ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PERTANDINGAN


__ADS_3

Sudah larut malam, Diana tidak bisa tidur. Menyadari kegelisahan Gemal yang bolak-balik. membuat Diana binggung.


"Ada apa Ayang?" Di langsung duduk menarik pundak suaminya.


Kepala Gemal geleng-geleng, ada sesuatu yang menganggu pikiran soal Genta. Hubungan Genta dan kakek sudah lama, sejak Genta kecil.


Diana juga sepemikiran, Genta pasti sedang bersedih si suatu tempat. Akhirnya Gemal memutuskan untuk keluar bersama Di.


Dugaan Gemal benar, suara pertarungan di dalam ring terdengar. Genta sedang bertarung dengan banyak rekannya.


"Genta, bisa kita bicara."


Pukulan menghantam wajahnya, Genta mempercepat selesai pertarungan. Genta langsung turun, mengikuti langkah kakaknya.


Tatapan Gemal tajam, sudah tiga hari kepergian Kakek dan Nenek Genta masih uring-uringan. Dia tidak fokus seperti biasanya.


Lama Genta mendengar ucapan Gemal, dirinya hanya diam mendengarkan. Pikiran Genta sedang kacau, begitupun dengan hatinya.


"Kak Gem tidak mengerti, karena baru mengenal mereka, tapi aku sejak kecil. Kehilangan keduanya sekaligus, dunia aku yang mulai dibangun runtuh kembali." Kepala Genta menggeleng langsung melangkah pergi, tidak akan ada yang mengerti dirinya.


Langkah kaki Genta sangat cepat, terhenti saat melihat Arjuna baru kembali setelah tiga hari di rumah sakit. Selesai pemakaman Juna izin kepada keluarga untuk tetap melakukan tugasnya.


Kepala Genta tertunduk begitupun dengan Arjuna, keduanya langsung saling berpapasan pergi ke tujuan masing-masing.


Suara langkah kaki mengendap-endap terdengar, Tika dan Shin keluar kamar untuk pergi ke area pertarungan.


"Tunggu Tika, ada seseorang." Shin menganga melihat suaminya lewat.


Shin menampar wajah, langsung meringis kesakitan. Berlari mengejar pria yang dia temukan tiga tahun yang lalu.


Kepala Shin celingak-celinguk mencari keberadaan pria yang baru saja lewat, Shin lompat-lompat sangat yakin jika mereka orang yang sama.


"Ada apa bodoh?" Tika menarik Shin.


"Tik, kamu melihat suami aku lewat tidak? dia lewat sini, tidak mungkin aku berhalusinasi. Demi Allah dia muncul." Shin memeluk Tika, melihat sekilas saja langsung membuat Shin semakin tergila-gila.


"Perempuan gila satu ini, tiga tahun kamu membicarakan dia. Sekarang mulai halusinasi, sebentar lagi menarik kaleng di jalanan." Tika menarik telinga Shin untuk mengikutinya.


Keduanya tiba di area pertarungan.


Genta berada di dalam ring, Atika langsung masuk diikuti oleh Shin. Kedatangan Tika dan Shin mengejutkan Genta.

__ADS_1


Tika melihat banyak pengawal yang sudah berjatuhan, Genta meluapkan emosinya kepada orang lain.


Suara Shin tertawa terdengar, bertepuk tangan melihat banyaknya pria yang berjatuhan.


"Om tua, kita masih memiliki dendam lama, ingat tidak saat rem motor tidak berfungsi, kamu mempermalukan sepanjang jalan." Shin tersenyum sinis, melipat tangannya di dada.


Kepala Tika mengangguk, saat tahu Genta bagian dari Leondra. Tika langsung kecewa, karena tidak bisa menghacurkan Genta.


"Ayo kita bertarung Om." Shin tersenyum manis.


"Kalian berdua sudah dewasa, tetapi masih saja ugal-ugalan. Dewasa tidak mengubah pola pikiran kalian." Tatapan Genta tidak kalah tajam, Genta meminta keduanya maju.


Tatapan Tika dan Shin bertemu, tangan Shin meminta Tika mundur. Dirinya akan bermain lebih dulu.


Langkah Shin maju sangat cepat, Genta yang memiliki kemampuan bela diri tinggi, mengagumi gerakan cepat Shin yang mematikan.


Di bawah ring, Diana dan Gemal duduk santai menjadi penonton, terpesona dengan kecantikan Shin dan ketampanan Genta yang wajahnya hampir sama.


Pukulan Shin tertahan, Genta menendang kakinya sampai terguling jatuh. Diana langsung berdiri melihat Tika sudah maju menyerang secara tenang.


Shin langsung berdiri, menatap Tika yang kemampuan beladiri sudah semakin tinggi. Tendangan Tika kuat menghantam perut Genta.


Gemal berdiri di pinggir ring, Diana emosi langsung masuk. Tika dan Shin melangkah mundur, Di tidak terima Genta menjatuhkan Shin.


Tubuh Genta terlempar, langsung menatap Gemal yang tersenyum. Konsentrasi Genta buyar mendengar suara berisik kakaknya.


"Bisa diam tidak kak Gem, mengacau saja." Genta berdiri, meminta Gemal yang melawan Istrinya sendiri.


"Masuk kak Gem, kita memang memiliki perjanjian untuk bertarung." Di meminta suaminya maju.


Senyuman Gemal terlihat, langsung meminta Diana maju. Belum juga dimulai, wajah Gemal sudah dipukul.


Suara tawa Genta, Tika dan Shin terdengar. Gemal langsung meringis menatap istrinya yang menahan tawa.


"Cepatlah Gemal, jangan berlama-lama." Di langsung maju.


Pertarungan antara Diana dan Gemal terjadi, Shin dan Tika bertepuk tangan. Diana sama Gemal luar biasa bela dirinya. Keduanya tidak tersentuh.


Serangan juga mematikan, Genta juga terdiam. Gemal tidak main-main bertarung dengan istrinya.


Diana langsung meringis melangkah mundur, Gemal langsung cemas meminta maaf kepada istrinya.

__ADS_1


"Maaf sayang."


"Sakit Gemal, jika jahitan bekas melahirkan lepas kamu tanggung jawab. Aku tidak akan memberikan kamu jatah lagi. Awas saja kamu, tidak akan aku maafkan." Di mengusap perutnya yang sakit.


Gemal langsung berlutut, memeluk perut Diana mengusap perut istrinya memohon agar jatahnya tidak dikurangi.


Di menarik rambut suaminya, menjambak-jambak Gemal. Pertengkaran rumah tangga terjadi, Shin menarik Tika langsung lompat melarikan diri.


"Om tua, cepat pergi." Shin memanggil Genta yang langsung meninggalkan suami istri.


Wajah Genta meringis, melihat Gemal dijambak istrinya karena tidak sengaja memukul di ring pertandingan.


"Dasar wanita mengerikan," ucap Genta.


Ketiga orang melarikan diri, kembali ke kamar masing-masing sebelum Diana mengamuk kepada mereka.


Suara Diana marah-marah masih terdengar, Juna yang mendengar keributan langsung mendekat memukul pintu.


Diana dan Gemal saling pandang, Arjuna menggelengkan kepalanya meminta keduanya kembali ke kamar untuk melanjutkan pertengkaran di kamar.


"Sudah malam, jangan mengangguk jam istirahat orang."


"Iya, ini juga balik." Di menatap Gemal tajam, langsung melangkah ke kamarnya.


Helaan nafas Juna terdengar, langsung berjalan pindah ke kamarnya. Pintu balkon kamar terbuka, Juna melihat Tika, bersama seorang wanita yang tidak asing bagi Juna.


Rambut panjang Shin terurai, Juna langsung menghubungi Tika meminta kembali ke kamar jika tidak ingin bermasalah.


Juna menatap ponselnya, melihat pesan yang setiap hari masuk ke ponselnya. Juna tidak pernah membaca selama tiga tahun.


"Apa yang dia kirimkan setiap hari?" Juna membuka pesan, membaca pesan satu-persatu.


Senyuman Juna terlihat, segala aktivitas diceritakan. Kepala Juna mengangguk, mengagumi perjalannya.


"Kamu harus menjadi wanita tangguh, jangan bergantung kepada orang lain, karena hasilnya menyakitkan." Juna langsung kembali ke tempat tidur.


Pesan masuk, ucapan selamat malam dengan waktu yang sama. Juna terheran-heran melihat jarak waktu pesan masuk.


Suara cekikikan Tika dan temannya terdengar, Juna diam saja membiarkan adiknya yang sudah larut malam belum tidur.


"Suamiku I love you, akhirnya pesan istri dibaca."

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2