ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MEMINTA RESTU ADIK IPAR


__ADS_3

Kepala Atika tertunduk, mendengar omelan Shin yang panjang kali lebar. Dia tidak bisa menerima hubungan Tika dan Kakaknya.


"Kenapa harus Kak Genta, Tik?" Shin memukul sofa membuat bibir Tika maju ke depan.


"Kenapa tidak? kita saling mencintai. Kamu mengenal baik aku, kenapa kamu tidak menerima? ayolah Adik ipar jangan menghalangi dua insan yang sedang jatuh cinta." Tika menangkap bantal sofa yang dilemparkan ke arahnya bekali-kali.


Wajah Shin terlihat serius, jika sampai hubungan Tika dan Genta berakhir maka persahabatan mereka juga akan renggang.


"Kamu tahu hubungan keluarga, pikirkan ke depannya Tika?"


"Aku sudah memikirkannya, ke depannya kami akan menikah dan memiliki anak." Tika berteriak Shin ingin menjambak-jambak rambutnya.


Tangan Tika memohon agar Shin mengerti perasaannya, awalnya Tika juga takut jika perasaannya akan mengacau persahabatan juga kedekatan keluarga. Perasaan cinta yang Tika miliki sudah berusaha dirinya sembunyikan, namun rasanya semakin menyakitkan.


Setiap memilih untuk menjauh, hatinya merasa perih. Bekali-kali Genta mengabaikan, bekali-kali juga Tika ingin menyerah. Saat tahu perasaan Genta, Tika merasa mimpi dan pada akhirnya takut.


Perasaan cinta keduanya ibarat harus melewati bara api, melangkah akan terluka namun diam saja tidak akan mengubah apapun.


"Aku membutuhkan kamu untuk merestui kami, setidaknya kita memiliki keyakinan di seberang bara api ada obatnya." Tika melipat kedua tangannya meminta Shin memahami perasaan gilanya.


"Tik, aku rasa kamu dan Kak Gen tidak sedekat itu."


"Namanya juga perasaan, benci tapi cinta. Kamu harus dewasa untuk memahami rasa cinta, jangan halu saja memikirkan suami tidak nyata kamu. Perasaan aku kepada Kak Gen, sama seperti kamu ke Suami." Tika menatap sinis Shin yang memijit pelipisnya.


"Sudah berapa lama?" siapa saja yang tahu?"


"Baru sih," Tika senyum-senyum sendiri.


Atika menyebut nama Diana dan Gemal yang mengetahui hubungan keduanya karena Di memergoki keduanya sedang bertengkar. Satu anak yang paling berbahaya dan mulutnya tidak bisa dijaga.


"Isel juga tahu, aku was-was dia akan memberikan pengumuman saat ingat." Tika mengigit bibirnya.


"Kalian bertengkar? hubungan yang baru seumur jagung sudah bertengkar. Lucu sekali."

__ADS_1


"Namanya juga kehidupan, pasti ada perdebatan."


"Kenapa kalian bertengkar?"


Kening Tika berkerut, lompat dari atas tempat tidur memeluk Shin yang menjauhkan Tika darinya. Salah satu alasan Tika memberitahu Shin karena ingin menyingkirkan satu wanita. Tika sudah mengetahui wanita yang di foto oleh Gion.


"Kenapa dengan wanita itu?"


"Dia selalu mengikuti ke negara manapun Genta pergi, mereka selalu melakukan pertemuan tanpa sengaja, namun Genta tidak menyadarinya." Tika menunjukkan beberapa foto yang berhasil didapatkan.


"Cepat sekali kamu mendapatkannya?"


"Ini soal hati Shin, selain kamu tidak ada wanita lain. Aku harus menyingkirkan benalu dari kehidupan cinta kami." Tika mengepal tangannya kuat.


Kepala Shin geleng-geleng, Atika sudah tergila-gila dengan Genta sampai memiliki obsesi yang sangat kuat. Wanita yang dia lawan cukup menarik karena dia seorang aktris juga Putri bangsawan.


"Apa rencana kamu?"


Shin akhirnya mengangguk kepalanya, Tika berteriak bahagia menciumi wajah Adik iparnya.


"Atika, aku dan Kak Genta ...."


"Iya aku mengerti, nanti kita tidur bertiga, makan bertiga, mandi, jalan-jalan, segala sesuatu kita lakukan bertiga." Dua jempol Tika terangkat meminta persetujuan.


Shin memukul kepala Tika, dirinya tidak gila seperti Tika yang memiliki obsesi gila. Otak Shin masih normal.


"Sakit tahu! aku tidak akan menghalangi kasih sayang Om tua, aku mengerti kalian masih ingin saling dekat, tapi libatkan aku juga." Mata Tika berkedip, Tika akan menjadi orang paling beruntung jika Shin melibatkannya.


Tawa Shin terdengar, mengulurkan tangannya. Memberikan selamat karena Tika berhasil menaklukkan hati Genta yang dingin. Bersama Tika, Kakaknya jauh lebih bahagia dan banyak bicara tidak pendiam lagi.


"Terima kasih Shin, kamu sahabat juga Adik ipar terbaik." Tika dan Shin berpelukan.


Suara pintu terbuka tiba-tiba terdengar, Rindi melangkah masuk melihat dua Teletubbies berpelukan.

__ADS_1


"Ada apa Rin?"


"Ini undangan pernikahan." Rindi menyerahkan kepada Tika.


Atika dan Shin sama-sama kaget, pernikahan di percepatan dan akan diadakan di hotel keluarga Leondra. Tamu undangan hanya orang-orang penting, dengan penjagaan yang sangat ketat.


Wajah Rindi terlihat sedih, Shin duduk di sampingnya memperhatikan kesedihan wanita aneh disampingnya.


"Kenapa sedih? jangan samakan pernikahan kamu dan orang lain. Hasilkan menyakitkan, kita memiliki kehidupan yang berbeda juga jalan yang berbeda." Tangan Shin mengusap punggung Rindi yang terlihat lemah.


"Lihatlah, Mami dan Papi tidak ada di sisi Rindi, lalu apa gunanya aku menikah?" air mata menetes membuang foto-foto pernikahan.


"Apa masalahnya? kamu ingin mereka bangkit dari kubur mendampingi kamu. Jangan menyalahkan sesuatu yang sudah tenang, mereka juga pasti bahagia melihat kamu menikah, ingatlah ada kita berdua yang mendampingi kamu." Tika tersenyum menguatkan Rindi, menyemangatinya harus bahagia di hari yang diimpikan semua orang.


Air mata Rindi semakin banjir membasahi wajahnya, memegang dadanya yang sesak mencoba menerima jika kedua orangtuanya sudah tiada. Ucapan Papinya yang terus terngiang-ngiang di kepalanya saat pria jahat yang ditakuti semua orang, namun malaikat bagi Rindi. Papinya akan mengantarkan Rindi kepada pria yang akan mencintainya dan menerima baik buruk dirinya.


"Papi, Rindi rindu Papi. Kenapa Papi tidak menepati janji? semua orang menganggap aku wanita gila, psikopat, hanya Papi yang mengaggap aku layaknya Putri kerajaan." Bibir Rindi gemetaran, menggenggam erat tangan Shin.


"Sekarang Papi kamu sudah tenang, Putri kesayangan berada dalam keluarga baik. Kamu tidak perlu menunjukkan kepada orang kebaikan, karena jika mereka tidak suka maka akan tetap buruk." Shin mengusap air mata Rindi yang menganggukkan kepalanya.


"Shin benar, kamu memang gila. Meksipun kamu gila, tapi kita tahu kamu memiliki hati yang baik kegilaan bukan masalah. Lanjutkan saja, lebih baik menggila di depan orang yang tidak menyukai kita, tapi kita punya bukti nyata jauh berada di atas kita. Ucapan mereka yang menilai keburukan hanya sampah." Tika menatap tajam Rindi yang mendengar ucapan Tika dengan tatapan aneh.


"Kamu sedang menghina atau menyemangati?" Rindi menatap Tika yang langsung tertawa, Shin juga ikutan tertawa agar Rindi terbiasa dengan kegilaan mereka.


Pintu yang tertutup, terbuka. Ria masuk sambil tersenyum. Menyerahkan tiga jilbab kepada Shin, Tika dan Rindi. Ria juga sudah cantik dengan balutan baju hitam, juga jilbab hitam berkaca mata hitam.


"Mau ke mana? siapa yang meninggal?"


"Kita mau ziarah ke makam kedua orang tua Kak Shin." Ria memegang foto wanita yang ada di lantai.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2