ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KENCAN


__ADS_3

Mobil melaju melewati jalanan pagi yang sepi, hujan gerimis tetapi bisa membuat jalanan basah.


Pandangan Aliya kosong melihat ke depan, dia sangat penasaran siapa yang ingin menemuinya dan selalu menunjukkan kematian.


"Kenapa Ayang bisa ada di sana?"


Altha menceritakan jika ada yang menghubungi timnya, mengirimkan alamat pembantai rumah kosong. Pelaku yang sudah menghilang selama lima belas tahun akhirnya kembali.


"Jujur aku binggung Al, bagaimana aku mengekpresikan soal kamu? apa kamu bisa menjadi rekan hidupku atau musuh hidupku. Salah tidak jika aku marah, tapi aku tidak bisa mengabaikan kamu." Altha mengusap wajahnya, dirinya sangat lelah dengan semua yang dia lihat.


"Tergantung Ayang, ingin menjadikan aku musuh atau rekan. Apa yang terjadi kepada Aliya sudah menjadi pilihan yang harus dijalani, begitupun kamu harus memiliki pilihan." Al gemes melihat wajah Altha yang menatapnya ragu.


"Aku tidak tahu."


"Hentikan mobil, tinggalnya Aliya di sini."


"Gila kamu, sebentar lagi kita sampai rumah. Kamu punya janji apa sama Tika?"


Aliya tertawa, dia dan Tika membuat janji sesama wanita. Setiap akhir pekan, akan menghabiskan waktu bersama dan memanjakan diri.


Altha mengerutkan keningnya, putrinya Tika sudah terhasut kejelekan Aliya, tetapi putrinya sangat bahagia dan terasa memiliki teman.


Sesampainya Aliya dan Altha di rumah Tika sudah menangis dan mengamuk karena Aliya tidak tepat waktu, dia lelah menunggu Maminya pulang.


"Mami pulang." Al tertawa melihat Atika menangis.


"Mami jahat, terlambat satu jam." Tika melipat tangannya di dada langsung membuang arah pandangnya.


Aliya langsung mencium putrinya, langsung cepat mandi untuk segera pergi menghabiskan waktu bersama.


"Di mana Mora Helen?"


"Diambil ibunya, katanya sudah izin tuan."


Altha langsung mengecek ponselnya, Citra memang membawa Amora. Altha memejamkan matanya sudah saatnya dia berlapang dada untuk berbagi bersama Roby.


Alt tidak bisa egois menjauhkan ayah kandung Mora, meskipun dirinya tidak siap kehilangan putri kecilnya. Bagi Altha Mora selamanya akan tetap menjadi putrinya.


"Kamu ingin pergi ke mana Tika?"


"Biasalah Papi, namanya juga perempuan."


"Papi boleh ikut?" Alt memohon, dia juga ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak.


Atika menggelengkan kepalanya, menolak Papinya ikut karena hanya untuk perempuan. Hari khusus Atika dan Aliya untuk berkencan.


"Kencan?" Altha langsung berdiri kaget, menatap tajam Aliya yang sudah rapi dan berpenampilan sangat feminim.


"Kencan sama siapa lagi kamu?" Alt tidak mengizinkan Atika dan Aliya keluar rumah, apalagi pergi kencan.

__ADS_1


"Papi, Tika ingin pergi."


"Tidak Atika, jika kalian ingin pergi Papi harus ikut." Altha melangkah pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.


Juna mengerutkan keningnya, melangkah mendekati Al yang memijit pelipisnya. Kesal melihat Altha yang tidak memberikannya waktu untuk bersenang-senang.


"Juna boleh ikut?"


"Tidak." Aliya dan Atika menjawab bersamaan dengan kesal.


"Juna akan pamitan dengan Papi, pasti diizinkan." Tatapan Juna terlihat, langsung duduk menunggu Papinya.


"Terserah!" Tika dan Al masih kesal.


Altha meminta semuanya masuk ke dalam mobil, Al dan Tika duduk di belakang dengan wajah cemberut.


Senyuman Altha terlihat, tidak memperdulikan dua wanita di belakangnya.


"Kenapa ke mall?"


"Kencan di mall papi, tidak mungkin ke kuburan." Bibir Atika monyong, langsung tersenyum saat melihat mall.


Aliya langsung keluar, menggandeng tangan Atika untuk masuk ke tempat tujuan pertama mereka.


Senyuman Tika terlihat, ini pertama kalinya dia pergi ke mall. Mamanya tidak pernah membawanya untuk bersenang-senang apalagi menghabiskan waktu satu hari bersama.


Altha dan Juna tidak ingin melangkah masuk mengikuti Aliya dan Tika yang ternyata ingin nyalon, Juna langsung duduk menunggu sambil melihat sekitarnya.


"Juna ayo kita bersenang-senang sambil menunggu dua wanita keluar." Al merangkul putranya untuk pergi berdua.


Suara tawa Arjuna terdengar, Altha mengajari Juna cara menembak sasaran agar tepat. Bermain berdua sepuasnya sambil tertawa.


Tidak terasa waktu berlalu sangat cepat, Atika dan Aliya baru bangun tidur setelah puas perawatan kecantikan.


Suara tawa Juna dan Papinya terdengar duduk berdua melihat foto mereka berdua, pertama kalinya bagi Juna bisa tertawa bersama Papinya setelah sekian lama.


"Juna, maafkan Papi yang melupakan kebahagiaan kalian. Tidak terasa sekarang Juna sudah besar dan bisa menjadi teman tertawa." Altha mengusap kepala putranya yang masih tersenyum.


"Terima kasih Papi sudah membuat Juna tertawa, sekarang Juna memiliki ingatan bersama Papi. Soalnya Juna sering binggung saat ditanya momen kebersamaan, karena kita tidak memilikinya. Juna tidak memaksa meminta keluarga kita utuh kembali, Papi harus janji harus menjadi teman Juna." Senyuman Juan terlihat, mengunyah makanannya.


Altha menganggukkan kepalanya, akan berusaha meluangkan waktu untuk terus bersama anak-anaknya.


"Berapa lama lagi kita di sini Papi?"


"Entahlah." Altha langsung teriak melihat rambut Atika sudah warna kuning di kriting ikal, Aliya rambutnya merah keriting.


Arjuna menahan tawa, langsung memotret adik dan Maminya yang sangat konyol. Berjam-jam di dalam salon hanya untuk mengecat rambut.


"Hitamkan kembali rambut kalian berdua." Altha menatap tajam.

__ADS_1


"Ayo kita lanjut Atika." Al tersenyum mengandeng putrinya.


"Aliya, Atika." Alt menatap tidak percaya.


Juna langsung menghabiskan makanannya, langsung berjalan mengikuti Mami dan adiknya yang lanjut belanja.


Tatapan Altha tetap tajam melihat keduanya yang memiliki warna rambut sangat terang, memilih baju lama sekali.


"Juna bawakan belanjaan Mami sama Tika." Aliya menatap Altha yang matanya tajam.


"Mami Tika ingin main itu." Atika tersenyum melihat roller coaster.


Aliya langsung menggelengkan kepalanya takut, Altha langsung tersenyum mengiyakan untuk naik.


Al dipaksa oleh Altha dan Tika untuk naik, sepanjang permainan Arjuna dan Altha tertawa melihat dua wanita yang teriak-teriak histeris, rambut baru keduanya berantakan.


Aliya sempoyongan, memeluk Juna meminta bantuan untuk berjalan. Aliya merasa kepalanya sudah pindah ke bawah karena sangat pusing.


"Rusak rambut Tika." Tangan Tika mengacak rambutnya yang mirip singa.


Setiap orang yang melihat Aliya langsung tertawa, rambut baru Al sudah seperti singa jantan. Rambutnya yang panjang sudah bergulung menjadi satu.


"Akibat durhaka, ayo kita pulang." Altha menarik tangan dua wanita.


"Sialan, rambut baru Aliya hancur. Sia-sia perawatan tiga jam akhirnya jadi singa.


"Mami mirip kuntilanak."


"Semua ini karena Atika, sudah mami katakan kita mempercantik diri bukan menjadi siluman." Al menghentak kakinya.


Atika memonyongkan bibirnya, meminta maaf karena sudah melanggar kencan bersama Maminya. Seharusnya menjadi wanita paling cantik bukan kuntilanak.


"Mama." Tika melangkah ke tempat makan, melihat mamanya bersama Mora dan seorang pria.


Arjuna juga melihatnya, langsung menarik tangan adiknya untuk melangkah pergi. Kepala Atika tertunduk meneteskan air matanya.


"Kakak, Mama tidak pernah jalan-jalan bersama kita dan makan di luar, tapi kenapa Mama makan bersama Dede Mora dan om itu." Atika memeluk Arjuna.


"Tika, seiring bertambahnya usia kamu akan mengerti, jika Mama akan bersama orang lain, sedangkan Tika bersama Mami bukannya itu adil." Juna menggendong adiknya.


Altha dan Aliya saling pandang dan melangkah pergi.


***


DONE TIGA BAB..


LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT


VOTE HADIAHNYA DITUNGGU

__ADS_1


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


__ADS_2