ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TAMU PENGACAU


__ADS_3

Suara adu sendok terdengar, tiga wanita rebutan mengambil paha ayam. Hendrik memanggil pelayan untuk menambah dua ayam lagi.


"Ini untuk Tika,"


"Shin." Pukulan di meja terdengar membuat Rindi kaget.


Ayam langsung pegang, dibuang jauh membuat Tika dan Shin melongo seperti orang bodoh yang melihat ayam terbang.


"Sudah hilang." Rindi menjulurkan lidahnya mengejek Tika dan Shin.


Tatapan dua wanita langsung lemas, mengambil sendok masing-masing lanjut makan. Rindi sudah memeluk Hendrik takut dipukul oleh Tika dan Shin.


Genta sudah tersenyum, merasa lucu melihat ekspresi Tika dan Shin yang sudah diam. Panggilan masuk ke ponsel Genta, membuatnya langsung berdiri kaget.


[Kapan sampainya?]


"Ada apa Kak?" Shin juga langsung berdiri.


"Kita pulang sekarang, ada tamu." Genta meminta mempercepat makan.


Selesai makan semuanya bergegas untuk pulang, Juna sudah tahu apa yang terjadi di rumah. Kepalanya langsung pusing memikirkan kekacauan.


Dua mobil melaju dengan kecepatan sedang, berjalan beriringan. Tika dan Shin saling tatap, merasa binggung karena mereka pulang dadakan.


"Kak siapa yang datang?" Shin memegang pundak Genta yang fokus menyetir mobil.


"Nanti juga kalian tahu,"


Shin langsung tiduran di paha Tika, memejamkan matanya memilih tidur daripada banyak pikiran. Tika juga memejamkan matanya tidak memikirkan apapun, siapapun tamu yang datang tidak membuatnya penasaran.


Sesekali Genta melihat ke belakang menatap dua wanita yang menjadikannya supir. Melihat Tika dan Shin membuat hati Genta bahagia.


"Tik,"


"Emh,"


"Kak Hana ada disini sudah lama ya?"


"Tidak tahu, mungkin sengaja ketemu Kak Juna." Mata Tika masih terpejam, tidak memikirkan hubungan Kakaknya dan Hana.


Senyuman Shin terlihat, bisa merasakan tangan Tika mengusap kepalanya agar segera tidur. Perjalanan mereka cukup memakan waktu, apalagi sedang jam padat.


Panggilan kembali masuk, Genta langsung menjawab jika mereka sedang dalam perjalanan pulang. Mungkin akan sedikit terlambat jalanan ramai.


Genta menatap dua wanita yang sudah tidur di kursi belakang, Genta tidak punya teman bicara sehingga merasakan bosan.


"Ayang kenapa?" Tika membuka matanya.

__ADS_1


"Shin sudah tidur?"


"Kepala Tika mengangguk memindahkan kepala Shin, langsung pindah duduk di samping Genta yang cemberut.


Tangan Tika menggenggam tangan Genta membuat senyuman terlihat dari wajah dingin Genta yang sebelumnya sempat kesal karena tidak ada yang menemaninya.


"Temani aku,"


"Biasanya juga sendiri, kenapa sekarang butuh teman?" Tika mengigit lengan Genta membuatnya meringis kesakitan.


Tika menutup mulut Genta, takut Shin terbangun. Sepanjang perjalanan keduanya mengobrol sambil tertawa bahagia. Obrolan bisa Shin dengar karena dia tidak tidur.


Mendengar tawa Kakaknya membuat hati Shin bahagia, berharap Tika wanita yang tepat untuk menjaga dan mencintai Kakaknya. Sikap Genta yang dingin, berubah mencair setelah merasakan jatuh cinta.


Karakter Tika yang ceria dan tidak bisa diam membuat Genta harus menghadapi keributan Tika, sehingga diam bukan solusi.


"Tik,"


"Tik tik memangnya aku itik. Panggil sayang." Mata Tika melotot besar, mendekati wajah Genta.


"Iya sayang." Satu tangan Genta menepuk keningnya.


Kepala Tika tertunduk malu, mengulum bibirnya menahan senyuman. Hatinya berbunga-bunga mendengar suara lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta memanggil sayang.


Shin yang mendengar ingin muntah, dua manusia bucin muncul di dunia. Telinganya sudah tidak tahan lagi mendengar suara Tika yang menggoda Genta, dan selalu diladeni.


"Kenapa Shin?"


"Kepala Shin terbentur,"


"Masih jauh dari mati, sana tidur lagi." Tika menghela napasnya.


Mobil akhirnya tiba di Mansion mewah milik keluarga Leondra, banyak mobil yang tersusun di luar parkiran. Semuanya keluar mobil berjalan masuk ke dak dalam.


Suara teriakan dari dalam rumah menghentikan langkah Shin dan Tika, keduanya langsung tahu tamu pengacau yang datang.


"Kawan,"


"Teman." Rindi berlari memeluk Isel yang juga memeluknya erat seakan-akan sudah puluhan tahun tidak bertemu.


Kepala Tika geleng-geleng, Shin juga menatap aneh dua wanita yang seperti teman dekat padahal usia jauh berbeda. Isel bisa menjadi anak Rindi.


"Jijik." Tika mendorong kepala Rindi yang masih berpelukan melepaskan rindu.


Langkah kaki Ria berlarian terdengar, memeluk Juna meminta di gendong padahal sudah besar.


"Kak Kak Juna, waktu itu Kak Tika ketahuan punya pacar, suara pacarnya sangat indah, lemah lembut, dan penuh gairah. Dia sangat tampan dan ingin melamar Kak Tika." Ria berteriak membuat semua orang fokus kepadanya.

__ADS_1


"Jaga mulut kamu Ria! kapan aku mengatakannya." Pukulan Tika mendarat di pundak Adiknya.


"Ria tidak bohong, Kak Gen coba lacak pacarnya Kak Tika. Dia pasti tampan, siapa tahu dia punya Adik dan berjodoh dengan Ria." Senyuman Ria terlihat sambil joget.


Genta hanya tersenyum mendengar ocehan Ria mengatakan pacar Kakaknya, semangat Ria menggebu-gebu ingin bertemu pacarnya Tika.


Aliya sudah memeluk Tika, sangat mengkhawatirkan Putrinya hingga tidak tenang sebelum melihat langsung. Diana juga mengecek tubuh Tika dan Shin jika sampai disakiti oleh Melly.


"Seharusnya dulu aku membunuh Melly." Diana menatap tajam, tidak terima Melly menyakiti Shin dan Tika.


"Sudahlah Di, mereka juga sudah ditahan." Anggun memeluk Tika dan Shin, mengucap Alhamdulillah karena semuanya baik-baik saja.


Altha menepuk pundak Genta, memuji pekerjaan yang berhasil menjaga keluarga. Tatapan Genta tidak nyaman, merasa tidak pantas berada diantara keluarga besar Altha.


"Selamat datang semuanya,"


"Genta, Kenapa wajah kamu terlihat berbeda?"


Kedua tangan Genta memegang wajahnya, menggelengkan kepalanya jika dirinya baik-baik saja dan tidak terjadi apapun kepada dirinya.


"Jangan bohong, wajah kamu berseri-seri dan terlihat seperti sedang jatuh cinta." Al menunjuk Genta yang wajahnya langsung memerah.


"Aku kenapa?"


"Hanya bercanda Genta, mereka wanita yang suka membuat hati pria patah. Jangan bangga, mereka sedang mengejek kamu." Dimas menggelengkan kepalanya.


Anggun menatap wajah Genta, membenarkan ucapan Diana dan Aliya. Genta terlihat berbeda dari biasanya. Pria dingin, tidak pernah tersenyum, jarang bicara namun sekarang senyumannya selalu terlihat.


"Aku pastikan Genta punya pacar." Anggun tersenyum melihat Genta yang menundukkan kepalanya.


"Keluarga Leondra langsung mendapatkan dua menantu? Diana punya saingan." Tawa Di terdengar mengejek Genta.


"Kenapa Gen? bagus jika kamu sudah punya wanita pilihan. Segeralah menikah." Altha menepuk pundak Genta pelan.


Senyuman terpaksa Genta terlihat, mungkin semua orang bisa terkena serangan jantung jika wanita yang Genta pacari ternyata Atika.


Berbeda dengan Tika yang terlihat santai, merasa lucu dengan kekasihnya yang mudah sekali ketahuan jika sedang bahagia.


"Bagaimana jika Tika yang menikah?" Atika menatap Maminya, Diana menyemburkan air yang baru diminumnya.


"Gila kamu Tika, masih kecil sudah ingin menikah." Diana menatap Aliya yang melihat ke arah Altha.


"Atika sudah besar, sudah siap menjadi istri, siap mengandung, melayani suami dan menjadi ibu yang baik." Tika tersenyum lebar meminta persetujuan.


***


Awal bulan author mager.

__ADS_1


Lagi sibuk mengajar karyawan baru, GK enak kalau sibuk ngetik. Maklumi ya.


__ADS_2