ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BABY


__ADS_3

Suara Anggun berteriak kesenangan terdengar, dia sangat bersemangat saat melihat Tika datang bersama Aliya membawa buah mangga muda, juga rujak buah.


Al langsung mengupas mangga, meminta Anggun makan perlahan karena tidak ada yang akan mencurinya.


"Masam ya Aunty?" Tika menatap Anggun yang makan dengan lahap.


"Manis, ini enak sekali." Senyuman Anggun terlihat mengucapkan terima kasih.


Aliya mengusap perut Anggun yang sudah mulai terlihat, meminta Anggun berhati-hati dalam banyak hal.


"Aku cukup santai Al, apalagi jika Dimas tidak pulang. Dia mandiri jika Daddy-nya bekerja, tapi jika Daddy-nya di rumah banyak sekali ulahnya." Suara Anggun putus-putus karena masih mengunyah makanannya.


"Aunty mengidam, doyan atau rakus." Tika menggelengkan kepalanya.


"Iya maaf." Anggun meminta Aliya menunggunya sebentar untuk mengambil tas dan pergi ke dokter bersama-sama.


Aliya, Juna, Tika dan Anggun sudah berada di mobil untuk segera berangkat ke rumah sakit. Aliya sudah meminta dokter merahasiakan jenis kelamin anaknya agar tidak membuat kecewa.


Juna dan Tika juga sepakat untuk menunggu adik mereka lahir baru mengetahui jenis kelamin, apapun hasil akhir mereka akan saling menyayangi.


Anggun melakukan hal yang sama, Diana menginginkan adik perempuan dan tidak pernah fokus kuliah, selalu ingin pulang saat tahu Mommynya hamil.


Sesampainya di rumah sakit, Anggun dan Al langsung masuk bersama-sama. Diikuti oleh Tika dan Juna yang rutin tiap bulan menjadi pengawal.


"Selamat siang Aliya dan Anggun, bagiamana perkembangan para baby?" Senyuman dokter Salsa terlihat sangat baik melihat dua ibu hamil yang diikuti satu gadis lucu, dan pria tampan.


"Baik Dok." Al dan Anggun menjawab bersamaan.


Aliya langsung membicarakan apa yang dia rasakan, dan banyaknya pergerakan yang membuat Al semakin sulit tidur.


Dokter tersenyum langsung mengecek kandungan Al, Juna dan Tika langsung mendekat melihat adiknya.


Senyuman dokter terlihat, tapi tidak ingin memberitahu sesuai keinginan Aliya. Dokter hanya menjelaskan kondisi bayi yang sangat baik dan ukuran sesuai usia.


"Wow, ini kepala adiknya Tika?" tatapan Tika sedih melihat adiknya kecil sekali, pasti sempit di dalam perut Maminya.


"Kepalanya ada dua, berarti adiknya Juna kembar?" Arjuna menatap dokter Salsa yang terkejut mendengar pertanyaan Juna.


Aliya langsung menatap layar, Anggun juga langsung berdiri melihat ke arah pandang Arjuna.

__ADS_1


Dokter Salsa tidak memberikan jawaban, tetapi dia kagum dengan Arjuna yang masih kecil tetapi sangat cerdas.


Aliya akhirnya menjadi penasaran, meminta dokter Salsa membocorkan sedikit soal anaknya.


"Benar dok mereka twin?" Al menatap masih tidak percaya.


"Emh ... dia sehat, perkembangan baik. Bukannya apa yang kamu inginkan merahasiakannya?" suara tawa terdengar dari dokter yang menangani Al.


"Bocorkan sedikit saja." Al memohon membuat tawa dokter semakin menjadi karena Aliya terlihat lucu.


Dokter Salsa membenarkan ucapan Juna, menjelaskan jika kemungkinan besar Aliya mengandung baby twins.


Juna tersenyum mengusap dua adiknya yang ada di layar, menunjukkan posisi kepala adiknya yang terlihat dua.


Ukuran bayi lebih kecil, karena ada dua bayi yang berbagi tempat untuk bertahan di dalam rahim.


"Wanita memang sempurna, ada dua calon bayi yang berada di dalam rahim seorang ibu yang sangat kecil." Juna tersenyum melihat Maminya menyentuh perut Al yang besar.


Senyuman kebahagiaan terlihat dari wajah Juna, dia sangat bahagia karena langsung mendapatkan dua adik.


"Seandainya keduanya perempuan bagaimana Juna?" Anggun menatap Arjuna yang terlihat binggung.


Melihat kedua adiknya bertahan dan berbagi kehidupan di dalam rahim membuat Juna tidak sabar menanti lahir, agar bisa membantu membesarkan adiknya.


Dokter Salsa meminta Al terus kontrol, karena hamil kembar cukup beresiko sehingga Altha juga harus mengetahuinya dan mengambil tindakan terbaik.


Aliya hanya menganggukkan kepalanya, meminta Anggun segera memeriksa kandungannya.


Juna dan Tika juga tersenyum bahagia, melakukan panggilan bersama Diana yang terus merengek ingin pulang agar bisa melihat adiknya.


"Kandungan kamu baik Anggun, jangan terlalu banyak pikiran." Salsa meminta Anggun lebih berhati-hati, karena kandungan masih rawan.


"Aunty Anggun banyak beban pikiran karena kak Di, dia ingin cuti keluar dan terus merengek meminta pulang." Tika memarahi Diana agar tidak membuat Mommy Anggun banyak pikiran.


Aliya menggenggam tangan Anggun untuk menjaga kandungan mereka bersama-sama, tidak memikirkan apapun yang bisa merusak kebahagiaan mereka.


Salsa hanya terdiam melihat wajah Anggun yang menatap Aliya, hanya memberikan senyuman lembut.


"Al, bisa kita bicara bertiga. Ini pembicaraan di luar kandungan kalian?" Salsa menatap dua bumil yang saling pandang.

__ADS_1


Tatapan Aliya melihat Juna dan Tika, meminta keduanya menunggu di luar, karena ada pembicaraan orang dewasa yang tidak boleh keduanya dengarkan.


Salsa duduk santai bukan sebagai dokter kandungan Aliya dan Anggun, tapi seseorang yang saling mengenal meksipun tidak dekat.


"Anggun, aku tahu kamu memikirkan soal kasus Citra sehingga menganggu kehamilan kamu." Senyuman Salsa terlihat menatap keterkejutan Anggun.


"Ada apa lagi kak Anggun?" Al menatap tajam meminta penjelasan.


"Bagaimana kamu bisa mengenal Citra? salah tidak jika aku berpikir kamu memiliki rencana buruk terhadap anak kami?" Anggun menatap tajam Salsa, bahkan suaranya langsung meninggi.


Kepala Salsa menggeleng, Anggun salah paham. Dirinya tidak pernah mencampurkan pekerjaan dan urusan pribadi.


Aliya memukul meja, langsung menarik kerah baju Salsa. Tatapan Aliya langsung gelap, dan mengancam Salsa.


"Aku bisa membunuh kamu dengan mudah, jangan macam-macam jika kamu tidak ingin terluka." Al bicara sangat dingin juga penuh amarah.


"Astaghfirullah Al azim, kalian berdua salah paham." Salsa meminta Aliya dan Anggun tenang.


Secara perlahan Anggun mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Citra, dan tidak ada maksud jelek sama sekali.


Salsa hanya menyelamatkan Citra yang berada di hutan, langsung membawanya kembali dan mengobati sampai pulih kembali.


Sejak awal Salsa sudah tahu jika Citra seorang buronan, dan hanya melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang dokter.


Salsa juga tahu saat Citra menyerahkan diri, bisa melihat ketulusan dan penyesalan dari tatapan mata yang terlihat rapuh.


"Aku tahu kalian berdua wanita baik, dan aku meminta maaf jika membuat tidak nyaman. Demi Allah demi sumpah sebagai dokter, aku tidak punya niat jahat." Salsa menetes air matanya menceritakan penderitaan Citra.


"Ada apa dengan Citra? masalah apa lagi yang dia perbuat sampai kak Anggun memikirkannya?" Al menghela nafasnya, emosi hal mulai naik.


"Anggun mungkin sudah tahu, tapi jika boleh aku harap kebesaran hati kalian menemuinya." Salsa mengizinkan Aliya segera pulang.


Al berdiri dan membanting kursi, Al tidak bisa mengizinkan anak-anaknya bertemu dengan Citra, apalagi jika Altha tahu pasti marah besar.


***


follow Ig Vhiaazara


jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


__ADS_2