meminta Diana mengirim lokasi.
Diana langsung mematikan ponselnya, dia tidak ingin melibatkan keluarganya apalagi sampai ada yang terluka.
__ADS_1
Mobil Diana melaju dengan kecepatan tinggi, langsung masuk ke jalanan yang jauh dari keramaian. Di mengetahui jika banyak yang mengintainya.
Apapun yang terjadi Diana tidak takut, jika sampai menyakiti Gemal maka mereka akan melihat betapa gilanya dirinya.
Mobil tiba di lokasi, Diana langsung keluar ada beberapa orang sudah menunggunya. Di tersenyum sinis mengangkat tangannya.
"Di mana dia?"
"Jangan melawan, jika kamu ingin dia hidup."
"Pikirkan saja nyawa kalian, mungkin saja beberapa menit kemudian akan hilang." Di berjalan masuk dan melihat banyak orang yang mengelilingi Gemal.
Diana memgeggam tangannya, air satu ember menyiram wajah Gemal dan perlahan mulai sadar membuka matanya sambil mual hampir muntah.
Kepala Gemal terangkat, menatap Diana tangan sudah berdiri dengan ekspresi penuh kemarahan.
"Bodoh, kenapa kamu ke sini? aku bisa menyelematkan diri sendiri." Gemal menutup matanya.
Kursi ditendang, Diana langsung melangkah mendekati Gemal melepaskan ikatan tubuhnya langsung memeluk Gemal erat.
"Kenapa kamu datang? cepat pulang."
"Kita pulang sama-sama, ayo bangun." Di menarik tangan Gemal untuk berdiri.
Di mempertanyakan apa yang orang inginkan dari dirinya, selama ini Diana tidak terlibat masalah dengan siapapun.
Jika memang orang dari masa lalu, Di meminta keluar untuk berbicara dengannya menyelesaikan masalah.
"Siapa kalian?"
"Mereka mungkin musuh aku Di, karena tahu keluargaku ada di sini." Gemal berbisik pelan.
Diana menyuntik sesuatu kepada Gemal, Diana hanya memberikan waktu lima belas menit untuk bertemu, jika tidak Diana akan memaksa untuk keluar.
"Kamu tidak sehebat dulu Diana?"
"Ya kalian benar, jika aku Alina kalian tidak mungkin punya kesempatan untuk berbicara."
Suara langkah kaki terdengar dari belakang, Diana dan Gemal menoleh bersamaan. Dua suntikan langsung menangkap pundak Diana dan Gemal.
Tubuh keduanya langsung ambruk, Diana langsung tertawa, obat yang disuntikkan tidak bisa melumpuhkannya.
"Pengecut, hanya berani menggunakan topeng, apa wajah kamu buruk rupa?" Di menggenggam tangan Gemal yang berusaha untuk bangkit.
Tendangan berputar Diana lakukan, wanita di depannya langsung jatuh telentang. Kaki Diana sudah menginjak dada, tidak memberikan kesempatan bergerak.
__ADS_1
***
maafkan TYPE up hari ini belum revisi