ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
GAGAL ROMANTIS


__ADS_3

Melihat makanan di atas meja Genta kebingungan, Tika tidak memesan makanan apapun, bahkan minuman juga tidak terlihat.


"Kenapa tidak makan? kamu diet atau hanya bisa makan di restoran Shin?"


"Ini juga Tika mau makan, tapi Ayang yang suapi." Mata Tika berkedip menunjuk ke arah makanan Genta.


"Banyak orang, malu. Kamu sudah besar, nanti dipikir aku Papi kamu." Genta memanggil pelayan memesan makanan yang sama.


Mata Tika menatap sinis, pria tua yang memang tidak tahu moments romantis. Memiliki wajah tampan, bisa saja Genta dan Tika dilihat seumuran.


"Om tua, ini hari pertama kita, setidaknya tinggalkan moments romantis." Bibir Tika cemberut berharap Genta peka.


"Malu Tika,"


"Ya sudah, Andre saja yang belum ada status mau, tapi ya sudahlah banyak pria lain." Suara Tika berteriak meminta makanan terdengar kesal.


Saat melihat wajah Genta Tika, langsung kaget. Hanya menyebut nama Andre saja sudah terlihat seperti ingin berperang. Genta sensitif sekali jika Genta menyebut pria lain.


"Kita makan sepiring berdua." Tangan kekar Genta menarik kursi Tika agar jaraknya semakin dekat.


Suara ponsel Tika terdengar, senyuman Tika langsung terlihat sangat bahagia menerima panggilan.


[Halo Juan, belum tidur kamu sayang?]


Genta langsung merampas ponsel Tika, mematikan panggilan melempar ponsel jauh dari Tika.


"Siapa Juan? sayang. Kamu tidak menghargai kehadiranku." Suara Genta terdengar sangat kesal dan mulai menegur Tika yang tidak punya kesempatan bicara.


Tika mengaruk kepalanya, dirinya dalam masalah besar karena Genta pria yang sangat posesif juga cemburuan. Sikap tidak sukanya langsung spontan tidak melihat tempat lagi.


"Om, sebegitu besarnya cinta sama Tika sampai berlebihan?"


"Aku berlebihan? apa kamu tidak nyaman dengan cara aku? kalau begitu berarti aku boleh berkomunikasi dengan wanita lain."


"Arjuanda Rahendra, Adik kandung Tika. Memangnya salah jika Tika memanggilnya sayang?" tangan Tika sudah mencubit lengan Genta yang melupakan Adiknya.


Genta langsung tersentak kaget, mengambil kembali ponsel Tika. Menghubungi balik Juan yang panggilannya sempat terputus.


"Maafkan Kak Genta Juan,"


Atika hanya tertawa lucu melihat kekasihnya yang kebingungan sendiri karena panggilan Juan dialihkan. Ponsel dikembalikan kepada Tika yang sudah berbicara dengan Juan kembali.


[Maaf ya Dek, tadi ada masalah sedikit.] Tika tersenyum melihat Genta yang terlihat menyesal.


Sambil mengobrol dengan Juan, Tika menerima suapan dari Genta. Pembicaraan Tika dan Juan cukup serius, dan Genta hanya diam saja menikmati makanan sambil menyuapi Tika.

__ADS_1


"Kenapa dengan Juan?"


"Tidak terasa Om waktu sudah banyak berlalu, Tika sudah besar dan Adik kecil Tika mulai menginjak masa remaja. Banyak sekali keluhan sampai dia harus meminta bantuan Tika." Kepala Tika tertunduk merasa sedih dan terharu.


Rangkulan Genta berada di pundak Tika, mengusap pelan memberikan semangat karena Genta tahu perasaan Tika yang memiliki kenangan pahit masa kecil.


"Kamu hebat Tika, semua masalah berhasil dilewati. Ayo berjuang lagi, bertahan lebih kuat lagi. Perjalanan masih panjang." Senyuman Genta terlihat, menyentuh hidung Tika yang memerah.


"Assalamualaikum Atika," sapa seseorang sambil menunduk sopan.


"Innalilahi." Tika menyingkirkan tangan Genta langsung berdiri kaget melihat wanita cantik, berhijab dan pakaiannya sangat tertutup.


Genta juga langsung berdiri, memalingkan wajahnya tidak menatap sedikitpun wanita dihadapannya yang menyapa Tika dengan sangat anggun.


"Kak Hana, apa kabar Kak?" Tika langsung memeluk Hana yang juga membalas pelukan Tika.


"Alhamdulillah baik, kamu apa kabar?"


"Beginilah Kak, perkenalkan dia Adiknya kak Gemal." Tika memperkenalkan Genta yang hanya menatap dingin.


Senyuman Ana terlihat, meminta maaf karena sudah menganggu waktu Tika. Ana sedang berjalan-jalan tanpa sengaja melihat Tika.


Atika mengobrol sebentar, tertawa bersama Ana yang sudah waktunya kembali karena sudah menyelesaikan pendidikan, pekerjaan dan tugas mulianya.


"Sampai bertemu di sana Kak, mungkin Tika juga sebentar lagi kembali?"


"Kak Hana sudah bertemu Kak Juna?" Tika tersenyum menggoda.


"Kita bertemu di rumah sakit, dan hanya mengobrol sebentar." Kepala Ana tertunduk malu dengan ejekan Tika.


"Baiklah Kak, salam saja sama Nenek, Aunty Helen dan Uncle Yandi yang pastinya semakin sibuk karena naik pangkat. Tika tertawa bersama Ana yang membenarkan ucapan Tika karena Kakaknya Helen selalu kesepian.


Hana langsung pamit pulang kepada Tika dan Genta. Langkah Hana terhenti saat melihat Shin yang berlari kecil.


"Shin,"


"Kak Hana ada di sini juga?"


"Kamu semakin cantik Shin, kalian berdua memang sahabat sejati selalu bersama." Hana langsung pamit meninggalkan Tika, Shin dan Genta.


Shin tersenyum mengangumi Hana yang memiliki wajah alami, berpenampilan islami semakin menambah keanggunan dan kecantikannya.


"Kak Hana wanita idaman para mertua, pria yang memilikinya pasti sangat beruntung." Shin langsung duduk menatap Kakaknya Genta yang sedangkan memainkan ponselnya.


"Siapa Hana?" Genta menatap Shin dan Tika yang menghela napasnya.

__ADS_1


Bertahun-tahun Genta bekerja satu tim dengan Yandi masih tidak mengetahui adik ipar Yandi yang selalu menjadi incaran banyak mertua yang mencarikan Putra mereka jodoh.


Masalahnya Ana ingin menyelesaikan pendidikannya, sekaligus berdakwah dan menjadi relawan.


"Subhanallah, dia wanita yang berakhlak baik."


Pukulan Tika kuat menghantam punggung Genta yang memuji wanita lain di hadapannya, sebaik apapun Hana tidak harus dikagumi.


"Kak Hana berakhlak baik, dan aku sesat." Tika tersenyum sinis.


Shin langsung tertawa mendengar ocehan Tika, merasa konyol dengan kemarahannya sedangkan Genta hanya diam.


Suara teriakan terdengar, Tika dan Genta langsung melihat ke arah suara wanita yang sudah berlari ke arah pantai.


"Kenapa dia ikut?" Genta menatap Juna yang berjalan santai, menarik kursi langsung duduk.


Juna mengangkat kedua bahunya, jika Rindi menginginkan sesuatu siapa yang bisa menghentikannya. Malaikat maut sama belum tentu mampu.


"Rindi ngamuk ingin ikut, akhirnya terpaksa Kak Hendrik juga pergi. Kebetulan ada Kak Juna, dan Rindi memaksa Juna juga ikut." Shin teriak kaget melihat Rindi sudah basah kuyup.


Tawa Tika sudah terdengar sangat besar, duduk di pasir menatap Rindi yang baru datang sudah membuat masalah.


Tangan Rindi ditarik paksa oleh Hendrik, menegurnya jika bisa mati jika mandi di tengah laut.


"Tika ayo kita mandi, kita berenang bersama hiu." Tawa Rindi terdengar, duduk di pasir bersama Tika.


Pukulan Tika pelan ke arah kening Rindi, berenang bersama hiu tidak bisa pulang lagi, langsung menjadi almarhum.


"Rindi melihat orang bermain-main bersama hiu,"


"Itu bukan hiu bodoh, tapi lumba-lumba." Shin juga duduk di pasir masih mentertawakan Rindi.


Rindi langsung tertawa terpingkal-pingkal, menepuk keningnya karena sulit membedakan hiu dan lumba-lumba karena sama-sama besar.


"Kak Jun, tadi ada Hana. Dia pulang hari ini,"


"Di mana dia sekarang?" Juna berdiri dari duduknya melihat ke arah tangan tangan Tika menunjuk.


Juna langsung berjalan pergi ke arah yang Tika tunjuk, Shin juga menatap punggung Juna yang berlalu pergi.


***


follow Ig Vhiaazaira


***

__ADS_1


sabar untuk kisah Shin, soalnya menyelesaikan Genta Tika, mereka hanya sesekali lewat.


__ADS_2