
Diana turun dari motor langsung melangkah melihat matahari yang tidak terlihat keberadaannya.
Gemal melihat langit yang mendadak mendung, cuaca saja tidak mendukung hubungan mereka sama sekali.
Kepala Gemal tertunduk, duduk di atas motor menarik nafas panjang. Diana hanya duduk diam di pinggir jalan melihat langit mendung yang mulai gelap.
"Gem, cuaca yang awalnya cerah mendadak mendung dan mulai gelap. Seperti kita tidak akan pernah memiliki waktu untuk melihat matahari terbenam." Senyuman Diana terlihat, menatap wajah Gemal yang tidak bersemangat lagi.
"Maafkan aku Diana." Gemal melangkah, duduk di samping Di yang masih tersenyum manis.
Diana mengerti, jika mereka tidak akan bertemu lagi. Keputusan Gemal sudah tepat, dan mereka harus berjalan masing-masing ke arah yang berbeda.
"Di ... jujur aku ingin tetap tinggal, tapi ...." Gemal berat menyatakan perasaannya.
Di menganggukkan kepalanya, dia tahu perasaan Gemal nyaman bersamanya dan Diana tidak memungkiri jika dia juga memiliki rasa yang sama.
Pertemuan tanpa kesengajaan, akhirnya menjadikan keduanya dekat, dan saling mensupport di setiap masalah.
"Pergilah Gemal, aku harap kali ini kamu benar-benar bahagia, semestinya harus bahagia." Mata Diana melihat wajah kaget Gemal yang tidak bisa menjawab.
"Aku tidak akan kembali Di, mungkin selamanya." Gemal memejamkan matanya, langsung memeluk erat tubuh Diana.
Diana juga langsung memeluk erat, sekuat mungkin Diana menahan air matanya mendengar Gemal memutuskan tidak akan pernah kembali.
"Jangan pernah menunggu aku pulang, kamu harus menemukan kebahagiaan juga." Tangan Gemal, mengusap kepala Diana.
"Iya, aku tidak akan menunggu. Kamu juga harus menemukan kebahagiaan." Kepala Diana mengangguk, membiarkan air matanya menetes.
Pelukan keduanya terlepas, Gemal mengusap wajah Diana. Menghapus air matanya, melarang Diana untuk menangisinya.
"Terima kasih, kamu bisa membuat hidup aku yang sepi terasa bahagia. Aku bahagia mengenal kamu Diana, tapi kita tidak bisa bersama." Air mata Gemal juga menetes, sakit sekali perasaannya.
Tangan Di mengusap wajah lelaki dihadapannya, Diana meminta Gemal menjadi lelaki yang dewasa dan tidak pecicilan.
Perasaan yang Diana miliki bukan cinta, tapi hanya perasaan nyaman. Gemal sama ragu dengan perasaannya, hubungan keduanya hanya rasa nyaman, karena selalu bersama.
Gemal langsung berdiri, mengulurkan tangannya menyambut tangan Diana agar berdiri. Mereka harus kembali sebelum hujan lebat.
"Gemal, boleh aku memeluk kamu terakhir kalinya." Di mengantungkan tangannya dileher.
Diana meminta Gemal melupakannya, saat dia pergi berakhir juga hubungan mereka. Di tidak ingin Gemal menghubunginya lagi, tidak ingin tahu kabarnya dan meminta keduanya menganggap tidak saling mengenal.
__ADS_1
Gemal mengerutkan keningnya, Diana terlihat serius memutuskan untuk tidak saling mengenal.
"Bagaimana jika suatu hari kita bertemu lagi di negara yang berbeda?"
"Aku tidak mengenal kamu, dan tidak ada pertemuan kedua." Di tersenyum, meminta Gemal berhentilah bersikap serius.
Sejak awal mereka hanya dua orang yang tidak akur, terlibat masalah karena ada di masalah yang sama.
"Di, mungkin saat ini kita tidak mengerti perasaan masing-masing, tapi mungkin ...."
"Tidak ada kata mungkin Gem, aku tidak ingin mengenal kamu lagi. Menikahlah dengan wanita pilihan kamu, dan aku akan menikah dengan lelaki pilihanku." Di tersenyum, memohon agar mereka berpisah secara baik-baik.
Gemal menghembuskan nafasnya, menganggukkan kepalanya. Mereka akan mengakhiri hubungan yang memang sejak awal tidak terikat apapun.
"Selamat tinggal Gemal, ini menjadi hari terakhir kita." Tangan Diana mengulur, menjabat tangan Gemal.
"Selamat tinggal Diana, saat matahari terbit kita dua orang yang tidak saling mengenal. Terima kasih untuk kebaikan, dan kebahagiaan yang sementara." Cengkraman Gemal kuat sambil tersenyum.
Suara tawa Diana terdengar, meminta Gemal duduk di belakang. Sama seperti saat pertama mereka bersama, diawali dengan kekacauan, tapi akan mereka akhirnya dengan kebahagiaan.
"Ayo kita menjelajahi jalan malam ini."
Di menganggukkan kepalanya, melajukan motor untuk kembali. Gemal memejamkan matanya saat melewati jalanan turunan, Diana juga melepaskan tangannya tertawa melihat Gemal teriaka histeris.
Hujan turun dengan lebatnya, tangan Gemal melindungi wajah Di. Sepanjang perjalanan tidak ada tempat berlindung.
"Di berhenti di sana." Gemal menatap sebuah ruko kecil yang sudah tutup, Diana langsung menghentikan motor.
Keduanya berlari untuk berteduh, Gemal melepaskan jaketnya menutupi tubuh Diana yang basah.
Beberapa pengendara lain juga berteduh, beberapa anak muda memeluk kekasihnya yang kedinginan.
Gemal berdiri di belakang Diana, memeluknya dari belakang dengan erat menatap hujan yang turun semakin lebat.
"Masih dingin?"
"Emh, tapi sepertinya ini nyaman."
"Jangan pernah naik motor lagi, dan terkena hujan." Pelukan Gemal semakin erat, mungkin setelah ini dia akan membenci hujan.
Hujan tidak juga reda, Diana semakin kedinginan dan meminta Gemal untuk pulang karena sampai tengah malam hujan tidak akan reda.
__ADS_1
Terpaksa Gemal mengendarai motornya di bawah hujan, membiarkan Diana memeluk pinggangnya erat.
Sampai di rumah Diana juga sudah malam, di langsung turun dan berlari tanpa mengatakan apapun kepada Gemal. Tidak membalik badannya, membiarkan Gemal sendirian di bawah hujan.
"Kebersamaan kita akhirnya benar-benar berakhir, dan inilah akhirnya. Kita berpisah dan mengubur dalam-dalam perasaan. Selamat tinggal Diana, aku akan pergi." Gemal masih berdiam diri menatap kediaman Diana.
Di dalam kamarnya Diana langsung memeluk tubuhnya, menangis sesenggukan karena harus berakhir dengan perpisahan.
Pintu kamar Diana diketuk, Dimas melangkah masuk melihat putrinya menangis. Dimas membuka gorden kamar Diana, menatap Gemal yang masih ada di jalan sambil basah kuyup.
"Daddy." Diana langsung memeluk erat, meminta maaf jika dirinya harus menangisi seorang lelaki.
"Kamu sudah memutuskan yang tepat sayang, jangan halangi Gemal. Lepaskan dia dengan kehidupan barunya, meksipun kalian harus saling menyakiti." Dimas memeluk erat, mengusap kepala putrinya yang menangis hancur.
Sudah hampir subuh, Diana sudah ganti baju dan tertidur setelah puas menangis. Anggun memeluk putrinya yang pertama kalinya menangis lepas.
Dimas masih melihat Gemal yang belum juga pulang memutuskan untuk menemuinya karena kasihan terkena hujan.
"Berapa lama lagi kamu di sini?" Dimas memayungi Gemal yang matanya merah.
"Sebentar lagi pak."
"Pulanglah Gemal, jangan sakiti diri kamu. Jadilah Gemal yang kuat di jalan kebaikan, saya akan bangga sama kamu jika menjadi seseorang yang berhasil." Dimas langsung melangkah pergi meninggalkan Gemal yang masih menetes air matanya.
Kepala Dimas tertunduk, mendengar suara motor dan melihat Gemal sudah melaju pergi. Anak muda yang Dimas ajarkan banyak hal memutuskan pergi dan tidak akan kembali.
***
Senyuman Gemal terlihat, menatap makam ibunya. Mengirimkan doa dan ucapan terima kasih.
Kedua orang tua Gemal juga berziarah sebelum mereka ke bandara, pertemuan pertama dan terakhir.
"Ayo kita pergi Gem."
"Gemal pergi Bu, selamat tinggal." Gemal merangkul Mamanya.
Nenek dan kakek Gemal sudah menunggu di bandara, keluarga Leondra akhirnya pergi dan akan kembali ke negara mereka bersama putra mereka yang hilang.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1