ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KENANGAN


__ADS_3

Hawa malam semakin terasa, Tika berkali-kali memeluk tubuhnya sendiri merasakan dinginnya malam. Genta masih diam memperhatikan, menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


"Om, dingin sekali."


"Di sini memang dingin, biasanya semakin larut, suasana semakin dingin karena angin mengarah ke kita." Genta menghidupkan api kecil, meminta Tika duduk di sampingnya.


"Permisi Kak, boleh kita bergabung. Beberapa tempat sudah penuh, kasihan anak kita masih kecil." Seorang Papa muda merangkul istri dan Putri kecil dalam gendongan.


Genta langsung mempersilahkan, bahkan menawarkan makanan yang dirinya beli untuk dimakan bersama.


"Kalian pengantin baru?" wanita yang membawa anak kecil menatap Tika yang hanya diam.


"Kita hanya berteman ...."


"Iya, kita pengantin baru." Genta menatap Tika, merapikan rambutnya yang tertiup angin.


Senyuman Tika terlihat, mencubit pelan perut Genta yang bicara sembarangan. Ada pasangan lain di dekat mereka membuat Tika malu karena sikap Genta terlalu memanjakannya.


"Sudah selesai makannya, kita ke mobil sekarang." Suara Genta terdengar pelan, berbisik kepada Tika yang hanya menganggukkan kepalanya.


Genta melangkah ke tempat pembayaran, pria yang duduk bersama istrinya menatap Tika yang memakai jaket Genta.


"Suami kamu cemburuan, hati-hati dia pria yang sangat posesif."


"Aku tahu, dia tidak akan melepaskan jika sudah memilih. Aku ingin menjadi wanita itu, dan siap dengan sikap cemburu dan posesif dia." Tika menatap punggung Genta yang memberikan uang lebih kepada penjaga tempat.


"Hidup kamu tidak akan bebas lagi, dia memang tampan namun terlalu berlebihan." Wanita yang menggendong anak kecil tersenyum kecil melihat Tika.


Tawa Tika terdengar, dirinya merasa bahagia jika kebebasannya dibatasi karena sudah terlalu lama dirinya bebas. Genta pria berpendidikan, cerdas dan bertindak menggunakan logika.


Cemburu hal yang wajar, mengatur demi kebaikan juga wajar yang tidak wajar sudah memiliki wanita, namun masih mengagumi wanita lain.


"Tika, ayo." Tangan Genta terulur, menyambut tangan Tika yang langsung berjalan di sampingnya.


"Om mengenal baik tempat ini?"


"Emh ... jangan bertanya lebih, nanti marah lagi. Aku binggung salahnya di mana?" Genta membuka pintu mobil, mempersilahkan Tika masuk.


"Om selalu ke sini bersama siapa?" tangan Tika terlipat memohon agar diceritakan.

__ADS_1


Sesaat Genta diam, dia pertama kali datang bersama Kakek Ken saat dirinya kecil dan kesepian. Sejak kecelakaan kedua orangtuanya, hanya Kakek Ken yang bisa mendekati Genta kecil.


Setiap hari Genta selalu datang hanya sekedar melihat matahari terbenam, seiring berjalannya waktu Genta selalu datang sendirian tanpa Kakek Ken dengan para penjaga.


Genta bisa berlari kencang tanpa terjatuh, dirinya merasa bebas dan bisa merasakan kenyamanan. Genta mulai belajar bela diri, berlari dengan pelatihnya hingga Genta remaja.


Saat lulus sekolah Genta masih terus datang, sampai setiap perubahan Genta orang pertama yang tahu, dan orang-orang sekitar juga mengenal baik Genta yang tidak pernah meninggalkan tempat yang selalu dirinya kagumi.


"Di sini juga aku mulai berbicara dengan Liana, setiap hari dia datang menemui aku di sini." Genta memasang sabuk pengamannya.


"Mulai sekarang tinggalkan tempat ini,"


Genta menatap kaget Tika, secara tiba-tiba Tika melarangnya untuk datang padahal Genta memiliki banyak kenangan.


"Datang ke sini hanya mengingatkan kepada Li?"


"Banyak hal yang aku ingat di sini, bukan hanya Li." Suara Genta terdengar meninggi.


"Tapi ada Li dipikiran kamu!" suara Tika juga mulai meninggi.


"Aku rasa kamu tidak punya hak mengatur kehidupan aku, kita tidak punya hubungan apapun. Dan aku tidak suka, ada yang membatasi apapun yang menjadi bagian hidup aku." Mobil dijalankan, Genta mendadak kesal tanpa kejelasan.


"Aku tidak pernah membenci Li, tidak juga menyesali pernah mengenalnya. Membenci hanya akan membuat aku semakin tidak bisa memaafkan, dan aku bukan Pria seperti itu Tika." Genta bicara sangat pelan, tapi bisa didengar oleh Tika dengan jelas pula.


Meksipun beberapa kali Liana datang ke tempat yang menjadi favorit Genta bukan berarti dia ada di pikiran Genta.


"Aku minta maaf sudah bicara kasar, tempat ini menyimpan kenangan bersama Kakek Ken, beberapa orang berjasa dalam hidupku. Saat ini juga tempat ini menjadi ingatan tentang kamu yang membuat aku bahagia." Tatapan Genta melihat Tika yang juga menatapnya tajam penuh tanda tanya.


"Aku akan selalu diingat?" tanya Tika merasa kurang jelas.


"Aku tidak sopan bicara seperti ini, kamu dan aku terlalu jauh berbeda Tik, bahkan usia terpaut jauh. Maaf karena aku sempat lancang menganggap kamu wanita." Tangan Genta menutup mulutnya yang hampir Tika tampar.


"Om tahu tidak selisih usia Mami dan Papi? usianya Daddy dan Mommy Anggun? usia Kak Di dan Kak Gem?" Tika menatap sinis, mencubit kuat lengan Genta yang sudah meringis kesakitan.


"Untuk apa aku tahu? tidak penting." Genta mengusap lengannya yang terasa sakit.


"Mami dan Papi hampir selisih sepuluh tahun,"


"Pak Altha menikah muda? aku pikir selisih dua puluh tahun." Genta memalingkan wajahnya menahan tawa.

__ADS_1


"Om sedang menghina Papi, Tika laporkan. Lihat saja, Om tua mengejek Papi." Tika memukul Genta yang menghentikan mobil meminta maaf.


"Iya maaf, aku tidak tahu. Soalnya Pak Altha seperti seumuran dengan Aliya. Kenapa Citra terlihat tua?" Genta menutup mulutnya, menjauhi Tika yang sudah siap membunuhnya.


"Iya juga, mungkin Mama Citra lupa perawatan. Efek kelamaan jomblo, kekurangan belaian dan kasih sayang jadinya tua." Atika tertawa bersama Genta yang juga tidak bisa menahan tawa.


Tawa keduanya terhenti, Tika memegang wajahnya yang juga selama ini jomblo. Genta juga langsung berdehem secara langsung mereka berdua mengejek diri sendiri.


"Mungkin sebenarnya bukan efek jomblo, Mama Citra banyak beban pikiran makanya tua. Tika jomblo masih tetap cantik." Kedua tangan Tika memegang wajahnya.


Kepala Genta mengangguk, membenarkan ucapan Tika jika tua bukan karena kelamaan jomblo apalagi kekurangan kasih sayang.


"Kak Gem dan Diana tua siapa?"


"Tua Kak Diana, dia menikahi brondong. Lihat saja tingkah laku anaknya mirip wanita gila." Tika merinding jika membayangkan Isel yang sangat nakal.


"Ian dan Kakaknya berbeda dari Isel,"


"Ian dapat pintarnya, Gion dapat tampannya, sedangkan Isel dapat sisanya. Sisa kegilaan Kak Di jatuh kepada Isel semua, jangan sampai anak Tika mirip Isel."


"Ucapan adalah Doa, mungkin anak kamu dapat sisa juga." Genta menenangkan Tika yang sudah mulai marah.


Atika langsung diam, memikirkan nasib masa depannya jika memiliki anak yang nakal seperti dirinya, Isel dan Ria.


"Ya Allah, Tika memang nakal, bisa request tidak. Nanti anaknya mirip bapaknya saja." Kedua tangan Tika mengusap wajahnya.


"Jika nanti mirip kamu pasti menyenangkan," Genta tersenyum melihat wajah Tika.


"Tarik ucapan kamu, belum tahu saja jika aku siluman berwajah bidadari." Bibir Tika langsung monyong.


***


follow Ig Vhiaazaira


***


lanjut besok lagi.


jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


__ADS_2