
Di dalam gudang kosong, Aliya duduk bersama Tika dan Juna yang masih tersenyum meskipun mereka tahu sedang diculik.
"Mi, Tika hari ini tidak sekolah." Tatapan Tika kesal, seharusnya dia mendapatkan hasil nilainya untuk membanggakan diri di depan Mami Papinya.
"Emh, maafkan Mami ya sayang. Nanti kita liburan ke pinggir pantai, selama liburan kita bisa bersenang-senang." Al tersenyum melihat Tika yang bersemangat ingin pergi ke pantai.
Aliya mencoba membuat Tika dan Juna senyaman mungkin, dan tidak terlalu memikirkan apa yang sedang terjadi, karena Al percaya Altha akan segera datang.
Tika berjalan mengelilingi gudang, dirinya mulai bosan dan merasakan lelah. Juna juga bekali-kali mendekati pintu.
Al menghela nafasnya, sudah siang dan waktunya makan siang, tapi Citra tidak mengantarkan makanan sama sekali.
Suara perut Tika berbunyi, langsung memeluk perutnya membuat hati Aliya hancur karena anaknya kelaparan.
"Sayang, sini dengarkan Mami." Al meminta Juna dan Tika mendekat.
"Mi, Tika tidak lapar, tapi cacing di perut sepertinya sedang menyapa." Senyuman Tika terlihat menunjukkan giginya.
"Jangan bohong sayang, mami juga lapar. Kita harus keluar dari sini dan memberikan mereka pelajaran." Al menatap tajam pintu.
Aliya meminta Tika dan Juna tidak mencontoh apapun yang dirinya lakukan, karena Al akan melakukan sesuatu dengan caranya.
Juna menganggukkan kepalanya, dia akan menutup mata Tika. Maminya boleh melakukan apapun, Juna sangat mendukungnya.
Tika ditarik mundur, Juna menutup mata adiknya dari belakang melihat Aliya mendobrak pintu kuat.
Tangan Tika memegang tangan kakaknya melihat Maminya mendobrak paksa, senyuman Tika terlihat bertepuk tangan menyemangati Maminya.
Pintu Aliya tarik kuat sampai terbuka, Al langsung berlari keluar sambil menutup pintu. Dirinya tahu jika pasti banyak orang yang menunggunya di depan pintu.
Al mengeluarkan belati dari penutup dadanya, langsung bertarung tanpa perduli lawan orang-orang berbadan besar.
Puluhan senjata menghadang Aliya, Juna hanya mengintip dari balik pintu melihat mamanya berdiri mengarahkan senjata.
Senyuman Aliya terlihat, dirinya sudah berjanji tidak akan membahayakan nyawa orang lain demi keuntungan dirinya, tapi kali ini pengecualian.
Bagaimana seorang ibu bisa rela melihat anaknya kelaparan, tidak ada ibu yang tega anaknya ketakutan berada di dalam ruangan yang tidak ada ventilasi udaranya.
__ADS_1
"Majulah kalian semua, aku ingin melihat berapa banyak orang yang mati hari ini." Al menatap sinis, jika sudah siap melihat seorang anak kehilangan ayah, seorang istri kehilangan suami, serta seorang ibu yang kehilangan anak. Aliya siap membantu mengantar ke neraka.
Mendengar ucapan Aliya tidak ada yang berani maju, Al sudah menguncir rambutnya tinggi. Belati kecil ditangannya sudah tergenggam di telapak tangan.
Citra berteriak meminta semuanya menyerang Aliya, salah satu orang mengatakan jika persembunyian sudah diketahui kepolisian.
Seluruh area sudah di jaga ketat polisi, jika sampai ada suara tembakan mereka semua dalam masalah.
Citra langsung melangkah pergi untuk melarikan diri, diikuti oleh beberapa bawahnya dan yang lainnya mendapatkan perintah untuk membunuh Al.
Di luar bangunan Yandi sudah memimpin seluruh pasukan bersenjata, baik jarak dekat maupun jauh.
Yandi meminta semuanya keluar secara baik-baik, menyerahkan tawanan dalam keadaan aman dan tidak terluka sedikitpun.
Jika dalam hitungan ketiga tidak ada yang memberikan jawaban maka secara terpaksa, anggota bersenjata akan masuk dan menembak siapapun.
Dari kejauhan Diana, Altha dan Dimas sudah memantau keadaan. Alt melihat Aliya berada di tengah dan dikelilingi orang-orang bersenjata, langsung menginformasikan kepada Yandi jika Al dalam bahaya.
"Jangan pikirin soal Aunty Al, dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri." Tatapan Diana tajam, pergerakan Al tidak bisa bebas, dia harus melindungi kedua anaknya dan tidak bisa membiarkan ada korban jiwa yang bisa mengulang masa kecil Al.
Diana langsung membawa senjata, meminta Alt dan Dimas bergabung bersama Yandi. Citra sudah melarikan diri.
Keadaan di dalam semakin panik, Al langsung melangkah mundur meminta kedua anaknya mendekat dan terus ada di belakangnya.
Aliya memberikan satu kesempatan untuk melarikan diri, tapi secara tiba-tiba ada ledakan yang membuat semua orang terkejut.
Api langsung melahap bangunan kosong, orang-orang yang ada di dalamnya langsung panik dan berhamburan.
Tidak ada yang bisa keluar, karena area luar sudah penuh api besar membuat Aliya hanya bisa melihat kobaran api yang sangat besar.
"Mami, ada api." Tika menunjuk ke arah api yang melahap di depan mereka.
"Terima kasih Citra, sekarang kamu membuktikan jika mereka tidak ada artinya, sampai kamu bakar mereka hidup-hidup." Al langsung menggendong Tika, menggenggam tangan Juna.
Puluhan orang yang terjebak bersama mereka melakukan segala cara untuk melarikan diri, tapi tidak ada yang bisa lari bahkan teriak histeris saat tertimpa bangunan.
Seluruh tim yang ada di luar berlari melakukan segala cara untuk mematikan api, Altha sudah berlari ingin menembus api, jika Yandi dan Dimas tidak menahannya.
__ADS_1
Diana juga tidak menyangka jika Citra sudah menyiapkan kebakaran, bahkan dia tega membakar darah dagingnya.
"Kita tidak bisa masuk, dan mereka tidak bisa keluar." Tatapan Diana tajam melihat ponselnya.
Area bangunan tidak ada jalan ke bawah tanah, tidak ada jalan untuk Aliya keluar. Ditambah lagi untuk mendapatkan bantuan dari pemadam kebakaran, membutuhkan waktu cukup lama.
"Lepaskan aku Dim, anak dan istriku ada di dalam." Altha memberontak memaksa untuk masuk.
"Kamu masuk juga tidak ada gunanya Altha, karena kita tidak bisa masuk melawan kobaran api sebesar ini." Dimas menahan Alt kuat.
Dimas mencari Diana, tapi sudah menghilang dari sampingnya. Yandi juga tidak tahu ke mana putrinya Dimas pergi.
Altha merasakan panasnya api, bagaimana nasib anak-anak yang terbakar di dalam. Tidak ada gunanya dirinya jika hanya menunggu sampai api melahap habis.
Diana berlari mengelilingi bangunan, jika Citra bisa melarikan diri pasti ada jalan keluar dari dalam tanpa diketahui oleh tim yang sedang mengintai.
Suara tembakan terdengar, Diana dan Citra sudah saling mengarahkan senjata. Secara terpaksa Diana melepaskan Citra yang melarikan diri.
"Berlarian sejauh mungkin, aku pastikan kamu tidak bisa pergi jauh."
Diana mengarahkan tembakan ke atas bekali-kali untuk memberitahu Altha.
Di dalam bangunan Aliya membawa semua orang melewati jalan tikus, menyelimuti Tika dan Juna menggunakan selimut yang sudah basah agar kedua anaknya tidak kepanasan.
"Sayang, tahan panasnya sebentar." Al meminta bantuan orang-orang yang menahan mereka membawa Tika dan Juna lebih dulu.
Al melihat bangunan atas mulai habis, menahan dengan beberapa benda keras agar tidak menimpa mereka.
Senyuman Tika terlihat menatap Papinya yang sudah banjir air mata, Altha langsung melihat tubuh Tika yang penuh pasir dan basah.
"Tika lewat jalan tikus Papi, hebat sekali." Atika bertepuk tangan menunggu kakak dan Maminya.
***
Jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote hadiahnya ya ditunggu
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara