
Pesawat landing di bandara karena terjadi beberapa kasus yang menghebohkan seisi pesawat sehingga harus dihentikan.
Beberapa orang yang diperkirakan ******* berada di dalam pesawat, satu orang meninggal dan tiga lainnya terluka.
Tatapan mata Shin tajam melihat ke arah Tika untuk keluar cepat, terutama membawa Rindi yang dijadikan target. Satu tangan Shin memegang belati kecil yang berhasil di dapatkan dari pelaku yang berhasil menghindar.
Atika turun, menarik tangan Rindi secara paksa. Genta mengandeng Shin yang mengikuti dari belakang.
"Juna, bagaimana hasilnya?"
"Kita harus menunggu sekitar tiga puluh menit, dan belum tentu bisa pergi dengan aman." Juna menatap Rindi yang terlihat sangat gelisah.
Tangan Rindi menarik Tika untuk meninggalkan, ada beberapa orang yang ingin membawanya pergi. Jika terus bertahan, mungkin banyak orang yang akan terluka.
"Kamu mengenali tempat ini?" Shin menatap mata Rindi yang ragu untuk bicara.
"Bicaralah agar kita dapat solusi," ucap Tika lembut.
Rindi mengatakan beberapa posisi kamera yang aktif, juga kemungkinan besar posisi orang-orang yang mengincarnya. Atika mengambil ponsel mematikan area yang Rindi katakan.
"Mereka mengawasi kita melalui rekaman,"
"Selama ada Tika, tidak ada rekaman yang bisa melihat kita." Senyuman Tika terlihat meminta Rindi menunjukan jalan simpang empat yang bisa membingungkan.
Cara bicara Rindi langsung berubah, hanya Genta yang bisa memahami ucapannya. Genta berjalan beriringan bersama Rindi sambil tertawa untuk mengalihkan, Tika dan Shin memperhatikan sekitar hanya Juna yang berjalan sambil menunduk menghubungi seseorang.
Langka kelima orang berhenti di simpang empat, semuanya berdiri diam beberapa menit sampai Genta memberikan instruksi untuk kembali ke jalan awal.
Rindi berlari kencang, begitupun dengan Tika dan Shin yang melangkah melewati beberapa orang.
"Ke sini," Juna berjalan lebih dulu.
Berhasil lolos dari pengawasan bukan berarti kondisi aman, banyak orang-orang dengan banyak profesi lewat.
Tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata, jarak berjalan juga dibatasi. Juna berjalan paling depan, Tika berada di belakangnya untuk menghentikan beberapa menit rekaman CCTV.
"Itu pesawat kita." Juna berjalan lebih dulu, berpapasan dengan seorang Dokter yang juga melewati Rindi.
"Kalian baik-baik saja?" Hendrik tersenyum menatap adik-adiknya.
__ADS_1
"Baik Kak ...." Tika menahan tubuh Rindi yang hampir tumbang, mulutnya mengeluarkan busa seperti keracunan.
Semua mata melihat ke arah Juna yang langsung menggendong Rindi ke tempat yang lebih luas, pesawat sudah terbang sesuai instruksi Hendrik.
"Ayang," senyuman Rindi terlihat lebar menatap Hendrik.
"Siapa dia? kenapa tatapan matanya?"
"Orang gila," jawab serempak Tika, Shin, Genta dan Juna.
Suara tawa Hendrik terdengar, merasa lucu dengan lelucon adik-adiknya yang bisa kompak. Melihat ekspresi wajah serius dari keempatnya, Hendrik mengerutkan keningnya.
"Dia gila?" Hendrik tersenyum melihat tiga kepala mengangguk selain Juna yang sudah melakukan pertolongan pertama.
Melihat kondisi Rindi yang masih saja muntah, Hendrik ke arah ruangannya untuk mengambil darah sekaligus menahan gejala.
Suntikan yang diberikan cukup menenangkan, Rindi dipasang infus dan batuan pernapasan.
Di dalam ruangannya, Hendrik mengecek darah Rindi bersama Juna dan Genta yang ikut memperhatikan.
"Kenapa Kakak bisa ada di sini?" Genta menatap punggung Dokter yang terlihat sangat dingin sejak pertama bertemu.
Secara tiba-tiba Juna juga meminta bantuan yang bisa dibilang kebetulan. Hendrik tidak terbiasa bergaul dengan banyak orang sehingga selalu menggunakan pesawat pribadi bersama timnya.
"Salah satu Dokter yang keluar dari sini yang mencelakai Rindi." Genta meminta laporan dan identitasnya.
"Tidak ada Dokter selain aku di sini, aku tidak mungkin melibatkan orang lain. Hanya ada pilot dan co-pilot pribadi keluarga Leondra yang pergi bersama Kak Hendrik." Tatapan Hendrik kembali kepada darah.
Juna melipat tangannya di dada, merasa tidak yakin Rindi bisa bertahan hingga mereka landing. Suntikan berisikan racun berbahaya, dan sangat mematikan.
"Aku pernah meminum jenis racun ini, dan masih hidup sampai sekarang. Bahkan sampai tua." Hendrik mengambil hasil laporan.
Juna dan Genta tidak menanggapi candaan Hendrik, seorang Dokter disaat bercanda kepada Tim berarti dalam kondisi darurat.
"Kenapa kalian berdua tegang? santai saja. Bisa kalian berdua keluar." Hendrik bicara dengan nada dingin, Juna dan Genta tidak menunggu dua kali karena yang mereka tunggu memang diusir dari ruangan Hendrik.
Di dalam ruang perawatan Rindi, kondisi Shin juga tidak baik karena mengalami luka. Atika belum menyadari jika Shin juga terluka.
"Bagaimana kondisi perempuan gila ini? setidaknya dia menyelamatkan kita." Tika berdiri menatap Juna dan Genta yang memilih diam.
__ADS_1
"Tik, aku ke toilet dulu." Shin berjalan pergi ke arah ruangan Hendrik, ketukan pelan terdengar.
Melihat kemunculan Shin, membuat Hendrik aneh. Dia tidak terbiasa beradaptasi dengan perempuan lain selain Mam Jes dan Diana.
"Kak, tolong obati Shin. Ini luka juga beracun dan bisa membuat aku kehilangan tangan, berarti mati." Air mata Shin menetes, meminta Hendrik mengecek karena tidak kuat lagi bertahan.
"Dari mana kamu tahu ini beracun?"
"Ini tubuhku, jadi aku tahu kondisi baik dan tidaknya. Shin juga memahami soal medis yang tidak bisa di temukan oleh alat canggih." Shin duduk menunjukkan tangannya.
Hendrik langsung menyuntik penawar agar racun tidak merambat, kemampuan Shin juga cukup hebat karena mampu bertahan.
"Kamu hebat, dan seharusnya menjadi Dokter." Senyuman Hendrik terlihat, membersihkan luka.
"Aku seorang koki, dan suamiku seorang Dokter. Bercanda." Tawa Shin terdengar melihat ekspresi terkejut.
"Kamu tahan, ini rasanya menyakitkan. Sangat sakit." Suntikan menebus luka, Shin membekap mulutnya.
Wajah Shin langsung pucat, terduduk lemas. Infus juga terpasang, ada obat yang Hendrik buat sendiri untuk menghentikan penyebaran racun.
Shin tersenyum kagum, kehebatan Juna berasal dari gurunya yang memang luar biasa hebatnya. Hendrik bukan hanya seorang Dokter, dia juga ilmuwan yang meneliti obat-obatan.
"Kak, saat pertama melihat Rindi ... apa Kak Hendrik tahu dia mengalami gangguan kejiwaan dan ada kelainan." Mata Shin terpejam, namun rasa penasarannya sangat besar.
"Ternyata kamu anak yang peka, saat aku mengatakan tatapan matanya aneh ... dia dalam keadaan kritis."
"Kak Hendrik, dulunya seorang yang mengalami gangguan sama seperti Rindi, bagaimana caranya Kak Hendrik sembuh?"
"Siapa yang mengatakan aku sembuh? kamu tidak tahu saja bagaimana aku mencoba mengendalikan diri sendiri, dan mencoba hidup normal." Senyuman sinis Hendrik terlihat.
Air mata Shin menetes, meksipun matanya terpejam. Shin dan Rindi orang yang sama-sama memiliki kelainan, begitupun dengan Hendrik. Bedanya mereka mengobati diri sendiri, sedangkan Rindi dimanfaatkan.
"Seandainya Mama dan Papa masih hidup ... aku ingin meminta dipeluk sekali saja, meskipun di dalam mimpi." Shin mulai tenang dan terlelap tidur.
Air mata Hendrik juga menetes, seandainya dirinya juga memiliki kesempatan satu-satunya keinginannya bisa memohon maaf kepada Ibunya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1