
Suara keramaian terdengar di kamar Diana, banyak cahaya yang memotret wajah cantik Di yang menggunakan baju kebaya putih.
Kedua tangan Diana dingin, jantungnya berdegup semakin kencang merasakan gugup sebelum acara ijab kabul.
"Kenapa sayang?" Anggun menggenggam tangan putrinya.
"Deg-degan Mom, Diana pertama kalinya merasa tegang."
Anggun tersenyum, menenangkan putrinya yang biasanya tidak bisa diam, tapi di hari pernikahan bicara juga jarang.
Aliya melangkah masuk bersama Atika, melihat Diana yang sudah selesai make up. Tika langsung memeluk Diana yang sangat cantik.
"Ini kak Di atau bukan? cantik sekali. Hari ini Tika cantik yang kedua." Senyuman Tika lebar, menggenggam tangan Diana yang senyum malu-malu.
"Ria cantik pertama." Kedipan sebelah mata Ria tunjukkan, melangkah bagaikan aktris terkenal.
Diana geleng-geleng kepala, Adriana memang makhluk tuhan paling aneh. Tidak tahu malu, menggunakan sepatu boot, tapi tertutup rok.
"Al, kenapa anak kamu satu ini?"
"Biarkan saja, bulan sedang terang. Jadinya sedikit gila." Al mengusap dada melihat penampilan Ria.
Sepatu boots putih, kebaya coklat, rok merah, kacamata bolong pink, rambutnya kuncir kuda, dan banyak pita warna-warni.
Aliya ingin muntah melihat penampilan Ria yang tidak bisa ditegur, dia merasa paling cantik padahal mirip orang gila.
Layar besar hidup, Diana bisa melihat aktivitas di ruangan bawah tempat ijab kabul. Seluruh pria sudah berkumpul.
"Mami, Ria mau bersama Papi."
"Terserah! sekalian kamu ke rumah sakit jiwa." Al membuka pintu, mengusir putri gilanya.
Suara tawa Anggun dan para MUA terdengar, merasa konyol melihat tingkah Ria yang suka aneh.
Helen datang bersama Susan, menatap Diana yang sangat cantik. Al mengusap perut Helen yang sudah besar.
"Duduk Helen, jangan berdiri." Diana menarik kursi, mengusap perut Elen.
Ketukan pintu kembali terdengar, Salsa baru datang langsung mencium tangan Anggun. memeluk Aliya dan Diana, menyapa Elen dan Susan.
"Aku tadi melihat Gemal, tidak ada beban sama sekali."
"Belum, nanti setelah berjabatan tangan. Aku pastikan dia seperti Dimas." Anggun tertawa mengingat suaminya.
__ADS_1
Aliya membenarkan ucapan Anggun, sikap dingin Dimas tidak memperlihatkan kekhawatiran sama sekali, tapi saat berjabat tangan tidak bisa bicara.
Membuka mulut saja susah, sampai berkali-kali diberi minum. Menghilang ketegangan sampai diundur belasan menit.
"Jangan bicara seperti itu, Diana malu jika Gemal nanti mirip ayam dipotong lehernya. Hidup segan, mati belum siap." Di cemberut, melihat keluarganya tertawa.
Keluarga Gemal sudah berkumpul, disambut oleh keluarga Diana. Duduk di tempat yang sudah disiapkan.
Sebelum acara ijab Kabul, diadakan doa bersama. Mata Gemal tertutup, menahan dirinya agar tidak tertawa, karena tanpa sengaja melihat Ria yang lari-larian.
"Gemal, kenapa kamu?" Calvin menepuk pundak, melihat putranya menunduk.
"Kenapa? jangan membuat malu, nanti jatuh pingsan." Dika mengusap lengan Gemal.
"Aku baik-baik saja, tapi tolong ... anak satu itu kenapa model begitu." Gemal tertawa lepas, menutup wajahnya yang tidak bisa menahan diri.
Semua orang melihat ke arah Ria yang duduk bagaikan ratu di atas meja, kakinya bergelantungan.
Suara tawa semua orang yang ada di ruangan tertawa lepas, Alt menepuk jidat melihat tingkah putrinya.
Arjuna langsung menggendong adiknya untuk ganti baju, karena pakaian yang Ria gunakan terlalu heboh, mengalahkan kehebohan pengantin.
"Astaghfirullah Alt, kenapa anak kamu model begitu?" Dimas menahan tawa.
Alt menahan tawa, sikap konyol masih Gemal perlihatkan bahkan saat ijab kabul. Tidak ada tegang dan cemas sama sekali.
Penghulu mempertanyakan kesiapan Gemal, sesaat Gemal langsung diam menatap serius kedua orangtuanya.
"Sebentar lagi, ada satu keluarga Gemal yang belum datang."
Semua orang menatap binggung, melihat sekitar yang sudah siap. Calvin hanya tersenyum melihat seseorang melangkah masuk, menundukkan kepalanya.
Dimas langsung berdiri, Altha dan Yandi sama kagetnya saat melihat Hendrik berjalan mendekat.
"Duduk sini kak, di samping Papa." Gemal langsung memeluk Hendrik yang menangis memeluknya erat.
Tangisan Hendrik membuat suasana langsung sedih, Mam Jes juga tidak kuasa menahan air matanya.
Calvin langsung berdiri, memeluk keduanya sangat erat. Mengusap kepala Gemal dan Calvin yang masih berpelukan.
"Sudah, Jangan menangis."
"Bisa jelaskan ini?" Dimas menatap Altha yang juga tidak tahu apapun.
__ADS_1
Sejak Hendrik ditetapkan sebagai tersangka, juga mendapatkan hukuman penjara seumur hidup.
"Aku meminta maaf, tidak memberitahu siapapun soal ini. Janji yang aku harus tepati kepada ibunya Hendrik, untuk menjaga anaknya." Calvin meminta Hendrik berdiri di sampingnya.
Calvin memperkenalkan Hendrik sebagai putra pertamanya, tidak Calvin pungkiri jika putranya sudah melakukan kejahatan besar.
Demi menebus dosa putranya, Calvin melakukan banding dan membuktikan jika putranya tidak sepenuhnya bersalah.
Wanita psikopat yang melibatkan Hendrik berhasil ditangkap, kasus Hendrik sempat dibuka kembali.
"Aku tidak melanggar hukum, tidak membeli hukum tidak juga menggunakan kekuasaan untuk mendapatkan kemenangan. Hendrik bebas, karena dia tidak salah." Penjelasan Calvin singkat, tapi jelas dan padat membuat semua orang kehilangan tanda tanya.
Permintaan Calvin hanya satu, tidak ada orang yang boleh merendahkan orang lain yang ingin memperbaiki diri. Dan dia membutuhkan dukungan, agar Hendrik bisa kembali ke dirinya yang sesungguhnya.
Gemal tersenyum, mengusap punggung kakaknya yang selama tiga bulan melakukan pengobatan dari depresinya.
"Alt, kali ini kita tertampar oleh kekuasaan Calvin. Ternyata mereka memang keluarga bangsawan yang bisa melakukan segalanya." Senyuman Dimas terlihat.
"Emh ... aku pikir wanita itu mati di lautan, tapi Calvin berhasil menangkapnya." Alt menganggukkan kepalanya.
"Pak, sudah saya katakan. Suatu hari Hendrik akan bebas, jika berhasil menangkap psikopat yang hilang." Yandi tersenyum melangkah mundur, melihat tatapan tajam Dimas.
Tatapan Hendrik melihat ke arah Dimas, menundukkan kepalanya meminta maaf. Begitupun kepada Altha dan lainnya.
Kakek Ken bertepuk tangan, keluarga Leondra memiliki dua cucu. Satu cucu menantu dan menunggu si kecil yang meramaikan rumah mereka.
"Hendrik, manfaatkan dengan baik. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan kedua. Jadi anak baik, kamu dokter yang hebat. Karena kamu pernah menyelamatkan nyawa putraku." Alt mengusap punggung Hendrik yang berlutut mengucapkan terima kasih, karena Alt juga pernah memberikannya kesempatan hidup.
Air mata Mam Jes menetes, memeluk Hendrik yang salah jalan. Jika dulu putranya dibesarkan ibu Hendrik, sekarang giliran Jessi yang akan mendidik Hendrik dan menjaminnya bahagia.
Di dalam ruangan Diana juga tegang, Anggun meneteskan air matanya. Putrinya akan menjadi menantu dari keluarga baik, dan memiliki hati yang tulus.
"Keluarga Leondra bukan hanya kaya hartanya, tetapi hatinya juga." Salsa mengusap air matanya.
"Tidak dapat kakaknya, adiknya pun oke." Di tertawa, tersenyum melihat Gemal yang menghadap kamera menunjukkan gambar love.
***
follow Ig Vhiaazaira
malam visualnya
***
__ADS_1