ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MEMBENTAK


__ADS_3

Tidak kunjung sadar, Shin langsung dilarikan ke rumah sakit, Diana mencemaskan Shin gegar otak karena benturan kuat juga terkejutnya yang belum sempat mengelak.


Sampai di rumah sakit Gemal yang masih menunggu Genta sadar sama terkejutnya melihat Shin yang awalnya berlari kencang, berakhir pingsan.


"Siapa yang melakukan ini?" Gemal mengaruk-garuk kepalanya.


Tangan Isel terangkat, senyuman lebar terlihat menatap Papanya yang mengelus dada perbanyak istighfar.


"Sayang, kamu lihat Papa yang sudah berhari-hari tidak mandi, Uncle kamu saja belum bangun, ditambah lagi Aunty. Isel tolong, Papa bisa gila." Gemal meremas rambutnya membuat Isel tertawa.


"Ish ... Papa busuk. Isel tidak mau dicium Papa, jorok." Tawa Isel terdengar mengejek Papanya.


"Apa itu penting Nak? sudahlah. Gemal tidak tahu lagi harus berkata apa?"


"Bukan Isel yang nakal Pa? jago yang menabrak Aunty,"


"Siapa lagi itu si jago?"


"Mobil baru Isel, namanya jago." Tangan Isel meminjam ponsel Mam Jes menunjuk foto jago.


"Siapa yang membelinya?"


"Isel sendiri, pakai kartunya Papa. Katanya Kak Gion boleh, selama bermanfaat. Isel butuh mobil Pa, sama seperti mobilnya Papa." Handphone digeser melihat foto jago.


Gemal tersenyum, hanya duduk menatap Putrinya yang tertawa kesenangan memiliki mainan baru. Gemal bahkan tidak pernah tahu jika kartunya ada di anak-anaknya.


"Bagaimana sekolah kamu Sel?"


"Sekolah ... kata gurunya Isel mulai besok tidak perlu sekolah lagi. Isel langsung jawab oke." Gigi ompong terlihat menatap Papanya yang semakin stress.


Tawa Gemal terlihat, langsung berlutut memeluk kaki Mamanya meminta pertolongan.


"Bagaimana kondisi Genta?"


"Tanya Gemal dulu Ma, rasanya aku tidak punya otak lagi." Gemal memijit kepalanya.


Senyuman Mam Jes terlihat, mengusap kepala putranya yang sudah melindungi Adiknya. Mam Jes bersyukur memiliki Gemal, dia pria yang sangat Mam Jes cintai.

__ADS_1


Kehadiran Isel tidak pernah mengusik Mam Jes, dia mungkin lebih mirip Gemal yang jahil, aktif dan selalu membuat masalah.


Suara tawa Tika terdengar keluar dari ruangan Shin, memegang perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak tertawa.


"Bagaimana kondisi Shin?"


"Gegar otak Ma, bersyukurnya hanya gegar ringan. Isel kamu sungguh luar biasa, satu-satunya orang yang membuat Shin gegar otak." Diana juga tertawa menarik rambut Tika yang masih cekikikan tertawa.


"Ada apa dengan Shin?" Juna keluar dari ruangan Genta dan mendengar pembicaraan soal Shin.


Saat tahu Shin gegar otak, Juna langsung masuk tanpa permisi. Melihat Shin yang terbaring menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Sikap buru-buru Juna membuat Diana menatapnya, ada keanehan yang Di rasakan karena seorang Dokter tidak boleh terlihat cemas, tapi Juna belum mendengar detail langsung masuk.


"Ada hubungan apa mereka?" Di melihat punggung Juna, langsung mengabaikan begitu saja.


Selimut Shin perlahan terbuka, Juna tersenyum melihat Shin yang malu karena kepalanya benjol.


"Ay, sana pergi. Shin malu,"


"Tidak ingin tahu keadaan Genta?"


Shin tersenyum, menarik napas panjang merasa tenang karena kakaknya baik-baik saja.


"Bagaimana kondisi kening kamu?"


"Benjol ... Isel memang keterlaluan. Jika bukan anak kecil sudah Shin banting." Wajah memelas terlihat membuat Juna tertunduk gemes.


Suara ketukan pintu terdengar, Tika melangkah masuk bersama Hanna yang mendengar kabar jika Shin juga terluka.


Melihat Hana datang, wajah Shin langsung berpaling tidak ingin melihatnya karena sangat kecewa.


"Maafkan Kakak Shin, aku salah menilai teman. Selama ini aku terlalu percaya jika semuanya baik,"


"Lebih baik Kak Hana keluar, Shin masih belum bisa memaafkan. Hati aku masih sakit melihat pembelaan Kak Hana." Shin menolak menatap sama sekali, dia tahu Hana baik, tapi sulit bagi Shin membuka hatinya.


"Shin, jangan menyimpan amarah. Tidak baik sesama keluarga saling memojokkan, Hana juga manusia biasa yang pastinya memiliki kesalahan." Juna menatap Shin yang melihat ke arahnya sangat tajam.

__ADS_1


Senyuman sinis Shin terlihat, hatinya sakit mendengar Juna membela Hana hanya karena mereka akan segera bertunangan.


"Keluarga siapa? Dia keluarga Kak Juna bukan Shin. Jika tidak suka keluar, jangan berada hadapanku. Salah tetap salah, Tika dan Kak Genta tidak mungkin dalam bahaya jika bukan karena tunangan Kak Juna! apa Shin salah mengatakannya?" suara Shin meninggi membentak Juna.


"Kenapa menyalahkan Kak Juna? jika marah kepada Kak Ana lakukan saja. Lagian mereka belum tunangan, jangan seperti itu Shin." Tika memegang wajah Shin, memintanya menjaga ucapan.


Juna meminta Hana keluar, membutuhkan waktu bagi Shin untuk kembali seperti sediakala. Juna meminta maaf atas ucapannya, dia tidak bermaksud membuat Shin marah.


"Kak Juna juga sebaiknya keluar, Tika ingin bicara berdua dengan Shin." Kepala Tika mengangguk meminta kakaknya mengerti.


Kedua tangan Tika menggeleng erat, meminta Shin mengendalikan emosinya. Saat ini Tika tidak ingin ada keributan apalagi pernikahan sudah dekat, hubungan Juna dan Shin tidak boleh berantakan.


"Aku tahu dia kakak kamu, tapi tidak harus membela begitu." Shin berbaring kembali memejamkan matanya.


"Kak Juna tidak membela, kamu salah paham. Dia hanya ingin kita semua damai karena bagaimanapun Kak Hana sudah menyesal." Penjelasan Tika panjang lebar jika kakaknya memang selalu menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang dulunya mendukung dirinya dan keluarga.


"Terserah! aku ingin tidur Tik,"


"Pertunangan Kak Juna di batalkan, dia pertama kalinya menentang keinginan Mami dan pasti sangat binggung cara menjaga hubungan baik dengan Keluarga Kak Helen." Tika meminta pengertiannya Shin, dia tidak membela Hana sama sekali.


Keluarga Hana juga pasti kecewa dengan kejadian ini, Dina sangat dipercaya namun akhirnya berkhianat. Belum selesai pembatalan pertunangan langsung ditampar dengan kenyataan dikhianati.


Hana juga sama terlukanya, dia hanya ingin membela sahabatnya sama seperti Tika yang selalu membela Shin begitupun kebalikannya, saat salah satu dalam masalah pasti berusaha membantu. Beda ceritanya, Hana terlalu percaya dan tidak mengenali baik sahabatnya.


"Kak Hana kehilangan sahabat, juga batal menikah. Sekali ini saja kita memakluminya, dia pasti tidak ingin hubungan keluarga putus sehingga sangat terluka." Senyuman Tika terlihat saat Shin merasa ucapannya keterlaluan.


"Kenapa aku hanya memikirkan perasaan sendiri? kenapa lamaran dibatalkan?"


Kedua pundak Tika terangkat, tidak ada yang tahu alasan pastinya. Suatu hari mereka akan tahu apa alasan Juna memilih melepaskan wanita baik.


Di dalam hati Shin tersenyum, hatinya lega akhirnya waktu bersama Juna lebih lama tanpa harus sakit hati karena pertunangan.


"Aku sangat menyesal sudah membentak, Maaf Ay." Batin Shin di dalam hatinya yang ingin sekali meminta maaf secara langsung karena ucapannya sudah sangat keterlaluan.


Shin takut Juna tersinggung, dan menjauhinya. Penyesalan memang selalu diakhir.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2