
Suara air terdengar, Tika tetap melangkah masuk melihat Shin yang berendam di dalam bathtub.
Kenapa tiba-tiba marah? kamu tidak seperti biasanya? jika ada masalah cerita?" Tika duduk menggenggam tangan Shin.
Atika memang bukan teman yang peka, tidak bisa memahami perasaan Shin jika sedang sedih, bahagia ataupun terluka. Tika hanya bisa menjadi teman yang selalu ada.
Shin selalu memahami dirinya, tahu yang terbaik bagi Tika. Hal yang sama juga ingin Tika lakukan.
"Dari dulu aku tidak bisa memahami kamu, tapi aku akan selalu mendukung kamu dalam hal apapun. Kita sahabat Shin, masalah kamu juga masalah aku. Ayo cerita,"
Kepala Shin menggeleng, dia hanya secara tiba-tiba saja terbawa emosi. Shin tidak bermaksud menyinggung Diana.
"Shin tahu bagaimana perjuangan mempertahankan Isel saat dalam kandungan, Shin hanya terbawa suasana saja." Wajah Shin ditenggelamkan ke dalam air.
"Ya sudah, kamu istirahat. Tika pulang dulu, besok pagi kita ke kantor bersama-sama ada meeting penting." Tika melangkah keluar, dia tahu ada perasaan sedih dari suara Shin.
Ada hari yang tidak kita mengerti membuat suasana hati mendadak jelek, kecewa juga merasa kesal. Meskipun tidak marah kepada siapapun, hati merasa ada rasa yang tidak nyaman.
"Kamu ingin menjadi Isel yang dikhawatirkan banyak orang, ingin juga menjadi Ria yang selalu dimanja, tapi aku ingin menjadi kamu Shin yang selalu kuat dalam hal apapun. Shin yang aku kenal, dia yang mampu mengendalikan dirinya. Kita bicara lagi besok." Tika menutup pintu kembali bergegas pulang.
Suara Shin memukuli air terdengar, bergegas meyelesaikan mandinya untuk tidur. Tubuhnya lelah membutuhkan istirahat, seharusnya dia tidak bangun sampai tiga hari berturut-turut.
Mata Shin terpejam, mimpi buruk saat dirinya disakiti hadir kembali. Saat Papinya menendangnya sampai jatuh dari tangga, Shin menangis memegang tangannya yang membengkok.
Bukan diobati, tangan Shin ditarik kuat di bawa ke dalam bathtub ditenggelamkan sampai tidak bisa bernapas lagi.
Setelah menyiksanya, Papinya pergi. Shin terbangun dari pingsan tanpa ada satupun orang yang memindahkannya dari dalam kamar mandi.
Air mata Shin menetes, terbangun dari tidurnya. Kedua tangan Shin mengusap air matanya, berusaha tersenyum menguatkan jika semua hanyalah masa lalu.
Masih teringat jelas, Shin berjalan tertatih memegang tangannya berusaha mencari obat untuk dirinya sendiri, padahal saat itu Shin masih seumuran Isel.
"Kenapa tiba-tiba Papi muncul? apa ini pertanda dia akan kembali," Shin menghela napasnya, berharap tidak akan bertemu lagi.
***
Pagi-pagi Diana sudah mengetuk kamar Shin, perasaan masih tidak nyaman melihat Shin marah.
"Ada Di?"
"Shin tidak ada di kamarnya Ma,"
__ADS_1
Mam Jes dan Diana menuruni tangga, melihat di meja makan semuanya sudah berkumpul untuk sarapan.
"Di mana Shin?" Di mencoba menghubunginya.
"Biarkan saja Di, dia ada di restorannya. Shin pergi saat dini hari." Papa Calvin sudah mengizinkan Shin untuk menenangkan pikirannya.
Dia tidak marah dengan Diana dan merasa bersalah juga, tapi secara tiba-tiba perasaan Shin tidak enak. Dia juga bermimpi Papinya saat melakukan kekerasan.
"Ini salah Diana yang terlalu mengkhawatirkan Isel,"
"Di, biarkan saja jangan merasa bersalah. Shin akan pulang saat hatinya membaik."
"Iya jika bisa Pa, Diana hanya ingin meminta maaf,"
Papa Calvin tersenyum, tidak memahami Putri bungsunya dan juga menantunya. Diana dan Shin dua orang yang sama, tapi hidup di masa yang berbeda.
Seharusnya keduanya saling memahami satu sama lain karena tahu rasanya memiliki luka. Saat Shin ingin pergi dia ingin izin dengan Diana dan Gemal, tapi mendengar suara Isel yang tidak bisa tidur meringis kesakitan. Akhirnya Shin menemui Calvin.
"Kenapa Shin tidak menemui Genta Pa?"
"Kenapa dia harus menemui kamu?" Papa Calvin melihat Diana yang masih menundukkan kepalanya.
Setelah semuanya sarapan, Diana memutuskan ikut mobil Genta yang searah ke restoran. Gemal mengantar kedua anaknya sekolah, sedangkan Isel masih tidur tinggal bersama Mam Jes.
Mobil Genta meninggalkan perumahan, Diana meminta berhenti sebentar membeli makanan kesukaan Shin jika pagi-pagi.
"Gen, maafkan Kak Di. Kamu jangan salah paham,"
"Kenapa Kak Diana bicara seperti itu?" senyuman Genta terlihat, dia tidak ingin ikut campur masalah wanita.
Genta sangat mengenal Di, tidak pernah seorang Diana menyalahkan orang lain. Seorang Ibu mengkhawatirkan anak sesuatu yang wajar, dan Diana salah satu ibu yang normal.
"Semoga cepat baikan, Genta pamit pergi kerja." Tawa Genta terdengar menyemangati Diana.
"Kamu membuat deg-degan, kalau Shin melempar Kak Di menggunakan teflon bahaya juga." Diana juga tertawa melihat Genta.
Perasaan Di deg-degan, restoran juga belum buka terlihat sekali masih sepi. Di melangkah masuk setelah melihat mobil Shin terparkir.
"Assalamualaikum Shin,"
"Waalaikum salam Kak." Shin mengerutkan keningnya melihat kemunculan Diana.
__ADS_1
"Sarapan dulu, Kak Di sudah membelikan makanan kesukaan kamu." Di meletakkan di atas meja.
Senyuman Shin terlihat, mengucapakan terima kasih. Mengambil makanan dari Diana, meletakkan di dalam piring.
"Shin, maafkan Kak Di. Kamu jangan tersinggung, Kak Di tahu rasanya diposisi kamu."
"Jangan minta maaf Kak, Shin yang bersikap kasar,"
Senyuman Diana terlihat, memeluk Shin yang juga memeluknya. Usapan Di lembut di kepala Shin, mungkin tidak ada yang memahami isi hati seseorang yang memiliki trauma. Diana juga pernah ada di posisi menyakitkan dan tidak ingin Shin mengambil langkah salah seperti Di.
"Kamu membuat kue untuk siapa?" Diana menatap kue yang sedang dihias.
"Jangan kepo." Di tertawa menghabiskan makanannya, baru melanjutkan kembali membuat kue yang sangat cantik.
Diana tidak paham tangan Shin sangat luar biasa, selain bisa membuat makanan enak juga bisa membuat kue yang luar biasa cantiknya.
Shin sedang membuat kejutan untuk seseorang, dan sudah pasti menjadi kue yang sudah puluhan tahun dinantikan.
"Kamu tidak sedang berencana membuat masalah?"
"Tidak, ini membuat bahagia bukan masalah." Di memulai kembali pekerjaannya.
Kepala Diana menggeleng, dia yakin rencana apapun yang Shin rencanakan pasti menjadi masalah.
"Kak, semalam Shin bermimpi. Papi memukuli Shin, pertanda buruk apa ya kak?"
"Mimpi hanya bunga tidur, jangan dipikirkan." Di mengerti alasan Shin sensitif, dia merasakan ada hal yang akan terjadi.
"Rasanya seperti baru terjadi,"
"Kamu harus berhati-hati, jangan pergi sendirian. Jika perasaan sedang tidak enak, perbanyak sholat meminta perlindungan." Di juga merasa khawatir jika Shin memiliki firasat buruk.
"Papi kemungkinan kembali,"
"Jangan panggil dia Papi, kamu hanya mempunyai Papa,"
Tawa Shin terdengar, meralat ucapannya yang salah memanggil.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1