
Malam pertama yang Ria impikan tidak seindah bayangan, kamar pengantin yang dihias seindah mungkin hanya ada dirinya.
Suaminya terpaksa harus keluar hanya untuk mengurus soal Dina, dia memang kalah jika bersangkutan dengan fisik, tapi kelicikannya cukup Tika akui.
Ketukan pintu terdengar, Shin melangkah masuk mengejek Tika yang gagal malam pertama. Bunga yang menghiasi sudah habis di hancurkan.
Bunga yang awalnya indah berserakan di segala tempat, Tika yang kecewa terhadap keadaan meluapkan terhadap kamar.
Tika tidak marah kepada Genta, dia hanya kecewa terhadap takdir yang belum mengizinkannya bahagia.
"Kenapa kamu ke sini?"
"Tidak ada, aku hanya penasaran terhadap pembicaraan Mami dan Papi." Rekaman CCTV Shin tunjukkan saat para orang tua sedang berdebat.
Selimut Tika lemparkan ke atas langsung turun dari ranjang mengikuti Shin untuk menguping pembicaraan di taman belakang orangutannya.
Sebelum Shin dan Tika datang, Ria sudah lebih dulu menguping melihat Maminya menyalahkan dirinya.
"Dasar anak nakal,"
"Diamlah Kak Tika, kita dengarkan pembicaraan ini." Ria menarik tangan Tika dan Shin yang langsung duduk menguping.
Papi Altha tidak punya pilihan kecuali membiarkan Juna melangsungkan lamarannya, meksipun tidak menginginkannya.
"Kenapa kita tidak ada yang tahu jika pertunangan dibatalkan? kalian memang berencana menyerahkan seserahan, tapi batal karena Genta dan Tika terkena musibah." Anggun masih binggung dengan apa yang terjadi terhadap hubungan Juna dan Hana.
"Itu kesalahan Aliya yang salah paham terhadap ucapan Helen, kita harus batalkan lamaran ini." Al memohon kepada suaminya untuk menghentikan karena Juna tidak menginginkannya.
Altha tidak bisa melakukan, terlalu melukai perasaan Yandi dan Helen apalagi Hanna yatim piatu yang tinggal bersama Kakaknya.
Tanpa Altha perjelas, pasti Aliya juga paham jika dahulu banyak berhutang kebaikan kepada Helen. Dia bahkan tertembak demi menjaga Tika dan Juna.
Begitupun dengan Yandi yang sudah bertahan bersama Altha sejak awal, dia salah satu orang kepercayaan Altha. Kesetiannya tidak Altha ragukan lagi, Yandi rela meninggalkan anak dan istrinya demi menjalankan misi.
"Kali ini Diana mengakui ucapan Isel benar, kita hanya mementingkan nama baik keluarga. Mengorbankan perasaan yang sejak awal tidak pernah ada." Senyuman Diana terlihat, menatap ke arah langit yang sedang menunjukkan keindahannya.
__ADS_1
"Ini demi kehormatan Hana,"
"Ya, jaga saja kehormatannya. Lanjutkan saja hubungan mereka, nikahkan keduanya maka urusan selesai," segala sesuatu yang dilakukan secara terpaksa tidak baik, tapi jika demi kehormatan maka baik. Kehormatan tahta tertinggi.
Diana hanya bisa bertepuk tangan, dia hanya bisa mendoakan semoga Juna bahagia. Hana memang wanita baik, dan dia memiliki sikap yang diinginkan semua lelaki, kurangnya hanya satu tidak dicintai.
Tanpa mendengarkan kembali penjelasan Altha, Diana kembali angkat bicara jika soal balas budi tidak harus mengorbankan kebahagiaan. Pengorbanan Helen hal yang wajar dia dibayar untuk menjaga dan melindungi jika ada perasaan sayang terhadap anak-anak itu urusan pribadinya.
"Bukan hanya Yandi yang meninggalkan anak istrinya, Gemal juga melakukan hal yang sama. Dia bisa tidak pulang beberapa hari dengan mempertaruhkan nyawanya, jika menilai soal uang dia tidak ada kurangnya. Ini hanya pengabdian Altha, dia hanya mencoba menjalankan tugasnya." Tangan Diana terangkat menarik napas panjang langsung pamit pulang.
Dimas setuju dengan ucapan Putrinya, tidak ada yang namanya hutang membesarkan karena Helen dahulu mendapatkan bayaran.
"Sudahlah jangan perdebatan lagi, segala keputusan ada pada Juna dia yang akan berumah tangga maka sudah harus siap dan tahu suka dukanya." Tangan Calvin meminta istrinya berdiri untuk pamit.
Permintaan Calvin hanya satu, meminta Genta tidak terlalu ikut campur untuk soal Dina. Jangan meninggalkan istrinya di malam pertama.
Kepala Altha mengangguk, menghubungi Gemal untuk membawa Genta kembali. Membiarkan tim yang bertugas untuk menemukan keberadaan Dina yang licik.
Suara langkah kaki Ria terdengar berlari kembali ke kamarnya, begitupun dengan Shin dan Tika langsung keluar rumah berlari kencang, pulang ke rumah Genta.
"Kenapa kamu di sini?"
"Malam Bu Shin, saya baru saja ingin pulang setelah membereskan semuanya." Kedua tangan Reza penuh membawa peralatannya juga beberapa makanan yang tersisa.
"Pulanglah,"
Reza berjalan sambil tersenyum melewati Tika dan Shin yang lanjut berlari ke arah rumah. Senyuman Reza terlihat saat berbalik badan menatap Shin dan Tika yang menghilang dari pandangannya.
Dari kejauhan Rindi berdiri di atas rumah keluarga Leondra, melihat Reza yang berjalan sambil tersenyum melangkah ke arah mobilnya.
Sekuat apapun Rindi mencoba mengingat, dia tidak mengenal Reza, tapi perasaan mengatakan mengenalinya.
"Siapa yang kamu lihat?"
"Sayang, aku tidak melihat apapun." Rindi menutup teropong berjalan memeluk lengan suaminya untuk masuk.
__ADS_1
Hendrik tidak mengizinkan istrinya banyak pikiran, apalagi sedang hamil muda. Kondisi Rindi harus tenang agar anaknya tumbuh dengan baik.
"Kak, bagaimana soal pernikahan Juna?"
"Tidak tahu, apa mereka akan menikah?"
"Hm, kisah Shin menyebalkan sekali. Apa dia harus menunggu sampai tua, atau menjadi duda. Kenapa doa Rindi jelek sekali?"
"Kamu bicara apa Rin, jangan memikirkan hubungan orang lain. Ingat apa kata dokter,"
Melihat Isel melamun dan tidak heboh lagi membuat Hendrik dan Rindi prihatin. Si kecil yang selalu berkuasa, tapi saat ini keinginannya ditolak secara langsung oleh Papanya.
"Isel, ayo tidur bersama paman,"
Kepala Isel mengangguk, mengandeng tangan Hendrik untuk masuk kamar. Isel kesulitan tidur di kamarnya karena masih kesal dan kecewa terhadap Papanya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Rindi bisa menidurkan Isel dengan menepuk punggungnya pelan, kepala Rindi langsung berdenyut saat bayangan anak laki-laki tertawa.
Dia tidur dipangkuan bersama dengan Rindi, napas Rindi langsung ngos-ngosan memalingkan wajahnya dari suaminya berpura-pura tidur.
"Siapa anak laki-laki itu? kenapa dia tiba-tiba muncul?"
Akhirnya Rindi tertidur, mimpi buruk menghampirinya. Bayangan soal pembantai kembali melintas, banyaknya orang yang berjatuhan terlihat.
Rindi diselamatkan dan meninggalkan banyak korban yang terkapar, Rindi tidak bisa mengenali hanya suara tangisan anak laki-laki yang terdengar.
"Sayang bangun, kamu kenapa?"
Mata Rindi terbuka, dia terbangun penuh keringat, memeluk suaminya dan berharap mimpinya bukan pertanda buruk. Siapapun anak yang ada di mimpinya semoga segera bertemu hingga Rindi bisa mengingat siapa dirinya.
"Besok kita langsung pulang Kak, Rindi tidak ingin lama di sini. Perasaan Rindi tidak enak, takut lepas kendali." Air mata menetes dari pelipis matanya padahal Rindi tidak sedang bersedih.
Tangan Hendrik memegang tubuh Isel yang mandi keringat dengan AC full, tubuhnya panas dan Hendrik menyadari si kecil demam tinggi.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira